
Kedua kakiku pun berjalan mengikuti adikku.
"Pasti makanannya enak?! Waah! Benar, enak sekalii! Kakak jadi lapar." Kedua bola mataku langsung terbuka dengan lebar.
"Kak, tunggu dulu!" Adikku menghentikan tanganku. "Rambut Kakak masih berantakan."
Refleks aku terkejut dan memegang rambutku. "Kakak 'kan sudah menyisirnya. Mana mungkin berantakan ?" Memegang rambutku.
"Engga berantakan dari mana?!" sela adikku mengejekku.
"Ana! Rambut kamu juga sama. Berantakan," timpalku.
"Aku memang belum sisiran, 'Kak." Adikku langsung memegang rambutnya. Dia pun segera beranjak berdiri di depan cermin dan menyisir rambut.
"Kak, jangan habiskan,ya." Adikku melihatku dari dalam cermin.
"Tapi, makanannya enak!" tandasku sambil menelan ludah.
Adikku memutar kepalanya langsung ke arahku. "Tapi 'kan. Kakak tidak bisa memakan makanan itu."
Sendok yang kupegang terlepas. "Iya, kamu benar Ana. Kakak 'kan sakit."
"Itu tahu! Berarti ini untukku." Adikku tersenyum. "Ibu tersayang Kakak memang benar, kalau Ayah katanya, memasak makanan kesukaanku." Menatap hidangan yang menggiurkan.
Aku hanya bisa menelan kesedihan melihat adikku yang mengambil nasi goreng dan telur dadar. Mencium aromanya membuat perutku semakin keroncong dengan keras sehingga adikku pun langsung menolah ke arahku.
"Kak itu suara apa?" Menatapku dengan curiga.
"Tidak ada apa-apa! Emang ada suara apa?" tanyaku pura-pura tidak tahu. Sedikit malu.
"Kayak suara cacing di dalam perut," ledek adikku dengan polos. "Pfft!" Menahan tawa.
Seketika aku malu, sedikit wajahku menahan cemberut kesal sambil meremas jemari. "Mana ada suara cacing seperti itu?!" dalihku menghilangkan kecurigaan adikku.
"Jadi, itu suara apa? Kok, terdengar dengan keras, Kak?" tanya adikku semakin penasaran.
"Kakak juga tidak tahu," kataku menyembunyikan dari adikku.
Kedua bola mata adikku masih saja menatapku dengan curiga. Dia berjalan sambil memegang piring yang berisi nasi goreng sambil duduk, meninggalkan aku yang masih berdiri di depan meja mengambil sarapanku dengan lauk khusus yang sesuai dengan saran dokter padaku agar aku segera sembuh.
Tungkai kakiku yang lemah pun melangkah menghampiri adikku dan duduk di sampingnya.
"Kak! Kakak tidak menyisir rambut Kakak lagi?!" tanya adikku melontarkan candaan padaku.
Kedua bola mataku refleks kuputar melihat ke arahnya. "Rambut?" tanyaku dengan heran.
"Iya. Rambut Kakak!" cetusnya sambil menelan nasinya. "Hahaha!" Tawanya yang renyah membangunkan suara ayahku.
"Liyan! Ketawa siap itu?" tanya Ayahku berteriak dari kamarnya.
Adikku langsung terhenti menutup bibirnya dengan rapat dan menunduk menelan sarapannya hingga habis .
Sementara aku masih bingung untuk menjawab pertanyaan ayahku. Kedua netraku yang lembut melihat adikku kembali sambil memikirkan ayahku. Tanganku yang lemah terus menyuap nasi sambil berpikir mencari jawaban yang terbaik untuk ayahku.
"Kalian itu harus cepat sarapannya, kalau mau sekolah," kata ayahku dengan tegas.
"Iya, Ayah," jawabku hingga terdengar ke telinga ayahku sambil memutar kepala melirik adikku yang duduk di sampingku. Sontak aku terkejut. "Ana kau...". Melihat adikku yang buru-buru berdiri sambil memegang piring dengan melebarkan bola mata.
__ADS_1
Adikku yang anteng terus berjalan membawa piring tanpa menghiraukan kerisauanku.
Aku pun bergegas juga dengan cepat mengikutinya menghabiskan sarapanku hingga aku tersedak.
Huk huk huk !
Aku langsung mengambil minum dan meneguknya. Tatapanku masih saja melihat arah adikku berjalan sambil membenamkan bibirku di mulut gelas.
"... kau sudah selesai Ana?" Aku kembali bertanya.
"Iya, Kak,".jawab adikku memakai sepatu. "Aku takut, Ayah akan berubah pikiran."
"Berubah pikiran, apa?" tanyaku.
"Melarang kita sekolah," tandasnya, melihatku sambil mengikat tali sepatu, sebelah lagi.
Aku sekilas bahagia. "Waah! Ana, kenapa hari ini kau pintar sekali?" Aku langsung menghampiri adikku mencubit kedua pipinya yang cabi dengan gemas.
"Kakak sakit!" teriak adikku dengan manja.
"Tunggu Kakak, ya!" Aku langsung beranjak mengantar piring ke dapur.
"Ana! Kamu ingin pergi sekolah sekarang?" tanya ayahku yang berdiri di belakang adikku.
Refleks aku memutar badan melihat ke arah sumber suara yang bertanya pada adikku. "Ayah!" gumamku pelan.
Gelas yang aku bawa pun tidak lupa kuletakkan bersama dengan piring, lalu aku berjalan mendekati adikku. Ayahku telah berdiri di sampingnya saat ini hingga membuat adikku membeku.
"Ayah kami akan berangkat sekarang," potongku menjawab pertanyaan ayahku. Mendekati ayahku dan adikku.
"Kenapa cepat sekali?" Ayahku melihat jam.
Ayahku mengangguk memberi izin. "Hati -hati di jalan," pinta ayahku meraih tangan adikku yang ingin mencium punggung tangannya.
"Liyan!" panggil ayahku.
"Iya Ayah," sahutku sambil mengikat tali sepatu.
"Kau juga hati-hati di jalan! Jangan pernah mau di ajak oleh orang yang tidak di kenal." Ayahku melihatku dengan khawatir.
"Dan jangan jajan sembarangan," timpal ibu sambung kami tiba-tiba.
"Iya," jawabku sambil mengambil tas ransel.
"Ingat, kalau ada yang mengajak jangan mau." Ayahku mengingatkan sekali lagi.
"Ayah! Liyan tidak akan mau lagi di ajak oleh orang yang tidak dikenal." Mencium punggung tangan ayahku.
"Jangan lupa! Jaga juga adikmu," kata ayahku sambil memberi uang jajan. "Ini bagi dua bersama adikmu! Kalau dia meminta lebih, jangan kasih."
"Baik Ayah." Bergeser mencium punggung tangan ibu sambung kami yang masih berdiri.
"Kalau sudah pulang jangan singgah di warung," kata ibu sambung kami menyindir yang kulakukan kemarin.
Aku tersenyum malu menatapnya dan ayahku. Tanpa berpikir panjang aku memutar kepala menghindar dari mereka dengan kencang aku mengayun kaki yang lemah menyamperin adikku.
"Ana!" Berlari memanggil adikku.
__ADS_1
"Iya Kak," sahut adikku. Menoleh ke arahku.
"Sekarang, ayo kita pergi!" ajakku mengayun kaki sambil berjalan. "Ini dari Ayah." Aku memberi uang jajan sesuai perintah ayahku.
"Cuman segini, Kak." Adikku melihatnya dengan sedih.
"Eemm!" Aku mengangguk.
"Mungkin uang Ayah tidak ada, Kak?!" Adikku diam.
"Tapi, itu 'kan uang jajanmu banyak. Iya 'kan?" Menatap adikku, bertanya.
"Ini tidak cukup untukku sebenarnya, Kak", rengek adikku mengusik kenyamananku.
"Hari ini 'kan, kita cepat pulang," kataku.
"Engga Kak. Hari ini kita lama pulang," sambung adikku.
"Tidak Ana! Hari ini, kita tidak lama pulang," balasku. Berjalan kencang.
"Hari ini kita akan lama pulang," kata adikku sekali lagi.
"Kamu itu tidak mau kalah. Ana hari ini kita cepat pulang," kataku sekali lagi menentang adikku.
"Lama Kak." Adikku terus mempertahankan kata-katanya dengan teguh.
Huh! Mendengus dan jenuh melihatnya. Aku pun diam dan membuang pandangan darinya.
"Hei! Kakakku kenapa? Ngambek, ya?!" Melihatku sekilas.
"Engga! Siapa yang ngambek?" Aku segera mengatur mimik wajahku.
"Karena di bilang pulang lama, ngambek! Kakak mau, kalau aku juga ikutan ngambek," cetus adikku. Terus berjalan.
"Jangan!" Bola mataku langsung membelalak mendengarnya. "Tidak Ana! Tidak. Kamu jangan ngambek, ya," pintaku mengatupkan kedua tangan ke udara.
"Makanya, Kakak jangan coba-coba ngambek." Adikku cemberut dengan manja.
"Baiklah! Adikku tersayang. Mulai sekarang kita tidak akan pulang terlambat lagi." Aku memeluk adikku.
"Benar!" kata adikku dengan senang. "Hari ini aku tidak akan kena marahi lagi," Wajahnya langsung berbinar. Langkanya pun berjalan dengan kencang. "Sebentar lagi kita akan sampai, Kak."
"Pintu gerbangnya sudah terbuka dengan lebar," kataku melihat ke depan.
"Anak-anak juga sudah banyak yang datang." Kedua mata adikku melihat gerbang.
"Makanya, kita harus berjalan lebih kencang lagi," ajakku menarik lengan adikku.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung...