
Pagi hari yang cerah. Dimana ayahku selalu berjibaku dengan tugasnya. Seperti biasanya, aku selalu bangun lebih awal dari adikku. Ayahku yang telah bersiap -siap untuk berangkat mencari nafkah telah menyiapkan sarapan pagi kami terlebih dahulu.
Aku yang telah bangun dan duduk sambil mengucek kedua mata perlahan turun dan membuka jendela kamar kami yang tepat berada di samping pintu kamar.
Brak! Jendela pun seperti terhempas.
Udara pagi yang dingin bertaburan dengan embun di pagi buta yang menebarkan bau basah lewat membias wajahku yang belum setengahnya sadar. Tubuhku yang masih di selimuti dengan penyakit yang terus saja mengikuti langkah ini, seperti bayangan yang masih merangkulku dan enggan rasanya ingin beranjak dari ku secepat mungkin.
Awal pagi hari yang ceria setelah ayahku berbaik hati menceritakan sebuah dongeng kepada kami sebelum tidur tidak akan pernah terlupakan oleh ku karena momen ini sangat aku impikan setelah sekian lama ayahku menikah dan melupakannya.
Suara berisik sendok pun, terdengar di telingaku. Aku yang berdiri di depan jendela melihat keluar seraya melangkah membangunkan adikku yang tertidur dengan pulas.
"Liyan!" Tiba -tiba langkahku terhenti mendengar ayahku berteriak memanggilku dengan keras.
"Iya Ayah. Aku sudah bangun," sahutku dari dalam kamar menarik selimut adikku.
"Bangunkan adikmu, sudah jam berapa ini?!" kata ibu sambungku dari pintu kamar kami, memotong ayahku yang memanggilku. "Nanti kalian terlambat," katanya lalu pergi meninggalkan pintu.
"Iya Bu," jawabku pelan setelah dia membelakangi aku.
Aku pun bergegas secepat mungkin menarik lengan adikku agar dia langsung bangun dan duduk.
"Ana, hari sudah pagi. Cepat bangun! Nanti kita terlambat." Aku menolak-nolak tubuh adikku yang masih pulas dengan tidurnya. "Bangun, Dik!" Aku menarik lengannya hingga dia menjerit.
"Awgh! Kaaak! Sakit tahu, engga! Aku nanti tidak bisa menulis," gerutu adikku masih memejamkan matanya. "Kakak duluan saja. Aku nanti berangkat sekolah dengan Ayah." Dia kembali menutup matanya semakin lekat.
"Ana! Ayah sudah pergi!" bisikku pelan.
"Apa?!" Adikku langsung terperanjat dan bangun. "Ayah sudah pergi, kak?" tanya adikku membelalak.
"Makanya, ayo cepat kita mandi! Bair ketemu dengan Ayah di tengah jalan," desakku mengajak adikku.
Refleks dia pun langsung turun, seperti orang yang kebakaran jenggot. "Ayah tidak mungkin pergi duluan. Ayah 'kan, sudah janji dari dulu kalau Ayah akan menungguku bangun dan mengantarku ke sekolah." Adikku terus mengomel sambil berjalan mencari ayahku dan melihat sepatu ayahku.
Huhuhu! Dia pun sempat ingin menangis.
"Assalamualaikum, Anak Ayah. Selamat pagi!" sapa ayahku memberi adikku suprise. " Sudah bangun?!" Ayahku menggendong adikku yang manja.
" Sudah Ayah," jawab adikku dengan manis. "Ayah, kenapa Kakak bilang kalau Ayah sudah pergi. 'Kan, aku jadi sedih," kata adikku mengadukan pada ayahku. Sok imut.
Wajah imutnya pun kini cemberut manja menatapku yang telah membohonginya. "Ayah, Kakak telah berbohong," lanjut adikku dengan manja.
"Hahaha! Ayahku pun, tertawa melihat adikku yang sebal. "Makanya, jangan lama bangun. Biar engga di bohongi oleh Kakakmu," celetuk ayahku menggoda adikku sambil mencubit pipinya gemas.
Aku yang berdiri melihat adikku yang bermanja dengan ayahku ikut bahagia. Seperti inilah dia tidak pernah luput dari perhatian ayahku. Adikku yang paling kecil dan sering di manja semakin banyak mencari celah untuk tingkahnya yang lucu dan menggemaskan.
"Aku tidak lama bangun. Ini 'kan, masih pagi, Yah," balas adikku sambil melihat jam dinding yang berdenting. "Coba lihat jamnya! Masih jam 05. 30 WiB. 'Kan masih pagi," lanjut adikku menatapku seakan aku salah melihat jam.
"Ana itu jam 06.30 WIB bukan jam 05.30 WIB. Kau salah melihatnya, Dik," cibirku dengan kesal. "Ya sudah, kalau kau tidak mau mandi." Aku pun berjalan. "Kakak akan mandi duluan."
"Hahaha !" Ayahku pun tertawa geli melihat adikku yang percaya diri. "Nak, yang kamu lihat itu jarum panjangnya." Ayahku menahan tawa.
Adikku pun langsung menunduk malu menutupi wajahnya dengan tangannya.
Sementara aku yang telah berjalan tetap melihat mereka sesekali.
"Kak, Kak, tunggu Kak!" teriak adikku mengejar.
Kami berdua pun, seperti biasanya sebelum sekolah harus mandi terlebih dahulu. Aku pun membawa sabun dan handuk, seperti biasa yang aku lakukan setiap pagi. Adikku yang tadi malas mandi tiba-tiba dia mengikuti dari belakang dengan langkah yang berat.
"Ana, kau tidak mau sekolah, ya?" tanyaku mendengar langkahnya.
"Bukan Kak. Aku mau sekolah, kok. Aku akan rajin sekolah sekarang," kata adikku.
__ADS_1
"Kenapa?" tanyaku ingin tahu.
"Sebentar lagi 'kan, kita ujian, Kak. Aku takut. Kalau aku tidak sekolah. Aku nanti bisa tinggal kelas," cetus adikku.
Hahaha! Aku tertawa mendengarnya. " Jadi, kau takut tinggal kelas?!" kataku meledek adikku sambil berjalan mendekati sumur.
"Emang, Kakak tidak takut tinggal kelas?" tanya adikku melemparkan pertanyaan juga.
"Mmm! Takut juga, sih, Dik," jawabku dengan sedikit lama sambil mengingat guru dan teman-temanku.
"Terus, kenapa Kakak menertawaiku?" tanya adikku keheranan.
"Lucu saja," jawabku dengan singkat.
"Emang, aku pelawak, bisa melucu," gerutu adikku dengan cemberut berjalan bersama.
"Kau 'kan, badut,"timpalku langsung.
"Iihhh! Kakaaak ... ." Adikku ngambek dan cemberut.
Aku seketika tersimpul manis melihat adikku yang sok imut itu cemberut. Sumur yang kami sambangi pun telah terlihat. Aku dan adikku lalu bergegas dengan cepat mandi sambil bergantian.
" Kak, sabunnya mana?" tanya adikku berteriak.
" Itu! Di dekat ember," teriakku dari luar menjawabnya.
Syrr! Syrr! Syrr! Suara air pun terdengar begitu deras.
"Ana, cepat! Hari sudah mulai siang!" teriakku mendesak adikku.
"Iya Kak. Aku sudah selesai, kok,' balas adikku
keluar.
"Iya, tapi, Kakak cepat, ya. Soalnya, aku kedinginan, Kak," sambung adikku.
"Iya,' sahutku.
Tidak berapa lama. Aku pun selesai dan kami pun meninggalkan sumur yang sering kami pakai untuk mandi dan mencuci. Berlahan kami berjalan dan telah sampai di depan pintu dapur yang menyebarkan aroma-aroma makanan yang membuat kami lapar.
"Mmm! Harum sekali,' kataku sambil menjemur handuk.
"Aku jadi lapar, Kak," sambung adikku.
"Iya, Kakak juga. Sepertinya ini nasi goreng," bisikku menebak.
"Aku lihat dulu, ya, Kak." Adikku pun berlari masuk meninggalkan sabun yang di bawanya. "Kakak benar," kata adikku dengan senang dari depan pintu.
"Yang benar, Dik?!" tanyaku sambil meletakkan sabun pada tempatnya.
"Yummy!" Aroma makanan favorit kami pun telah tersaji di meja .
Glek! Aku menelan ludah menahan lapar.
"Liyan!" panggil ayahku mengagetkan aku.
"Iya Ayah! Hehehe!" sahutku sambil nyengir melihat dengan malu.
"Pakai dulu pakaian seragammu!" kata ayahku. "Setelah itu, baru duduk dan sarapan," lanjut ayahku mengambil teh.
"Pergi Liyan! Dengarkan apa kata Ayahmu," sambung ibu sambungku membantu ayahku menuang teh.
"Baiklah." Aku pun meletakkan piring kembali ke atas meja.
__ADS_1
Perut yang sudah kelaparan terpaksa ditunda untuk mengisinya. Kini aku harus mengganti pakaian yang kupakai setelah mandi dengan pakaian seragam sekolah.
Adikku yang tadi bersama dengan ku kini telah selesai memakai pakaian seragamnya. Dia pun telah bersiap untuk sarapan pagi.
"Kak, aku duluan, ya," kata adikku berjalan kencang meninggalkanku.
"Tunggu Kakak sebentar, kenapa?" pintaku memohon kepada adikku.
"Aku sudah lapar, Kak," jawab adikku berjalan terus.
"Hmm!" Aku pun cemberut langsung memutar badan melepaskan pandangan dari adikku. Sesampai di kamar, aku langsung mengambil pakaian seragam yang tergantung dan segera mungkin kupakai agar aku tidak terlambat untuk sarapan.
Seragam yang rapi pun telah selesai kupakai. Kaki kecilku yang lemah ini lalu beranjak meninggalkan kamar. Semua keperluan sekolah pun telah selesai aku persiapkan.
Tas dan buku-buku pun telah aku susun tanpa satu pun kelupaan. Setelah semuanya beres aku pun menghampiri nasi goreng dan telur dadar yang tadi membuatku lapar.
"Nasiku mana ?" tanyaku sambil mencari.
"Nasi Kakak ini," jawab adikku menunjuk piring yang terletak.
"Liyan, jangan lupa setelah ini minum obatmu," kata ayahku meletakkan obat di dekatku.
"Iya Ayah," jawabku mengambil obat yang terletak.
"Ayah tenang saja," sahut adikku. "Aku akan mengingatkan Kakak." Adikku melihat ayahku dan langsung melihatku juga.
"Ayah mungkin akan berangkat lebih dulu karena ayah harus cepat mengejar penumpang," kata ayahku merogo kantongnya. "Ini uang jajan kalian, ya." Ayahku meletakkannya di atas meja.
"Apa tidak makan dulu?" tanya ibu sambung kami sambil menuangkan teh ke dalam gelas ayahku.
"Tidak! Aku minum saja. Aku harus mengejar penumpang," jawab ayahku dengan sendu.
"Aku juga sudah kenyang." Aku bangun sambil mengantarkan piring kotor.
"Kak, jangan tinggalkan aku." Adikku menghabiskan nasinya dengan terburu-buru.
"Ayah tunggu!" Aku berlari mengejar ayahku.
"Ada apa, Nak?" tanya ayahku memutar badan melihatku.
"Salam Ayah," jawabku sambil mencium punggung tangan ayahku.
"Aku juga Ayah," sambung adikku juga.
"Dada Ayah." Aku dan adikku pun mendada ayahku yang menghilang.
Pagi ini sarapan kami begitu kurang lengkap. Ayahku yang biasanya ikut sarapan bersama dengan kami. Kini malah lebih memilih untuk tidak ikut sarapan bersama. Pagi ini tanpa ayahku rasanya sarapan ini kurang bahagia
sehingga membuat aku meninggalkan sarapan juga dan menghabiskan nasiku dengan buru-buru.
Udara pagi yang dingin yang menggoreskan canda tawa dan ledekan kecil menemani langkah kaki ini. Kami lalui dengan antusias menembus dinginnya pagi demi menuntut ilmu. Aku dan adikku pun lalu pergi bersama mengarungi ruas jalan yang dingin.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman-teman mampir ke novel teman aku ya ! 🙏
__ADS_1