
"Iya, Ayah," jawab adikku. "Aku senang sekali hari ini karena tidur di dalam ayunan lagi. Semenjak aku masuk sekolah, Ayah tidak pernah mengayun kami lagi," tutur adikku melihat ayahku.
"Iya Ayah," sambungku. "Kami jadi rindu tidur di ayunan ini!" Aku menatap ayunan yang membuatku mengingat masa kecilku. Dulu Ayah sering menidurkan kami di sini sambil menyanyikan lagu untuk kami." Aku sambil menaikki ayunan. "Setiap kali aku melihat ayunan ini. Aku ingin sekali memanggil Ayah untuk menidurkan, aku di sini!" kataku sambil menikmati ayunan ayahku.
"Kenapa kau tidak memanggil, Ayah?" Ayahku dengan sedih bertanya.
Aku yang telah duduk di dalam ayunan. "Aku tidak berani, Yah," jawabku menunduk.
"Kenapa Kakak tidak memberi tahuku?" sambung adikku bertanya.
"Iya Liyan," sambung ibu sambungku. "Kenapa kau tidak memberitahu pada adikmu?" potong ibu sambungku dari belakang bertanya.
"Mungkin Kakak sudah tidak ingin lagi tidur di ayunan," jawab adikku seketika. Dia pun langsung duduk dan melihat ibu sambung kami yang duduk melihat kami diayun, seakan ingin mendengarkan cerita dongeng yang akan di bacakan ayahku. "Jadi, tidak perlu lagi bertanya." Dengan ketus adikku memberi balasan selanjutnya sehingga membuat wajah ibu sambungku yang datar menjadi pias.
Aku dan ayahku yang mendengarnya langsung diam dan melongo mendengar yang dikatakan oleh adikku. Aku yang duduk di dalam ayunan pun terus menatap adikku yang tenang dengan selekat-lekatnya.
"Ana!" panggil ayahku seakan menegur adikku. Sorot mata ayahku begitu tajam menatap adikku. Aku yang mengintip dari pinggiran kain ayunanku begitu deg-degan mengetahuinya.
"Jangan bicara sembarangan pada orang tua," kata ayahku dengan kesal.
"Maaf Ayah. Aku 'kan masih kecil." Adikku memalingkan wajahnya dari ayahku melihat kain ayunan.
Aku pun seketika bengong mendengar alasan adikku. Adikku hari ini memang benar kalau dia masih kecil dan belum berakal sepenuhnya, pikirku karena apa yang dibilangnya barusan keluar dengan tenang begitu saja dari bibirnya. Dari ini jelas bahwa dirinya tidak bisa disalahkan. Akan tetapi, ayahku tidak mencoba untuk diam. Dia dengan lembut mengatakan pada adikku kembali. "Nak, tidak boleh berbicara, seperti itu. Itu tidak baik dan tidak sopan terlihat," tutur ayahku yang masih memperhatikan isi dari cerita dongeng. "Allah tidak menyukai seseorang berbicara, seperti itu pada orang lain, apalagi yang lebih tua dari kita," sambung ayahku melarang adikku untuk kembali berbicara.
Terdengar dari ayahku dia tidak memarahi tapi menegur adikku karena ayahku mengetahui kalau adikku masih kanak-kanak sehingga dia tidak memikirkan, apa yang dikeluarkannya ketika berucap.
Sementara kebisuan dari ibu sambungku seakan memberi isyarat kalau dia tidak bisa menerima yang dikatakan oleh adikku.
"Anakmu itu! Selalu saja kau perlakukan dengan baik, meskipun dia sudah terlihat salah," sesal ibu sambungku.
"Aku memang benar," sambung ayahku tidak mau kalah. "Anakku ini masih kecil. Jadi, dia belum tahu pasti yang diucapkannya itu pantas atau tidak," rancau ayahku dengan geram.
"Alaaah! Dari dulu, itu saja yang sering kau ucapkan. Kau memang sayang kali sama Anakmu yang satu ini, kalau kulihat," cibir ibu sambungku memanas.
__ADS_1
Ayunan yang menenangkan dan cerita dongeng yang asyik ketika didengar sebelum tidur adalah mimpiku setelah sekian lama. Tapi kini sekejap mata itu telah rusak dan meninggalkan sisa harapan yang kelabu. Begitu sedih rasanya aku saat ini menelan kegagalan kembali dari penantian panjangku.
Aku pun kembali menjatuhkan tubuhku ke dalam ayunan yang menjadi peredam rasa kecewaku. Aku tatap langit-langit rumah kami yang begitu tinggi. Kedua bola mataku yang masih terbuka kini terbungkus dengan kehampaan. Dongeng Cinderella yang ingin kudengar kini sia-sia. Perdebatan-perdebatan yang terjadi malah membuat gemuruh kecil di ruangan yang kecil ini.
"Ayah, apa cerita dongengnya tidak jadi?" Aku yang menatap dengan pandangan kosong yang hampa, tiba-tiba mendengar suara adikku dari ayunan sebelah.
"Hahaha!" Ayahku tertawa kecil kudengar. "Jadi, Anak Ayah ini masih menunggu Cinderellanya?!" kata ayahku dengan hangat.
"Iya, Yah. Ayah sudah lama tidak mendongengkan kami," sambung adikku kembali.
"Baiklah. Ayah akan mendongeng untuk kalian berdua," tutur ayahku.
Sontak aku pun bangun seketika dan membuka mataku dengan lebar. "Benar Ayah?" tanyaku dengan senang.
"Iya. Ayah benar," jawab ayahku dengan menarik bibirnya menatapku yang terlihat dari tepian kain ayunan ketika aku mengeluarkan kepala sedikit melihat ke arah ayah dan adikku.
"Horeeer!" teriakku kegirangan. Seakan aku telah menang dari sebuah pertandingan.
Malam ini adalah malam dimana aku dan adikku di dongengkan oleh ayahku. Setelah sekian lama kami merindukan dininabobokan oleh ayahku.
Dulu sewaktu kami masih kecil ayahku selalu menjaga kami di waktu tidur, apalagi setelah kepergian ibuku yang meninggalkan luka dan kesedihan mendalam bagi kami. Selama ibu kami tiada dan sebelum ayahku menikah. Ayahku tidak pernah lupa untuk menidurkan aku di ayunan dengan lagu favoritnya. Akan tetapi, setelah beberapa hari ayahku menikah. Aku tidak pernah lagi menyentuh ayunan ini. Beda halnya dengan adikku. Meskipun, ayah dan ibu pengganti kami menikah setelah beberapa hari, adikku masih tetap di utamakan oleh ayahku hingga saat ini. Bagi ayahku adikku adalah perioritas utamanya selain ibuku yang telah tiada.
Itu bukan hal yang tabu lagi bagiku. Itu sudah menjadi kebiasaan yang terlihat oleh diriku sendiri dengan kedua mataku. Lantas itu tidak menjadikan aku anak yang iri hati, apalagi sampai membenci adikku. Biar bagaimanapun, adikku adalah napas kehidupan bagiku juga. Jika adikku sedikit saja bersedih, aku pasti akan merasakannya.
Seperti yang terdengar malam ini. Adikku begitu senang setelah ayahku mau mendongengkan kami berdua. Di balik kesenangan adikku aku juga merasakan hal yang sama. Kehampaan tadi yang tertoreh kini telah terlupakan seketika.
"Ayah menceritakannya jangan pelan, ya, Yah." Adikku yang diayun mengingatkan ayahku.
"Iya, Yah! Biar aku mendengarnya juga." Aku menyahut dari ayunan sebelah adikku.
"Iya, Nak! Ayah akan menceritakannya dengan keras supaya kalian berdua mendengar dan langsung tertidur," ujar ayahku.
"Tapi jangan sampai kedengaran keluar. Nanti semua orang akan heran." Ibu sambung kami membalasnya dengan tidak senang.
__ADS_1
"Setelah Ayah ceritakan, kalian berdua tidur, ya!" Ayahku langsung bercerita.
***
Pada suatu hari hiduplah seorang gadis cantik dan baik bernama Cinderella . Sejak ayahnya meninggal dunia , Cinderella hidup di sebuah rumah yang besar bersama ibu tirinya dan dua saudara tirinya .
Ibu tiri tidak pernah suka dengan Cinderella . Setiap hari dia selalu memberi banyak tugas rumah untuk Cinderella kerjakan . Pekerjaan ini termasuk pekerjaan rumah dan melayani ibu tiri dan dua saudara tirinya .
Kedua saudara tiri Cinderella tidak pernah mau bekerja membersihkan rumah . Keduanya suka hidup mewah dan selalu meledek penampilan Cinderella yang dianggap jelek .
...
Keduanya pun menikah dan hidup bahagia.
Mataku pun semakin terlelap mendengarkan dongeng ayahku . Cerita Cinderella tidak lagi kudengar dengan sepenuhnya. Hanya awal dan akhir cerita yang masuk ke dalam pendengaranku dengan jelas.
Ayunan yang di kayuh ayahku membuatku semakin ingin menutup mata. Suara adikku yang menjawab di tengah-tengah dongengan ayahku kini tidak lagi terdengar.
Hanya gesekan tali ayunan yang terdengar bergerak pada porosnya dan kain kecil yang terlihat menutupi tubuhku yang terasa sedikit kedinginan karena angin yang berembus ketika ayunan bergerak.
Suara ibu sambungku yang tadi menyahut pembicaraan ayah dan adikku pun semakin tidak aku dengar lagi semuanya sepi, hening tanpa pantulan.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya! 🙏
__ADS_1