Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Gugup setelah melihat


__ADS_3

Ayahku memang benar udara sore ini sangat dingin, angin yang berembus pun seakan membuat siapa saja menjadi malas beraktivitas. Itulah yang aku rasakan ketika aku melihat matahari yang di selimuti awan mendung yang tebal.


Di sisi lain, adikku juga tidak salah. Dia mengatakan cuaca hari ini begitu panas. Namun, adikku tidak memperhatikan awan hitam yang tebal pertanda hari mau hujan berlabuh. Setelah aku mendengar apa yang di bilang oleh ayahku, aku langsung bergegas lari.


"Dik, sebaiknya kamu saja yang mandi." Aku berlari mendekati adikku dengan senang mengatakan padanya. "Ayah benar, Dik! Hari ini mendung dan sebentar lagi, pasti akan hujan?!" Sambil menatap adikku yang kesal.


Huuuh!


Adikku segera menghela napas dengan kecewa dia terlihat tidak begitu semangat lagi untuk mandi. Dia seperti anak yang tersesat berjalan perlahan sambil melihat kiri dan kanan dengan linglung, entah mau melakukan apa? Sabun dan handuk yang tadi tergantung di kedua tangannya kini masih terlihat bersamanya.


Larangan ayahku baginya begitu terasa berat menyiksa. Keceriaan yang terlihat di wajahnya tadi bersama harapan yang besar ingin mengajakku mandi dengannya kini harus kandas di tengah jalan. Dia tidak menyangka kalau yang diinginkannya tidak sesuai dengan kenyataan.


Ternyata adikku menyadari ayahku lebih mementingkan kesehatanku dari pada yang lain. Sekuat mungkin dia menjagakku dari hal yang akan mengancam kesembuhanku. Dia juga belakangan ini lebih sering memasang badan di depanku dari orang-orang yang mencela dan menghinaku karena penyakit yang aku derita.


Melihat dari sikap ayahku betapa sayangnya dia terhadapku membuat aku tidak bisa menentang apapun keputusannya. Demi waktu yang berjalan, aku adalah anak yang lemah dan tidak berdaya. Ketidak berdayaan ini seakan membelenggu tubuh ini sampai lelah. Kelelahan yang aku lalui hari demi hari hanya bisa menyisakan waktu yang usang.


Hidup bagaikan roda sehat dan sakit berputar secara berkala. Namun, aku harus kuat. Aku tidak boleh menyerah sekalipun sakit ini melilit. Lilitan bukanlah apa-apa bagiku. Lilitan ini semakin mengajariku cara untuk menjadi anak kecil yang kuat, menjadi anak kecil yang mandiri dan juga menjadi anak kecil yang selalu tersenyum.


Di saat, seperti ini di mana orang -orang mengejekku dan menertawakan, aku harus tetap tersenyum membalasnya karena di balik senyuman tersimpan sejuta makna yang indah. Tersimpan semangat yang kuat dan juga cerita hidup yang penuh suka dan duka. Semangat yang tinggi adalah semangat yang dapat mengalahkan musuh yang menyerang tanpa henti.


Musuh!


Musuhku saat ini cuman satu yaitu, penyakitku. Musuh ini hampir setiap hari mengikutiku ia begitu enggan untuk pergi, bahkan ia telah menjadi bayangan bagi diriku yang setiap detik menemani langkahku menapaki bumi.


Embusan angin pun semakin enggan berlalu. Ia terus menerpa tubuh ini hingga membuat bibir ini membeku dan biru. Tubuh mungil yang telah lemah ini seakan semakin menjerit . Ia ingin sekali rasanya berteriak dengan keras kalau ia sudah tidak tahan lagi menjadi wadah hempasan angin yang bertiup.


Sementara aku yang tidak mendengar jeritan itu, bahkan tidak pernah peka atasnya, terus saja berdiri di tengah angin yang bertiup melihat adikku yang melangkah seorang diri untuk mandi.


"Dik!" Tiba-tiba aku menjerit memanggilnya dan menghentikannya, berlari mendekatinya.


"Tunggu !" Teriakku sambil mengayunkan tangan ke udara.


"Ada apa Kak?" tanya adikku sembari memutar kepalanya.


Dia berdiri diam dengan handuk dan sabun yang masih di pegangnya dengan tatapan yang tajam dan penuh tanda tanya tanpa berkedip.


Hugh! Hugh ! Hugh!


Dengan napas tersenggal karena lelah mengejar adikku. Akhirnya, aku sampai juga. "Ayo, Kakak akan menemanimu mandi!" Aku berjalan lebih dulu menuntun adikku di depan.


"Kak!" Adikku berteriak memanggilku. " 'Kan, Ayah sudah melarang Kakak, tidak boleh ikut mandi dengan ku." Adikku semakin berjalan kencang mendekatiku.


"Iya," kataku dengan singkat.


"Terus, kenapa Kakak mengikutiku?" tanya adikku dengan penasaran.

__ADS_1


"Mmm...!" Aku diam melihat ke tanah sambil berpikir mencari alasan yang tepat agar aku tidak di marahi oleh ayahku. "... Kakak ingin mencari sesuatu di sumur," lanjutku dengan berani.


Aku memang harus berani itu yang sering kutanamkan dalam diriku ini. Terutama untuk menemani adikku. "Iya, sepertinya semalam Kakak ada yang ketinggalan di situ!" kataku sambil menunduk untuk menutupi ketidak jujuranku .


"Kakak 'kan, semalam tidak mandi?" tanya adikku yang mengetahui celahku sedikit.


"Iya," sahutku.


"Lalu?" tanya adikku semakin ingin tahu sambil menatap langit sesekali.


"Eeee...!" Sontak aku terdiam, sepertinya aku terjebak oleh diriku sendiri.


"Apa Kak?" tanya adikku ingin tahu. "Kenapa Kakak tidak bisa menjawabnya?" Adikku melanjutkan perjalanannya kembali sambil bertanya. "Aku tahu, Kakak pasti berbohong, iya 'kan, Kak? Kakak hanya ingin menemani aku mandi saja. Bukan mencari sesuatu yang tinggal di sumur, 'kan?" tanya adikku yang sudah mencium alasanku.


"Hehehe !" Aku pun langsung nyengir. " Iya," jawabku dengan malu.


"Kakaaak! Jangan biasakan seperti itu!" tandas adikku dengan lembut. "Itu tidak baik. Bagaimana kalau sampai Ayah mengetahuinya, kalau Kakak berbohong?" Adikku bertanya sambil melihatku kebelakang.


"Ayah pasti marah?!" Aku langsung menjawab pertanyaan adikku.


"Itu 'kan, Kakak tahu!" lanjut adikku.


"Iya," sahutku. Aku seketika terdiam malu di hadapan adikku sendiri. Aku yang menjadi contoh pada adikku ini, malah aku yang mencoba merusaknya. Seakan serangan yang menyalahkan diriku datang dari belakang menudingku.


Anak yang menjadi harapan bagi orang tuanya, kini telah berbuat kesalahan dengan mengatakan yang tidak jujur supaya bisa menemani adiknya mandi. Berbagai cara pun aku lakukan hanya untuk mengikuti adikku agar dia tidak seorang diri di sumur.


"Kakak tidak perlu takut. Aku berani kok, Kak. Lagian ini 'kan belum gelap," ucap adikku melanjutkan jalannya. "Apa lagi Ibu tersayangnya Kakak 'kan di situ," sambungnya.


Spontan aku terperanjat dan terdiam seakan yang kudengar bagaikan mimpi. "Apa?!" balasku dengan kaget. Berhenti.


"Kok Kakak, seperti orang aneh!" celetuk adikku yang menganggap biasa-biasa saja.


"Walaupun, Dik, tapi Kakak tetep khawatir," sambungku. "Karena 'kan Kakak harus menjagamu," kataku dengan pelan.


"Tapi, kakak juga harus menjaga kesehatan, Kakak. Kalau Kakak semakin sakit, nanti Kakak tidak bisa ikut ujian," ujar adikku mengingatkan. "Apalagi Ayah ... ." Adikku terdiam seakan dia tidak ingin melanjutkan yang ingin dibilangnya.


" Kenapa dengan Ayah?" tanyaku sambil mencari- cari suara yang aku dengar.


Kresek! Kresek! Kresek!


Semakin lama suara itu semakin dekat berdampingan dengan langkah kami. Aku dan adikku bertemu pandang dengan sorot mata memberi isyarat bertanya satu sama lain. Kami pun semakin berkutat ingin mencari tahu suara itu sumbernya dari mana.


Langkah pun tetap kami ayunkan hingga sampai ke sumur. Tiba-tiba, kedua mataku membelalak, ternyata adikku benar. Ibu sambung kami ada di sumur lagi mencuci.


"Kenapa Ibu mencuci?" bisikku pada adikku.

__ADS_1


"Mana aku tahu, Kak," jawab adikku dengan acuh.


"Bukannya selama ini, Ayah yang mencuci?!" gumamku pada diriku sendiri.


Aku terus menatapnya dengan lekat sambil bertanya-tanya. Selama ini yang aku ketahui bahwa yang mencuci pakaian kami adalah ayahku sendiri karena sepengetahuanku ayahku tidak mau memberatkan siapapun dalam mengurus anak -anaknya, apalagi dalam mencuci pakaian kami.


Ayahku tidak mau kalau kami dan dirinya menjadi beban pada siapapun. Dia tidak pernah ingin anak-anaknya menjadi beban dan dia juga tidak pernah mengizinkan orang lain untuk membantu pekerjaannya, apalagi itu mengenai kami berdua.


Untuk itu, ayahku sebisa mungkin mengatur waktunya antara mencari nafkah dan mengurus kami. Seperti itulah yang dia lakukan hari demi hari. Detik berganti menit ayahku tidak pernah mengeluh dan merepotkan siapapun, terkhusus juga untuk istrinya. Dia tidak pernah menuntut untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ayahku sudah merasa bersyukur kepada ibu sambung kami karena sudah mau menjaga kami. Di luar itu, ayahku selalu menghandle sendiri pekerjaan di dalam rumah. Dia tidak pernah meminta bantuan ataupun mau di bantu. Di selalu sadar diri kalau dia begitu banyak menyusahkan orang lain. Maka dari itu dia tidak mau melakukan hal yang sama kepada istri barunya.


Melihat ibu sambung kami yang ringan hati hari ini membantu ayahku mengingatkanku kembali kebelakang tentang ayahku.


Kaki yang ingin berhenti, terus melangkah tanpa di sadari bersama adikku yang berdiri dengan gugup ketika melihat ibu sambung kami berada satu tempat dengannya.


"Kak, Ibu tersayang Kakak itu pelan sekali menyikat pakaian itu!" keluh adikku menunjuk dengan kedua bola matanya. "Bisa lama dong Kak. Ibu tersayang Kakak selesai," gerutu adikku sedikit masam.


" 'Kan lebih bagus, Dik! Kalau lama?!" sambungku menatap adikku.


"Itu yang Kakak inginkan. Iya kan, Kak?!" Adikku menatapku berjalan mendekati sumur. "Kak, berarti tadi Ayah benar... ," cetus adikku.


"Benar apanya?" tanyaku dengan penasaran.


"Kalau Ayah melarang Kakak untuk menemaniku mandi. Karena Ayah sudah tahu, kalau istri kesayangannya di sini," cetus adikku dengan lugas. Sok tahu.


"Sok tahu kamu," cibirku. "Ayah tadi engga ada bilang apa -apa?!" Aku menatap adikku yang menyuruhku diam.


"Sssttt!" Adikku pun memberi isyarat dengan mengayunkan tangannya setengah di udara menyuruhku untuk menahan kata-kata yang indah keluar.


Diam tapi pasti kami berdua pun sampai di sumur. Akhirnya, adikku terjebak di antara egonya sendiri.


"Ada apa Liyan? Kau mau mandi?" tanya ibu sambung kami sambil membalik pakaian.


"Tidak," jawabku sambil menjauh dari percikan air.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1



__ADS_2