
Kedua bola mataku hanya menatap nanar lurus ke depan. "Bukannya tadi kalian semua memusuhi aku?!" Aku mengingat memori kejadian yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Memusuhi?!" Wajah Widia tertekuk mendengar omongan yang tercetus dari ku. "Liyan, kau yang mengatakan kalau kami memusuhimu. Kami tidak pernah mengatakan, kalau kami memusuhimu. Tapi kau sendiri lah yang mengatakannya."
"Ha!" Seketika aku bengong mendengarnya. "Kenapa jadi aku?" tanyaku dengan bingung. "Aku 'kan bersikap baik pada kalian. Tapi kalian yang tidak mau. Malah kalian berkumpul menceritai dan melirikku dengan sinis.
Hari ini aku bagaikan orang asing yang tidak dianggap oleh sahabatku sendiri. Sedih sekali rasanya, berkumpul bersama sahabat tapi diabaikan, bagaikan tisu yang tidak berguna.
Raut wajah kami berdua menunjukkan ekspresi yang berbeda. Aku mengeluarkan wajah sedih yang terbuang sementara, Widia menunjukkan wajah merasa bersalah.
"Kalau Fikri, tadi mengatakan apa padamu?" Menatapku lekat ingin tahu.
"Aku tidak ingat," jawabku dengan nada suara memelas, selepas aku menelan kesedihan seorang diri.
"Pasti bohong?! Jangan terlalu kasihan padanya kalau dia salah katakan saja, kalau dia memarahimu bilang saja, biar aku nanti yang memarahinya," pinta Widia agar aku berkata sejujurnya.
"Kenapa?" tanyaku tidak mengerti.
"Ketua kelas itu 'kan tugasnya untuk menjaga temannya bukan memarahinya," sela Widia.
"Lalu, bagaimana dengan mu yang tadi kau memarahi Liyan," sambung Septiani.
"Ngapain kau disini? Bukannya kau tadi latihan bersama mereka?!" tanya Widia.
"Iya, aku tadi memang latihan. Tapi, itu 'kan bukan olahraga kita." Septiani segera menjawab sambil mengayunkan tangannya hingga menempel di keningnya menutupi pantulan sinar matahari yang membuat pupil matanya mengecil.
"Lalu, kenapa kau kemari?" tanya Widia.
"Melihat kalian," jawabnya dengan singkat.
"Melihat kami? Kenapa?" tanyaku ingin tahu.
"Kalian berdiri di sini cuman berdua, mengapain coba?! Mendingan kita ke sana melihat mereka yang sedang berlatih," saran Septiani mengarahkan pandangannya ke arah yang dia katakan.
"Kesana!" Widia langsung menunjuk dengan menaikkan alis. "Lalu bagaimana dengan Liyan?"
"Sebaiknya, si Liyan jangan ikut olahraga. Aku tidak tega melihatnya nanti di tertawain oleh Tania dan Ecy," ucap Septiani mengkhawatirkan diriku.
"Lalu bagaimana? Apa kita panggil Solihin untuk menemani Liyan di sini?" celetuk Widia tersimpul manis sambil melirikku.
"Engga! Aku tidak mau," tolakku dengan spontan.
"Kenap Liyan, Solihin 'kan sahabat kita. Solihin itu kalau di suruh untuk menemani kita pasti dia mau, apalagi menemanimu," kata Septiani.
"Iya, aku tahu kalau Solihin memang mau. Tapi aku tidak mau!" Aku terus menolaknya.
__ADS_1
"Kenapa tidak mau, Liyan?" tanya Widia.
"Dia itu nyebelin tahu engga! Bicaranya terlalu banyak. Semua mau di tanya sama dia. Dari yang tidak kutahu sampai yang aku tahu. Kepalaku pasti sakit nanti menghadapinya," keluhku dengan manja.
"Itu memang benar. Solihin banyak tanya. Semua yang dia lihat pasti harus dibicarakannya sampai tuntas," sambung Septiani menjelaskan sambil menepuk keningnya.
"Mungkin itu yang membuat Liyan malas untuk dekat dengan Solihin," timpal Widia.
"Aku ikut saja, ya, olahraga. Jangan tinggalkan aku sendiri. Tidak enak, kalau aku duduk tidak ada teman," rengekku.
"Eh, emang kita mau olahraga apa hari ini?" tanya Septiani penasaran.
"Aku tidak tahu kita olahraga apaan. Yang kutahu yang kita pelajari tentang kucing- kucingan," jawabku dengan singkat. "Tapi mereka belum bermain," lanjutku melihat ke arah mereka.
"Lagi latihan kali mereka. Setiap kali kita mau olahraga, kita 'kan harus latihan dulu, kalau Pak Duan mengatakannya pemanasan." Widia menatap Anak-anak yang bergerak dengan lincah.
"Kita kesana saja, ayo!" Septiani menarik lenganku dan Widia.
Tubuhku yang lemah pun langsung terseret mengikut terbawa lengan Septiani yang menarik dengan kuat.
"Pak, olahraganya belum di mulai?" tanya Septiani.
"Belum, sebentar lagi akan kita mulai," jawab Pak Duan. Ayo ikuti pemanasan dulu!" seru Pak Duan.
"Baik Pak," jawab Widia.
Aku yang masih didalam kebimbangan sedikit tergugup harus mendengarkan permintaan sahabatku atau mengikuti seruan Pak Duan yang meminta untuk segera mengatur barisan dengan rapi.
Kebingungan semakin jelas terlihat di wajahku yang pucat sebab jika, aku tidak mau mengikuti larangan mereka aku bisa saja di benci oleh sahabatku yang telah selama ini sudi berteman dan memberi perhatian serta kasih sayang padaku.
"Anak-anak! Susun barisan dengan rapi, ya!" Pak Duan terus saja menyeru kami dengan sabar.
Tidak banyak yang bisa aku perbuat sekarang hanya tatapan kedua bola mata yang sayu yang bisa terpancar dengan cerah menatap bayangan yang berbaris dengan rapi.
"Widia, aku bagaimana?" tanyaku dengan pelan sambil mengambil barisan di dekat Widia.
"Sebentar, kita lihat Fikri dulu." Kedua bola mata Widia melebar mencari keberadaan Fikri. "Itu dia!" kata Widia berteriak dengan jelas di telingaku.
Aku sontak terbawa teriakan Widia yang mengagetkan. "Dimana?" Aku lalu bertanya mengikuti arah tatapannya yang memecah kebimbanganku.
"Tapi Fikri tidak melihat kemari," gerutu Widia sedikit kecewa.
"Kalau pun Fikri melihat kemari, dia tidak akan berani bicara pada Pak Duan," balasku melihat ke arah Fikri.
"Fikri itu berani Liyan, cuman takutnya Fikri kesal karena kejadian yang tadi." Widia menatapku dengan sendu.
__ADS_1
"Kejadian yang tadi," gumamku dengan pelan. Mengingat kembali masalah yang barusan terjadi antara aku dan Fikri.
"Kalau begitu aku ikut saja olahraga," kataku merapikan barisan.
"Jangan Liyan! Kau tidak boleh ikut olahraga nanti kau sakit lagi." Widia menatapku dengan penuh perhatian.
Betapa terharu hari ini hatiku melihat sahabatku yang begitu menyayangiku, bahkan mengkhawatirkan kondisiku yang sebenarnya. Mereka lebih mengetahui dari diriku sendiri kalau aku lemah dan tidak berdaya.
Untuk saat-saat ini aku tidak kuasa menahan air mata haru yang menetes tanpa kusadari. Segenap cinta dan kasih sayang yang mencurahi diriku begitu besar kudapatkan di saat-saat aku tersulit. Itulah yang membuatku tidak merasa kesepian dan patah semangat.
Walaupun banyak deraan yang menimpa hingga membuat aku remuk redam namun, ketulusan persahabatan tidak pernah membiarkan aku berjalan seorang diri tanpa sandaran dari kasih sayang orang -orang yang tulus mencintaiku sebab mereka bisa merasakan apa yang aku rasakan.
"Liyan, kau jangan ikut olahraga." Sontak aku terkejut mendengar suara asing yang berbicara dari arah belakang mendekatkan suaranya di telingaku.
"Rasyd," sapaku sambil memutar kepala. "Pak Duan yang menyuruhku untuk tidak ikut olahraga?" tanyaku.
"Bukan, tapi Fikri. Kata Fikri, kau tidak perlu ikut olahraga," ucap Rasyd menegaskan.
"Dia tidak akan mau mendengarkan apapun yang kalian katakan," sambung Septiani. "Dia 'kan sudah terikat perjanjian dengan yang itu,tu...!" Septiani memonyongkan kedua bibirnya menunjuk ke arah yang paling dia benci.
"Hahaha! Perjanjian apa? Jangan bercanda Septiani untuk membuat aku lama berdiri di sini," sungut Rasyd menahan kekesalannya pada Septiani.
"Siapa yang menginginkanmu untuk lama-lama di sini?" Septiani melontarkan pertanyaan yang membuat Rasyd semakin mual melihatnya.
"Aku akan mengikutinya," kataku memutar badan untuk meninggalkan barisan.
"Hahaha! Tawa garing terdengar dari Solihin yang telah berada di dekat Rasyd. "Mengikuti apa?" Solihin seakan membuka perbincangan kami kembali seperti sedia kala.
Kami berempat pun bertemu pandang sambil menaikkan bahu keanehan melihat yang terjadi pada Solihin yang menyelubungi kami dengan penasaran yang besar.
"Hei, Fikri sudah melihat dari tadi ke arah kita," kata Septiani sedikit gemetar.
"Kau pasti bohong?!" Celetuk Solihin sambil melihat ke arah Fikri.
"Iya, Fikri telah melihat kita sepertinya, dia itu marah, woy," balas Septiani yang berputar mengatur barisannya seperti semula.
"Kau takut, ya," ledek Solihin dengan sengaja sambil menaikkan alis. "Tumben." Menarik kedua bibirnya dengan isyarat mengejek.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏
__ADS_1
❤️❤️❤️
Bersambung...