Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kemarahan di rumah


__ADS_3

Depan rumah pun telah terlihat. Hati yang resah di selimuti kegundahan, berdiri di depan menatap pintu yang setengah terbuka. Suara yang biasa mengisi rumah, tidak mengusik telingaku saat ini.


Adikku yang biasa terlihat bersilewaran di luar rumah, kini tidak terlihat. Aku hanya melihat kursi dan meja kosong. Kecemasanku membuat tangan lemahku perlahan menggeser pintu. Kaki lemah pun, aku ayun untuk melangkah maju sambil membuka pintu menatap dengan kedua bola mata yang lebar.


"Assalamualaikum."


Aku masuk dengan gemetar. Wajah pucat pasih menatap dan menunduk sambil mengayunkan tangan yang lemah membuka sepatu dan menyusunnya ke tempat yang terletak di sudut pintu.


Suara balasan dari dalam, menyahut salam pun tidak terdengar . Kemudian aku memberanikan diri berjalan masuk ke dalam kamar, membuka tirai yang tergerai. Menjatuhkan tubuh dan meregangkan otot-otot yang lelah.


Duduk sambil melepas tas yang aku sandang dan menaruhnya di samping. Mata yang redup kini tidak bisa di ajak bersahabat untuk melihat dengan jelas.


Lelah yang menguasai pikiranku, melemahkan segala sarafku, hingga aku menghela napas untuk melepaskannya.


"Siapa tadi yang masuk?" tanya suara asing yang aku dengar. Berjalan mendekati pintu yang setengah terbuka.


Seketika aku langsung bergegas turun dari tempat tidur dan berjalan keluar. Melihat suara seseorang yang bertanya. Aku langsung membuka tirai kamar menatap dengan jelas.


"Ibu...," sapaku.


"Kamu," celetuk ibu sambungku dengan ketus. "Sudah berapa lama kamu pulang?" tanyanya sambil melipat kedua tangan di atas dada. Berdiri menatap dengan sedikit kesal.


"Barusan, Bu," jawabku pelan. Menunduk dengan nanar.


"Owh! Baru pulang kau rupanya. Jam berapa ini?" tanyanya dengan penuh penekanan. Berdiri dan terus menatap.


"Ma-maaf, Bu," jawabku dengan terbata. Meremas jemari lemah, melihat lantai dengan tatapan kosong.


"Maaf, maaf. Mudah sekali kau meminta maaf. Kau tahu tidak! Apa yang terjadi di rumah ini. Karena kau lama pulang, ha!" pekik ibu sambungku dengan meninggi. Mendelik dengan tajam.


Seketika tubuh lemahku gemetar dan ingin berteriak meronta dengan sekuatnya. Mendengar suara pekikan yang mematikan.


"Bu, tadi, kami di sekolah ada jam tambahan," selaku memberi penjelasan. Menatap ibu sambungku dengan takut. "Kemudian aku dan Wid..." meremas jemari dan mengunci bibir pucatku seketika. Menurunkan pandangan ke bawah.


"....Wid.....apa? Kenapa kau diam?" tanya ibu sambungku ingin tahu.


Dengan gemetar aku berusaha untuk membuka suara parauku, sambil mencengkram jemari dengan kuat.


"Aku dan Widia..." berhenti kembali. "...membeli minum," sambungku . Menatap sambil gemetar.


Ibu sambungku tersentak. "Apa? Membeli minum? Untuk siapa?" tanyanya dengan menyelidik. Berdiri menatapku dengan sorot mata yang semakin tajam.


"Untuk Widia, Bu," jawabku tegas.


"Ooh!" mengangguk. "Jadi, apa kau membeli juga? Hm!" tanyanya semakin menyelidik. Mengeram dengan kekesalan yang penuh.


"Tidak Bu," jawabku menggelengkan kepala pelan.


Huh! Mendengus dengan kesal. "Kau tidak pernah takut dengan Ayahmu, ya. Kau selalu bertingkah, sesukamu di luar sana. Kau tahu. Apa yang terjadi tadi di rumah ini, Liyan? Lihat aku, Liyan. Jangan menunduk!" pekiknya dengan suara meninggi. Menatap dengan sangat tajam.


Dengan berat, aku terpaksa mengangkat kepala tegak. Menatapnya dengan segala perintah yang mengekang keberanianku.


Aku lalu, menatap sesuai keinginannya. Berbicara dengan kebisuan yang getir.


Ibu sambungku yang berdiri. Menunjukan tatapan yang mematikan menatapku. Wajahnya yang memerah, seperti api yang berusaha dia redam, menatapku dengan menggebu -gebu.


"Kau 'kan, sudah tahu, Liyan. Kalau kau pulang terlambat. Rumah ini pasti akan riuh dengan pekikan suara Ayahmu yang keras. Kamu tahu tidak! Tidak ada yang bisa membuat ke damaian di rumah ini, selain dirimu. Mengerti, kau!" cecar ibu sambungku. "Kalau wajahmu tidak terlihat di rumah ini, rumah ini pasti kacau. Teriakan suara yang keras terdengar di mana-mana," lanjutnya menekankan.


Aku hanya diam dengan rasa bersalah yang mendalam. Begitu jahat aku hari ini membuat rumah kami yang kecil ini, mengalami keributan karena kesalahanku.


Mereka yang tidak tahu menahu, harus terkena pekikan dari ayahku yang begitu ambigu. Sasaran kemarahan ayahku yang tidak tepat. Membuat kemarahan ibu sambungku semakin besar terhadapku.


Bahkan adikku. Sampai saat ini. Aku belum tahu di mana adikku sekarang, apakah dia bermain? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia terkena rembesan dari kemarahan ayahku? Entahlah, aku tidak tahu. Ini terus mengganggu pikiranku. Membuat semuanya jadi kacau.


Ibu sambungku masih terus berdiri menatapku dengan tawa sinis yang kesal. Dia begitu geram sekali terhadapku, sampai-sampai, dia menggigit gerahamnya dengan kuat.


"Kenapa? Kau takut?" tanyanya. "Kenapa kau harus takut? Bukannya, kau yang buat masalah di rumah ini? Jadi, kau tidak perlu takut," Sindirnya dengan keluhan yang mendalam. Menjatuhkan setengah tubuhnya di udara sambil mencengkram kedua bahuku.


Aku hanya bisa membeku dan mengeluarkan butiran kristal yang membasahi pipiku serta seragam, yang masih aku pakai. Suara segugukan yang keras pun, terdengar membuat napasku tersengal dan menutup pandangan dengan bola mata yang berkaca-kaca.


"Kau selalu menangis, kalau di marahi. "Kenapa kau terlihat begitu cengeng? Sedikit-sedikit, kau di marahi menangis. Aku jadi, heran melihatmu. Kenapa? Hidupmu selalu menangis, menangis, dan menangis," rintihnya dengan kesal. Melepaskan cengkraman.


Aku semakin kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa. Bibir pucat, kini terasa gemetar menahan tangis yang ingin pecah. Tubuh lemah yang berdiri, ingin segera terjerembab ke lantai. Hujatan demi hujatan dari ibu sambungku terdengar semakin keras menyapaku, sebagai teman baru yang mejadi pendamping hidupku.


Ibu sambungku, dia belum puas, sepertinya menyerangku. Dia terus berdiri, sekalipun aku terlihat sudah tidak berdaya. Sakan dia tidak mau melepaskan aku begitu saja.


"Mulai besok. Kau harus pulang tepat waktu. Aku tidak mau, melihatmu pulang terlambat," teriaknya. Mengayunkan telunjuk ke udara, memberi peringatan keras kepadaku. "Kau dengar Liyan!" menatapku. "Adikmu saja, yang suka keluyuran, dia tahu jam pulang," tandasnya. "Ini kau, malah tidak tahu. Padahal, kau tidak pernah keluyuran," menatapku dengan heran. "Tapi kenapa? Kau yang selalu membaut ulah. Seolah-olah, kau yang terlihat seperti orang yang suka keluyuran," keluhnya. "Huh! Entahlah. Aku tidak mengerti melihatmu," lanjutnya menyerah. Pergi meninggalkanku.


Ibu sambungku terlihat begitu kesal, sambil memijat keningnya. "Liyan, pergi sana. Ganti pakaianmu. Jangan sampai Ayahmu melihat pakaianmu," Berjalan menghilang.

__ADS_1


Aku yang terlihat depresi semakin mengerang, menahan batin yang merintih. Perlahan, aku memutar badan masuk kembali ke dalam kamar. Membuka pakaian seragam dengan kesedihan yang masih menyelimuti. Kepiluan masih membelenggu hati yang mengundang mendung, semakin meredupkan segalanya.


"Liyan, sudah kau ganti pakaianmu," teriak ibu sambungku. "Kalau sudah. Kau keluar sekarang, makanlah di sini. Biar kau minum obat. Cepat, jangan lama-lama!" bentaknya dari balik kamar.


Sontak aku menghentikan jemariku yang setengah membuka kancing baju. Mendengar teriakannya yang keras memanggil dari belakang. Secepat mungkin, aku bergegas merapikan pakaian dan menghampiri ibu sambungku.


"Iya Bu," jawabku pelan. Menunduk.


"Itu, ambil nasimu. Makanlah!" ucapnya dengan pelan menunjuk piring. Menyuruhku segera.


Dengan hati yang telah netral. Aku mengambil piring yang telah berisi dengan nasi dan lauk.


"Oh, iya. Jangan makan sambel goreng, ya. Kamu 'kan tidak boleh memakannya. Masih ingat, Liyan?" tanyanya, seakan mengingatkanku kembali dengan penuh penekanan.


"Masih Bu," jawabku dengan sedikit gugup.


"Itu, ada sup Wortel. Itu khusus untuk mu," menatapku.


Aku yang bergeming. Berjalan mendekati sayur yang di tawarkan oleh ibu sambungku. Memegang piring dan mengambilnya kemudian menaruhnya kembali di atas meja.


"Jangan lupa. Setelah itu minum obatmu! Agar kau cepat sembuh," lanjutnya dengan lembut. Mengingatkan aku.


Setelah itu, ibu sambungku pun, pergi keluar di tengah hari yang terik. Dia begitu terlihat bergegas dengan cepat. Mengayun kaki keluar dari pintu dapur.


"Baik Bu, " jawabku menunduk dengan lirikan mengikuti langkahnya keluar.


Aku yang penasaran ingin tahu. Berdiri di depan pintu dapur. Menatap mengeluarkan sedikit kepala. Bersama piring yang aku pegang. Aku memperhatikannya dengan penuh tatapan keharuan.


Di tengah hari ini, dia terlihat sibuk dengan beberapa piring kotor yang terletak. Dia menyambangi sumur kami, yang sedikit jauh dari rumah. Dengan tergopoh-gopoh, dia membawanya.


Setelah aku melihatnya. Aku kemudian memutar badan dan mengambil sup wortel. Menaruh di atas piring yang telah terisi oleh nasi.


Setelah itu, aku lalu beranjak dari dapur ke ruang tengah yang sering aku duduki, kalau lagi makan. Perlahan, aku menjatuhkan tubuh lemah ke lantai, duduk bersila dengan manis.


Menatap nasi yang telah di penuhi oleh sup yang aku ambil. Dalam kesendirian, aku menyuap nasi hingga memasuki tenggorokan yang telah lama tidak tersentuh oleh apa pun. Sebelum aku makan. Aku terlebih dahulu meminum air, walau hanya seteguk untuk membasahi tenggorokan yang kering.


Sambil menikmati makanan yang ada di hadapanku, bersama kesunyian yang menyelimuti.


"Kak!" teriak adikku dengan keras. Berlari.


Tiba -tiba, aku tersentak dan menatap suara asing yang memanggil namaku. Membaut nasi yang aku telan tersedak.


Refleks tangan lemahku langsung mengambil gelas yang berada di sampingku dan meminumnya.


"Kakak baru pulang?" tanya adikku. Berdiri dan melangkah masuk.


"Iya Dek," jawabku pelan. Meletakan gelas.


Aku begitu panik, mendengar suara adikku tadi yang berteriak memanggilku.


"Kenapa Kakak pulangnya lama?" tanya adikku dengan menyelidik. Duduk di dekatku.


"Tadi, di kelas ada jam tambahan," jawabku. Memakan nasi kembali. Menatap adikku sekilas yang begitu antusias menyelidiki.


"Emang kalian di kelas, ada tambahan apa?" tanya adikku semakin bingung. Mengerutkan kening.


"Membaca puisi," jawabku dengan acuh. Mengunyah.


"Pantesan, aku tadi tidak melihat Kakak di jalan," balas adikku dengan acuh.


"Kenapa?" tanyaku ingin tahu. Menatap adikku penuh tanda tanya.


Seketika, adikku yang duduk memutar badan menghela napas sambil menatap keluar.


"Tadi, aku di marahi oleh Ayah," jawab adikku dengan lesu. Menatap pilu.


Mendengar jawaban adikku yang memilukan. Aku terdiam dan tidak bisa menelan nasi. Rasanya, selera makanku hilang seketika. Sendok yang aku pegang, refleks aku letakan.


Menatap adikku yang memalingkan wajahnya dariku.


Wajah rasa bersalahku, membuatku semakin frustasi dan menelan ludah penyesalan.


"Apa Ayah sudah pulang?" tanyaku ingin tahu. Menatap adikku dengan wajah pucat.


"Iya," jawab adikku ketus.


Sejenak, aku diam meratapi kesalahanku. "Ayah sudah pulang?!" tanyaku pada diriku sendiri dengan gelisah.


Sementara adikku terlihat termangu. Diam dengan kekesalan. Dia seperti meresapi kejadian yang menimpanya sebelum ke pulanganku.

__ADS_1


Kedua bola mata menatap dengan kosong sambil mengingat. "Kenapa Ayah secepat itu pulang?" tanyaku membuka kembali ingatan adikku.


"Aku tidak tahu, Kak," jawab adikku acuh. Melirikku sekilas. "Sewaktu Ayah pulang melihatku. Dia langsung menanyakan tentang Kakak," sambungnya . "Seharusnya, Kakak pulangnya cepat, atau bilang pada Ayah, kalau Kakak pulangnya lama," sungut adikku. Mendesis.


"Bagaimana memberi tahunya?" tanyaku dengan segala kebingungan. "Jadwal pulangnya secara mendadak di beritahu."


Adikku hanya diam mendengarnya dan tetap bertahan menatap keluar. Terlihat dari wajahnya, dia begitu tidak percaya dengan apa yang kusampaikan.


"Bukannya, orang Kakak tadi di warung?!" dalih adikku. Mengalihkan diriku.


Aku langsung tersentak, seketika kedua bola mataku melebar, menatap adikku dengan mendelik.


"Kau tahu dari mana?!" tanyaku mengulanginya kembali pada adikku.


"Dari Rahmadani," jawabnya dengan acuh. Menatapku dengan kesal. "Tadi, aku bermain di sana. Tidak sengaja, aku mendengar Kak Widia di marahi oleh Ibunya," cetus adikku menegasakan.


Deg!


Seketika jantungku berhenti. Aku begitu khawatir, kalau sampai ayahku tahu. Aku pasti di marahi besar-besaran olehnya.


"Lalu..." dengan penasaran aku menghentikan ucapanku dan menatap adikku dengan serius sambil menyuap nasiku kembali.


"Iya, Lalu, dia di marahi, jadinya," ujar adikku.


Wajah pucatku pun, berubah panik seketika. Melemparkan pandangan ke depan dengan nanar, sambil memasukan nasi ke dalam mulut dengan suapan selanjutnya.


"Kemudian, Widia bilang apa?!" tanyaku. Mengunyah.


"Dia bilang, kalau kalian membeli air minum," sambung adikku. Menatapku dengan sebal.


"Ooh!" seketika aku mengangguk sambil mengunyah nasi. Diam dan mengingat Widia yang di marahi oleh ibunya.


"Widia bilang rupanya, kalau dia membeli minum bersama Kakak?!" lanjutku menatap adikku.


"Iya," jawab adikku. "Dia bilang kalau kalian berdua membeli minum," sambung adikku kembali.


Rasanya, napasku mau berhenti. Panas tubuh lemah pun, kini berubah menjadi dingin. Bibir pucatku semakin berat ingin berucap.


Sementara, adikku begitu sinis menatapku. Dia tidak menunjukan, senyum sekali pun di wajahnya, setelah dia mendengar jawaban dariku. Aku terlambat pulang karena jam sekolah di tambah. Sementara, Widia mengatakan, kalau dia dan aku terlambat, karena membeli minum dan singgah di warung.


"Kenapa kalian tadi membeli minum dan lama singgah di sana?" tanya adikku penasaran dengan selidikan yang mematikan. "Gara-gara Kakak. Aku jadi di marahi oleh Ayah," gerutunya dengan sengit.


Melihat wajah pias adikku yang memerah, tidak sanggup untuk aku lihat. Sepertinya, dia ingin melemparkan bongkahan es hingga membuatku membeku.


Aku rasanya, bagaikan orang bisu hari ini, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, untuk membela diriku sendiri. Semuanya terlihat sia-sia.


Masalah ini, seakan mencekikku perlahan. Sampai menutup jalan pikiranku. Kekeliruan ini semakin membuatku pusing.


Aku begitu di landa hari ini. Apa yang harus aku sampaikan jika, ayahku nanti bertanya. Belum lagi, ibu sambungku yang kesal sekali terhadapku.


Begitu berat cengkeraman menghampiri, sehingga memaksaku untuk menghabiskan nasiku dengan kasar. Air minum yang aku teguk tidak terasa membasahi tenggorokanku.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar, dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung....


Sambil menunggu Author untuk Update!


Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!


Pasti engga nyesel deh, bacanya! 🥰



Aurel adalah seorang wanita muda yang berpredikat janda dengan dua anak balita, tanpa pengalaman mengelola perusahaan yang ditinggal oleh almarhum suaminya.


Sedang dia sendiri mempunyai 4 toko kue.


Rajev seorang duda asal India yang bekerja di Qatar, memang sudah mencintai Aurek sejak Aurel masih gadis. Ditambah pula dia mengemban amanat almarhum suami Aurel untuk menjaga istri dan anak-anaknya.


Mampukah kekuatan cinta mereka menghadapi percobaan perebutan perusahaan hingga pembunuhan yang pelakunya adalah paman almarhum Radit?

__ADS_1


__ADS_2