
Adikku hanya diam saja menatapku dengan acuh. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya untuk menjawab pertanyaanku. Dia seakan menganggapku hanya sebagai boneka mainannya saja saat ini.
"Kak, aku gak nolak Kakak. Kakak aja yang jatuh sendiri," celetuknya dengan gamblang.
Punggungku semakin mengerang kesakitan. Adikku langsung pergi begitu saja meninggalkan aku sendiri yang teronggok di atas tanah.
"Ana, jangan tinggalkan Kakakmu," pinta ayahku dari belakang menegurnya yang pergi berlalu begitu saja.
"Ana!" teriak ibu sambung kami. Memanggil adikku yang berlalu dengan mendongak ke atas udara.
Aku semakin mengelus punggung yang semakin terasa keram akibat tanah yang keras mengenainya. Tubuh mungil ini pun semakin merasa menggigil di tengah hempasan yang menimpanya. Tanganku yang setengah melemah pun mengelus punggung ini untuk menetralkan keram yang meradang dengan keras.
"Ana, kau tidak mendengar Ibumu!" kata ayahku dengan nada suara yang keras.
Sontak adikku langsung menghentikan setengah langkah kakinya dengan sapu yang terhenti di atas tanah.
"Ayaaah," rintih adikku dengan gerutuan yang tertahan di dalam mulutnya dengan kuat. Dia sangat mengetatkan wajahnya yang bercampur masam itu setelah mendengar teriakkan ayahku yang menegurnya dengan keras mengenai ibu sambung kami yang tidak di responnya sama sekali. Refleks dengan wajah bengisnya. Dia pun memutar langkah dengan kencang menghampiriku, di ikuti oleh sebelah tangan kirinya menyeret sapu lidi yang kandas ke tanah.
Huhuhu !
Aku menangis karena menahan rasa sakit yang mendera saat ini. Aku semakin kalut dan kusut setelah sakit terlintas dengan tiba-tiba di kedua kelopak mata.
"Kakak jangan menangis. Kakak senang kalau aku di hukum lagi," tampik adikku. Melayangkan tangannya sebelah kanan tepat di hadapanku.
Sontak aku langsung terkejut dan menaikkan kepala ini, langsung menatap tangannya yang melayang tepat di hadapanku dengan lekat aku menatapnya. Sorot mata yang bercampur dengan air mata yang menggenang, menetes dengan deras membasahi kedua pipi.
"Kau jahat Ana," kataku pelan. Menatap adikku yang mengulurkan bantuan untuk menolong.
"Aku gak jahat. Kakak aja yang jatuh. Baru aku menarik sapu. Kakak sudah jatuh. Kakak sengaja 'kan? Supaya Ayah memarahiku," kata adikku dengan ketus. Menatapku dengan sinis, di ikuti tangannya yang masih mengayun setengah di udara.
"Kaki Kakak sakit. Tapi kau mendorong Kakak kuat," sesalku dengan nada suara lirih. Mengelus lutut yang perih.
"Kak, aku gak mendorong Kakak. Aku cuma menarik sapunya dengan kuat. Itu saja," timpal adikku membela dirinya.
Huhuhuhu !
Aku semakin menangis dengan terisak menahan punggung dan tungkai kaki yang meradang akibat hempasan yang keras menimpanya.
"Liyan, apalagi kau tidak mau berdiri!" pekik ayahku dengan keras. Membuat aku semakin kalut dengan hentakan kakinya yang melangkah mengusik pendengaranku.
__ADS_1
"I-iya Ayah," jawabku langsung berdiri. Di ikuti oleh tangan sebelah kananku yang meraih uluran tangan adikku. Bangun dan berdiri sambil menata kakiku untuk berdiri dengan tegak lurus.
"Kak, Kakak sakit, ya?" tanya adikku dengan gurat wajah penasaran.
Deg!
Aku terkejut bagaikan tersambar petir di siang bolong. Selekas mungkin aku melepaskan tanganku darinya.
"Kenapa Kakak gugup begitu?" tanya adikku. Melayangkan sorot mata yang penuh dengan tanda tanya. Di ikuti oleh sapu lidi yang masih dipegangnya.
"Kakak gak sakit. Yang sakit cuma lutut Kakak saja," jawabku. Menjatuhkan tatapan langsung ke bawah dan menatap tanah dengan nanar sebagai isyarat kalau aku tidak ingin adikku mengetahuinya.
"Tapi badan Kakak hangat," ucapnya dengan nada suara datar bercampur curiga.
"Kenapa kalian berhenti ? Cepat lanjutkan," kata ibu sambung kami yang masih berdiri memantau kami.
" Nanti hujan, Nak," sambung ayahku.
"Liyan, kau cabuti rumput itu! Biar adikmu yang menyapu halaman," tandas ibu sambung kami.
"Baik Bu," jawabku. Mengambil gunting rumput yang terjatuh tepat terlempar kencang ke dekat pohon jambu.
"Lekas bersihkan itu semua," perintah ayahku. Berdiri menghampiri kami. "Kau Ana, sapu yang bersih. Mulai dari sana. Jangan hanya bisa buat masalah saja kerja kalian," tutur ayahku. Mengayunkan sebelah tangan kanannya menunjuk halaman yang tepat berdekatan dengan dinding sudut pintu. "Dan kau, Liyan, perhatikan semua halaman yang ada rumputnya! Ayah gak mau tau, ya! Kalau masih ada rumput dan sampah. Hukuman kalian Ayah tambah," cetusnya dengan tegas.
"Tidak," jawab ayahku.
Aku langsung menaikkan tatapan melihat adikku dan ayahku yang lagi beradu lempar kata, tawar menawar.
Hihihi !
Aku tertawa geli di tengah hati yang sedih. Tangan terus saja menggunting rumput, meski di ikuti oleh kedua bola mata melihat ke arah ayah dan adikku.
"Ayah, kalau gak. Boleh aku bermain sebentar saja?" pinta adikku bertanya. Berdiri melihat ayahku, di ikuti oleh sapu lidi yang menyeret sampah dengan pelan.
"Tidak ada tawar menawar," kata ayahku langsung menjawab pertanyaan adikku dengan tegas.
Hahaha!
Aku semakin tergelitik melihat mereka berdua yang terus saja melakukan aksi tawar menawar, seperti menjual beli barang.
__ADS_1
"Ayah sebentar saja. Gak lama, kok," kata adikku.
"Liyan, itu rumput di sudut sana belum bersih. Yang di dekat pot bunga itu!" perintah ibu sambung kami. Berjalan dan menunjuk pot bunga yang terduduk di ujung halaman.
"Tidak, Ana. Gak ada yang boleh bermain," kata ayahku dengan tegas.
"Ayah, jadi kami di sini saja?" tanya adikku.
"Emang kenapa?" balas ibu sambung kami melayangkan pertanyaan kembali kepada adikku.
Adikku seketika memasang muka masam. Menyeret kembali sapuannya dan tidak menggubris sedikit pun pertanyaan ibu sambung kami.
Aku yang melihatnya pun semakin mengurut dada, melihatnya yang terlalu berani. Perlahan aku kembali menurunkan kembali kepala melihat rumput yang aku gunting.
"Ayah, cuma sebentar saja. Aku bermainnya. ini 'kan masih siang," bujuk adikku.
Ayahku tetap diam dan melihat sapuan adikku. Kedua bola mataku terus saja menatap mereka sesekali, di ikuti oleh aku yang mengangkat bangku untuk memindahkannya ke tempat yang lain yang masih ada rumputnya hingga berulang kali aku lakukan sampai rumputnya bersih.
"Ana, Ayah tau itu hanya alasanmu saja untuk kabur 'kan?" kata ayahku dengan nada suara datar bertanya.
Uhuk! Uhuk ! Uhuk !
Adikku langsung tersedak dan melirik aku yang teronggok cukup jauh darinya dengan malu. Aku yang bertemu pandang dengannya menarik bibir tipis tertawa geli di dalam hati.
"Ayah tau kau itu bagaimana, Ana? Jadi, jangan coba-coba kelabui Ayah!" ucap ayahku.
"Anakmu yang satu itu memang selalu seperti itu! Dia tidak pernah mau menjalankan hukumannya sampai selesai. Selalu ada saja permintaannya yang gak pernah siap -siap," terang istrinya menyambung perkataan ayahku.
Aku terus menatap mereka bertiga silih berganti, di ikuti oleh kedua tanganku masih memotong rumput dan menahan tubuh yang sudah melemah ini dengan kuat.
"Untung ini hari libur kalian sekolah," kata ayahku. "Kalau tidak! Besok mungkin kalian masih di sini mencabut rumput," ungkapnya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏🥰