Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kembali Ke Rumah


__ADS_3

Mataku sudah lelah melihat adikku.Aku harus segera menarik tangannya dan pulang.Aku yang duduk diantara pepohonan yang melindungi ku dari sinar matahari yang hampir senja.


Bisa-bisa nanti Ayahku marah kepadaku yang tidak bisa mengendalikan adikku.Pasti seperti itu nanti kata Ayahku.Gumamku menghampiri adikku yang lagi senang dengan teman-teman nya.


Dengan wajah kesal dan air muka yang turun naik. Melihat adikku yang tidak menghiraukan ku. Aku pun, berjalan diam dan perlahan berdiri disampingnya menarik lengannya. Mau tidak mau aku harus memaksanya pulang.


"Ana sekarang sudah jam berapa? Dengan suara sedikit keras."Coba lihat! Dengan raut wajah yang seakan mengatakan hari sudah mau senja."Ayo kita harus segera pulang."Menarik lengan adikku.


"Kakak tunggu sebentar lagi." Menoleh melepaskan genggaman ku. Memutar badannya dan bertanya kembali kepada temanya."Hey bagaimana? Apa kalian masih mau main lagi?"Tanya kembali dan tidak menghiraukan aku.


"Tidak Ana,kami tidak bermain lagi sekarang. Kau pulang saja."Jawab mereka sambil menggulung karet gelang.


Melihat temannya yang tiba-tiba langsung menggulung karet gelang dia pun mendelik. "Kak Kenapa harus buru-buru sih, pulangnya! Dengan kesal." Kan rumah kita dekat." Mengalihkan pandangannya dariku.


"Bukan masalah rumah kita dekat ataupun jauh dek.Kamu kan tahu Ayah bagaimana?"Kataku dengan sedikit kesal yang menguasai keadaan.


"Huh!" Menggerutu."Kenapa sih kak.Lagi-lagi Ayah.Kenapa kakak takut sekali pada Ayah.Padahal kan Ayah tidak pernah marah kalau menyangkut tentang aku kak."


Darahku pun mendidih seketika.Dengan kesal aku rasanya ingin melarikan diri dan pergi menjauh. Mendengar yang barusan diucapkan adikku.


Aku pun bergerak dari posisi diam ku dan berjalan terlebih dahulu darinya.Dengan melirik dia terus berjalan di samping mengikutiku. Sambil mengelus pundakku.


"Ia,dek memang Ayah tidak pernah memarahi mu."Aku kembali bersuara memecah kesunyian."Karena wajahmu adalah senjata bagimu yang ampuh. Dengan melihat wajahmu amarah Ayah pasti luluh.Berbeda dengan ku."Mendelik sambil mencengkram jemariku.


Hahaha! Kakak lucu."Menyeringai.


"Ya sudahlah."Aku pun mengalah dari perdebatan kami sepanjang jalan dan mengalihkan pandanganku.


"Kak,nanti malam kakak ikut lagi engga melihat aku bermain."Dengan menyeringai.


"Bermain? Bermain dimana?" Tanyaku kembali dengan separuh jiwaku yang kesal.


"Ia,tempat Rahmadani! Kan permainan kami tadi belum selesai kak."Sambil melihat-lihat udara lepas.


Dengan mendengar itu ingin rasanya aku meremas bibirnya yang banyak bicara itu.

__ADS_1


"Dek jangan!"Aku berusaha menahan adikku agar dia tidak jadi pergi bermain.Aku takut nanti malam aku dimarahi Ayahku lagi.


"Jangan kenapa?"Adikku terkejut karena aku bilang jangan bermain. Wajahnya pun pias melihat ku."Padahal kan kak."Dengan penuh penekanan."Nanti malam kan kakak mengaji."Masa ia aku harus duduk melihat kakak mengaji kan bosan kak!" Adikku yang masih berjalan di sampingku terus bicara.


"Jangan nanti malam dek,besok pagi saja bermainnya."Aku terus berusaha merayunya agar dia mau melupakan keinginannya untuk bermain nanti malam."Besok pagi aja ya."Dengan lembut dan wajah yang manis aku merayu adikku."Kan mainan mu banyak di rumah, itu saja mainkan."Dengan antusias aku harus bisa membuat adikku agar dia mau mengikuti apa yang aku katakan.


"Lihat nanti la kak."Kesal.


Melihat keputusan adikku.Akupun sedikit menarik bibirku cemberut.


Sepanjang aku berjalan hari ini bersama adikku.Aku terus berdo'a di dalam hati agar adikku tidak bermain lagi nanti malam.


Wajah lelah kami pun terlihat kini memasuki area halaman rumah kami.Pintu yang sedikit terbuka.Kulihat dari luar,namun tak ada kudengar suara dari dalam.


Kreeeekk!


Perlahan pintu ku buka mengayunkan sebelah kaki ku.Kulihat sekeliling ruangan dengan sedikit memasukkan kepalaku dan memutar bola mataku.


Dengan hati-hati! Adikku dari belakang memecah kesunyian." Kak,kenapa kakak lama sekali membuka pintunya?" Tanya adikku yang tidak sabaran ingin segera masuk.


Jeglek! "Seperti ini kak membuka pintunya."Marah.Melihat aksi adikku spontan aku terpelongo."Ini engga,lama sekali,seperti maling saja."Protes adikku.


Aku pun langsung gelagapan melihat dia masuk dengan tenang menerobos begitu saja."Untung saja Ayahku tidak ada."Melihat sekeliling ruangan."Kalau Ayahku ada pasti dia akan marah."Gumam kecil ku." Tapi marahnya bukan sama adikku melainkan Sama ku. Memelas.


Begitu aku masuk ke dalam rumah.Mataku pun tertuju ketempat Ibu sambungku yang tadi ku tinggalkan saat makan.


"Dek,kemana ibu itu, ya?" Tanyaku mencari informasi.


"Mana aku tahu kak."Adikku dengan ketus menjawab sambil mengangakat bahu."Tadi,kan kita berdua sama-sama diluar kak! Mana aku tahu ibu itu kemana?"Jawab adikku meninggalkan ku sendiri.


Sejenak aku duduk dilantai.Mengingat apa ada tempat yang sering dia kunjungi.


Sambil termenung aku menatap keluar pintu rumah.


"Kak,aku bermain, ya!" Melihat ku yang mau melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Apa! Bermain dimana ?"Tanyaku mendelik.


"Disini."Sebagai jawaban kalau adikku akan bermain di rumah kami.


Aku pun mendengus."Dek,mandi cepat nanti Ayah pulang."Desakku kepada adikku.


"Ia kak,kakak tenang aja."Dengan santai.


"Jangan tenang-tenang aja dek.Nanti Ayah marah,begitu dia pulang kita belum ada yang mandi."Dengan sedikit nada meninggi aku memaksa adikku.Di samping itu aku masih terus memikirkan Ibu sambungku ntah, kemana dia perginya. Aku yang khawatir dengan kondisi diriku sendiri.Sekarang, dia pun menjadi yang harus di kondisikan.Karena jika Ayahku pulang melihat semuanya seperti ini. Dirumah bisa jadi, akan terjadi keributan.


Belum lagi dengan adikku yang bertingkah semaunya.Membuatku menjadi gelisah dan ketakutan.Belum lagi wajah Ayahku selalu menari-nari di hadapanku seperti menghantuiku .Raut wajahnya yang ketat dan matanya yang mendelik.Kalau dia sudah marah mengeluarkan suara. Suaranya akan terdengar memenuhi ruangan rumah kami ini.


Lelah dengan pikiranku yang gelisah.Aku pun, beranjak melihat adikku. Apakah dia sudah mandi atau belum? Disamping itu aku juga harus keluar mencari keberadaan Ibu sambungku.


"Dek,jangan lupa mandi! Kakak keluar sebentar."Menutup pintu.


Aku berjalan menyusuri semua jalan yang ada ditempat tinggal aku. Namun, Ibu yang kucari tak belum kutemui.Sesekali aku berhenti di depan rumah yang pintunya terbuka.Dari depan pintu aku melihat kedalam.


Tak lupa juga aku bertanya ketika, aku melihat orang yang ku kenal berjalan.Aku pun, berhentikan dan menanyakan, apakah? Dia melihat Ibu sambungku.


Aku ingin sekali mendengar dari mulut mereka bahwa mereka melihat Ibu sambungku. Sepanjang aku berjalan itu yang ku harapkan. Namun, harapan yang ku khayal kan tidak seperti kenyataan. Aku hanya bisa menelan ludah sebagai penawar lelahku.


Aku terus berjalan lagi menyusuri jalan. Hingga sore hari yang hampir senja. Sesekali aku mendengus karena lelah.


Kemana ya Ibu sambung ku?! Aku terus berkata dalam hati sambil melihat di sekeliling ku. Apabila ada orang berdiri maupun berjalan.Aku spontan menghentikan mereka untuk sekedar bertanya.


Wajah pias pun tersirat di wajahku karena lelah seharian. Selama satu hari ini. Aku selalu mencari. Tadi, mencari adikku dari siang sampai sore dan sekarang aku harus mencari Ibu sambungku sampai ketemu. Kalau tidak akan terjadi badai besar yang akan datang di rumahku.


"Bagaimana ini?!" Dengan cemas aku bergumam."Masa sepanjang jalan aku terus terbayang -bayang wajah Ayahku."Sebal!


Aku harus sebisa mungkin mencegah badai yang akan datang. Seketika, aku berhenti menghapus peluh keringat yang mengalir di pelipis ku. Mengingat hari semakin gelap.Aku langsung gelagapan mengingat rumahku. Begitu, aku mengingat rumah. Selalu yang menari-nari wajah Ayahku di hadapanku.


Aku pun menghentikan pencarianku.Karena aku takut Ayahku akan tiba di rumah sebelum aku. Pasti akan terjadi badai.Gumamku lagi. Aku takut! Jadi,aku harus menjaga supaya Ayahku tidak marah-marah kepada Ibu sambungku.


Diperjalanan mau kembali kerumah. Aku masih juga menyempatkan diri melihat -lihat ibu sambungku.Didalam perjalananku menuju rumah.

__ADS_1


Sudah sekian lama aku berjalan dan banyak memakan waktu.Namun, aku tetap pulang dengan tangan kosong.Hm! Mengeram.


Bersambung......


__ADS_2