
"Liyan, apa kau sudah mau masuk?" tanya ibu sambungku berbisik di telinga. Melirik pintu rumah.
"I-iya, Bu," jawabku terbata melepaskan pelukan.
"Mari Ibu antar," pinta ibu sambungku. Menggenggam tanganku. Berjalan menghampiri pintu.
Aku yang berjalan bersama ibu sambung yang menyita waktuku tadi dengan sikapnya yang menakutkan, tidak sengaja melirik adikku yang berdiri di balik jendela.
Aku yang bertemu pandang pun lalu memutar tatapan melempar ke arah yang lain. Melihat dari sikap adikku yang menatapku seakan dia telah melihat semuanya dari tadi. Tapi dia sama sekali tidak mau membela karena dia sudah benci terlalu dalam terhadapku.
Aku sangat sedih seandainya itu benar. Aku merasa aku sebegitu jahatnya di mata adikku sendiri, sampai -sampai dia pun tidak mau lagi memberi rasa simpati terhadapku. Kini yang aku lakukan hanyalah diam menelan semuanya sendiri.
"Liyan, kau harus ingat. Kau tidak seperti dulu lagi," kata ibu sambungku lalu kemudian diam. Berjalan sambil memegang tanganku. "...yang disayang Ayahmu," tandasnya. Melirikku.
Aku yang bertemu pandang dengan ibu sambungku menatapnya lekat sambil melihat gerakan bibirnya yang berucap.
"Kau tidak tau kalau Ayahmu sudah marah, ya 'kan?" ucapnya kembali bertanya kepadaku.
Aku seperti terkurung rasanya. Langkah kaki rasanya, seperti terlilit tali yang tidak terlihat. Serangan dari ibu sambung dan kebencian dari adikku semakin mengurung kesenanganku rasanya.
Kaki yang telah memasuki rumah ini pun melangkah masuk dengan kaki sebelah kiri yang masih berjalan di belakang mengikuti kaki kanan. Di ikuti oleh tangan yang masih bergenggaman dengan ibu sambungku dan lirikan mata ini juga melihat ke arah adikku yang masih menatap diriku dengan penuh kebencian dari balik daun jendela.
Daun jendela yang terbuka lebar itu menjadi saksi kebencian adikku terhadapku.
"Liyan, kau minumlah dulu! Sepertinya kau haus," kata ibu sambungku yang mengambil gelas yang terletak di atas meja ayahku. "Bibirmu sudah kering," lanjutnya. Menuangkan air ke dalam gelas. "Kau itu tidak suka minum air mineral 'kan?" tanyanya memberi isyarat agar aku menjawabnya.
"Iya Bu," jawabku langsung.
Air minum yang terisi penuh di dalam gelas pun aku ambil lalu aku letakan di atas meja.
"Minum, apalagi!" suruhnya dengan desakan agar aku lekas minum.
Aku sedikit gugup ketika melihat ibu sambungku yang berubah-ubah setiap detik dalam bersikap.
Perlahan aku pun meneguk air minum dengan berat hati. Air itu pun langsung membasahi tenggorokanku yang kering akibat menangis dan menahan rasa takut akibat kaki terluka.
"Lain kali, kalau minum itu duduk!" tegur ayahku.
Aku pun sontak terkejut. Air yang aku minum kini tersendat di tengah tenggorokan
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Aku tersedak dan batuk mendengar bayangan yang tinggi tiba -tiba berdiri di dekat pintu tengah antara dapur dan ruang tamu.
"Minum tidak boleh berdiri," kata ayahku dengan sorot matanya yang tajam. "Minum itu harus duduk. Kerena Rasulullah minum itu tidak pernah berdiri," kata ayahku menerangkan. "...dan di dalam ke dokteran pun minum itu di sarankan duduk," tandasnya. Berdiri melirikku dan melirik ke arah ibu sambung kami seakan dia memberi tahukannya juga kepada ibu sambung kami dengan cara tidak langsung.
__ADS_1
"Ayah, kalau kita lupa tidak apa-apa, 'kan?" tanya adikku. Berdiri seakan dia ingin menyindirku bahwa dia telah menjadi anak kesayangan seperti dulu.
"Iya, Nak. Kalau lupa apa boleh buat. Tapi sebaiknya kita jaga, supaya kita tidak lupa dan berusaha untuk mengingatnya," balas ayahku dengan lembut.
Aku pun kembali mengulanginya dengan duduk di bangku ayahku untuk minum.
"Jadi, kalian harus mengingatnya. Kalau minum itu harus duduk selain hadist Rasulullah itu juga sangat baik untuk kesehatan," tandas ayahku.
"Kesehatan apa Ayah?" tanya adikku yang terlihat kembali mencari simpati dari ayahku.
Ayahku yang sibuk dengan pekerjaan yang tidak seperti biasanya. "Kesehatan ginjal, Nak," jawab ayahku.
"Ayah apa ginjal bisa sakit ?" tanya adikku ingin tahu dengan polosnya. Berdiri bersama boneka kesayangannya yang dipegang olehnya.
"Bisa, Nak," jawab ayahku. Mengambil rantang.
Aku yang sudah menghabiskan minumku dan meletakannya kembali di atas meja. Mendengarkan topik pembicaraan adik dan ayahku. Sementara ibu sambungku terlihat gelisah mendengarnya.
Ibu sambungku pun sesekali meneguk air minum yang di tuangnya juga ke dalam gelas untuknya dan meneguknya dengan kasar sambil berdiri.
Dia sama sekali tidak mau mengikuti dan mendengar yang di sampaikan oleh ayahku.
"Kau kenapa minum berdiri?" tanya ayahku kepada ibu sambung kami.
Aku yang duduk di bangku milik ayahku pun meliriknya dan ayahku yang dengan senang hati menjelaskannya.
Sontak ayahku terdiam mendengarnya dan adikku pun semakin jengah melihatnya. Aku yang menyaksikan dari ekor mata sangat sedih melihat ayahku yang tidak pernah di hargai oleh ibu sambungku.
"Jangan pernah mengajariku. Aku jauh lebih tau. Aku 'kan dulu juga pernah sekolah," lanjutnya dengan kasar dan pedas menusuk lubang telinga ini.
Adikku yang kembali aku lirik menatap punggung ibu sambung dengan kebencian mendalam.
"Ya sudah kalau kau sudah tau," kata ayahku. Memutar kembali pandangannya mempersiapkan sesuatu yang membuat aku dan adikku bingung.
"Ayah, itu untuk apa ?" tanya adikku. Di ikuti oleh kedua netraku melihat ke arah ayahku juga.
"Ini untuk tempat nasi dan lauk pauk, Nak," jawab ayahku. Membersihkan rantang dan mengilapnya dengan kain bersih.
"Sekarang kita makan di situ, Yah?" tanya adikku dengan gurat wajah terheran.
Aku sontak terkejut dan melongo mendengar jawaban ayahku ketika adikku bertanya.
"Tidak," jawab ayahku langsung.
"Lalu untuk apa Ayah?" tanya adikku semakin ingi tahu. Berjalan menghampiri ayahku. Boneka yang seram itu dia peluk bak seperti seorang ibu yang menggendong anaknya.
__ADS_1
"Ini untuk kalian," jawab ayahku pelan di telinga adikku.
Aku dan adikku semakin penasaran dengan jawaban yang di berikan ayahku secara menggantung. Aku yang mendengarnya pun terbawa arus penasaran juga.
Sementara ibu sambungku sama sekali tidak menggubrisnya. Dia terus menatap lurus ke depan dengan mengetatkan wajahnya semakin ketat. Meneguk air minum dan sesekali melirik ke luar seakan dia seperti menunggu seseorang.
"Ini untuk kau dan Kakakmu," kata ayahku menjelaskan agar adikku tidak bingung.
"Ayah, kenapa harus di situ ?" tanya adikku semakin ingin tahu.
"Kita mau pergi piknik," jawab ayahku spontan.
Glek! Aku menelan ludah.
"Horeeee!" Apa Ayah? Kita piknik? Asyiiiik!" jerit adikku bersorak kegirangan sambil melompat dan memeluk ayahku. "Ayah akhirnya, kita jalan-jalan juga," katanya memeluk erat pinggang ayahku dan boneka kesayangannya.
Deg!
Ibu sambungku spontan menajamkan tatapannya yang tajam dan merah ke arah ayah dan adikku.
Aku yang ikut bahagia di dalam hati melirik ibu sambung kami yang pias menatap kami. Dia seakan tidak mau melihat rencana ayahku ini.
"Ayah jadi, kita berangkatnya kapan?" tanya adikku.
"Kita berangkatnya sekarang, Nak," ucap ayahku tersenyum melihat adikku bahagia.
"Kenapa harus sekarang? Besokan bisa?" tanya ibu sambungku dengan nada suara terkejut.
"Aku tau besok bisa. Tapi aku tidak bisa memastikan kalau aku besok cepat pulang," jawab ayahku menerangkan pada istrinya.
"Pantas kau cepat pulang!" kata ibu sambung kami dengan kesal.
Raut mukanya langsung berubah masam. Dia tidak lagi menatap semuanya dengan datar. Dia kini telah semakin pias dan mendongkol mendengar rencana ayahku.
"Kau selalu membuang-buang uang untuk Anakmu," katanya dengan kesal.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku, ya! 🙏
__ADS_1