
Melihat Widia yang antusias ingin meredakan kesedihanku. Aku begitu tertegun mendengar saran darinya.
"Tapi aku engga di kasih oleh ayahku makan permen karet." Ucapku pelan. Memelas sambil memegang permen.
"Liyan, makanya makanya hati-hati!" Seru Widia. Menatapku lekat.
Kedua bola mata Widia menatapku seakan ia menyuruh untuk memakannya segera. Reaksi dariku pun begitu kental meyakini apa yang di sampaikan oleh Widia. Kedua tanganku perlahan membuka permen yang ia beri untukku dengan kedua netra menatap seakan aku masih ragu. Aku pun segera memasukan permen karet perlahan ke dalam mulut. Sesuai perintah Widia aku harus memakannya hati-hati.
"Engga apa-apa Liyan, biar kamu engga sedih." Sahut Widia.
"Tapi aku takut kalau sampai tertelan." Keluhku pelan. Mengigit perlahan dengan berhati-hati.
"Widia setelah ini kita ke kantin, ya!" Lanjutku. Menaikkan alis.
"Ya sudah! Kenapa kita engga sekarang aja ke kantin?" Tanya Widia dengan mengajak. Memasang wajah datar sambil menghela napas.
"Ia Widia, ayo!" Sambungku. Berjalan.
Kantin yang terlihat sesak di penuhi oleh segelintir murid yang bersilewaran dengan pesanan untuk pelepas kenyang dan dahaga. Mereka tertawa sambil melempar tawa lepas yang menggema. Baik anak laki-laki maupun perempuan tertawa bahagia seakan dunia milik mereka.
Gulatanku masih saja bertahan menemani duduk manis di kantin. Aku yang sesekali melihat sepatu dan mengikat talinya. Tiba-tiba aku melihat ujung sepatu berhenti di hadapanku dengan perlahan aku mengangkat kepala.
"Ecy." Gumamku kecil. Tersentak diam dan tak berdaya. Refleks aku mengangkat kepala dan menyandarkan tubuh ke dinding dengan tegak. Menatap dengan kedua mata melebar.
"Ecy, jangan ganggu kami lagi ya!" Pinta Widia dengan wajah memohon. Duduk.
"Yang mau mengganggumu siapa Widia. Aku cuman mau lihat sepatunya Liyan. Aku pikir ada yang sobek." Canda Ecy. Berdiri seakan menatap dengan mengejek.
"Sepatuku engga sobek, kok!" Ucapku dengan nada suara pelan. Melihat Ecy dan sepatuku dengan wajah sendu.
"Lagian Ecy! Kalau sobek emang kenapa?" Sambut Tania dengan ketus. Berdiri sambil memasukkan uang ke dalam saku. "Palingan dia juga yang engga sekolah." Lanjutnya dengan menaikkan sebelah bibirnya ke atas dengan raut wajah sinis.
"Tapi Tania kalau sepatunya sobek, aku masih punya sepatu bekas." Balas Ecy. Melihat Tania dari ekor mata sambil menatap sepatuku.
"Jangan Ecy! Jangan kau kasih sepatumu sama dia. Nanti dia ke enakan di kasih sepatu samamu, sepatumu kan mahal!" Ucap Tania. Melihatku dan sepatu dengan raut wajah seakan merasa jijik. "Nanti dia ke enakan pakai sepatu mahal, mending kamu kasih sama saudaramu saja." Lanjut Tania. Kurang senang.
"Tania, sepatu Liyan masih bagus, kok." Ucap Widia. Melerai. "Lagian siapa juga yang mau minta sepatumu. Sepatumu itu panas seperti api." Hina Widia dengan wajah kesal. Memiringkan sedikit tubuhnya ke arahku.
Begitu terhenyak aku rasanya, mendengar ejekan yang berkelanjutan ini yang dapat menuai perkelahian dan semakin menjatuhkan.
"Ecy, aku masih punya sepatu kok! Satu lagi di rumah." Jawabku pelan dan malu. Menatap Ecy seakan aku menutup wajah pucatku dengan jemari yang lemah.
"Baguslah! Kalau kau punya sepatu. Jadi, kami engga akan mengasih sepatu kami yang mahal samamu." Cela Tania dengan tawa mengejek.
"Sepatu kami mahal, kakimu jelek!" Ejek Tania kembali. Berdiri dengan wajah tajam.
"Hey! Tania jangan bilang kaki Liyan jelek, ya!" Pekik Septiani tiba-tiba berdiri di depan pintu kantin tepat pintu sebelah belakang. Berdiri dengan wajah galak.
Sorot mata yang melihat ke sana kemari dengan pandangan kosong. Tiba-tiba terperanjat dan membuat jantungku mau berhenti. Seketika aku melemparkan pandangan ke arah Widia yang duduk di sampingku. Widia terlihat begitu memasang pandangan seakan ia tidak percaya dengan apa yang di dengar dan di lihatnya.
"Hey! Ecy, Tania kau itu punya sepatu mahal, tapi sepatumu pun bisa sobek!" Cela Septiani. Menghardik.
"Engga ya! Sepatu mahal mana bisa sobek." Sanggah Ecy. Mendelik dengan wajah kesal.
"Ia! Itu kata Ayah dan Ibuku!" Balas Tania dengan penuh keyakinan. Menatap Septiani tajam.
"Hahaha! Dari mana sepatumu engga sobek?!" Ucap Septiani dengan melemparkan pertanyaan kepada Tania kembali. Tertawa lepas dan mengejek. "Padahal kemaren kan sepatumu pernah sobek, hahaha!" Lanjut Septiani tertawa bahagia sehingga tubuh kecilnya terlihat bergetar. "Hey! Widia katanya, sepatunya engga pernah sobek, kan!" Hahaha! Padahal kemaren dia pernah juga pakai sepatu sobek ujungnya." Lanjut Septiani tertawa puas. "Kau tahu kenapa Liyan, sepatunya sobek ujungnya! Katanya karena di makan tikus! Hahaha! Katanya orang kaya, masa di rumah orang kaya banyak tikus! Iiissss, penjorok!" Ejek Septiani dengan tertawa puas. Menyeret tubuhnya menghampiriku.
Pasti hari ini aku akan mendapat cercaan yang lebih bertubi-tubi lagi dari mereka?! Seketika aku panik dan khawatir akan diriku berikutnya sehingga aku memutar kepala melihat Septiani yang begitu terlihat sangat bahagia. Bagaimanapun ini adalah masalah aku antara Ecy dan Tania. Sebenarnya Septiani tidak usah seperti itu. Pikirku terus merintih melihat apa yang terjadi, sedangkan Widia ia terlihat malu dan ingin segera pergi, terlihat dari wajahnya yang gelisah. Kami yang tadi duduk, refleks berdiri karena melihat Septiani yang begitu antusias menyerang Ecy dan Tania. Entah apa lagi yang akan terjadi ke depannya? Ingin rasanya aku menutup lembaran ini secepat mungkin.
"Septiani sudah! Aku takut, nanti kalau orang mengadu pada Bu Dona, bagaimana?" Bisikku dengan keluhan yang dalam. "Aku juga takut kalau nanti Ayahku tahu, aku pasti akan di marahi karena membuat keributan di sekolah. Belum lagi nanti adikku tahu! Dia pasti akan menyampaikannya pada Ayahku. Habislah aku Septiani di marahi di rumah." Ungkapku pelan di telinga Septiani. Melihat Ecy dan Tania dengan gemetar dan cemas. Berdiri meres jemari yang lemah dengan kuat.
Septiani pun selanjutnya bergeming dan menatapku dengan Widia bersama wajah sendu yang merasa bersalah. Ia begitu lekat menatap kami seakan mengadukan isi hatinya yang sedih.
__ADS_1
"Heh Liyan! Akhirnya kau sadar juga!" Ucap Tania dengan kasar. "Jangan bertengkar dengan kami. Kami itu bukan sainganmu!" Sambung Tania. "Kami bisa saja mengadukanmu sama guru. Biar kau kena hukum!" Tandas Tania dengan wajah yang kasar. Mengerutkan bibir dengan kesal.
"Tania, jangan terus menghardik Liyan! Liyan kan engga ada mengganggumu." Sentul Widia. Kesal.
"Aku engga akan ganggu kalin, kok!" Jawabku dengan suara sedikit takut. Menatap nanar ke bawah dengan lirih. Meremas tepian rok sekolah yang aku pakai.
"Liyan, kenapa kau diam saja? Seharusnya kau hajar mereka. Biar mereka tahu rasa!" Ucap Septiani dengan kesal. Melihat Ecy dan Tania. Mengigit kedua geraham dengan kuat. Mendelik.
"Aku takut di marahi oleh Ayahku. Kata Ayahku, aku engga boleh bertengkar." Balasku dengan pelan. Melihat sepatu.
"Ia Tania! Aku juga engga di bolehin oleh Ibuku bertengkar." Tandas Ecy. Diam.
"Ecy kau membela dia ya!" Sahut Tania kesal. "Kalau begitu kau engga usah berteman dengan ku!" Gerutu Tania kesal. Menghilang.
"Tania bukan begitu,j tunggu aku!" Teriak Ecy. Berlari mengejar Tania.
Tubuh mungil lemahku yang kubawa kini semakin terhenyak. Tungkai kaki yang menjadi penopang tubuh ini, terasa begitu gemetar dan ingin terjerembab. Hati pilu kini semakin dilema dengan hardikan dan hinaan yang menghiasai dengan senang. Wajah pucat yang terlihat penuh dengan beban ini sekarang telah bisa mengatur napas dengan sempurna, meskipun hanya bertahan beberapa saat. Bola mata yang redup menatap pintu kelas yang begitu jauh dari kantin. Rasanya pintu itu menghempaskan kembali perasaanku.
Semilir angin yang berhembus menarik dengan lembut kedua bola mataku melihat Widia dan Septiani yang masih bergeming. Wajah kesal Septiani terhadap Ecy dan Tania masih terlihat menghiasai wajah polosnya dengan indah.
Sembilu yang mengisi ruangan hati yang kosong seakan menyeruak tercium ke segala penjuru. Tidak hanya itu, ia terlihat menari-nari dengan sempurna menutupi arti kehidupan.
Hatiku yang seharusnya jadi tempat berlindung kini menjerit seakan berkata, dengarkanlah aku yang teraniaya begitu sedih.
Bingkai kehidupanku rasanya tak berarti untuk aku tunjukkan pada setiap orang. Bingkai ini telah retak. Bingkai yang jadi pelindung hati kini telah hancur berantakan. Taka ada yang bisa aku sematkan saat ini. Hanya kesedihan dan hinaan! Itulah yang menjadi temanku saat ini. Menjadi guru yang mengajari diri ini akan sebuah ke tegaran.
Suara hati yang terdengar dengan begitu lantang yang menyuruhku sesekali untuk melawan mereka yang merendahkan diriku kini berteriak menyalahkan diriku yang lemah ini.
Entahlah! Aku semakin depresi melihat kenyataan ini. Butiran kristal yang ingin keluar begitu tertahan dengan ego yang kuat untuk menutupi semuanya. Lagi-lagi aku hanya bisa berjalan menunduk dan meremas jemari yang lemah. Seakan jemariku yang telah berbuat kesalahan. Aku terkadang berpikir seandainya saja jemari ini berteriak, dia pasti akan menyalakan diriku. Meremas ia yang tidak bersalah demi melindungi emosi yang ingin keluar dan melindungi mereka yang jahat.
Tapi apa dayaku, aku tak punya banyak kekuatan untuk membuka suara. Kata -kata ayahku yang melarang aku untuk tidak bertengkar mengekang semua yang ingin aku lakukan. Seakan perkataan itu sebuah peringatan yang keras. Menjadi belenggu hitam yang setiap detik menaungi kelemahanku. Kepolosan hati yang terus terbentang luas menjadi penyangga diri.
Hinaan yang menyelimuti sakitku memaksa bibir kecil yang pucat untuk berbicara dengan tenang seakan aku engga pernah merasakan silet yang menusuk.
"Kita nanti duduk di sana saja!" Ucap Septiani. Mengayunkan jari telunjuk.
"Jangan, nanti mereka ada di situ!" Tolak Widia spontan. Melihat Septiani.
"Tapi kan Widia, lapangan ini kan luas!" Cetus Septiani dengan protes. Melihat Widia dengan sedikit tajam.
"Aku juga engga mau duduk dekat mereka, mereka jahat!" Sambutku. Menatap pohon. "Apalagi kalau di sana! Di sana dekat dengan kelas adikku." Ucapku dengan penolakan. Menunjuk dengan kedua bola mata.
"Emang kenapa dengan adikmu?" Tanya Septiani. Berjalan mengambil es lilin. " Uwa aku beli es lilin satu ya!" Teriak Septiani dengan pelan. Sambil memberi uang dan berjalan kembali menghampiri aku dan Widia. Melihatku dengan menaikkan alisnya seakan memberi isyarat terhadapku atas pertanyaan yang di lontarkannya kepadaku tadi, agar aku memberikan jawaban untuk nya. Sambil menyeruput es lilin.
"Kalau adikku nanti tahu kita bertengkar dan dia melihatku, dia pasti akan memberi tahu pada Ayahku." Jawabku dengan lemas. Bersandar di tiang pintu kantin. Mengerutkan kening dengan wajah khawatir.
"Ya sudahlah! Kalau begitu kita jangan di sini! Terserah kita mau duduk di mana!" Cibir Septiani. Keluar kantin.
" Tapi tunggu dulu!" Teriakku pelan dengan suara parau yang kurang sehat. Menatap dengan lekat.
"Apalagi Liyan?" Tanya Septiani dengan kesal memutar badan. Menutup mulut dengan es lilin.
"Kita belum bayar." Lanjutku. Mendelik.
"Aku udah!" Cetus Septiani.
"Hehehe! Aku belum!" Sambung Widia dengan malu. Nyengir.
Rasa malu Widia kini terlihat membuat pipinya memerah. Ia dan aku pun berjalan menghampiri Uwa Elsa yang terlihat masih sibuk dengan mencuci beberapa piring tempat mie bumbu yang di pesan oleh beberapa murid dan guru. Ia juga terlihat berjalan ke sana kemari dengan sedikit kencang dan terburu-buru membersihkan meja dan menyusun meja dengan rapi. Semua kotoran yang tergeletak di atas meja kini ia ambil dan ia masukkan ke tempat sampah yang terletak di sudut pintu belakang. Tempat sampah yang terlihat begitu rapi dan tertutup.
" Uwa Elsa!" Panggilku dengan suara pelan. Berdiri dan mengambil uang dari saku.
"Eh! Ia nak! Maafkan uwa ya! Tidak melihat kalian. Maklum la nak! Uwa kan hari ini jomblo. Jadi, semuanya di kerjakan sendiri." Ada yang bisa uwa bantu?" Sambut Uwa Elsa dengan tersenyum. Membuang sampah plastik ke dalam tempat sampah.
__ADS_1
Melihat uwa Elsa kami berdua pun saling bertemu pandang tersenyum melihat uwa Elsa yang lucu. Sesaat sesak di hati pun hilang.
"Kami mau bayar uwa! Kami belum bayar jajan kami tadi." Jawabku pelan. Mengulurkan tangan dan memberi uang. Senyum.
"Oh! Ia, uwa aku belum minum." Ucap Widia dengan senyum malu. Menutup mulut dengan refleks. Sambil memberi uang , Widia pun berjalan mengambil gelas yang tergantung rapi di atas meja dan ku ikuti dari belakang kemudian aku menyeret kaki lemahku mengambil teko dan menuangkan ke gelas bersama dengan Widia.
Glek! Glek! Glek! Kami pun duduk.
Air yang segar begitu membuatku terbenam akan sejuknya yang mengaliri tenggorokan yang telah kering, akibat menahan tangis.
"Widia, akhirnya haus kita terkalahkan juga!" Ucapku. Menatap Widia sambil memegang gelas.
" Ia kau betul Liyan! Akhirnya, tenggorokanku lega juga!" Cetus Widia menghembuskan napas kasar. Menatap dengan pandangan kosong.
"Widia, ayo sekarang kita pergi!" Ajakku. Menelan air dan meletakkan gelas. Berdiri.
"Sebentar Liyan, tunggu!" Seru Widia. Menelan air sambil meletakkan gelas.
"Ayo cepat, Widia!" Seruku berjalan dengan kencang.
"Liyan, Septiani tunggu!" Teriak Widia berlari dari belakang.
Dengan langkah yang kencang, aku memutar kepala ke belakang melihat Widia yang begitu terengah-engah mengejar kami. Napasnya seakan mau lepas. Hahahaha! Tawaku geli.
"Liyan, biarkan saja dia berlari mengejar kita. Sudah tahu kantin itu membuat gerah, masih suka bercanda." Cibir Septiani dengan sedikit kekesalan. Membuang plastik es yang tadi ia pegang ke tempat sampah.
Puk! Tiba-tiba langkah kami terhenti. Refleks dengan tersentak kami memutar kepala ke belakang dan melihat, "Widia" cetus kami berdua dengan bengong dan bertemu pandang dengan wajah tidak percaya dan mengerjapkan kedua mata.
"Liyan, Septiani! Kenapa kalian tinggalkan aku?!" Gerutu Widia. Cemberut dan kecewa.
Kami hanya bisa menarik napas dalam. Melihat wajah Widia begitu sedih bercampur kesal dan juga kecewa.
"Kita mau duduk di mana Septiani?" Tanyaku pelan melihat Septiani. Berjalan.
"Kita duduk di sana?" Seru Septiani dengan senang. Menunjuk pohon yang rindang dan sejuk dengan mengayunkan tangan ke udara.
"Ayo! Di situ pasti enak dan dingin." Jawabku dengan wajah bahagia.
Begitu senang hatiku saat ini melihat pohon seakan badai tidak akan menghampiri ke sana. Langkah kaki yang lemah terus berlalu dengan iringan hati yang bahagia.
.
.
.
Terimakasih teman-teman atas dukungannya memberi like, favorit dan komentarnya. 🥰🙏
Bersambung.....
Sambil nunggu Author update!
Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain!
Pasti engga nyesel bacanya! 🥰
Setelah sama-sama merasakan sakit hati yang paling dalam, Bima dan Renata menata hati mereka, sampai akhirnya, Renata dan Bima kembali menemukan kebahagiaan bersama pasangannya masing-masing.
Namun, takdir ternyata kembali mempertemukan mereka dalam situasi yang sama-sama sulit.
Lalu, akankah takdir kembali berpihak pada mereka setelah mereka berdua sama-sama merasa kehilangan?
__ADS_1
Yuk, kepoin kisah Bima dan Renata. Seperti biasanya, jangan lupa sedia tisu, karena cerita ini banyak mengandung bawang.