Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Pertengkaran


__ADS_3

"Ana, Kakak bilang apa sama Ayah, ya?" kataku bertanya, melihat adikku yang teronggok di atas lantai.


"Aku gak tau Kak," jawab adikku acuh.


"Liyan!" panggil ayahku dari dapur.


"Iya, Yah," jawabku berlari menghampiri ayahku di dapur.


"Tadi, Ayah dengar kau bicara sama siapa, Nak?" tanya ayahku menyelidiki.


Aku diam dan melihat pintu dapur yang terbuka lebar. "Sama Ibu, Yah," jawabku.


Ayahku langsung menganga setelah mendengarnya. "Ibumu?" tanya ayahku terheran.


"Iya Ayah. Tadi Ibu datang. Tapi dia udah pergi lagi," kataku penuh sesal.


"Kenapa tidak kau tahan, Nak? Supaya Ibumu tidak pergi," ucap ayahku melayangkan pertanyaan itu padaku.


Mulutku semakin kukunci dengan rapat. Lantai yang masih membekas jejak kaki ibu sambung kami kini kupandangi terus menerus.


"Liyan, apa Ibumu bilang? Dia pergi ke mana lagi?" tanya ayahku ingin tahu.


"Engga, Yah," jawabku, menggeleng.


"Ayah, Ibu pasti akan kembali lagi?!" kataku, melihat ayahku yang khawatir.


"Dari mana kamu tau, Nak. Apa Ibumu bilang samamu kalau dia balik lagi?" tanya ayahku.


Sejenak aku diam memikirkannya. Ayahku benar juga kalau aku tahu dari mana, ibu sambung kami akan pulang.


"Aku cuma asal bilang aja, Yah," jawabku.


"Ayah pikir kau tau, Nak. Ibumu perginya ke mana?" tanya ayahku, meletakkan keranjang sampah.


"Engga, Yah," jawabku kembali menggeleng pelan.


Ayahku langsung diam sejenak masuk. Wajahnya beberapa saat lesu. Jenjang kakinya yang melangkah pun tidak terlihat bersemangat.


"Ayah, Ibu gak akan lama kok," kataku.


"Ayah, kenapa Ayah sama Kakak selalu mengingatnya?" tanya adikku. Berdiri di depan pintu kamar kami.

__ADS_1


Aku dan ayahku langsung terdiam menutup mulut. Berdiri di tempat yang jauh dari adikku. Aku sama sekali diam mematung menatap nanar lurus ke bawah.


"Nah! Akhirnya, kalian di sini semuanya," ucap Ibu sambung kami, melangkah masuk.


Aku dan ayahku sontak terkejut dan langsung memutar kepala melihat ke arah pintu. "Ibu," gumamku pelan.


Hal ini malah semakin membuat ayahku tercengang melihatnya. Kedua bola mata ayahku menatap ibu sambung kami yang berjalan masuk ke dalam kamar.


"Ini ada surat untuk mu. Baca dulu!" kata ibu sambung kami. Berdiri dan menyerahkan selembar kertas.


Tangan ayahku yang sudah menua dan keriput itu lalu mengambil lembaran surat itu perlahan sambil gemetar.


"Aku mau kau membacanya sampai selesai semuanya," harap ibu sambung kami.


Wajah pucat ayahku yang sudah menua pun menatap lembaran kertas itu dengan cemas dan panik.


Di tempat yang lain aku dan adikku hanya berdiri diam mematung mendengarkannya. Betapa was-was aku melihat ayahku yang gugup membacanya.


"Apa?" kata ayahku bertanya sambil terkejut.


"Iya, kenapa kau menatap seperti itu?" tanya ibu sambung kami dengan tenang.


"Ini 'kan su... ." Ayahku tidak jadi melanjutkannya ketika dia melihat aku dan adikku.


Ayahku hanya diam saja. Tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya untuk menjawab. Surat yang tadi pun masih di pegangnya dengan erat dan sesekali di liriknya.


"Aku sudah muak tinggal di rumah ini. Apalagi bersama dengan kedua Anakmu!" ucap ibu sambung kami. "Lagi pula mau sampai kapan aku hidup susah samamu," serangnya. Berjalan menyusuni tas dan mengambil keperluannya yang lain. "Kau itu laki-laki yang miskin. Uangmu saja gak ada. Belum lagi Anakmu yang satu itu sering sakit dan yang satunya lagi suka jajan," sambungnya.


Aku hanya menunduk melihat lantai yang aku injak. Sungguh ini membuat ayahku sedikit terpukul. Apalagi diriku yang tidak menyangka ini akan terjadi hari ini.


"Jadi, mulai dari sekarang aku tidak akan lagi kembali ke rumah ini untuk selama-lamanya. Aku akan pergi jauh!" tandanya.


Ayahku semakin shock dan meletakkan lembaran kertas itu di atas meja kompor. Ayahku bagaikan tersambar petir di siang bolong.


"Aku tidak mau lagi tinggal di sini. Hidup susah dan tidak bisa membeli baju kesukaanku," cecar ibu sambung kami dari dalam kamar.


Braugh!


Tumpukan baju pun telah keluar. Aku langsung terkejut ternyata itu adalah baju yang tadi nampak oleh adikku dan ayahku. Baju itu kini sudah tersusun rapi.


"Apa kau serius ?" tanya ayahku ingin tahu.

__ADS_1


"Iya, aku serius. Aku sudah tidak mau lagi hidup menderita dengan mu!" cetus ibu sambung kami. Sibuk dengan mempersiapkan segala sesuatu.


"Tapi, bukannya aku selama ini memenuhi semua keinginanmu," kata ayahku, melihat ibu sambung kami yang mondar-mandir.


"Hahaha! Apa? Kau bilang kau memenuhi segala keinginanku, heh!" ejek ibu sambung kami tertawa. "Kau itu hanya bisa membeli barang -barang yang murah," ucapnya.


Omongan ibu sambung kami semakin membuat ayahku terhenyak. Diam berdiri mematung hanya itu yang bisa dilakukan oleh ayahku.


"Kalau kau mau kasih saja itu sama kedua anakmu," ejek ibu sambung kami tiada henti. "Aku sudah tidak butuh lagi pemberian barang- barang murah darimu," katanya, menyusun semua barang milik pribadinya.


Ayahku semakin lemas dan aku serta adikku tidak banyak bicara apa-apa. Kami berdua hanya menyaksikan perseteruan antara mereka berdua.


"Tapi kau mau pergi ke mana?" tanya ayahku ingin tahu.


"Itu bukan urusanmu! Urus saja Anakmu itu!" tampik ibu sambung kami, memeriksa barang-barang yang akan di bawanya.


"Kak, Ibu kesayangannya Kakak ingin pergi, ya?" tanya adikku, melihat ke arahku.


"Ssttt! Kakak gak tau, Dik," jawabku. Berdiri dan berpelukan.


"Kak, kalau memang betul mau pergi bagus dong," sambung adikku.


"Kenapa kau bilang gitu, Dik? Itu gak baik. Kalau sampai Ayah mendengarnya. Ayah pasti akan memarahimu?!" tegurku keras pada adikku semata wayang.


"Aku cuma bilang aja kok," sesal adikku pelan.


Di ujung dapur ayah dan ibu sambung kami masih berdebat hebat. Ayahku yang tidak suka diperlakukan seperti itu membuat dia terus menekan ibu sambung kami agar tidak jadi pergi.


"Jangan halangi aku! Ini sudah menjadi keputusanku. Aku sudah tidak mau lagi hidup bersamamu," pekik ibu sambung kami. "Aku sudah menemukan laki-laki yang kaya. Jadi, untuk apa aku hidup dengan mu," cibirnya.


"Tapi aku 'kan masih suamimu," kata ayahku.


"Apa? Hahaha! Kau dulu memang suamiku tapi sekarang tidak! Sekarang aku sudah tidak istrimu lagi, cih," cecarnya.


Suara itu semakin mengalun di langit -langit rumah dengan keras. Aku yang berdiri mematung di depan pintu kamar sambil tertutupi oleh sebagian tirai mendengarkannya secara diam-diam.


"Kalau kau mau punya istri. Ya, kau nikah lagi la sama perempuan yang mau hidup susah," cetus ibu sambung kami. Berdiri di depan pintu.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2