
"Tidak Ayah. Ana tidak bicara dengan ayam goreng," cetus adikku. "Ana cuman kasihan saja sama ayamnya," kata adikku kembali dengan kelucuannya yang menggelitik hati.
"Kasihan Kenapa?" tanya ayahku. "Kalau Ayah melihat, Ayah bukan kasihan pada ayam gorengnya, tapi kasihan pada Anak Ayah yang satu ini."
Kedua bola mata adikku menatap ayahku dengan nanar dengan wajahnya yang menggemaskan. Dia pun mencerna yang di bilang oleh ayahku. Tangannya lalu mengambil ayam goreng, menatapnya dengan serius dan memutarnya setengah di udara tepat di hadapannya, wajah polosnya yang penuh tanda tanya terus menatap, seakan dia masih berkutat dengan dirinya dan ayam goreng.
"Kenapa Ayah membandingkan Ana dengan ayam goreng, Yah?" tanyaku dengan kejahilan.
Aku sengaja ingin melihat reaksi adikku yang cemberut.
"Ayam goreng itu 'kan tidak tahu menahu tentang apa pun, lagi pula, ia 'kan hanya seekor hewan yang tidak memiliki akal untuk berpikir, tapi kalau Anak Ayah 'kan punya. Jadi, sangat aneh, kalau Anak Ayah yang manja ini bicara pada ayam... ." Menatap adikku dengan wajah candaan yang garing. "... yang tidak tahu apa-apa. Apalagi ayam yang sudah di goreng." Ayahku begitu bahagia karena malam ini dia mendapatkan sedikit waktu untuk bercanda dengan kami terkhusus untuk adikku yang menjadi anak yang paling di curahinya dengan kasih sayang setelah kepergian ibuku.
Kepergian ibuku, memang menyisakan duka yang sangat mendalam bagi kami, terkhusus bagi adikku hingga sampai saat ini dia masih berharap jika, suatu saat nanti dia bisa bertemu dengan ibu kami. Entah itu di mana atau pun kapan? Itu menjadi impiannya yang mendalam yang digenggamnya dengan kuat.
Kerap kali aku dan adikku sering berdebat kecil tentang ini. Namun, adikku yang keras kepala, dia masih bersikukuh dengan ke inginnya yang terlihat ambigu.
Malam ini, wajahnya yang sering menyimpan duka, terlihat cemberut menggemaskan karena ayahku telah berhasil sedikit melupakan rindunya yang mendalam terhadap ibu kami yang telah pergi untuk selama-lamanya.
Sementara aku yang masih bersama dengan mereka saat ini, duduk diam sambil menahan tubuhku yang sudah mulai meriang. Panas dingin kini menusuk masuk melalui celah kecil kulitku. Kehangatan kami malam ini secara tidak langsung telah menahan kelemahanku.
Ingin sekali rasanya, aku beranjak dari mereka dan membaringkan tubuhku yang lemah ini. Namun, suara lembut ayah dan ibu sambungku menghalangi niatku.
Semilir angin malam yang berhembus kini kembali bersahabat dengan tubuhku yang lemah. Perlahan ia masuk dari celah dinding rumah kami yang kecil. Ia dengan ramah menyapa tubuhku yang lemah ini dengan lembut. Menusuk tulang dengan sesukanya hingga membuat diriku tidak lagi bisa bertahan duduk dengan tegak.
Perlahan aku menyeret tubuhku yang lemah untuk bersandar dan mengadukan pada dinding yang bisu, kalau aku lemah dan membutuhkan sandaran darinya, lalu aku melupakan canda gurau adik dan ayahku bersama dengan ibu sambungku, aku tidak lagi menghiraukannya. Sesekali dengan perlahan aku memutar kedua sorot mataku yang ingin tertutup menatap mereka. Mereka terlihat begitu asyik bercanda dengan adikku. Adikku yang tidak menyukai ibu sambung kami, malam ini dia terlihat melupakannya. Tawanya yang renyah membaut wajah ibu sambungku tidak tahu, kalau adikku selama ini belum bisa menerimanya.
Ibu sambungku terus tersenyum senang dan bahagia bergabung dengan ayah dan adikku. Piring yang masih terduduk di hadapan kami masih terlihat berserakan.
"Ayah, ayam goreng Ana sudah mau habis." Adikku menatapnya seakan dia telah berhasil melakukan sebuah pertunjukan sircuss yang memukau.
"Iya. Nak! Apa ayam gorengnya akan datang lagi?" Ayahku masih saja bergurau dengan adikku yang manja.
"Pasti datang?!" ledek ibu sambung kami dengan bercanda. "Ayam goreng 'kan selalu setia dengan Ana," lanjutnya. Kesenangan terlihat begitu mengitari wajahnya yang setengah baya.
"Datang dari mana?" Adikku menatap ayahku sambil menaikan alisnya. Dia ingin mendengar ayahku menjawab pertanyaannya.
"Biasanya, kalau Anak Ayah minta ayam, Ayah bawa ayamnya dari mana, coba?" Ayahku langsung bertanya kembali pada adikku.
__ADS_1
Dengan polos adikku menjawab. "Dari pasar." Memonyongkan bibirnya kembali dengan kesal karena ayahku kembali meledeknya.
"Ana kalau sudah dengar nama ayam, dia pasti senang," sambung ibu sambung kami setelah mendengar mereka.
"Iya, Ayah juga heran. Kenapa Anak Ayah begitu tergila-gila dengan ayam?" Ayahku ingin tertawa, tapi dia menahannya karena ayahku takut akan kemarahan adikku.
"Ayah!" teriak adikku dengan kesal sambil melebarkan kedua bola matanya dengan cemberut. "Kenapa Ayah bilang begitu."
"Memang kamu 'kan, tergila-gila dengan ayam goreng," sahut ibu sambung kami menahan tawa.
"Engga! Ana engga tergila-gila dengan ayam goreng," cetus adikku tidak rela.
"Tidak tergila dengan ayam?! Ini buktinya, apa?" Ayahku yang jahil semakin senang menjahili adikku sambil menunjuk piring kosong bekas ayam goreng dengan kedua matanya.
Adikku langsung menunduk malu tidak bisa menaikan kepalanya lagi. Wajahnya langsung terlihat, seperti kepiting rebus.
"Ana tidak seperti itu." Aku melihat adikku menatap piring kosong tempat ayam goreng dengan lekat.
Ayah dan ibu sambung kami semakin tertawa geli karena telah berhasil membuat adikku merasa malu, atas tingkah lakunya yang lucu.
"Iya Ana! Besok akan Ibu masakan ayam goreng yang banyak. Ana mau 'kan?!" Ibu sambung kami menunjukan perhatiannya dengan kasih sayang kepada adikku.
"Mau," jawab adikku tanpa mengingat siapa yang mengajaknya berbicara. "Ana suka ayam goreng," sambung adikku dengan senang.
Sementara saat ini, aku yang masih bertahan dengan tubuh yang tidak bersahabat hanya mendengar mereka dengan membuka sedikit mata. Suara canda tawa mereka semakin redup terdengar di telingaku.
Kedua tanganku langsung kudekap untuk menahan tubuhku yang kedinginan.
"Liyan! Kenapa kau diam?" tanya ayahku. "Apa kau baik-baik saja?" Ayahku dengan penasaran memutar kepala kearahku.
Sontak aku langsung mengangkat tubuhku yang lemah dengan tegak duduk. "Liyan, tidak apa-apa, Ayah," jawabku menyembunyikan dari Ayahku.
"Kenapa tidak bersuara?" tanya ayahku dengan curiga.
"Mungkin Liyan sudah mengantuk," sambung ibu sambung kami menyelamatkan diriku.
Tatapan mata ayahku yang tajam dan penuh kecurigaan masih saja menghantuiku dan membuatku semakin gelisah.
__ADS_1
"Benar. Kamu sudah mengantuk?!" tanya ayahku semakin menyelidik.
"Mungkin Ayah. Kakak mungkin sudah mengantuk," potong adikku.
Ibu sambung kami yang sudah menyusun piring kotor dengan rapi. "Sebaiknya, mereka di suruh saja tidur! Apalagi Liyan. Dia 'kan harus banyak istirahat," kata ibu sambung kami.
"Iya Ayah. Apalagi besok kami akan sekolah," tandas adikku bergegas ingin berdiri.
"Tunggu sebentar!" Ayahku menatap lurus ke depan.
Sontak adikku langsung menatapku dengan kecemasan. Kami yang bertemu pandang pun, saling menunjukan raut wajah penuh tanda tanya.
" Kenapa tadi kalian bermain air di luar?"tanya ayahku masih mengingat kejadian tadi.
Aku dan adikku yang bertemu pandang seakan saling tuding, siapa ? Yang akan menjawab terlihat isyarat dari sorot mata kami berdua.
Sementara ibu sambung kami terperanjat tiba-tiba, dia hanya diam dan melanjutkan urusannya menyusun piring.
Adikku yang menjatuhkan tubuhnya kembali berusaha menutup mulut dengan rapat. Sementara, lirikan mata ayahku begitu tajam tertuju padaku.
Jemariku yang dingin, kuremas dengan kuat untuk menahan diriku yang ketakutan terkena amarah ayahku. Kedua netraku yang redup lalu menatap adikku yang bergeming dan menundukan pandangan melihat kakinya yang bersila.
"Kami hanya bermain biasa Ayah," jawab adikku.
Ayahku masih tetap saja diam, melirik adikku yang menjawab tanpa melihat wajah ayahku. Sekali lagi ayahku memutar kepalanya ke arahku dengan sorot mata sebagai isyarat, ayahku menginginkan jawaban dariku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1