
Dengan lelah,letih aku yang berjalan dari ujung ke ujung mencari Ibu sambungku.Berjalan kesana kemari tanpa tujuan aku tetap sabar.Dari sekian banyak wanita paruh baya yang kutemui bersilewaran di jalan tak satupun wajahnya kulihat mirip seperti Ibu sambungku.
Sendal jepit yang kupakai seakan berteriak ingin menangis, baju yang kupakai pun rasanya sudah tak kuat karena terpaan angin dingin sore menjelang senja. Rambut panjang ku yang seleher kini berterbangan kesana kemari terbawa hembusan angin sehingga berserakan tak tentu arah.Wajah polos ku yang mungil kini mulai dingin terasa ketika ku sentuh.
Orang -orang yang bersilewaran kesana kemari pun sudah mulai perlahan menghilang. Sementara, aku yang berada di tengah senja terus berjalan.Ingin rasanya aku mencari lagi Sampai aku menemukan Ibu sambungku.Akan tetapi jika,aku mengingat kembali Ayahku jantungku pun berhenti seketika.
Ayahku jika dia pulang lebih awal dariku pasti dia akan kesal sekali.Suara paruh baya nya pun akan terdengar seantero ruangan rumah kami mengisi penuh langit-langit rumah.
Di dalam perjalanan senja yang di temani angin sore membuat ku berkubang dengan polusi dinginnya udara.Yang sudah mulai terasa menusuk ke tubuhku yang mungil.
Membuatku sedikit menggigil dan bibir mungilku keluh.Hanya menggigit gigiku yang bisa kulakukan untuk menahan dinginnya angin.
Jalan ku pun mulai tertatih-tatih. Tubuhku yang kram dan kaku. Dengan waktu yang terus ku arungi demi menemukan orang-orang yang aku sayangi.
Epilog
Siang hari aku berkecimpung dengan mencari adikku.Menemani dia bermain sepanjang hari sampai mau senja dan sekarang aku berkecimpung lagi dengan waktu mencari Ibu sambungku.
Ayahku dia tidak suka kalau melihat anggota keluarganya tidak ada yang patuh akan perintahnya.
Aku yang terus berjalan menyusuri terpaan angin yang mendera ke seluruh tubuhku. Namun, tidak dapat ku temui.
Dengan hati yang gelisah aku pun, menghentikan langkahku untuk mencari Ibu sambungku. Karena hambatan udara dingin yang lepas menerpa tubuhku yang membuat aku membeku dan kaku.
Setiba aku di rumah. Aku melihat Ayahku sedang teronggok duduk di atas kursi yang sering dia gunakan untuk makan.
Wajahnya yang sudah kelihatan menua dan terlihat sedikit kerutan terlihat lesu dengan pandangan nanar kedepan.Aku yang masih mematung di depan pintu melihat peluh ayahku yang berjuang sekuat tenaganya untuk mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kami agar tidak kekurangan sedikitpun.
Rumah yang kecil dan sederhana terlihat begitu hening dengan keluarga yang tidak begitu harmonis dan tidak ada kehangatan yang begitu dalam.
Ayahku semenjak dia menikah dengan wanita yang sekarang menjadi Ibu sambung bagi kami. Terlalu banyak diam dan sedikit bertindak. Banyak yang dia pikirkan yang membuat dia terkadang frustasi.
Belum lagi dengan sifat Ibu sambungku yang tidak normal. Membuat Ayahku terkadang tersulut emosi. Aku yang berada diantara semua kejadian terkadang gusar.Rasa ketakutan yang ku alami membuatku menjadi anak yang tumbuh dengan pendiam dan penakut.
Ibu sambungku selama menikah dengan Ayahku tidak pernah berpikir sebelum bertindak. Dia melakukan semua sesuai dengan hasrat keinginannya dan egonya.Suaranya yang membahana seantero membuat kebanggaan tersendiri pada dirinya.Tingkah lakunya yang semberono dan sesuka hati membuat ayahku terlilit masalah di lingkungan sosial. Malu itulah yang di rasakan ayahku.
Sebagai ayah bagi anak -anaknya.Dia mejadi pribadi yang tegas dan bertindak sesuai keinginannya. Tanpa menanyakan kepada anak- anaknya apa yang kami sukai ataupun tidak. Apakah kami bisa menerima ataupun tidak?!Apakah kami sanggup ataupun tidak?! Dia hanya tetap diam dan diam.
__ADS_1
Memang setiap apa yang dilakukan Ayahku terhadap kami itu tidak keluar dari jalur syariat.
Sekalipun setiap tindak tanduknya begitu terasa berat bagi kami untuk dijalani.
Terkadang aku merasa. Dia terus menekan kan kemauannya terhadap kami. Terkhusus kepada diriku sendiri untuk menjadi pribadi yang tidak pernah salah.
Harus benar dalam bertindak. Jangan pernah melakukan kesalahan sedikitpun walaupun itu hanya setitik.
Aku yang berdiri didepan pintu melangkahkan kakiku masuk perlahan.Ayahku yang teronggok di kursi.
"Liyan, dari mana kamu?" Tanya Ayahku sedikit keras dan wajah yang datar.
"Da-dari depan Ayah."Jawabku dengan lembut dan terbata melihat kebawah.Aku yang sudah kikuk tidak berani menatap Ayahku. Apalagi untuk berterus terang bahwa aku pergi mencari Ibu sambungku.
Sementara di dapur aku mendengar suara wanita separuh baya. Aku pun menduga-duga kalau itu adalah suara Ibu sambungku.
Kuangkat kepalaku perlahan mengerjapkan kedua mataku. Melihat dengan seksama apakah itu wanita yang kucari barusan.Mataku seketika melihat ke pintu tengah yang menghubungkan ruang tamu dengan dapur. Aku terus menatap sampai wanita itu keluar dari persembunyiannya dan menunjukkan wajahnya.Akhirnya, apa yang ku inginkan terkabul. Wanita itu pun berjalan mendekat pintu tengah.Aku yang masih berdiri tidak jauh dari pintu melihat dia melintas.
Aku langsung tenang dan menghapus dadaku sebagai jawaban ketenangan untuk diriku sendiri.
Aku yang masih berdiri melihat Ayahku dari ekor mataku.Wajah piasnya memandangku seakan ingin meluapkan amarahnya kepadaku.
Aku hanya tertunduk sambil ketakutan.Aku yang berdiri tidak berani duduk atau beralih. Aku masih tetap sama seperti yang tadi.
Mematung!
Aku yang ketakutan berkecamuk didalam hati. Sehingga membuat diriku membeku seperti salju es.
Mulut yang kecil mungil yang sering bernyanyi. Kini tertutup tak berdaya menahan suara. Dengan menggigit kedua gigi geraham ku yang kecil.
Wajah manis ku kini terlihat pucat ketakutan. Mata kecilku yang bersinar indah dilihat kini sendu tak bercahaya.
Sementara Aku tidak mendengar adikku bersuara mengisi rumah kontrakan kecil yang kami huni.
Sepanjang aku mematung di hadapan ayahku. Aku hanya menunduk kebawah sambil melirik dengan pelan setiap lantai dan sudut yang bisa kulihat.
Aku bertanya -tanya dalam hati. Adikku ada di mana? Ingin sekali rasanya aku menanyakan kepada Ayahku."Adikku sekarang lagi dimana?" Namun, lagi-lagi aku tidak berani.
__ADS_1
Ayahku yang duduk di kursi sesekali melihat ke dapur.Yang dimana Ibu sambungku ada disitu teronggok.
Sambil melirik aku masih tetap diam membeku.
"Liyan,cepat kamu mandi! Malam ini kita akan mengaji seperti biasa dan ya, jaga adikmu agar dia tidak pergi bermain lagi."Kata Ayahku yang meneguk air minum di gelasnya.
"I-ia Ayah."Kataku terbata-bata.
Aku masih saja bertanya di dalam hati. Adikku ada dimana?
"Ayah."Teriak adikku dengan girang.Aku yang mematung memutar kepalaku ke arah suara yang ku dengar.Dengan mata mendelik,kulihat dia datang dari arah luar.Melihat itu aku pun menarik napas dalam.
"Ayah! Ayah kapan datang?"Tanya adikku yang memegang jajan rentengan.
"Emang kamu darimana?" Tanya Ayahku sambil menarik lengan adikku duduk di pangkuannya.
Dan juga, melihat kearah ku yang sedang diam mematung.
"Dari main-main Ayah."Jawab adikku dengan tenang.
Aku yang masih diam mematung mengepal tanganku sambil menahan napas dan mengeram di dalam hati.Melihat adikku rasanya bagaikan terkena hempasan ombak yang keras yang ingin membuat ku terlempar jauh.
"Apa kakak mu tadi tidak melarang mu?"Tanya ayahku Sambil menatapku kesal.
"Ia,Ayah."Mendengar itu Ayahku pun terperanjat menarik badannya." Dilarang tadi kok sama kakak."Aku pun langsung lega dan menghembuskan nafasku perlahan seketika."Bahkan aku sudah mandi Ayah,sudah wangi coba Ayah cium! Mengulurkan kepalanya ke ayahku untuk mencium rambutnya.
Ayahku langsung mencium rambut adikku yang manja dan menyebalkan.
Adikku yang usianya terpaut jauh dariku membuat ayahku lebih menyayangi dia.
Aku yang membeku rasanya sudah lelah. Namun, ayahku belum menyuruhku untuk beranjak.Udara dingin yang berhembus diluar menerpa masuk melalui pintu dan celah -celah kecil dinding rumah kami yang membuat tubuhku semakin terasa dingin.
"Liyan cepat mandi! Kenapa? Lagi kamu masih berdiri disitu."Aku yang tadi hening langsung terperangah mendengar ucapan Ayahku.
"Ba-baik Ayah."Jawabku dengan terbata menunduk dan pergi meninggalkannya."
Ayahku kalau dia kembali dari kerja atau dari manapun aku harus ada dirumah.Dia akan marah kalau aku tidak ada dirumah.
__ADS_1
Bersambung....