
Ibu sambung kami begitu gesit semua dikerjakan hari ini olehnya. Bersih tanpa sisa. Ruang tamu, dapur dan juga kamar. Tidak mau ketinggalan juga halaman rumah kami. Ya, halaman rumah kami terlihat bersih semua. Tidak ada sampah yang berserakan satu lembar pun.
Begitu membingungkan bagiku melihat dia yang hari ini tiba-tiba spontan rajin. Tidak seperti biasanya. Kalau biasanya ia pergi keluar tanpa tujuan.
Hari ini, di siang ini, ia rela mengorbankan kegiatannya hanya untuk beberes rumah.
" Kak, jambunya dapat, horeee!" Sorak gembiranya terdengar menggema. Loncat-loncat kaki kecilnya pun menghentak bumi.
Senyum bahagia terukir di bibirku yang kecil. Melihat jambu yang diambil oleh adikku begitu menggemaskan. Satu ranting terlihat anak jambunya begitu mungil.
" Kak, lihat! Aku bisa, kan!" Dengan percaya diri yang kuat adikku menunjukkan kepada ku dengan senyum ceria.
" Dek, bagaimana kamu bisa?" Tanyaku yang ingin tahu. Aku begitu takjub melihatnya.
Bagaimana tidak, karena bagi anak-anak seusia kami apa yang kami lihat sangat membuat kami happy sekalipun itu sederhana. Kami pasti akan berteriak girang sambil melompat- lompat kecil dengan senyum yang membuat hidup kami sangat bahagia.
" Dek, kakak tadi kenapa tidak bisa , ya!" Berjalan menghampiri adikku. Senang.
" Mana, aku tau!" Tersenyum mengembang.
Wanita itu berdiri melihat kami yang bahagia di luar. Terlihat dari ekor mataku. Sapu yang di pegang nya masih menempel di tangannya. Dirinya yang tegak lurus melihat kami. Membuat dia sedikit terpana dengan tawa adikku yang begitu girang. Sedihnya tadi hilang sudah.
" Kak, ayo kita makan !" Meletakkan jambu di pangkuannya. Tanpa di cuci, jambunya langsung kami makan bersama.
Kriuk! Kriuk! Kriuk!
Suara renyahnya pun terdengar begitu menggiurkan. Air nya begitu manis. Keceriaan pun kini terlihat jelas di wajahnya sebagi pengobat kesedihannya.
" Liyan, Ana! Apa yang kalian lakukan disitu." Ayahku ingin tahu. Berjalan menghampiri kami. Berdiri didepan pintu.
" Engga apa-apa, Ayah." Adikku sambil memakan jambu.
" Udah la, itu yang makan jambunya, besok lagi. Masuk ayo!" Ayahku berlalu meninggalkan kami.
Seketika bayangan ayahku pun pergi berlalu. Ember yang terduduk terlihat membayang di mataku. Dari ruang pintu yang luas aku melihatnya terduduk di sudut pintu tengah.
Tubuh lemah yang setia bersama. Menemaniku hari ini menikmati jambu yang diambil oleh adikku barusan.
"Kak, mau lagi!" Memberi jambu.
__ADS_1
Mengangguk sambil tersenyum aku mengambil jambu dari adikku. " Terimakasih, dek." Mengunyah.
Sore yang menjelang. Kebersamaan aku dan adikku masih belum terusik. Kami semakin hangat tertawa sambil bercanda. Hari ini adikku begitu lain tak seperti biasa yang selalu jutek.
Keheranan ku akan dirinya membuatku tanda tanya. Tatapan nanar ku pun masih belum percaya, adikku bisa seperti ini. Bagaikan orang asing yang baru dikenal. Aku pun begitu canggung berada didekatnya. Aneh!
Itulah adikku terkadang dia menyenangkan membuat kita yang didekatnya tak mengenal dirinya. Terkadang jutek seperti yang selama terlihat.
Aku sendiri sebagai kakaknya tidak bisa mengenal dia seperti apa. Sifatnya yang sering berubah-ubah. Hatinya yang payah untuk di lunakkan membuat kesal.
" Liyan, Ana, apalagi nak! Masuk dan mandi. Ini sudah sore. Sudah jam 17:00 WIB. Nanti kemalaman." Berdiri kembali. " Liyan, nanti kamu makin sakit! Engga bisa nanti sekolah, lagi. Cepat!" Perintah ayahku.
" Kenapa? Ada apa?" Tanya ibu sambung kami dengan penasaran.
Bergegas berdiri mendekati ayahku. Melihat kami yang lagi menikmati jambu. Sorot matanya menunjukkan kalau ia tergiur dengan jambu yang kami makan.
Deg! Menelan ludah.
Matanya yang tajam melihat jambu membawa langkahnya tanpa sadar menghampiri kami. Seketika adikku terhenti mengunyah dengan wajah terperangah. Jambu yang di genggamnya terjatuh pelan. Raut wajah adikku terlihat sendu.
Dalam diam ku yang lagi mengunyah. Menatap langkah kakinya semakin mendekat. Dalam angan ku yang melayang demi menetralkan sakitku.
Menatap nya dengan bola mata gelapan. Hanya diam melihatnya dengan bengong. Spontan aku mengasih jambu yang aku pegang yang tadi ingin aku makan.
"Ini Bu!" Mengulurkan tanganku.
" Manis ini?!" Tanya nya sambil meraih jambu.
" Liyan, Ana, jangan banyak-banyak makan jambu! Nanti sakit perut!" Kata ayahku dengan berteriak. Masuk.
Melihat kami yang masih belum mau beranjak. Hari ini ayahku mengalah demi kesenangan kami berdua.
" Liyan, kamu jangan banyak-banyak makan jambu." Ibu sambung kami kini berdiri melihat ke atas pohon. Mataku yang meliriknya dari ekor mata. Bahwa, ia masih kepingin dengan jambunya. Ia pun melihat ke atas dengan memutarkan kedua bola matanya. Melihat-lihat tanpa berpaling.
Spontan ia menyeret kakinya mendekati pohon jambu dan mengambil galah yang terletak. Ia pun, mengayunkan gala ke udara mengenai jambu.
" Kalian mau?! Ayo cepat ambil!" Dengan sumringah.
" Kak, ayo ambil !" Dengan antusias adikku berdiri mengambil jambu yang terjatuh.
__ADS_1
" Ini dek!" Mengambil jambu.
Ia pun begitu semangat menjolok jambu. " Kak, ayo cepat tangkap!" Berlari kesana kemari. Mengelilingi seputaran jambu yang terletak jatuh.
" Dek, jangan banyak-banyak! Nanti sakit perut. Ini sudah mau malam." Menahan tangan adikku untuk menghentikan langkahnya.
" Kak, kakak tenang aja! Ana engga bakalan sakit, kok!" Dengan begitu percaya diri.
"Ana! Sudah itu, sudah!" Teriak ayahku dari kursi.
" Dek, udah! Nanti ayah marah." Kataku sambil melihat ayahku yang duduk di kursi. Ia begitu tajam melihat kami yang tergila hari ini dengan jambu. Wajah ayahku masih begitu lekat melihat kami.
Keheningan yang begitu kelam menemani ayahku duduk sendiri dengan tangannya memegang lutut.
Jambu nya begitu banyak sampai kami lelah mengambil semuanya. Tubuh lemahku seakan mau jatuh. Seketika aku menopang nya kembali agar tetap bisa tegak lurus.
Dalam waktu yang singkat. Ayahku yang tadi duduk kini menghilang. Kedua mataku yang melihat ayahku membuatku sedikit bingung. Baru saja ayahku terlihat. Sudah menghilang kembali.
" Ana, sudah !" Ibu sambung kami meletakkan gala nya dengan rapi.
" Sudah!" Adikku mencari jambu yang terselip.
" Liyan, kau duduk disana!" Kata ibu sambung kami dengan serius.
Tanganku yang memegang jambu seketika aku letakkan. Segera mungkin aku menjauh. Meninggalkan jambu yang berserakan. Menepi disudut dinding rumah kami. Berdiri sambil melihat mereka berdua memasukkan jambu kedalam plastik.
" Ana, cuci jambunya sampai bersih, ya!" Dengan nada suara yang lembut.
Berjalan, ia Bu!" memegang jambu.
Jambu begitu baik hati hari ini. Dia telah membuat adikku dan ibu sambung kami berteman. Tidak seperti biasanya. Wajah Ceria tanpa kesal adikku menunjukkannya hari ini.
"Liyan, masuk! Anginnya sedikit kencang, dingin." Berjalan meninggalkan pohon jambu.
Kaki kecil lemahku pun berjalan masuk.
Bergegas meninggalkan halaman yang berserakan.
Bersambung....
__ADS_1