
"Kak," panggil adikku tersenyum. "Kita di kasih bermain?" Adikku bertanya kepada ku.
"Kakak tidak tahu," jawabku sedikit bingung.
"Kenapa Kakak bingung dan tidak tahu?" tanya adikku sedikit kecewa berjalan mendekati pintu.
"Sudah! Pergilah bermain! Tapi jangan lupa angkat nanti pakaian kita yang ada di jemuran!" sahut ibu sambung kami yang sedang mengumpulkan sampah di halaman belakang.
Sampah yang tadi berserakan kini telah bersih di sapu oleh ibu sambung kami. Halaman yang kotor itu pun jadi terlihat indah ketika di pandang oleh mata. Dari sudut halaman yang dekat dengan pintu dapur sekarang tidak terlihat satu pun sampah lagi yang terletak. Tumbuh-tumbuhan kecil pun juga terlihat bersih.
Aku yang berjalan mengelilingi ruangan dapur melihat ibu sambungku yang sibuk dengan kegiatannya. Aku melihat dia mengutip sampah dan membuangnya. "Liyan, nanti kalau Ibu tidak ada di rumah. Jangan lupa sapu halaman kumpulkan seperti ini lalu buang dengan pengkik ini," kata ibu sambungku yang mengetahui kalau aku berdiri melihatnya.
Aku yang mendengarnya. "Pengkik?" gumamku pelan bertanya pada diriku sendiri.
"Apa itu pengkik, Kak?" bisik adikku bertanya di telingaku.
Aku langsung memutar kepala. "Kakak juga tidak tahu," jawabku.
"Kenapa Kakak tidak bertanya saja langsung ?" saran adikku bertanya.
Sontak aku langsung mengangkat sedikit kepala melihat adikku yang memberiku saran. Aku kemudian melihatnya dan melihat ibu sambungku yang membawa sampah itu.
Sampah yang tadi pun dia buang dan kumpulkan itu kemudian dia bakar di tempat pembakaran sampah.
"Saran dari adikku benar juga," kataku pelan pada diri sendiri. "Ana, kau benar juga. Kakak juga penasaran, apa itu pengkik?" kataku menatap adikku.
Adikku seketika tersimpul manis ke arahku setelah mendengar yang kusampaikan. "Kalau begitu tanya, Kak," desak adikku. "Biar kita tahu, Kak." Adikku dengan antusias memaksaku untuk segera bertanya.
Sebelum aku bertanya pada ibu sambungku. Aku menyempatkan sebentar melihat ke arah ayahku. Ayahku yang sedari tadi tidak bersuara sepatah kata pun membuat aku menjadi penasaran. Perlahan bola mata ini pun menyorot ayahku yang begitu cemas sehingga ayahku dengan cepat merapikan pakaiannya. Aku yang penasaran dengan ayahku membatalkan niatku untuk bertanya sesuai permintaan adikku.
"Ana, Kakak tidak mau menanyakan itu pada Ibu," jawabku menolaknya dengan singkat.
"Loh, kenapa begitu Kak?" tanya adikku keheranan.
"Kakak ingin bertanya pada Ayah," kataku . Aku langsung berjalan.
__ADS_1
"Bertanya pada Ayah?" Adikku kebingungan mengetahuinya. "Apa yang ingin Kakak tanyakan pada Ayah?" tanya adikku bingung sembari melihat ayahku.
Adikku berjalan mengikutiku yang telah berjalan menghampiri ayahku. Sesampainya aku dan adikku bertemu pandang dari jarak yang tidak terlalu jauh. Aku yang ingin bertanya pada ayahku, mendapat sedikit isyarat dari adikku agar aku berhati-hati.
Sssttt ! Aku menyuruh adikku diam dan mengerjitkan kedua mataku agar adikku tenang.
Aku yang berdiri tepat di dekat kamar ayahku. Menetralkan diri ini hingga merasa tenang. Aku tatap wajah senja ayahku yang lelah dan diselimuti kegelisahan. "Yah, Ayah mencari apa?" tanyaku dengan nada suara yang pelan.
"Ayah tidak mencari apa-apa!" jawab ayahku fokus melihat tikar yang dirapikannya. Ayahku yang tidak mempedulikan aku yang berdiri di dekatnya segera melangkah ke samping tepatnya mendatangi lemari pakaiannya yang berada di dekat adikku.
Seketika adikku yang ikut melihat ayahku juga menatapku. "Apa kata Ayah, Kak?" tanya adikku yang menggelitik hatinya karena melihat ayahku yang cuek sekali ketika aku bertanya.
"Tidak ada apa-apa," jawabku.
"Makanya Kak! Tidak usah bertanya pada Ayah," kata adikku dengan sendu menatapku.
"Kakak cuman ingin memastikan," kataku selanjutnya.
"Memastikan apa, Kak?" tanya adikku menyelidiki.
"Kakak ingin tahu. Kita di kasih Ayah keluar atau tidak," ungkapku dengan gulatan kebingungan.
"Iya, tapi Ayah hanya menjawab tidak ada apa-apa," keluhku sambil menatap nanar dengan sendu.
"Kak, jangan menyerah! Ayo kita coba sekali lagi! Siapa tahu? Ayah mendengarkannya." Adikku memberi semangat dan mengajakku untuk kembali merayu ayahku agar kami di kasih keluar rumah, sekedar hanya untuk bermain.
Aku yang berdiri pun hanya bergeming melihat ayahku yang telah siap merapikan tempat tidur dan pakaiannya yang tergantung. Rasanya begitu berat bagiku untuk merayu ayahku yang tegas dalam memberikan keputusan. Ayahku selalu tegas dan tidak pernah main-main dengan apa yang telah di ucapkannya. Aku pun tak pernah mengingkari yang telah di sampaikan ayahku padaku.
Semaksimal mungkin aku menjalaninya walaupun hatiku bertentangan. Sebagi anak pertama dari ayahku. Aku harus bisa dan tidak boleh mengeluh meski aku tahu kalau itu memberatkan langkahku untuk bermain bersama dengan teman-temanku.
Aku harus menjadi anak sekaligus Kakak yang bisa mengayomi adiknya. Aku tak pernah beristirahat untuk menjalankan sesuai perintah ayahku. Aku selalu menjalankannya sesuai janjiku pada ayahku. Janjiku tidak pernah main-main dengan ayahku sekali aku mengatakannya aku akan melaksanakannya.
Sama halnya dengan larangan keras dari ayahku terhadap kami. Larangan yang tidak memperbolehkan kami lagi untuk bermain bebas di luar rumah setelah kesalahan berulang kali terjadi akibat kelalaian kami yang pulang sekolah terlambat sampai ke rumah.
Semenjak saat itu hingga saat ini sedikit pun kami belum pernah bermain di luar rumah, seperti biasanya. Aku dan adikku hanya menghabiskan waktu di dalam kamar sambil bermain apa adanya.
__ADS_1
Terkadang adikku yang lucu mengeluarkan seribu ide untuk mengusir kejenuhan di dalam rumah. Dia terkadang beratraksi menjadi seorang badut. Dia terkadang juga beratraksi sebagai seorang ibu pada bonekanya yang imut. Sementara aku sibuk dengan diriku menemani adikku yang bermain.
Aku yang tidak pernah mendapat kesempatan bermain boneka bahkan memilikinya hanya tersenyum melihat adikku yang menimang bonekanya. Namun, aku tak perlu mengatakan bahasa apapun, pada ayahku untuk mengungkap bahwa aku menginginkan boneka, seperti adikku.
Aku yang lebih tua dari adikku harus pandai-pandai memahami keuangan ayahku yang seorang pembawa becak dayung. Melihat adikku bahagia aku sudah begitu senang.
Aku yang masih bergeming melihat ayahku belum berani meminta izin untuk bermain di luar sore ini. Namun, karena desakkan adikku yang terus merongrongku memberanikan kaki ini untuk melangkah kembali. "Ayah, boleh, ya! Kami bermain di luar sebentar saja," pintaku memohon kepada ayahku.
Ayahku yang telah keluar dari kamar dan memakai pakaian rapi. "Ayah sebenarnya tidak ingin kalian lagi bermain di luar," kata ayahku tegas. Karena kalau kalian sudah keluar tidak tahu jalan pulang." Ayahku melirik adikku. Apalagi ini karena kalian tidak pernah ke luar selama ini, pasti kalian berdua akan kelayapan entah kemana," lanjut ayahku berjalan mengambil sepatu.
Aku yang mendengar alasan ayahku memutar kepala melihat adikku yang mendengarkan sambil berdiri. Adikku yang terlihat kecewa refleks memutar bola matanya melihat dinding dan menunduk dengan air mata yang mengajak di pelupuk mata.
"Kalian berdua sekarang sama saja," tandas ayahku. "Kalau sudah di beri kelonggaran bermain di luar rumah. Sampai Maghrib kalian masih di luar." Ayahku memutar bola matanya melihatku sambil memegang sepatu. "Jadi, Ayah kesal melihatmu... ." Ayahku semakin menatapku. "... yang tidak bisa mengendalikan adikmu."
"Kasih saja lah, mereka dulu keluar sebentar. Untuk bermain," potong ibu sambungku yang melangkah masuk.
Sontak aku dan ayahku memutar kepala melihatnya. "Kalau orang ini di kasih keluar! Tidak akan ada yang pulang, kalau tidak di cari." Ayahku duduk memakai sepatu. "Sementara, aku mau pergi keluar sekarang," ungkap ayahku melihat ibu sambung kami yang bergegas mengambil handuk. "Mereka itu sudah bosan di rumah di kurung." Ibu sambungku mengambil sabun dan membawanya menghilang.
Ayahku langsung memutar pandangannya setelah ibu sambung kami menghilang dari balik pintu. "Yaaa, mendengar ucapan Ibumu. Jadi, Ayah mengizinkan kalian keluar rumah. Tapi ingat! Bermain di sekitaran rumah saja. Sambil kalian angkat pakaian yang ada di jemuran itu!" Ayahku berjalan ke pintu sambil melirik keluar sebagai isyarat kalau ayahku melihat jemuran.
"Iya Ayah, kami akan mengangkatnya," jawabku melihat adikku yang pias.
"Baiklah," kata ayahku sebagai balasan atas omonganku. "Sekarang Ayah pergi dulu." Ayahku langsung menghilang.
Setelah aku melihat ayahku sampai menghilang. Aku pun menghampiri adikku. "Ana, ayo kita bermain!" ajakku dengan melihat kepiasan di wajah adikku.
Aku berjalan keluar mengambil pakaian yang tergantung di jemuran terlebih dahulu. "Kak , mau kemana?" tanya adikku mendekatiku lagi.
"Kakak mau ke sini," jawabku berjalan mendekati jemuran dan berhenti . "Kakak di suruh Ayah mengambil pakaian ini." Aku pun menarik satu per satu dari jemuran itu.
"Ooh!!! Sekarang Ayah sudah patuh dengan wanita itu," timpal adikku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...