
"Tadi 'kan tasnya kuat jatuhnya," kataku.
"Aalah! Kakak sengaja 'kan? Biar Ayah dengar," sahutnya dengan gurat wajah masam. "...bicara keras-keras," katanya dengan sinis.
Semakin lama adikku semakin sulit untuk di lawan. Dia semakin hari semakin keras. Dia yang selama ini julit terlihat, sekarang lebih menakutkan dan membuat aku menunduk mengalah demi hubungan kakak beradik.
"Liyan, jangan lupa setelah selesai belajar malam ini kalian tidur! Jangan ada lagi yang berisik terdengar Ayah!" ucap ayahku .
Kami yang berdiri diluar kamar tepat di hadapan ayah dan ibu sambungku pun menjawab.
"Iya Ayah. Setelah kami belajar kami tidur," kata adikku yang berakting dengan baik di depan ayah kami.
"Iya, ya." Ayahku mengangguk menyetujuinya. "Pergilah, Nak! Kalian sudah makan, 'kan?" tanya ayahku menghentikan langkahnya dan memutar badan melihat ke arah kami.
Aku sontak menghentikan langkah kakiku lalu memutar badan melihat ayahku. " Udah, Yah," jawabku lembut.
Aku kembali menyeret kakiku ke dalam kamar. Sesuai dengan perintahnya. Aku dan adikku pun tidur. Sebelum kami tidur kami telah menyiapkan kebutuhan sekolah besok. Khusus untuk ujian ini. Semua keperluan perlengkapan ujian pun telah aku persiapkan matang sehingga tidak ada yang tertinggal sedikit pun.
Adikku pun demikian juga, dia juga telah menyiapkan semuanya. Bahkan baju seragam dan kaos kaki pun telah tersusun rapi di atas tas yang teronggok di lantai.
Melihatnya yang lebih dulu berbaring memejamkan mata. Aku merenung mengingat keributan tadi siang yang terjadi di dalam kamar.
Aku spontan menunduk, tiba-tiba aku teringat oleh gundukan pasir yang terikat di dalam kantung plastik. Gundukan yang tadi dia dorong ke dalam kolong tempat tidur demi menghindari ketahuan dari ayahku.
Aku yang ingin naik ke tempat tidur. Sebentar melirik ke bawah kolong tempat tidur. Bola mata bercampur gelap melihat gundukan pasir itu dengan buram sedang teronggok sedikit lebih jauh.
Aku menghela napas kasar membuang kepenatan yang masih menggulung hati. Ingatan yang belum bisa untuk melupakannya selintas berputar membuka memori buruk itu. Memilukan sekali itulah yang terjadi saat ini ketika aku mengingatnya.
Sedikit demi sedikit aku menetralkannya. Membuang jauh -jauh kenangan buruk itu. Kenangan itu tidak pantas untuk menganak di dalam diri ini. Ia tidak layak untuk memasuki kehidupan kami kakak beradik.
Semua akan menjadi kesedihan yang bisa merusak mental ini. Aku kembali bangkit dan melangkah menuju arah tempat tidur. Tempat tidur yang rapi pun sudah terlihat pembatas yang terletak antara aku dan adikku.
Pembatas itu sekarang melintang rapi membelah tempat tidur menjadi dua bagian. Aku pun sangat terperangah melihat tingkah adikku yang sangat aneh.
Malam pun larut aku pun telah menutup mata dengan rapat.
Tempat tidur yang tadi berpalang kini telah bergeser karena tertendang.
Puk!
__ADS_1
Guling pembatas pun terpental kuat jatuh ke lantai. Aku yang tersentak membuka kedua bola mata melihatnya. Guling yang malang kini ia telah jatuh ke bawah. Adikku yang tidurnya lasak. Tidak menyadari sama sekali kalau dia telah membuang pembatasnya.
Huaaah!
Aku pun menguap menutup mulut. Lalu tidur kembali. Guling yang terpental itu pun tidak kuambil. Aku malah memutar badan miring ke kanan untuk tidur agar aku dan adikku tidak bertemu pandang.
🍁🍁🍁
Pagi telah menyingsing. Suara ayam pun telah terdengar mencari makan. Tanpa sadar aku mengucek kedua mata. Berguling ke sana kemari hanya untuk membuang rasa malas yang bersarang.
Perlahan aku ingin menyeret tubu ini. Tapi entah kenapa? Kakiku dan kepala seakan ada yang menimpa.
Aku refleks membuka mata bercampur rasa ingin tahu. Perlahan aku membuka mata dikit demi sedikit.
"Oh-ho!" Aku terkejut melihat adikku telah bergeser dari tempatnya menuju tempatku. Aku pelan-pelan mengangkat tangan adikku yang memelukku agar dia tidak terbangun dan berteriak memarahiku. Kakinya juga aku tepis perlahan.
Aku pun bergeser pelan menjauh dan melepaskan pelukannya itu.
"Ups!" Aku tersentak melihat bola matanya yang bertemu pandang dengan bola mataku. Bola mata yang tajam itu begitu pias menatapku.
"Kakak membuang gulingnya, ya!" pekik adikku mengagetkan.
"Ana, apa itu!" teriak ayahku menyahut dari luar kamar.
Puk!
"Aaghh!" Dia pun merintih kesakitan karena terhempas ke tempat tidur yang tanpa tilam.
Ayahku tidak lagi bertanya. Dia seketika diam.
Seakan dia tidak menyeriusinya.
"Tidak Ada, bantal gulingmu tiba-tiba terjatuh," jawabku pelan melihat guling yang teronggok di atas lantai.
"Lalu, kenapa tidak Kakak ambil?" tanyanya. "Iiiissss!" Mengilap tangannya sampai bersih seakan dia memberi isyarat kalau kulitku sangat menjijikan.
"Kakak mengantuk," jawabku pelan.
"Itu alasan Kakak saja!" ucap adikku turun dari tempat tidur mengambil guling.
__ADS_1
Aku semakin terdiam dan bangun. Tempat tidur dan selimut pun telah rapi aku lipat.
"Iya, Dek. Kakak ngantuk." Aku kembali menjelaskannya. Turun dan keluar.
Adikku sangat membencinya mendengar guling itu terjatuh. Dia seakan menuduhku yang membuang guling pembatas itu.
"Awas, kalau sampai saja Kakak bohong!" katanya mendengus kesal, di ikuti oleh tangannya melempar guling ke atas tempat tidur dengan kasar. Lalu aku dan dia pun keluar.
"Assalamualaikum, Ayah!"
"Wa'alaikumussalam, Nak," jawab ayahku ke arah adikku yang berjalan mengikutiku dari belakang.
"Mandinya yang cepat ya, Nak!" kata ayahku dengan lembut.
"Iya ayah ," jawab adikku dan aku yang telah berjalan.
Kami berdua pun menghilang dari hadapan ayahku untuk mandi. Setelah selesai kami berdua memakai pakaian seragam sekolah. Sarapan pagi seperti biasa telah terhidang di atas meja. Ayahku telah bersiap untuk mencari nafkah sementara ibu sambungku terlihat sibuk dengan mencari sandalnya.
"Ayah, kami pergi dulu, ya," ucapku berpamitan dengan ayahku.
Aku dan adikku pun mencium punggung tangan ayah dan ibu sambungku yang berdiri melihat kami berangkat. Namun, seperti biasa adikku tidak mencium punggung tangan ibu sambung kami. Dia masih tetap membencinya sama seperti dulu.
Kami berdua pun berjalan melintasi jalan raya yang sering kami lalui setiap hari. Aku dan adikku yang berangkat berdua sekarang telah terpisah. Adikku yang membenciku menjauh dariku dalam waktu sekejap .
"Liyan, hati-hati, ya. Hahaha!" ejek Widia yang berjalan kencang mendahuluiku.
Aku sangat tercengang bercampur terkejut ketika melihatnya menatapku dengan menyeringai.
Aku langsung menunduk setelah menatap wajahnya yang tidak menyenangkan itu. Pagi ini aku harus mendapat ejekan untuk memulai pembelajaran.
"Liyan, jalanmu jangan lama kali. Kayak keong, hahaha!" ejeknya kembali memutar kepala melirikku. Sinis.
Aku semakin sedih mendengar ejekan yang menghina.
"Adikmu mana? Kenapa kau sendiri ? Nanti ada yang menangkapmu di sana!" lanjutnya dengan senang. "Nanti kau di masukannya ke dalam plastik seperti capung, hihihi!" ejeknya terus tertawa geli. "...diikat di dalam plastik kau nanti!" Baru kau tau rasa," tandasnya sangat kasar. "...dan dibuang jauh ," katanya semakin menyeringai.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...