Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Rutinitas selanjutnya


__ADS_3

Tidak berapa lama, adikku yang tadi berteriak kini hening, bahkan suaranya pun tidak terdengar walau hanya sebaris lagu yang berantakan. Sunyi sepi yang mendung yang menemaniku kini dalam penantian sore ini. Banyangan senja yang mulai masuk pun, semakin terlihat menghampiri bayanganku yang lemah.


Suara terpaan angin dan suara gemericik air saling bertaut-tautan. Mereka terlihat sedang bernyanyi dengan senang. Aku yang berdiri menunggu adikku telah merasa kedinginan. Sudah berapa lama aku menunggunya bersama ibu sambungku yang tadi lebih dahulu tiba di sumur. Dia pun, terlihat senang setelah adikku memanggilnya untuk yang pertama kalinya. Aku yang melihatnya pun, sudah bisa menebak kalau dia tersenyum karena adikku memanggilnya ibu.


Jangankan ibu sambungku, aku yang mendengarnya pun, ikut merasakan bahagia. Namun, aku belum bisa memastikan kalau adikku sekarang sudah, seperti yang kami lihat. Itu bisa saja adikku yang keceplosan. Jadi rasa bahagiaku kini tertanam kembali bersama kecurigaan yang kembali menghampiri.


Aku segera mungkin mencium sesuatu yang aneh dari perubahan sikap adikku yang tiba-tiba. Adikku yang teguh dengan pendiriannya selama ini, bagaimana mungkin hatinya bisa selembut itu berubah dengan memanggil dia ibu. Ini bagaikan teka teki yang menjorok memasuki relung hatiku.


Sementara angin yang berhembus begitu dingin menerpa aku dan ibu sambungku. Tubuhku yang lemah pun, semakin depresi berdiri di tengah senja yang mulai hadir.


Adikku begitu asyik dengan siraman air yang mengguyuri tubuhnya sehingga dia melupakan aku yang telah lama berdiri menunggunya.


"Ana!" teriakku memanggil adikku. "Cepatlah sedikit! Kakak sudah kedinginan. Hari sudah mulai Maghrib, Dik. Nanti, Ayah akan memarahi kita. Hari gini masih di sini!"


"Iya Kak!" sahut adikku menghentikan siraman air sementara. "Sebentar lagi, Kak. Ini aku sudah mau siap, kok!" Adikku berteriak keras meyakinkan aku agar aku tidak gelisah.


Suara air yang tadi terdengar berisik menyiram lantai papan pun, berhenti kini secara berangsur. Perlahan demi perlahan air pun, mulai senyap terdengar.


Bugh! Bugh! Bugh!


Suara hempakkan handuk pun terdengar keras memukul udara kosong yang tercipta. Semakin lama hempakkan itu semakin kecil terdengar. Aku yang sudah tidak sabaran ingin segera mencuci wajahku pun, mendesak adikku agar dia lebih cepat lagi. "Dik, Kakak sudah kedinginan!" teriakku dari luar.


"Iya Ana. Cepatlah sedikit. Hari sudah mau hujan. Nanti kalian terkena hujan," kata ibu sambung kami yang telah selesai merapikan cuciannya. "Ibu sudah selesai," lanjutnya menegaskan pada adikku bahwa dia telah menyusun cuciannya tadi.


"Iya Kak! Kakak, engga sabaran banget, sih!" balas adikku yang belum keluar. "Ini aku lagi pakai baju, Kak."


Ceklek!


Adikku pun keluar membuka pintu. "Sudah Kak." Dia pun, keluar sambil membawa sabun dan handuk. "Masuklah, Kak!" perintahnya sambil berdiri di tempatku tadi.


"Liyan, cepat! Jangan lama-lama ! Nanti kau sakit lagi," tegur ibu sambung kami sambil berjalan pergi.


"Iya, Bu," jawabku sambil melangkah masuk.


"Ibu duluan, ya!" pamitnya dengan lembut. "Apa kalian berani di sini ?" tanyanya sedikit menyimpan khawatir.


"Kami berani?" jawabku spontan.


Kamar mandi kami memang tidak berada di dalam rumah. Akan tetapi, pintu dapur kami dapat terlihat dengan jelas dari sini. Jadi kami sedikit merasa tidak perlu takut karena dari pintu kamar mandi, kalau kita berdiri terlihatlah pintu dapur yang berdiri tegak.

__ADS_1


Maka dari itu, kami tidak perlu merasa takut.


Dari belakangku adikku yang tadi menyahutnya dengan sebutan ibu. Ini hanya terdiam tanpa merespon sedikit pun.


"Dik, tunggu Kakak sebentar, ya!" pintaku memohon sambil menutup pintu.


"Iya," balas adikku dengan singkat.


Tidak berapa lama aku masuk. Air yang telah tersedia di dalam ember pun, terlihat bening dan bayangan wajahku pun, terlihat di dalam air menatap diriku sendiri. Betapa sendu dia saat ini. Penyakit yang kuderita tak kunjung jua menjauh dariku. Dia semakin rutin hadir mendekatiku dan sangat enggan untuk berpisah.


Setiap detik aku kadang merenung. Kapan semua ini akan berakhir ? Aku sudah lelah dengan ini semua. Tidak ada keceriaan yang bisa aku rasakan lagi. Semua terkesan sia-sia. Setiap langkah yang aku lalui seakan tidak berarti.


Semangatku saat ini adalah ayahku. Ayah yang selalu berjuang untuk kami. Dia begitu tangguh dalam mencari nafkah sehingga hujan dan panas terik pun, tidak pernah menjadi penghalang baginya.


Ayahku tidak pernah mengeluh dengan keadaan ekonomi kami. Tapi ayahku begitu depresi ketika mengetahui penyakitku. Dia begitu terpukul karena putri yang paling disayanginya kini terpuruk. Ayahku sering bilang, 'jangan pernah mengeluh dalam setiap keadaan.' Seperti apapun kami susah, dia tidak mau bersedih meratapi keadaan. Akan tetapi, jika ayahku melihat kami sakit, itulah pukulan yang terberat baginya. Saat dia mengetahui penyakit yang aku derita tak kunjung sembuh.


Badai besar rasanya berputar didalam keluarga kecil kami yang sederhana. Usaha kerja kerasku agar aku segera sembuh hingga detik ini belum membuahkan hasil. Hanya sebuah mimpi yang sering aku genggam dan aku bawa kemana-mana.


Setelah aku selesai membasuh mukaku. Aku dan adikku pun, melanjutkan perjalanan kami menyambangi rumah. Pintu dapur yang terlihat dari tempat mandian kami segera menyambut kami dengan terbuka lebar.


Sementara ayahku yang tadi berada di dalam kamar kini telah duduk di bangkunya beserta secangkir teh hangat yang setiap sore ketika dia di rumah tidak pernah lepas darinya. Ibu sambung yang tadi meninggalkan kami terlebih dahulu kini terlihat duduk tepat di samping ayahku.


Aku yang telah masuk dan berjalan menuju kamar melihat mereka berdua begitu akur. Rasanya mereka sudah tidak seperti dulu lagi yang sibuk dengan perkelahian mereka mengenai diriku dan adikku. Mereka seakan menunggu kami yang tak kunjung sampai di rumah.


" Berarti Ayah dan Ibu sudah berteman," balasku pelan.


"Makanya Ayah tidak sayang lagi dengan ku," rajuk adikku.


"Diiik! Bukan Ayah tidak sayang. Ayah sayang, kok pada kita berdua." Aku terus berjalan menasihati adikku.


"Liyan, kenapa kalian lama sekali ?" tanya ayahku sambil menyeruput teh melihatku.


Aku yang ingin berjalan terus menuju kamar kini harus menghentikan langkahku dan adikku.


"Ayah tadi kami... ." Aku terdiam langsung.


"Ayah tadi Ibu mencuci," jawab adikku memotong pembicaraanku langsung.


"Apa?!" Ayahku terkejut mendengar jawaban adikku. "Kau mencuci?" tanya ayahku yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Mmm... !" Ibu sambungku pun, memutar sambil melemparkan pandangannya melihat yang lain. "... iya," jawab ibuku dengan sedikit cemas.


"Siapa yang menyuruhmu mencuci pakaian?" tanya ayahku dengan kesal.


"Engga ada! Tapi aku kasihan melihatmu setiap hari mencuci, memasak, sementara aku hanya diam dan melihatmu saja. 'Kan sudah sewajarnya hari ini aku membantumu," ucap ibu sambung kami.


"Tapi, kau tidak perlu repot-repot untuk mencuci. Apalagi itu, pakaian Anakku yang banyak," sambung ayahku seakan merasa bersalah.


"Aku tidak merasa terbebani, malah aku ikhlas bisa membantumu." Ibu sambung kami kembali menyambung omongan ayahku.


Setelah penuturan adikku yang terlalu jujur. Perdebatan kecil diantara mereka berdua pun, semakin berlanjut. Ayahku yang merasa serba kekurangan dia tidak ingin menimpakan kesusahannya kepada istri barunya. Dia hanya ingin memberi kebahagiaan pada istrinya itu walau hanya sekedar larangan untuk menjauhi pekerjaan rumah yang sering dihadapi hari demi hari.


Aku yang tidak bisa mendengarnya pun, beranjak dengan cepat meninggalkan mereka berdua sambil menarik lengan adikku.


"Dik, ayo!" ajakku masuk ke dalam kamar.


"Mereka ribut lagi," ungkap adikku dengan lirih.


"Kau, sih! Kenapa mesti berkata jujur ?" tanyaku menyalahkan adikku.


"Kak! Bukannya, Kakak bilang, kalau kita tidak boleh bohong," jawab adikku dengan polos, membuatku diam.


Setelah beberapa jam kami bersembunyi di kamar. Kegiatan rutinitas setelah Maghrib pun, kembali kami laksanakan yaitu, mengaji bersama ayahku. Sebagaimana biasanya, ayahku yang konsisten dalam mendidik kami dan mengajari kami mengaji segera turun dari tempat sholatnya. Dia pun, duduk di hadapan kami bukan, seperti seorang ayah melainkan, seperti seorang guru yang mengajari anak muridnya.


Setelah itu aku dan adikku pun, duduk bersila di hadapan ayahku yang di mana sistem pengajian kami di lakukan terpisah, aku di ruang tengah sementara adikku di kamar ayahku. Ayahku melakukan itu agar kami berdua tidak bercanda di saat mengaji.


Adikku yang terkenal begitu jahil di rumah dengan ku membuat ayahku mengawasi aku dan adikku ketika mengaji.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


Yuk! Teman-teman baca novel teman aku, ya! 🙏



__ADS_2