
Seketika wajah pucatku diam. Telingaku yang mendengar berusaha kututup dengan rapat agar aku tidak mendengar perkataan adikku berikutnya.
Pertanyaan adikku terhadapku begitu menghenyak diriku yang lemah. Pikirku pun mulai berbicara pada diriku sendiri, kalau yang di bilang adikku itu ada benarnya. Siapa yang akan menyayangiku ?
Seketika aku setuju dengan yang di bilang oleh adikku, bahwa siapa yang akan menyayangiku, kalau aku menyayanginya?! Entahlah, aku pun tidak mengerti harus jawaban seperti apa yang akan aku katakan padanya.
Sorot matanya bertemu pandang dengan sorot mataku seakan adikku terlihat ingin mendengar jawaban dariku.
"Kenapa Kakak tidak menjawab pertanyaanku? Aku benar 'kan? Makannya, Kakak tidak bisa menjawabnya." Adikku seakan melemparkan pukulan yang keras padaku. "Coba Kakak perhatikan! Ayah sudah menyayangi istri barunya. Pasti dia akan lupa dengan kita."
"Yang kamu lihat itu salah, Dek. Tidak seperti itu." Aku berusaha mencerna semuanya dengan tenang.
"Kakak itu terlalu polos atau baik sih, Kak?" Kenapa Kakak bilang semua itu tidak mungkin, kau itu salah." Adikku mengulangi apa yang kukatakan dengan melempar pandangan kesal. "Padahal sudah jelas di depan mata Kakak sendiri. Tapi iya! Kakak benar... ." Adikku diam. "... kenapa Kakak mengatakan itu? Karena 'kan, mereka menyayangi Kakak. Terutama Ayah. Ayah sudah menyayangi Kakak. Dan sudah melupakanku." Menatap lurus ke depan dengan lirih. "Hanya satu yang masih menyayangiku."
"Siapa?" tanyaku tidak mengetahuinya.
"Ibu," jawab adikku.
Deg! Jantungku berhenti seketika. Kedua bola mataku menatap adikku yang berjalan di sampingku dengan nanar.
"Kamu kapan akan melihat kenyataan? Ibu sudah lama tiada. Dia tidak akan datang lagi untuk menemuimu," kataku.
"Tidak! Ibu masih ada. Dan suatu saat aku pasti akan bertemu dengannya. Kalau aku nanti bertemu dengannya aku akan bilang kalau kalian jahat padaku." Dan aku akan bilang kalau Ayah lebih menyayangi istri barunya dari pada aku," kata adikku.
Air mataku jatuh membasahi pipiku yang pucat. Kedua bibirku bergetar menahan tangis melihat adikku yang begitu sedih.
"Ayah itu sangat sayang padamu. Meskipun, Ayah marah bukan berarti dia membencimu." Aku semakin bersikeras meyakinkan adikku.
Kami berdua terus berjalan sambil berjaga dari pagi yang dingin. Kesedihan masih saja menyelimutiku melihat adikku yang merasa sedih karena ayahku memarahinya.
Tungkai kaki kami pun terus berjalan mengikuti jalan yang kami lalui. " Dulu Ayah tidak pernah memarahiku." Adikku langsung mengingat masa lalu. "Hari ini Ayah pasti akan memarahiku lagi. Kakak lihat saja!" lanjut adikku.
Suaraku terasa berat rasanya bagaikan di lempar oleh batu yang keras sehingga aku dengan berat menasihati adikku.
"Ayo kita masuk!" Aku menarik lengan adikku. "Setelah kita masuk, kita akan lihat. Ayah memarahimu atau tidak?!"
"Tidak. Aku tidak percaya dengan yang Kakak katakan." Adikku menepis tangannya dari genggamanku. "Kakak saja yang masuk duluan. Aku nanti saja!" gerutu adikku.
"Mana mungkin Kakak masuk tanpa dirimu. Nanti akan banyak pertanyaan Ayah. Kamu mau kita tidak sekolah hari ini." Menatap adikku yang keras kepala.
Adikku seketika diam dan berpikir setelah mendengar yang kubilang. "Tapi, Ayah marah lagi atau tidak?" Wajah adikku terlihat bertanya pada dirinya sendiri.
"Ayah tidak akan memarahimu." Aku meletakan sabun dan menjemurkan handuk.
"Kakak tahu dari mana?" Adikku menjemurkan handuknya. "Kalau Ayah telah membaik dan tidak memarahiku lagi?!" Adikku memutar badannya ke arahku menatapku dengan kepastian.
__ADS_1
"Apa tadi pagi Ayah memarahimu?" Aku bertanya kembali mengingatkan adikku.
Adikku berpikir sejenak. "Tidak," jawabnya. "Ayah tidak memarahiku karena aku bersembunyi di balik Kakak."
"Cuman itu saja yang aku ingat?!" Aku kembali bertanya.
Adikku kembali berpikir dan mengingat. "Iya! Apa ada yang lain, Kak?" tanya adikku. Memutar badannya melihat pintu yang dia lewati tadi seakan dia mengingat setiap langkah kejadian yang telah di laluinya.
Aku yang berjalan lebih dulu dari adikku. "Sewaktu Ibu bertanya pada Kakak tentangmu." Melirik adikku. " Apa Ayah memarahimu?" ungkapku menyadarkan adikku.
"Itu karena Ayah tidak melihatku," jawab adikku.
"Ayah bukan tidak melihatmu. Ayah tadi melihatmu," kataku.
"Dari mana Kakak tahu?" tanya adikku semakin penasaran terus berjalan mendekati pintu.
"Tadi 'kan, Kakak melihatnya sewaktu Ayah melihatmu. Kakak tadi bergeser sedikit sewaktu Ibu menanyamu agar Ibu melihatmu."
"Jadi, Kakak tadi...". Adikku langsung diam dan cemberut menatapku dengan sebal. "Kenapa Kakak setega itu. Aku tidak bisa membayangkan kalau Ayah tadi akan memarahiku."
Wajah adikku seketika ditekuknya sambil mengayun kaki melangkah. Aku langsung tersenyum melihat adikku yang terperanjat menahan malu. Percaya dirinya seketika luntur ketika dia tahu kalau aku menarik tubuhku sedikit menjauh darinya.
"Jadi, sekarang bagaimana? Apa kamu masih bilang, Ayah akan memarahimu?!" Aku melemparkan senyum jahil pada adikku sambil menaikkan alis tanda kemenangan.
"Liyan. Cepat kalian bersiap kalau ingin sekolah!" seru ayahku sambil melirik adikku yang membenamkan wajahnya di tubuhku yang lemah.
"Baik, Yah." Aku langsung berjalan sambil memegang lengan adikku yang berjalan di sampingku.
"Ana! Kenapa kamu seperti ini?" Aku begitu heran melihat tingkah adikku yang aneh. "Kita sudah tidak dilihat oleh Ayah lagi. Sekarang angkat kepalamu."
"Benar Kak." Adikku langsung menaikan kepalanya dengan tegak. Kami pun berjalan masuk kamar.
Setiba di kamar aku dan adikku sibuk dengan keperluan kami masing-masing. Aku sibuk mengambil pakaian seragam sekolah yang akan kupakai dan merapikan rambut. Tas ransel yang sering aku pakai ke sekolah kini telah terduduk rapi di atas tempat tidur. Sementara adikku, masih sibuk memeriksa kembali rosternya, mengeluarkan kembali buku dari dalam tasnya. Dia terlihat memeriksa satu per satu bukunya. Pakaian seragam sekolahnya pun telah terletak tepat di sampingnya.
"Ana cepat pakai seragammu !" seruku menegur adikku.
"Iya Kak, ini akan kupakai." Adikku langsung mengambil baju yang terletak.
"Cepat pakai! Sebelum Ayah berteriak menyuruh kita tidak sekolah. Kamu mau?" Sambil mengancing bajuku.
"Kakak jangan bilang kayak gitu." rintih adikku.
"Makanya, cepat!" desakku.
"Liyan! Kalian sekolah, tidak?" tanya ayahku berteriak.
__ADS_1
"Iya Ayah, kami akan keluar." Aku langsung berteriak menjawab ayahku dari dalam kamar.
Kedua tanganku langsung mengambil tas setelah aku merapikan pakaianku. Adikku yang lama, dia begitu panik sehingga dia memakai seragamnya dengan buru-buru.
"Kak tunggu!" Adikku menoleh ke arahku menghentikan langkahku.
Aku sedikit memutar badan. "Cepat! Kakak tidak mau libur, tidak enak di rumah." Aku melangkah keluar.
"Kak!" Adikku langsung keluar mengejarku yang berdiri di depan cermin.
Napasnya begitu terengah karena panik. "Kakak tega sekali." Berdiri mendekatiku.
"Liyan, Ambil nasimu! Ayah sudah meletakan di meja," kata ayahku sambil mengambil pakaian kerjanya.
"Iya. Ayah," balasku.
"Ayah masak apa Kak?" tanya adikku berbisik di telingaku.
"Mana Kakak tahu?" Aku masih menyisir rambut.
"Ayahmu memasak makanan kesukaanmu," timpal ibu sambung kami melihat adikku.
"Makanan kesukaanku, Kak." Adikku langsung berbisik di telingaku seakan tidak percaya.
"Coba lihat!" seruku menyuruh adikku.
"Iya. Kakak benar," bisik adikku tanpa malu, adikku yang manja pun berjalan menghampiri meja dan melihat nasi yang terletak di atas meja.
Senyum sumringah bahagia pun terlukis di wajahnya. Dia langsung bergegas berlari menghampiriku dengan bahagia. Aku yang lagi asyik menyisir rambut, menghentikan sisiranku seketika.
"Apa Dek?" Spontan aku meletakan sisir.
"Kak sini, coba lihat! Ini makanan kesukaanku." Menarik lenganku dengan paksa.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
__ADS_1