
"Tapi 'kan enak," lanjutku singkat.
Adikku langsung menaikkan kepalanya. "Enak kenapa Kak?" tanyanya, melirikku yang duduk di atas tempat tidur.
"Kita udah jalan-jalan cari kotak," ungkapku, melihat angin yang berembus di luar.
"Aku malas Kak! Aku udah gak mau lagi," cetus adikku, menyandarkan kepalanya di atas kedua lututnya. "Karena Ayah bilang, "Kita gak boleh keluar," ungkap adikku lirih.
Kedua bibirku langsung tertutup rapat dan memutar kepala melihat buah jambu yang terus berbuah lebat.
"Ana, kalau Ayah pulang dan melihat Ibu, Ayah pasti senang," ucapku, menatap awan yang berjalan.
"Kakak gak usah bilang-bilang itu lagi di depan ku. Aku gak suka dengarnya," celetuk adikku emosi. " 'Kan udah aku bilang dari tadi, jangan bilang itu lagi, huh!" pekiknya. Bangun dan meninggalkan aku.
Refleks aku memutar kepala melihat adikku yang menjauh dariku. "Kakak, terlalu sering ngomong itu!" katanya sebal, menarik selimut dan bantal yang telah tersusun rapi.
Puk!
Puk!
Puk!
Bantal-bantal yang kususun pun kini telah berantakan di atas tempat tidur dan satu bantal terlempar begitu saja mengenai tubuh mungil yang lemah ini.
Baugh!
"Augh !" jeritku sedikit kesakitan. Mengelus pundak yang terasa panas akibat hempasan dari bantal.
"Makanya Kak. Gak usah bilang nama itu lagi!" bentak adikku kesal. "Kakak sangat sayang kali samanya . Padahal, dia udah jahat sama kita," gerutu adikku penuh kebencian. Duduk bersandar di dinding dan menatap nanar lurus ke depan dengan pandangan kosong.
Kedua bola mataku langsung menunduk penuh sesal melihat langit yang masih cerah. Bibir pucat ini pun langsung cemberut.
"Ya udah! Kakak gak akan bilang itu lagi samamu, Dik," balasku mengiba. Duduk bersila dengan tubuh yang sedikit miring melihat daun yang terbang.
"Alah, aku gak percaya. Dari semalam Kakak bilang kayak gitu. Tapi malah Kakak ulangi lagi," tandas adikku.
Saat ini aku sudah menanamkan di dalam diri kalau aku tidak akan lagi menyebutnya. Suara langkah kaki pun terdengar mendekati kamar kami.
"Liyan, kenapa Ayahmu tidak menimbakan air?" tanya ibu sambung. Berdiri dan membuka tirai.
__ADS_1
Refleks sambil terkejut aku menatap ibu sambung yang berdiri di depan pintu. "Kami gak tau, Bu," jawabku pelan, menunduk melihat ujung kakinya yang sedikit melewati tirai.
"Kenapa kalian di tanya selalu gak tau?" tanya ibu sambung penuh sesal. "Setiap di Tanya selalu jawabnya, gak tau! Membosankan!" sentaknya. Pergi dan melepaskan tirai dengan kasar. "Berkali-kali di tanya, selalu jawabnya tidak tahu," gumam ibu sambung kesal pada dirinya sendiri.
Sekelebat masalah yang datang menyerang, aku melepaskan ketegangan yang baru aku dengar melihat adikku yang duduk terseret ke sudut dinding.
"Ana, untung aja kita gak keluar cari kotak," ledekku mencandai adikku yang duduk tersudut.
Bantal yang menutupi kedua kakinya kini diambilnya perlahan sambil menetralkan rasa takut yang mencekam.
"Kotak lagi!" katanya kesal, menutupi setengah wajahnya dengan bantal.
Tatapanku yang nanar terus memandangi adikku yang tidak banyak bicara saat ini. "Ana, Ibu 'kan cuma bilang gitu aja! Jadi, gak usah takut, ya!" pintaku memohon dengan lembut, menyeret sedikit tubuh mungil yang lemah ini maju ke depan. "Ibu cuma nanya gitu aja kok. 'Kan Ibu gak menghukum kita," ucapku kembali melihat adikku yang mulai mematung.
"Kak, tapi matanya ngeri," sambung adikku. "Dan suaranya juga keras," lanjutnya mengadu, menutupi wajahnya dengan bantal.
Saat ini aku juga masih merasakan, seperti yang adikku katakan. Akan tetapi, demi adikku terpaksa aku harus bisa kuat.
"Udah lah Ana! Itu cuma sebentar kok. Palingan nanti Ibu lupa. Jadi, jangan takut!" kataku memberi support pada adikku.
"Semoga Ayah cepat pulang," harap adikku memohon, menarik kain selimut.
"Kalau Ayah pulang. Pasti Ayah akan menimbakan air mandian kita, Iya 'kan?" kataku bertanya pada adikku lembut, melayangkan wajah ceria.
"Aku gak mandi 'Kak," ucap adikku, menatap dengan sorot mata pilu.
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu bercampur terkejut, mengatur duduk lebih bagus lagi sambil menyingkirkan banyak yang tadi terlempar.
"Aku kedinginan," jawab adikku langsung.
Sontak kedua bola mataku membelalak. "Apa kau sakit?" tanyaku kembali panik.
"Kenapa Kakak kayak gitu?" tanya adikku tenang.
"Apa? Kenapa Kakak kayak gitu?" tanyaku terheran mengulanginya pada diri sendiri akibat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh adikku. "
"Iya, Kakak kayak terkejut," jawab adikku langsung. "Aku itu gak sakit, Kak. Aku cuma malas aja mandi," lanjutnya.
"Kenapa?" tanyaku langsung, menatap adikku serius.
__ADS_1
"Karena Ibu kesayangannya Kakak itu!" terangnya, menempelkan kain di kedua pipinya yang cabi.
Mulutku pun seakan malu ingin berucap dan terus menatap kedua kakiku yang terlipat bersila.
"Ibu kesayangannya Kakak itu gak pernah mau diam," keluh adikku, meratapi ruangan kamar.
"Ibu mungkin capek, Dik. Ibu 'kan baru pulang," sambungku, menatap tirai kamar.
"Kakak selalu bilang itu aja. Aku bosan!" ucap adikku, membuang bantalnya langsung mengenai dinding.
"Ya udah! Kakak gak akan bicara lagi," kataku. Turun dan berdiri mengintip dari balik tirai.
"Liyan!" panggil ibu sambung tiba-tiba mengagetkan.
Refleks aku langsung memutar kepala melihat ke arah sumber suara yang terdengar. "Iya Bu," jawabku langsung. Berdiri memegang tirai kamar dengan kuat melihat pintu.
"Kau melihat apa?" tanya ibu sambung ingin tahu. Berdiri menyisir rambut.
Dengan suara berat aku terpaksa harus menjawabnya. "Melihat Ayah," balasku melihat dia yang terkejut.
"Apa? Kau mau melihat Ayahmu? Berarti kau mau mengadu, iya?" tanya ibu sambung langsung menuduh, menghentikan sisirannya.
Pandangan yang bersitatap pun begitu panik dan khawatir. "Kau sudah berani mengikuti adikmu! Yang suka mengadu!" tampiknya, memutar kepala melihat cermin. "Adikmu itu sangat nakal. Dia selalu membuat masalah!" katanya kesal.
Kepala yang tadi melihatnya, perlahan dengan cara diam-diam aku putar melihat ke arah adikku. Sungguh mengejutkan muka adikku begitu ketat. Dia mungkin ingin melawan dengan seketika. Setelah itu aku kembali memutar kepala melihat ibu sambung yang masih mengomel sambil menyisir rambut.
"Tau Liyan. Ibu gak suka melihat Adikmu itu yang gak mau memanggil Ibu dengan panggilan, 'Ibu'," katanya dengan keras, menatap wajahnya di dalam cermin. "Jadi, sekarang kau mau mengikutinya, mengintip-ngintip Ayahmu, ya?!" tuduhnya dengan enteng.
Tubuh mungil semakin gemetar dan ingin pergi jauh. Tirai kamar yang aku pegang ingin sekali aku lepas . Namun, aku tidak berani karena dia masih berdiri dan mengomel.
"Kalau kau mau sama seperti Adikmu, ya silakan! Kalian berdua 'kan Kakak beradik... ," katanya menoleh ke arahku dan diam. "Iya 'kan Liyan?" tanyanya kemudian, memegang sisir yang menggantung di rambutnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1