
"Kalau pun dia belum makan, apa urusannya Kak? Kita juga kadang makan kadang gak," kata adikku kembali.
Aku hanya diam itulah bentuk yang bisa aku ungkapkan untuk adikku. Dia semakin kesal dan marah.
"Kak, kalau Ayah gak nikah lagi mungkin aku gak dihukum," kata adikku sedih. "Tapi setelah Ayah nikah. Aku jadi dimarah-marahi, dihukum dan dikasih uang jajan dikit," ungkapnya lagi.
"Ana, kalau Ayah gak nikah siapa yang akan jag kita?" tanyaku pada adikku.
"Kita 'kan udah besar, Kak. Kita bisa jaga diri kita sendiri," kata adikku polos.
Aku tetap duduk dan sesekali melihat ke arah tirai. "Sekarang kita yang udah besar. Dulu kita masih kecil belum sekolah lagi," ucapku, menatap terus ke arah tirai untuk melihat, apakah ada yang akan datang?
"Tapi 'kan dulu kita udah besar," kata adikku kembali mengulanginya.
Aku duduk dan melihat adikku yang masih tidak terima dengan yang dia alami.
"Dik, siapa tau, Ibu gak akan menghukum kita lagi?" kataku bertanya dengan ambigu.
"Aku gak tau Kak. Ibu kesayangan Kakak itu sangat jahat. Udah jahat samaku!" kata adikku kembali.
Napasku terasa sesak dan berat mendengarnya. Aku hanya menunduk melihat tungkai kakiku yang udah mau sembuh.
"Coba aja Ibu masih ada Kak. Mungkin aku gak dimarahi dan gak dihukum Ayah," papar adikku mengenang yang sudah berlalu.
"Ana, udah! Jangan sedih lagi. Nanti kau nangis. Dan kita dihukum lagi!" tandasku, menunduk lesu.
"Tapi Kak, aku gak suka sama Ibu kesayangan Kakak itu," ungkap adikku berterus terang.
Aku langsung terdiam mengingat adikku yang memang mungkin tidak akan pernah menyukainya. "Ana, kalau sampai Ayah tau. Kita pasti akan dimarahi," kataku.
" 'Kan udah aku bilang sekarang Ayah sayang cuma sama dia," ucap adikku, menatap dengan benar.
Aku semakin resah kalau itu memang benar. "Lalu, kalau Ayah sayang sama Ibu? Berarti Ayah gak sayang sama kita?" tanyaku pada adikku.
"Aku gak tau Kak. Tapi aku berharap Ibu kesayangan Kakak gak usah balik lagi," jawabnya langsung.
Deg!
Jantungku rasanya mau berhenti dan bola mataku membelalak mendengarnya. "Gak usah pulang lagi, Dik?" tanyaku memastikan pendengaranku.
"Iya, biar gak ada yang marahi aku lagi," jawab adikku senang. Berarti Ayah akan sayang samaku," ucapnya.
__ADS_1
Mulutku semakin membeku dan lidah mendadak sedikit kaku. Melihat adikku yang sibuk sendiri memainkan Lofya milikku.
"Itu gak mungkin, Dik!" bantahku langsung. Ayah pasti akan memarahi kita juga," lanjutku.
"Kenapa Kakak bilang gitu?" tanya adikku penasaran.
"Iya, kalau kita salah. Ayah pasti akan marah juga dan menghukum kita juga," sambungku, menatap adikku yang duduk menunduk.
"Aku gak percaya Kak. Buktinya selama ini Ayah gak pernah memarahiku," terang adikku.
"Itu karena kita gak salah," jawabku. "Makanya Ayah gak marah dan gak menghukum," ucapku, melihat adikku yang memegang baju anak Bp yang berserakan.
"Kakak, sok tau. Emang Kakak tau dulu?" tanya adikku seakan menantang. "Dulu 'kan Kakak masih kecil. Mana mungkin Kakak tau?!" kata adikku bertanya.
"Sama! Kau juga 'kan dulu masih kecil. Jadi, dari mana kau tau Ayah marah atau gak?" tanyaku menantang adikku.
Baju anak Bp itu pun langsung di letakkan oleh adikku. "Kak, setiap Anak kecil, apalagi bayi mana mungkin dimarahi," jawab adikku enteng.
"Ha!" Aku langsung menganga melongo mendengarnya. "Hahaha!" Tawaku langsung pecah mendengarnya. "Ana, jadi, kau selama ini. Mengingat kau yang masih bayi?" tanyaku refleks.
"Iya Kak," jawab adikku singkat.
"Huh!" Aku langsung menempelkan lenganku di kening sambil menghela napas dengan lemas. "Ana! Mana ada orang tua yang memarahi Anak masih bayi," balasku langsung menunduk lesu.
" 'Kan sekarang kita udah besar. Kita gak Anak bayi lagi, Dik," kataku sambil mengurut dada.
Adikku langsung diam dan menunduk sedih. "Berarti Kakak sudah jahat lagi," kata adikku, melihat ke bawah tepat melihat kakinya yang sudah berubah lurus.
Aku kembali menutup mulut dengan rapat. "Maaf, Dik! Kakak gak sengaja," kataku sambil mengatupkan kedua tangan di udara.
Adikku langsung memutar duduknya cemberut. "Kakak selalu gitu. Kalau udah aku nangis baru Kakak bilang kayak gitu!" singgung adikku.
"Dik, Kakak keceplosan. Habis! Kau selalu bilang kalau Ayah gak sayang samamu. Padahal 'kan, Ayah sangat sayang," kataku pelan dan penuh hati-hati.
"Aku gak percaya sama apa yang Kakak bilang. Kakak 'kan selalu bohong," lanjut adikku. Duduk membelakangiku.
"Kakak gak pernah bohong kok," bantahku cemberut. Melihat punggung adikku.
"Alah, buktinya Kakak sering gak bilang sama Ayah, apa yang Kakak lakukan," sambung adikku.
"Itu karena Kakak takut di marahi Ayah. Kalau Kakak di hukum kau pasti ikut di hukum juga," kataku sesal.
__ADS_1
"Iya Kak. Kakak benar, pasti Ayah akan bilang kalau aku gak bisa jaga Kakak," sambut adikku dengan gurat wajah senang.
"Kau betul Ana," balasku.
"Ayah 'kan gitu kalau udah menghukum Kakak pasti aku ikut di hukum. Ayah memang tidak adil," cetus adikku langsung sebal.
"Ayah adil kok. Buktinya semalam kau yang buat salah, Kakak ikut juga dihukum," bantahku keras.
"Tapi kenapa Ayah belum juga sayang samaku, Kak?" tanya adikku. Duduk kembali di hadapanku dan menaikkan sedikit kepalanya melihat ke atas tempat tidur.
"Ana, Ayah pasti akan sayang lagi samamu. Ayah gak mungkin gak sayang, apalagi kau 'kan Anak kesayangan Ayah. Apa-apa kau selalu dibelikan Ayah," kataku sedikit cemburu.
"Namanya aku Anak paling kecil. Makanya Kakak jadi kayak aku," kata adikku bangga.
Aku langsung memutar kepala miring dari muka adikku. "Ih, malas. Kau Anaknya nakal. Suka nangis," ledekku.
"Ihhh, mana pula, gak ya! Kakak itu yang cengeng. Di marahi sedikit nangis," ledek adikku kembali.
"Engga ya! Kakak mana pernah nangis . Kau yang sering nangis. Dikit ,dikit nangis. Dikit, dikit nangis. ledekku terus.
" Aku wajar nangis Kak. Biar Ayah gak marah lagi, hehehe!" kata adikku nyengir dengan senyuman liciknya.
"Lalu kenapa kau bilang Kakak cengeng ?" tanyaku.
"Ya, iya lah. Nanti Kalau Ayah ngomong aja Kakak langsung nangis. Padahal bukan Kakak yang di marahi," kata adikku. Duduk sambil melemparkan baju anak Bp milikku melayang ke sana kemari.
"Eem! Karena Kakak takut suara keras," balasku menunduk malu.
"Alah. Aku gak percaya. Memang Kakak juga cengeng, sama kayak aku, weee!" kata adikku mengejek dengan mengeluarkan lidahnya.
Puk! Sambil melemparkan baju anak Bp ke arahku.
"Augh! Ana, sakit!" jeritku, memalingkan wajah darinya.
"Kak, kalau Ibu kesayangan Kakak gak ada. Kita 'kan enak," kata adikku tersenyum bahagia.
"Kalau Ayah mendengar pasti Ayah akan memarahimu," cetusku.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...