Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Tawaku dan teriakan ibu sambungku


__ADS_3

Aku masuk ke rumah beberes dan membersihkan diriku. Aku melangkah dengan jalan terseok-seok menahan dinginnya angin yang berhembus menembus kulit mungilku. Tubuhku yang masih pucat seperti biasanya. Melangkah mengambil handuk yang tergantung di dapur.


" Liyan, jangan lama-lama mandi! Ingat kamu lagi sakit. Kalau mandi cepat. Kalau tidak ilap saja tubuhmu dengan air hangat. Air hangat nya itu ada di termos." Kata ibu sambung kami sambil mengikuti dari belakang. " Ingat jangan lama-lama. Kau tau kan Ayahmu seperti apa? Kalau kau nanti lama. Kau nanti pasti di marahi nya." Sambil melihat aku.


" Ia, Bu!" Mengambil sabun dan memegang handuk.


Jalan aku yang terseok-seok menuju sumur. Wajah pucat aku cuci dengan sabun kemudian aku bilas dengan air yang terasa dingin. Air yang telah di timba oleh ayahku. Tangan kecilku, aku coba menyentuh air sekali lagi. Apakah masih dingin atau tidak? Jika, airku tidak dingin aku ingin sekali membasahi sekujur tubuh mungilku.


Namun, sayang airnya begitu dingin. Tubuh mungilku yang lemah menggigil begitu tanganku menyentuh airnya. Mengingat apa yang disampaikan oleh ibu sambungku tadi kalau aku merasa dingin airnya. Aku boleh mandi dengan air hangat. Tapi, seperti aku malas untuk berbalik mengambil air hangat.


" Kak, aku cariin kakak. Ternyata disini! Kakak ngapain? Mandi, ya?" Adikku berdiri menemaniku.


" Kenapa kau cariin kakak?" Tanya aku ingin tahu.


" Engga ada!" Dengan nada suara datar.


Tetesan air yang membasahi wajahku begitu dingin terasa mengenai leherku. Hembusan angin semakin membuat dinginnya menyeruak.


" Dek, kamu masih disini?!" Memalingkan wajahku kesamping melihat.


" Ia, dirumah engga ada temanku, kak!" Berdiri dengan wajah memelas.


Begitu senang bagi dariku sendiri. Di sumur yang sunyi, cukup jauh dari rumah di temani oleh adikku. Jadi, begitu membuatku tidak ketakutan.


" Ya, sudah! Tunggu kakak ya, sampai selesai." Melihat adikku. Memohon.


Ia hanya menganggukkan kepalanya memberi jawaban ia. " Aku bakalan tunggu kakak disini." Penuh penegasan.


Aku begitu bersemangat karena di temani oleh adikku. Rasa takut aku sendiri tadi di sumur kini tidak aku rasakan lagi. Siram-siraman kecil tubuh mungilku yang lemah pun hampir mau selesai. Perbincangan kami berdua membuat waktu begitu tidak terasa kalau akhirnya aku mau selesai.


Canda tawa kami begitu renyah terdengar menggema di alun-alun hamparan luas.


" Kak, kakak kenapa mengilap wajahnya seperti itu !" Adikku sedikit memprotes diriku.


" Biar cepat dek, kakak sudah kedinginan." Kataku dengan nada suara yang berat terdengar begitu kaku karena menggigil.


Kedua mataku menatap adikku yang Menggelengkan kepalanya seakan dia tidak habis pikir dengan yang aku buat.

__ADS_1


" Kak, ganti airnya! Matanya mendelik. "Itu sudah kotor!" Menatapku tajam.


" Ia, dek! Kakak tau, tapi tunggu dulu. Ini, kan belum kotor, kok!" Menunjuk air dengan tatapan lekat.


Seketika desissan dari mulut adikku terdengar sedikit kesal. Selanjutnya aku membasuh kakiku dengan sabun. Setelah aku selesai menyabuni semuanya aku langsung membasuhnya dengan air berulang kali.


" Kak, emang kakak engga kedinginan?!" Sambil melihat area yang aku siram. " Kak, itu handuk kecil untuk apa?" Adikku ingin tahu. Melihat ke tempat gantungan handuk.


" Tadi, kakak pengen mengilap badan dengan kain basah aja! Tapi, ya sudah la! Kakak siram-siram aja la. Biara lebih bersih." Menatap adikku dan langsung memalingkannya melihat gayung yang membasahi kakiku dan tanganku.


Hm! Mengeram.


" Kak, cepat lah! Sudah mau Maghrib, banyak nyamuk." Memukuli nyamuk yang hinggap di kakinya.


Hahaha! Tawa kecilku menemani adikku yang lagi sibuk dengan tugas barunya. Berdiri tertip sambil menemaniku dengan sukarela. Menggoyang - goyang tubuhnya agar nyamuk tidak hinggap di tubuh kecilnya.


" Kak, ayo cepat lah!" Teriak adikku dengan sedikit kesal.


" Sudah, ayo!" Berjalan membawa sabun dan handuk yang aku bawa.


Dengan langkah yang sigap dan kencang adikku berjalan lebih dulu dari ku. Tawa kecilku pun lepas melihat adikku yang begitu memasang wajah masam akibat kesal dengan nyamuk.


Adikku yang berjalan lebih dulu di depanku berhenti sejenak memalingkan wajahnya melihatku. " Tu, kaan!" Katanya, seolah aku tidak percaya dengan ajakan dia. Harus segera cepat siap.


Melihat wajah adikku yang terlihat sedikit panik. Aku hanya bisa nyengir. Sambil melangkahkan kakiku yang lemah perlahan. Berjalan di belakang mengikuti nya.


Secepat mungkin kami bergegas melangkah dengan kencang. Mendengar teriakan yang memekik telinga membuat aku harus bisa mengayun kaki lemahku secepat mungkin.


" Kak, ayo!" Dengan tergopoh-gopoh.


Napasku terasa begitu sesak. " Ia, dek!" Berlari kecil sambil membawa peralatan mandian aku.


" Lama kali kalian. Ngapain kalian di sumur itu main-main!" Kata ibu sambung kami dengan berteriak.


Adikku hanya menunduk masuk. Sementara, aku meletakkan peralatan mandi aku di tempat nya.


Handuk kecil yang aku bawa. Aku gantung di tempat gantungan handuk.

__ADS_1


" Sudah tahu sakit, lama-lama kali!" Berdiri menatapku dengan mendelik.


Telingaku yang mendengar. Aku tutup sekuat mungkin. Menahan kata-katanya yang berapi-api.


Setelah aku meletakkan handuk. aku masuk dengan melewati dia yang berdiri di dekat pintu tengah melihat ku. Sorot matanya yang tajam tak berkedip dengan wajah ketatnya yang memerah.


Panas dingin tubuhku yang aku rasakan kini membuat aku ingin merebahkan tubuhku. Seketika aku pun melangkah kan kaki lemahku menuju kamar. Seketika kakiku terhenti mendengar teriakan dari ayahku yang memanggilku dari belakangku.


" Liyan!"


" Ia, Ayah!" Memutar badanku melihat ayahku.


" Ayah mau tau apa obatmu masih ada?!" Tanya ayahku.


Seketika aku berjalan mendekati meja kecil yang terletak disudut dinding kamar kami. Aku mengambilnya dan menunjukkan kepada ayahku.


" Kak, obat kakak cuman itu?!" Tanya adikku yang tiba-tiba berdiri di sampingku.


" Liyan! besok kita akan berobat lagi." Ayahku Menyerahkan nya kembali.


Bibir kecilku yang pucat hanya diam. Melihat obat yang terbungkus di dalam plastik. Hanya untuk malam ini dan besok pagi. Pikirku. Kalau besok siang sudah tidak ada. Dengan lemas melihat obat dan kenyataan hidupku. Aku menarik napas sambil meletakkan obat ketempat nya kembali.


Kecamuk didalam hatiku pun tersirat begitu pahit. Melihat apa yang aku lakukan. Aku pikir aku sudah sembuh. Tapi ternyata aku harus berobat lagi. Akan sakitku selama ini telah hilang dari pikiranku.


" Liyan! besok kau harus cepat bersiap!" Ayahku menyusun pakaian yang telah dilipat rapi.


Aku hanya mengangguk dan diam melihat ayahku yang begitu rajin. Setelah aku selesai, aku kembali masuk kedalam kamar untuk mengganti pakaianku yang aku pakai tadi.


" Liyan!" Panggil ayahku kembali.


Mendengar panggilan ayahku. " Ia, Ayah!" Kembali keluar.


" Katanya, kenapa lama kali kau tadi di sumur?" Dengan sedikit keras.


Menghembuskan napas kasar sambil memutar otakku untuk menjawab pertanyaan dari ayahku. Mulutku begitu lama diam terkunci. Mencari kata-kata.


" Maaf, Ayah!" Dengan kekesalan aku yang tidak berani mencari alasan apapun untuk menjawab pertanyaan ayahku selain maaf dan jujur.

__ADS_1


Kalau ayahku tahu kalau aku pandai mencari alasan maka habislah hidupku. Ayahku akan menghukum ku dengan keras. Tidak ada sepatah kata pun yang bisa menyelamatkan aku dari amukan ayahku.


Bersambung....


__ADS_2