
Setelah aku selesai meminum obatku. Selanjutnya aku pergi tidur. Mata sayuku akibat sakit yang masih berkepanjangan membuatku tidak bersemangat.
Ayahku begitu mengawasi aku malam ini. Tidak ada satupun yang lengah dari pengawasannya. Mengingat diriku besok akan berobat untuk Check up lanjutan. Tubuhku begitu gemetar mengingat besok. Jemariku begitu lemah tidak berdaya, dingin dan kaku.
" Liyan, malam ini kamu harus tidur cepat! Karena ayah tidak mau kamu besok terlambat bangun. Tidak ada alasan besok kamu kesiangan bangun. Mengerti!" Menatapku dengan tajam.
" Ia Ayah!" Berjalan sambil menunduk.
Aku masuk kedalam kamar. Mengikuti Perintah ayahku. Tubuh mungilku yang lemah. Lalu aku rebahkan. Untuk menutup mataku dan melupakan sejenak sakitku. Napas yang terengah aku hembuskan dengan sedikit sesak.
Tangan kecilku refleks menarik selimut tebal untuk menutupi tubuhku yang kedinginan. Tempat tidur yang tanpa alas, malam ini menjadi tempat persinggahan ku. Untuk merebahkan tubuhku yang lemah.
Sementara, adikku yang menjadi teman bertengkarku. Masih terdengar berdebat dengan ayahku.
" Ayah besok Ana libur, ya!" Pinta adikku dengan pelan.
" Apa! Kenapa kau besok libur?" Tanya ayahku dengan penasaran.
" Ia Ayah. Ana pengen libur aja." Dengan pelan. Penuh percaya diri.
" Tidak! Baru lagi kau masuk sekolah sudah mau libur." Pekik ayahku dengan protes.
" Ayah, kenapa Ana tidak boleh libur? Tanya adikku dengan protes. " Padahal, teman Ana ada juga yang libur." Memberi kebenaran kepada ayahku. Liburnya! Lama lagi Ayah." Kata adikku kembali.
Seketika ayahku diam. Tidak ada suara yang keluar sepatah katapun.
"Mau ngapain lah kau libur?!" Tanya ibu sambung kami menimpali. " Jangan ikuti kawanmu. Kawanmu libur, kau libur!" Dengan kesal.
Adikku diam tak ada terdengar suara pembelaan keluar dari mulutnya untuk dirinya sendiri.
" Ia nak! Kamu besok sekolah aja, ya!" Pinta ayahku merayu adikku. " Bentar lagi kan mau ujian." Kata ayahku, menasehati.
"Ayah! Sekali ini saja." Rayu adikku.
" Tidak boleh! Kau besok harus sekolah." Kata ibu sambung kami sedikit berteriak.
Mataku rasanya enggan terpejam. Keributan diluar kamarku membuat ku membuka kembali mataku dengan lebar. Rasa kantuk yang begitu berat tadi kurasakan, kini menghilang.
" Nak, sekolah itu sangat berguna untuk mu kelak. Itu adalah masa depan mu, nak! Jadi, jangan sia-siakan. Apalagi, membuat libur dengan alasan tersendiri." Dengan pelan. Seakan ayahku berhati-hati. " Alasan kamu apa? Mau libur, Ayah pengen tahu." Kata ayahku kembali.
" Engga ada Ayah. Ana, mau ikut sama kakak berobat." Dengan lugas.
Hahaha! Ayahku tertawa kecil.
" Mau ngapain kamu ikut? Membawa kakakmu berobat. Itu tanggung jawab Ayah. Tugas kamu adalah untuk belajar, nak." Dangan tegas. Ayahku memberi pandangan.
" Ia, kau engga usah libur. Libur aja tahu mu! Baru masuk sekolah sudah libur!" Pekik ibu sambung kami kembali dengan berteriak.
" Sudah! Pergi sana tidur." Dengan pelan. " Besok kamu biar engga terlambat bangun. Besok Ayah mau pergi cepat!"
Sedikitpun, aku tidak mendengar suara bantahan dari adikku. Bahkan, suara pembelaan untuk dirinya sendiri pun tidak ada. Dia masih sama tetap diam.
Dengusan kasar terdengar didekat tirai kamarku. Bayangan hitam terlihat berdiri. Adikku pun, menyibak tirai kamar dan masuk. Wajahnya begitu di tekuk. Masam dan cemberut. Sorot matanya yang memerah menatap ku sekilas dengan tajam.
Huh! Menghempaskan tubuhnya.
Dia memang selau ikut campur. Ada aja yang dibilangnya. Sampai Ayah tidak berani membelaku. Menatap ku. " Kak! Kakak sudah tidur?!" Tanyanya sambil melihat ku.
Rasa jahilku pun timbul ingin mengerjai adikku. Beberapa kali dia menanyaiku. Aku masih tetap diam. Kalau aku menyahut dia. Aku bakalan tidak bisa tidur malam ini akibat rengekannya nanti.
Bukan adikku kalau dia tidak berusaha sebisanya. " Kak, bangun dulu. Jangan pura-pura tidur, ya!" Dengan kesal. " Kakak tau engga perempuan itu!" Begitu kesal. " Masa dia melarang ku tidak boleh libur." Wajah kesalnya semakin ketat.
" Kak, bangunlah!" Menghampiri ku duduk. Sambil menjentikkan jemarinya di keningku.
Dengan kekesalan aku membuka mataku. Wajah kesalnya semakin ketat. Tidak ada wajah merona yang terpancar.
" Dek, kita tidur aja. Besok kakak terlambat." Menutup wajahku.
" Kak!" Menarik selimut yang menutupi wajahku. " Dengarkan aku dulu bicara." Dengan kesal. Memaksa.
" Mau mendengarkan apa, dek?!" Dengan suara parau.
" Kak, masa Ayah engga ngasih aku libur besok, kak!" Dengan sedih.
" Terus!" Kataku sambil melihat adikku yang begitu sedih.
" Aku mau libur kak, besok. Apa alasan ku ya, kak?" Tanya adikku. Sambil berpikir mencari-cari alasan.
"Kak, bantulah aku." Menatap ku lirih. Dengan wajah memohon.
" Apa alasan kakak, dek? Lagian kakak engga berani. Karena Ayah galak. Kakak takut!" Kataku dengan pelan. Menolak keinginan adikku.
Kalau aku mengikuti kemauan adikku. Pasti aku yang akan dimarahi oleh Ayahku. Karena bagi Ayahku. Aku itu anak paling besar harus bisa memberi contoh yang baik untuk adikku. Malam ini kepalaku yang pusing semakin pusing.
__ADS_1
Melihat adikku yang terus merengek. Ingin libur sekolah besok dengan meminta bantuan ku untuk menolong dia memuluskan keinginannya.
Aduh! Gerutuku dengan kesal.
Bukan adikku namanya, kalau dia tidak punya banyak akal. Bukan adikku juga kalau dia bakalan mengganggu ku sampai aku jenuh dengan rengekannya.
" Kak, bantu aku besok, ya!" Memasang wajah memohon seakan terlihat seperti orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan darurat.
Dan bukan Liyan juga, kalau bersikeras dengan keputusannya. Aku mana mungkin membantu adikku yang akan membuat ku terlilit masalah. Belum lagi, aku sedang sakit. Napas ku aja begitu berat aku tarik. Sesak rasanya. Mataku pun begitu sayu. Seakan aku tidak bisa melihat dengan jelas. Tungkai kakiku begitu lemah. Bahkan, berdiri saja pun, aku hampir mau jatuh.
" Dek, kita tidur aja! Besok kau pasti dapat alasan yang lain." Menatap adikku. Memberikan ia keyakinan percaya pada dirinya sendiri.
" Aku takut, aku engga dikasih kak." Sedikit lemas. " Lagi pula aku engga tahu alasannya, apa? Memonyongkan bibirnya kedepan dengan wajah yang kusut.
" Itu kan! Kamu aja engga tahu apa alasannya. Apalagi Kakak!" Kataku dengan ketus.
Adikku serasa putus asa. Sampai saat ini ia belum mendapatkan alasan yang tepat. Dia menatapku dengan cemberut dan menggeser tubuhnya menjauh dariku. Dia pun tidur menarik selimutnya. Tapi, wajahnya masih terus berpikir.
Sesekali, aku menatapnya. Menghela napas. Kedua matanya masih terbuka dengan lebar. Melihat langit-langit kamar dengan menggumam kecil.
Wajahnya seakan mengeluarkan ekspresi. Kalau adikku ingin memberi kejutan esok hari. Ntah, apa yang sedang ia pikirkan. Aku hanya bisa melihatnya dan berdoa semoga besok pagi tidak ada keributan. Akibat ulah adikku yang keras kepala.
" Kak, aku udah dapat alasannya." Menyeringai.
Aku hanya diam. Melihat wajahnya yang begitu senang sekaligus tersirat sedikit ingin membalas dendam.
" Kak, aku besok pasti jadi libur. Lihat saja!" Dengan wajah menantang. " Kak, kakak sudah tidur, ya. Kakak pun tidur cepat kali, tidur." Huh! Payah.
Hanya orang yang rela menyerahkan dirinya besok untuk dimarahi habis-habisan oleh ayahku akibat mendengarkan dia. Kalau aku tidak! Karena aku besok mau cepat pergi berobat.
Tubuhku yang lemah telah terbaring dengan selimut tebal. Mata sayuku pun kini tertutup dan aku terlelap menikmati malam.
.
.
.
Setelah lama malam berlalu. Aku masih tidur dengan begitu pulas.
" Liyan!" Teriak ayahku begitu keras memanggilku.
Aku pun sontak terperanjat menarik selimut yang menutupi tubuhku.
" Ia Ayah!" Turun dari tempat tidur.
Aku langsung keluar. Berjalan dengan tungkai kakiku yang lemah. Tubuhku rasanya begitu lemas. Udara pagi yang sejuk terasa dingin menyentuhku. Membuat ku menggigil.
" Liyan, apalagi cepat, mandi!" Pekik ayahku sedikit keras.
Mendengar itu seketika aku terperanjat. Bagaikan tersambar petir disiang bolong. Mandi! Mengingat tubuhku yang suhu panasnya tinggi dan kedinginan. Memaksa ku untuk tidak mau mengikuti perintah ayahku.
Aku hanya diam melihat ayahku. Berjalan lurus perlahan tanpa melihat-lihat sekeliling. Tatapan ku yang kosong membuatku tidak berdaya.
Pikiranku pun berkata sambil aku mengambil handuk yang tergantung. Aku engga mandi! Inilah keputusan ku yang aku buat untuk diriku sendiri dengan tegas.
Langkah ku yang terseok-seok masuk kamar mandi.
" Liyan, cepat! Nanti kita terlambat." Kata ibu sambungku menghampiri ku dikamar mandi.
Kamar mandi yang sunyi. Aku hanya diam dan menjawab dengan singkat.
" Ia Bu!" Sahutku dari kamar mandi.
Air dingin yang berembun satu malaman pun, aku siramkan ke wajahku yang pucat. Tubuh mungilku yang lemah begitu gemetar menyentuhnya. Terasa dingin sekali.
Dari dalam kamar mandi yang terdapat sumur didalamnya. Aku mendengar sayup-sayup suara ayahku dan ibu sambungku lagi ribut. Dari pendengaran ku. Aku mendengar sedikit jelas mereka menyebut namaku.
Aku pun dengan cepat membersihkan diriku yang kedinginan. Pagi ini aku tidak mandi. Lagi pula harinya begitu dingin. Pikirku.
" Liyan, kenapa lama kali." Pekik ibu sambungku berdiri menatapku dengan sedikit kesal. " Kita ini mau berangkat. Kita harus cepat, nanti disana ramai. Lama ngantrinya." Kata ibu sambungku dengan tegas.
Tubuh mungilku pun masuk dengan menyeret kakiku yang lemah.
"Letakkan handuk mu disini!" Menunjuk gantungan yang terbentang disudut pintu dapur.
" Baik, Bu!" Dengan pelan dan menunduk.
Kali ini dia begitu perhatian. Mencari nama baik didepan ayahku. Tapi sayangnya, itu tidak berlaku untuk adikku.
" Ana, cepat bangun, apalagi!" Teriak ibu sambungku dengan keras.
Begitu, ibu sambungku ingin memutarkan badannya. Dia begitu kaget melihatku berjalan disebelahnya. Dia menatapku seakan ia ingin mengatakan, mau masuk bilang-bilang dulu. Dengan refleks aku pun kaget juga.
__ADS_1
Wajahku yang spontan menatapnya seketika aku memalingkan darinya.
" Kalian berdua sama aja!" Mendelik.
Dia pun menghilang begitu saja. Aku melangkah masuk dan melihat adikku masih tidur dengan pulas. Jam sudah menunjukkan jam 07 : 10 WIB.
" Liyan, sudah siap?!" Tanya ayahku dengan sedikit keras.
" Sebentar, Ayah! Liyan lagi pakai baju." Gerutuku dengan sedikit kesal.
Tanganku yang gemetar. Mengambil baju dari dalam lemari. Memakainya dengan tertatih.
" Sudah, ayo berangkat sekarang!" Ayahku berjalan lebih dulu.
Sementara, aku dan ibu sambungku berjalan mengikutinya dari belakang. Mataku menatap nanar lurus kedepan dengan pikiranku berkecamuk.
Rumah sakit yang tidak menyenangkan sudah tergambar dengan begitu menakutkan. Di sepanjang jalan yang aku lalui aku hanya mengingat rumah sakit. Dokter muda yang baik hati pasti duduk di kursinya menungguku dengan jarum suntiknya.
Seketika keberanian ku menciut. Mengingat jarum suntik yang menyakitkan menyentuh tubuh mungilku.
" Liyan, cepat naik, apa lagi!" Perintah ayahku.
Kakiku pun spontan naik dan duduk di becak yang akan di bawa oleh ayahku. Pikirku tadi yang bergulat dengan takut. Kini aku netralkan kembali. Begitu, juga dengan ibu sambungku yang berjalan tepat disamping ku. Dia pun naik sama seperti yang ku lakukan. Duduk diam di sebelah ku. Melihat ku dengan sorot mata yang menakutkan.
Aku yang bertemu pandang dengan nya memalingkan seketika pandangan ku. Menunduk melihat jemari kakiku.
" Liyan, tadi adikmu sudah kau bangunin?!" Tanya nya dengan tatapan yang tajam.
Sontak aku diam. Memutarkan kedua bola mataku. Pikiranku langsung terhenti mengingat rumah sakit dan kini berputar menuju adikku.
Raut wajahku pun begitu panik. Hatiku terus merututi kesalahanku yang melupakan adikku.
Pandanganku pun seketika, ku lemparkan melihat ayahku yang mengayuh becak.
Ayahku tidak tahu kalau adikku tadi belum bangun.
" Liyan, kenapa?!" Tanya ibu sambungku yang berbisik ditelingaku. " Kau tidak membangunkan adikmu, kan?!" Tanyanya kembali.
Mendengar bisikan nya aku pun semakin panik. Tubuh mungilku yang lemas tadi, kini semakin lemas dan gemetar.
" Ia Bu! Liyan lupa." Kataku dengan wajah sedikit merasa bersalah.
" Kau ini, selalu saja lupa!" Dengan penuh penekanan.
Air mataku ingin menetes. Mataku kini telah berkaca-kaca.
" Ada apa? Apa yang lupa?" Tanya ayahku dengan begitu tenang. Ayahku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Ibu sambungku masih saja memasang wajah kesal.
" Liyan, kita sudah sampai. Ayo turun!" Ayahku meminggirkan becak dayungnya di luar pagar rumah sakit.
Sementara, Aku begitu gugup. Seakan aku baru pertama kali datang kerumah sakit. Melihat orang yang begitu banyak mengantri. Kakiku seakan tidak mau melangkah.
" Ayo cepat ! Apa lagi?!" Ibu sambungku melihatku dengan penuh perhatian.
" Liyan, ingat kamu jangan membuat ibu sambungmu kewalahan,ya!" Pesan ayahku.
" Ia Ayah!" Mencium punggung tangan ayahku.
Aku pun, seketika melangkah mengikuti ibu sambungku yang berjalan didepan ku.
" Liyan, kenapa tidak kau bangunin adikmu?" Kau kan tahu! Kalau Ayahmu sudah marah. Hm! Mendelik.
Hari ini aku begitu sengsara sepertinya. Akibat dari kelupaan ku. Aku harus menghadapi dua orang yang saling bertentangan.
"Maaf Bu. Liya gak ingat." Dengan suara lirih.
" Mana mungkin kau tidak ingat. Jelas-jelas adikkmu ada dihadapan mu." Katanya, dengan sedikit meninggi. Memegang berkas di tangannya.
Diriku kini semakin tersudut. Omelan yang keluar dari mulutnya begitu tak henti -hentinya.
Belum lagi, wajah ayahku menari-nari di hadapanku. Sudah jelas terlihat wajah galak ayahku. Sorot matanya yang tajam dan mendelik. Membuatku ingin bersembunyi di tempat yang jauh.
" Lihat! Ayahmu yang berdiri disana!" Menunjuk dengan memberikan isyarat lirikannya.
Aku pun melihatnya. Ayahku begitu menyedihkan terlihat. Wajah lelahnya yang menua menatap nanar dengan tatapan kosong.
" Kali ini kau memancing kemarahan ayahmu." Katanya, dengan penuh penekanan. Menghardik ku.
Aku hari ini hanya bisa diam dengan hati yang menjerit. Tangisku yang pecah hanya bisa aku curahkan didalam hati. Tenggorokan ku yang sakit akibat menahan tangisku. Terasa nyeri.
Bersambung.....
__ADS_1