Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ibu sambung kembali, adikku kesal


__ADS_3

"Ayah gak akan marah Kak. Masa Ayah memarahi anaknya demi dia," kata adikku menurunkan nada suaranya dikit. "Kalau Kakak mungkin?! 'Kan itu Ibu kesayangannya Kakak," lanjutnya.


Aku langsung melihat ke luar jendela dengan tubuh mungil ini sedikit miring. "Ana, kita gak boleh jahat sama orang tua," kataku. Duduk menekuk kedua lutut yang sebelah nyeri.


"Kakak, betul! kalau kita gak boleh jahat. Tapi kalau dia yang jahat kayak mana?" tanya adikku ingin tahu.


"Ya kita harus diam," jawabku, memutar sedikit kepala melihat adikku yang duduk tepat di belakangku.


"Kenapa kayak gitu? 'Kan dia yang jahat Kak? Kenapa kita harus diam?" tanya adikku bingung.


"Ana, 'kita harus sopan sama orang tua," tandasku, menoleh ke arah adikku.


Adikku hanya diam dan menunduk seakan menghitung baju anak Bp milikku yang terletak di atas lantai.


"Masa kita sopan sama orang jahat, Kak?" tanya adikku, menunduk lesu.


"Kata Ayah," jawabku langsung singkat.


"Apa Kak?" tanya adikku terheran.


"Eem!" jawabku mendehem, melihatnya yang mengerutkan keningnya.


"Kata Ayah? Gak pernah Ayah bilang gitu samaku, Kak," bantah adikku protes.


Aku tidak lagi bersuara membalasnya. Dudukku semakin kutekuk sedikit rapat agar kakiku tidak terlalu lama kaku.


"Ana, makanya jangan buat Ayah marah. Biar Ayah gak memarahimu," kataku pelan dan sedikit hati-hati melihatnya.


Adikku langsung cemberut. "Aku gak pernah buat Ayah marah kok," kata adikku, meletakkan anak Bp dengan kuat.


Puk!


Sebelah tangannya yang memegang anak Bp terlungkup menutup mainan anak Bp. "Kakak yang sering buat Ayah marah. Kakak yang buat Ayah memarahiku dan menghukum," tuduh adikku.


Aku langsung menarik tubuh mungilku yang lemah ini sedikit maju ke depan. "Ana betul! Kakak gak pernah buat Ayah marah," selahku.


"Alah. Kemaren itu kenapa kita dihukum?" tanya adikku kesal.


Aku semakin terjebak. "Ana, itu karena Kakak takut," jawabku sedikit terbata. "Ayah kalau marah pasti kayak dulu," lanjutku.


Adikku langsung menaikkan kepala melihatku . "Kayak yang dulu?" tanya adikku, sambil mengingat masa lalu.


Aku langsung mengangguk. "Eem!" jawabku dengan wajah menggemaskan.


Adikku langsung menatapku dengan tajam. "Karena Kakak 'kan suka ngibulin Ayah," balas adikku, memutar duduknya memainkan anak Bp milikku.


"Engga ada ya Ana. Kakak gak pernah ngibulin Ayah," sambungku.


Refleks adikku langsung menghentikan tangannya dan menoleh kembali ke arahku. "Engga ada, hahaha!" ledek adikku tertawa. "Kakak itu sering pura-pura mencariku waktu bermain, itu namanya apa?" tanya adikku menantang.


Glek !


Napasku langsung tersendat dan aku pun langsung menatap adikku kembali. "Itu lain Ana. Itu memang Kakak di suruh Ayah, sambil Kakak mau main -main juga," ungkapku menunduk malu.


"Tapi itu 'kan sama saja. Kakak ngibulin Ayah," cetus adikku. Duduk membelakangiku sambil mengayunkan anak Bp ke arahku.

__ADS_1


Aku lalu memutar duduk kembali melihat udara luar yang banyak di hampiri angin. "Sudah hampir mau sore Ana," kataku melihat langit.


"Belum Kak. Masih lama," bantah adikku.


"Kok tau kau masih lama?" tanyaku. Duduk membelakangi adikku.


"Kulihat kayak gitu. 'Kan masih terang," katanya dengan suara yang terdengar jelas membelakangiku.


Aku tetap melihat langit dan burung yang terbang. "Tapi kenapa Ibu belum pulang juga ?" tanyaku cemas.


"Engga usah diingat Kak. Ibu kesayangan Kakak 'kan, udah besar," jawab adikku cuek.


Aku yang duduk menekuk lutut memutar kepala melihat kebelakang. "Ana, jangan bilang begitu. Itu berdosa," kataku.


"Ibu kesayangan Kakak itu juga berdosa kok. Karena dia udah memarahiku," tandas adikku.


Aku langsung menaikkan kedua alis. "Ana, kalau Ibu marah karena kita salah. Dia gak berdosa," kataku.


"Kakak memang selalu membelanya," sambung adikku sebal.


Aku kembali memutar kepala melihat keluar jendela. "Ana, kalau Ayah pulang. Ayah marah gak ya?" tanyaku kembali tentang ayahku.


"Kenapa Kakak tanya itu lagi?" tanya adikku kesal mendengarnya. "Kalau Ayah marah, emang marah kenapa, Kak?" tanya adikku ingin tahu.


"Karena Ibu belum pulang," jawabku langsung, melihat halaman.


Kreeek!


Jeglek!


Tidak berapa lama suara pintu pun terbuka dan terhempas. Aku langsung memutar duduk bertemu tatap dengan adikku.


Glek !


Aku langsung pucat dan diam mendengarnya. Melihat cahaya dari balik tirai kamar.


"Liyan!" panggilnya dan membuka tirai.


Deg!


Aku sontak terkejut dan pucat. Ibu sambung kami berdiri dengan sorot mata tajam menatapku dengan serius.


"Di mana Ayahmu?" tanya ibu sambung kami.


"Udah pergi kerja Bu," jawabku langsung.


"Udah lama?" tanya ibu sambung kami kembali.


"Udah Bu," jawabku lagi.


"Jadi, kalian berdua dari tadi di sini?" tanya ibu kami lagi. Berdiri sambil menatap kami satu per satu.


"Iya Bu," jawabku. Duduk di atas tempat tidur.


"Hm!" Dia pun mendehem dan pergi.

__ADS_1


Adikku segera merapatkan tubuh kecilnya di tepian tempat tidur. "Kak, Ibu kesayangan Kakak pasti marah-marah lagi," kata adikku gemetar. "Tapi Kak, kenapa dia bisa buka pintu sendiri ?" tanya adikku heran.


Aku langsung menatapnya. "Ana, gak mungkin, Dik. Tadi saja Ibu gak marah," kataku pelan menenangkan adikku. Aku kembali melihat adikku. "Mungkin Kakak kurang kuat menguncinya," sesalku.


"Aku gak percaya, Kak," kata adikku khawatir. Berdiri menatap tirai kamar.


"Liyan! siapa tadi yang masak?" tanya ibu sambung kami dari dapur.


Aku langsung turun dari tempat tidur dan menjawabnya. "Ayah Bu," kataku berdiri membuka tirai.


"Oh! Kalian udah makan?" tanya ibu sambung kami. Menoleh ke arahku.


"Udah Bu," jawabku.


"Adikmu?" tanyanya kembali.


"Udah juga Bu," jawabku kembali.


Dia pun langsung diam dan memutar langkahnya mengambil piring dan gelas.


"Kalau kalian mau makan! Mari sini kita makan sama!" ajaknya dengan lembut.


"Kak, aku gak mau makan samanya," kata adikku pelan. Berdiri di dekatku.


"Ana, Kakak juga gak makan. 'Kan kita udah makan," balasku pelan, menoleh ke arah adikku.


"Kak," kata adikku berbisik pelan.


"Iya," sahutku pelan juga.


"Kemari cepat sini !" desak adikku menarik lenganku.


"Ada apa, Dik?" tanyaku penasaran.


"Kak, kenapa Ibu kesayangannya Kakak itu pulang?" tanya sesal dan kesal.


"Ana, gak boleh gitu. Itu Ibunya kita juga," jawabku pelan.


"Tapi aku gak suka Kak. Dia jahat. Dia suka marah-marah dan juga menghukum," rengek adikku cemberut.


Aku langsung lemas mendengarnya dan takut terdengar oleh sang ibu sambung. "Dik, kita mulai sekarang baik-baik, biar Ibu gak marah-marah," saranku dengan pelan.


Adikku langsung menjauh dariku dan cemberut. "Aku gak mau. Karena aku gak suka, Kak," bantahnya kembali.


"Tapi, 'kan Ibu yang selalu menjaga kita," kataku.


"Iya, tapi itu 'kan Kakak, bukan aku," kata adikku cemberut sebal. "Kalau Kakak mau ya Kakak aja. Aku gak mau!" tolak adikku langsung.


Aku jadi dilema mendengarnya. "Ana, Kakak takut kalau sampai Ayah tau kau gak suka sama Ibu. Ayah pasti akan memarahimu," kataku pelan.


"Hmmm!" balas adikku geram mendehem kesal sambil mendelik menatapku.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2