Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Cubitan gemas


__ADS_3

Seperti itu lah kami. Pertengkaran sudah menjadi bumbu cerita bagi kami. Di samping itu bagi kami pertengkaran bukanlah masalah yang mengharuskan kami untuk saling memusuhi antara Kakak dan Adik. Akan tetapi, itu malah menjadi 'kan kami semakin erat. Begitu lah hubungan yang kami jalani sebagai Kakak beradik tidak pernah lepas dari percekcokan.


Aku yang lebih besar dari adikku menganggap perselisihan di antara kami bukanlah masalah besar sampai kami harus saling membenci. Malah itu membuat satu sama lain menjadi terlihat lebih akur dan penuh dengan candaan. Tawa pun terkadang hadir memenuhi di tengah perselisihan kami.


Kami sebagai anak kecil yang masih membutuhkan proses pembelajaran tentang hidup tidak pernah surut dari perdebatan kecil. Sudah sewajarnya, perselisihan yang menghampiri kami anggap sebagai pengalaman hidup yang paling berharga. Contohnya, seperti saat sekarang ini lagi -lagi kami harus berhadapan dengan ke salah pahaman ini lagi.


Adikku yang masih mengikuti egonya. Dia tetap bersikukuh kalau dia tidak melakukan hal yang salah. Aku yang saat-saat bersama dengannya harus bisa memberikan latihan kecil agar dia tidak berlanjut dengan egonya yang mungkin bisa menjerumuskan dia menjadi anak yang angkuh.


Kerap kali aku mengingatkan adikku berhati- hati dalam bersikap. Sikap adalah perbuatan yang kita tunjukkan terhadap orang lain, kalau sikap kita bagus maka orang akan senang dengan kita sebab sikap itu sendiri akan menjadi jembatan kita dengan yang lain.


Hal inilah yang setiap hari aku lakukan pada adikku. Aku tidak pernah bosan untuk menegurnya kalau dia salah atau menyalahi. Meskipun di penghujung kami harus bertengkar. Tapi bukan Liyan dan Ana namanya, kalau tidak bisa berbaikan kembali. Terkadang pertengkaran adalah awal dari tawa kami berdua. Setelah lelah bertengkar kami mulai mencari celah satu sama lain agar bisa berteman kembali. Tidak jarang yang melakukan hal itu adalah aku ketika aku dan adikku berdebat, aku pun membuat sebuah adegan lucu yang dapat membuat kami kembali, seperti teman.


"Kak! Kakak selalu mengalah. Emang Kakak tidak lelah apa?" tanya adikku ingin tahu.


"Engga," jawabku.


" Aku lihat Kakak, Anak yang baik." Adikku kembali mengungkapkan isi hatinya sembari merapikan pakaian bonekanya.


"Kamu yang Anak baik, Dik. Bukan Kakak." Aku langsung menyela pujian yang di berikan adikku padaku.


Itulah bahasa adikku kalau dia sudah jenuh mendengarkan ocehanku. Dia langsung mengatakan, kalau aku anak yang baik agar aku tidak melanjutkan ocehanku kembali.


Sepintar-pintarnya aku, lebih pintar lagi adikku terutama dalam hal memuji.


"Kak! Kakak itu sekarang sudah menjadi Anak kesayangan Ayah," kata adikku yang tidak mau berpaling dari bonekanya. "Karena Kakak itu Anak yang baik, penurut, tidak membantah apa yang di katakan Ayah. Pokoknya, Kakak lah yang paling berharga bagi Ayah," cetus adikku seakan dia tidak lagi mau bersaing demi mendapatkan kasih sayang dari ayah yang selama ini tempat dia mengadu, tempat dia bermanja dan tempat dia merengek kalau meminta sesuatu.


"Kalau Kakak sudah jadi Anak kesayangan Ayah enak dong. Berarti Kakak nanti bisa minta tas baru, sepatu baru, baju baru dan juga Kakak nanti mau minta mainan yang banyak. Hmmm!" lanjutku mengkhayalkan mainan yang banyak. Aku memang sengaja ingin melihat adikku cemburu.


"Tidak jadi masalah, Kak. Palingan nanti aku akan minta sama Ibuku," sambung adikku menutupi kecemburuannya sambil mengingat ibu kami yang telah berpulang. "Ya, sudah. Kakak pergi saja sana dengan Ayah beli tas. Pergi cepat! pergi sana! Hmmm!" Adikku mengeram menahan kecemburuannya. Dia pun mendesakku segera pergi membeli tas untuk menunjukkan padanya.


"Mana mungkin sekarang Kakak beli tas. 'Kan kita belum ujian," ucapku.

__ADS_1


Hahaha !" Hatiku pun tergelitik melihat raut wajah adikku yang cemberut menahan cemburu dan berpura-pura senang. Aku heran melihat adikku setiap kali merajuk dia tidak mau mengangkat kepalanya. Aku sebagai Kakak dan juga teman yang telah lama bersama dengan adikku sangat memahami perubahan dari setiap gerak geriknya.


Hari ini dia mengatakan itu sambil menunduk. Aku sudah paham melihat dari pandangan adikku yang menunduk sehingga membuatku menyadari bahwa adikku sangatlah bersedih karena pernyataan itu.


"Ups! Ada yang cemburu." Aku menutup mulut dengan tangan. "Katanya, Kakaknya ini Anak kesayangan, tapi kok, dia engga rela, ya!" godaku melunturkan kesedihan adikku.


Aku melihat adikku sedikit menaikkan kepala melirik aku yang berbicara. Kedua bibirnya hanya diam, seperti terkena perekat. Lalu dia menunduk kembali dengan lesu melihat boneka yang masih duduk di pangkuannya.


Rasanya aku tidak kuasa melihat tekukan yang ada di wajah adikku. Sembilu menyayat hati ketika melihat wajah manjanya tertunduk menutupi jeritan hati yang kasih sayang dari seorang ayah telah di rebut dari anaknya.


"Nanti, Kalau Kakak beli tas. Tasmu, Kakak bilang di belikan juga. Hm!" Aku mengeram tersimpul manis. "Jangan bersedih, Dik. Kita 'kan sama-sama Anak Ayah." Aku langsung menyemangati adikku.


Spontan dia pun mengangkat kepala melihatku. "Benar, Kak! Asyiiik!" teriak adikku dengan gembira. "Aku punya Kakak yang baik." Dia pun refleks tersenyum dan memelukku. Rasa ibaku mengalahkan sejuta keinginan yang tersimpan dalam diriku yang belum sempat aku miliki.


"Kak!" panggil adikku pelan.


"Iya," sahutku.


Mendengar pertanyaan adikku langsung membuatku segera memutuskan pilihan. Dilema pun menghantuiku seketika. Mau tidak mau aku harus mengatakan yang bisa membuat adikku senang.


"Hmm! Ya, kalau begitu tasmu saja duluan di belikkan, Ayah," jawabku setelah menimbangnya dengan cukup baik.


"Iya, tasku duluan," kata adikku seakan tidak percaya. "Kakak yakin! Kakak tidak cemburu?!" Adikku kembali bertanya.


"Tidak! Untuk apa Kakak cemburu. 'Kan yang di belikan Ayah tas untuk mu bukan untuk orang lain." Aku pun mencubit pipi adikku dengan gemas.


"Aaagh! Kakak." Seketika dia pun tersenyum dengan senang sambil memalingkan kedua pipinya dariku. "Kakak suka sekali mencubit pipiku. 'Kan sakit, Kak," tukas adikku.


"Mana pula sakit! 'Kan Kakak mencubitnya cuman pelan." Aku tergelitik melihat wajah adikku yang merah sambil mengelus kedua pipinya.


"Kalau sampai sakit, awas saja, Kak! Akan aku adukan pada Ayah. " Adikku dengan sebal mengancamku.

__ADS_1


"Coba aja kalau berani!" kataku menantang adikku. "


"Emang, Kakak mau membalas, apa padaku?" tanya adikku ingin tahu.


"Engga membalas apa-apa sih, Dik. Cuman... ." Aku diam menatap adikku yang serius menunggu jawaban selanjutnya.


"Apaan sih, Kak. Ayo cepat bilang! Jangan buat adikmu ini penasaran, Kak," desak adikku .


"Kakak engga membuatmu penasaran." Aku masih saja melihat adikku.


"Iiihhh!" Adikku menjauh sambil cemberut. Wajah merajuknya pun tertoreh. "Ayo, Kak! Cuman..., apa?" Adikku kembali bertanya.


"Ya, cuman kamu engga di belikan tas," cetusku dengan lugas.


"Hah!" Adikku sontak terkejut mendengarnya. "Ah, engga mau! Aku engga terima, kalau aku engga di belikan tas." rintih adikku.


"Hahaha ! Itu 'kan! Benar tebakkan Kakak, kalau kamu bakalan seperti ini, jika mendengarnya. Hahaha! Adikku lucu sekali, kalau sudah ngambek." Cubitan itu kembali mendarat di pipi adikku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2