Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Sikap yang dingin


__ADS_3

Kami pun diam dan tenang mengerjakan tugas yang di berikan oleh bu Dona. Seluruh siswa pun tidak ada lagi yang bersuara. Semuanya pada sibuk mengerjakan tugas agar selesai tepat waktu.


Aku yang tadi merasa tidak nyaman sekarang semakin serius mengerjakan tugas yang ada di hadapanku sembari melirik Widia dan Fikri yang diam melupakan masalah yang menghampiri mereka berdua.


Aku kembali melihat buku yang masih terbuka dan bergegas secepat mungkin menyelesaikan tugas agar aku bisa menemui Septiani untuk meminta maaf. Bagi diriku maaf Septiani sangatlah berharga dari diriku sendiri. Meminta maaf kepadanya adalah harta yang sangat berharga bagiku sebab dalam persahabatan kami maaf adalah tubuh yang menguatkan pertemanan ini sampai akhir hayat.


Kalau begitu, aku harus terus menerus mengejar impianku untuk menyatukan kembali persahabatan ini. Jadi, aku harus menyelesaikan tugas ini secepat mungkin supaya aku tidak sulit nanti untuk menemui Septiani kalau misalnya, tiba-tiba kami pulang mendadak.


Jemari yang terasa lemah ini pun mempercepat tulisanku. Setelah sekian lama aku menikmati latihan yang di berikan oleh bu Dona akhirnya, tidak terasa sudah selesai.


"Widia, kau sudah nomor berapa?" tanyaku melihat Widia yang serius.


"Aku masih lama lagi baru selesai, Liyan," jawab Widia terus mengerjakan tugasnya.


"Oh, ya!" Aku langsung memalingkan wajahku sedikit kecewa mendengarnya. "Padahal aku sudah selesai." Aku menatap bukuku dengan sendu.


"Kalau kau sudah selesai, kumpulkan saja duluan!" kata Widia. "Aku masih lama. Lagian 'kan, kau ingin bertemu dengan Septiani 'kan?" kata Widia bertanya padaku dengan sikapnya yang dingin.


"Widia, aku tidak bisa, kalau harus bermusuhan dengan Septiani," kataku dengan tegas.


"Siapa yang bermusuhan, Liyan? Kau ini!" celetuk Widia dengan acuh. "Seakan kau menuduhku." Widia menatapku dengan raut muka tidak senang.


"Lalu, kenapa kau tadi sedikit lain melihatku?" tanyaku meyakinkan.


"Heh!" Widia berdehem menarik bibirnya menyeringai dengan sinis. "Liyan, jangan sembarangan menuduhku, ya!" Widia seakan menyerang.


"Aku tidak menuduh, Widia. Aku cuman bertanya saja," kataku dengan polos.


"Sudahlah, Widia! Jangan dilanjutkan, nanti kita bertengkar," ujarku memutarkan pandangan darinya.


"Ya sudah. Siapa yang ingin melanjutkannya, Liyan? 'Kan kau yang menanya duluan. Iya 'kan?!" Widia melirikku sambil menulis.

__ADS_1


Perkataan Widia barusan sangat menyentuh relung hatiku sehingga membuatku terdiam seakan malu pada diriku sendiri. Kesedihan pun menyelubung hadir tanpa permisi. Ia senantiasa menghampiri setiap langkahku yang tak kunjung jua bahagia.


Tugas yang telah menanti untuk segera dihantarkan pada bu Dona menari-nari kini di depan kedua netraku yang bening. Segera mungkin aku pun, tersadar dan mengambil tugasku lalu menghantarkannya.


Bu Dona yang terlihat sibuk dengan persiapan ujian kami beberapa hari lagi terhenti dengan kedatanganku. "Bu ini tugas saya," kataku menyerahkan buku.


"Kamu sudah siap, Nak?" tanya Bu Dona menerima buku yang aku berikan.


"Iya Bu. Saya sudah siap," jawabku menatap bu Dona yang melihat.


"Liyan," panggil Bu Dona.


"Iya, Bu," jawabku dengan sopan dan santun.


"Ibu pengen tahu siapa nama kedua orang tuamu. Karena Ibu sangat membutuhkan biodatamu." Bu Dona melirik bukuku sesekali.


"Iya, Bu. Besok akan saya minta pada Ayah saya, Bu." Aku pun langsung membalas permintaan bu Dona.


"Baik Bu." Aku langsung memutar badan meninggalkan bu Dona.


Di tengah perjalanan aku yang hampir mau memasuki bangku tiba-tiba wajah dinginnya Widia melintas di hadapanku tanpa menolehku sedikit pun.


Hanya karena kekeliruan yang sedikit terjadi di antara kami membuat hubungan persahabatan ini renggang. Kekeliruan ini semakin menyelubung sampai ke dalam sehingga mematahkan semua rasa persaudaraan yang telah lama kami bangun.


Susah senang, suka duka yang selama ini kami lalui teramat sia-sia sekarang. Semuanya sudah hancur tidak tahu lagi, kapan ini semua akan membaik. Keinginan untuk berkumpul dan tertawa bersama kembali hanya bisa aku genggam dalam angan yang semu.


Widia yang telah maju ke depan untuk mengumpulkan tugasnya kini tidak lagi menyapa atau pun bertanya tentangku sedikit pun. Aku begitu lirih menjatuhkan tubuh ini di atas bangku yang telah menanti.


"Liyan, kenapa kau bersedih?" tanya Fikri.


"Iya Liyan," sambung Rasyd. Kenapa Widia tidak mau menegurmu?" lanjut Rasyd bertanya dengan heran.

__ADS_1


"Widia mau kok, menegurku." Aku langsung menjawabnya dan menyembunyikan yang telah terjadi dari mereka.


"Tapi... ." Rasyd kemudian terdiam menatap seakan dia menolak apa yang kukatakan.


"Sudahlah Rasyd. Mungkin apa yang di bilang Liyan barusan itu benar?! Mereka tidak bertengkar," lanjutnya.


Kini Rasyd mengangguk sebagai isyarat menerima apa yang diutarakan oleh Fikri. "Ya, kau benar Fikri," lanjut Rasyd menatap aku dan Widia dengan gurat wajah masih menyimpan kecurigaan yang mendalam.


"Fikriii!" teriak bu Dona. "Mana tugasmu? Kenapa belum ada di sini?" tanya bu Dona melihat-lihat buku yang terkumpul di atas mejanya.


"Iya, Bu," jawab Fikri.


"Soalnya sulit sekali, Bu," lanjut Rasyd bercanda.


"Rasyd semau soal yang saya berikan selalu sulit menurutmu. Saya jadi bingung, harus memberi soal seperti apa lagi padamu." Bu Dona menggeleng.


"Tapi Widia terlihat begitu dingin pada Liyan," kata Fikri sambil keluar dari bangkunya melirik Widia.


Bisikkan mereka itu tanpa sengaja kudengar. Aku langsung melihat Widia yang berdiri di depan meja bu Dona dengan lekat aku memandangi Widia setelah aku mendengarnya. Menurutku apa yang dikatakan oleh Fikri itu tidak salah setelah Fikri melihat Widia yang diam saja dan bersikap dingin ku, bahkan juga dengannya.


.


.


.


Bersambung...


Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya! 🙏


__ADS_1


__ADS_2