
Keinginan ayahku pun sudah bulat untuk membawaku berobat.Segala persiapan telah selesai di urus ayahku.Semamgatnya begitu menggebu seakan dia menyimpan harapan yang begitu besar akan kesembuhan putri tercintanya.Dari semua persyaratan telah selesai secepat mungkin.
Ayahku yang bekerja sebagai pembawa becak bergegas cepat pulang.Dari balik dinding kamar suaranya terdengar olehku.Aku pun mendengar dibalik dinding kamar Ayahku berbicara kepada adikku."Ana,apakah kakak kamu masih dikamar? Dia tidak pergi bermain, kan?" Bagaimana keadaan kakak kamu sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" Suara paraunya yang begitu berat terdengar olehku.Sedang bertanya kepada adikku.Dia begitu mengkhawatirkan keadaan aku.
"Ia, Ayah kakak baik-baik saja.Tadi kami bermain boneka dikamar.Ayah tidak usah khawatir aku akan menjaga kakak dengan baik selama dia sakit! Meskipun***." Aku mendengar adikku menggantung perkataannya kepada ayahku."Meskipun apa ,nak?!" Ayahku dengan penasaran yang begitu dalam menanya kembali kepada adikku."Meskipun,aku tidak bermain seperti dulu lagi."Dengan suara yang sedikit kecewa dan sedih.
Dari balik dinding kamar aku mendengar semua obrolan mereka.Sementara, diriku yang sudah jenuh terus berada didalam kamar. Mencoba melihat mereka dari balik pintu kamar. Ayahku yang duduk dilantai beserta belanjaan disampingnya.Sementara, adikku yang sedikit sedih bercampur kecewa hanya menunduk melihat lantai.Belanjaan yang dibawa oleh ayahku teronggok disampingnya.
"Ayah,apakah aku boleh bermain? Tadi, teman aku datang Ayah mengajak bermain.Kan, sudah lama sekali aku tidak bermain.Sekali ini saja Ayah! Kan, Ayah sudah pulang! Nanti, kalau ayah mau pergi lagi baru aku menjaga kakak." Dengan wajah sedihnya terus merayu ayahku dengan lekat dan memohon.
__ADS_1
"Nak,emangnya kamu mau bermain kemana? Inikan sudah siang istirahatlah dirumah,sejenak."Dengan penuh perhatian ayahku melarang adikku untuk bermain disiang hari yang panas.Adikku yang tidak terima dengan apa yang dibilang ayahku masih protes merayu ayahku."Tapi,Ayah..."Memegang tangan ayahku yang berdiri dengan wajah polosnya memohon belas kasihan. "Ayah bilang tidak! Tidak ada tapi-tapian!" Kata ayahku dengan tegas.Wajah kesalnya pun terlihat jelas oleh adikku. Yang sedang berharap permohonannya di kabulkan oleh ayahku.
Bibirku pun diam dan keluh mendengar perdebatan mereka aku jadi terpaku dengan keadaan ku. "Ayah! Ibu itu kan,nanti ada dirumah setelah dia kembali." Terus merengek memohon kepada ayahku.Adikku yang sedikit egois dan keras kepala.Dia harus bisa mendapatkan apa yang diinginkannya.Tanpa ada yang menghalangi.Sifat manjanya dan rayuannya adalah senjata baginya untuk meluluhkan hati ayahku. Ayahku yang begitu sangat menyayangi adikku terkadang dia luluh. Apalagi melihat adikku menetes air mata yang membasahi pipi mungilnya.Suaranya yang parau dengan Isak tangis membuat semua pikiran dan konsentrasi ayahku buyar.
Adikku yang begitu jeli memperhatikan ayahku. Dia mengetahui dengan cepat kalau kelemahan ayahku adalah air matanya.Dengan kecerdasannya dia bisa melihat itu dengan begitu cepat.
Aku kembali kekamar! Memutarkan badanku dan duduk diatas tempat tidur. Sambil melihat pandangan kosong lurus kedepan.Sudut lantai kamar membawa pikiranku melayang.Bola mataku pun terlihat begitu hampa.Tubuh kecilku yang lemah tidak lagi bisa tegak dengan kokoh.Dudukku seakan melayang.Obat belum ada satupun yang bisa menyembuhkan aku secara utuh. Sementara ayahku semakin hari semakin membingungkan ntah, mana yang harus dia dahulukan aku ataukah adikku! Ayahku ingin sekali membagi kasih sayangnya dengan rata kepada kedua putrinya.Namun, lagi-lagi adikku yang manjanya terlalu over membuat semuanya kacau.
Ditambah lagi adikku menginginkan Ibu sambung kami yang menjaga ku. "Ia, Ayah Ibu itu kan sebentar lagi kan,kembali kerumah!" Ayahku yang beranjak menuju ruang dapur untuk memasak.Adikku terus mengikutinya dari belakang. "Nak,kita itu jangan berharap lebih kepada orang lain.Lagi pula itu kan,kakak kamu! Dia lagi sakit nak! Kalau dia tidak sakit.Apakah pernah Ayah melarang kamu bermain? Bahkan, kakak kamu, Ayah selalu menyuruhnya untuk menjaga kamu dan mencari kamu kemana kamu pergi bermain." Obrolan ayah dan anak yang begitu sedikit menegangkan terdengar lagi olehku. Adikku yang belum bisa menerima kenyataan. Terus mencoba merayu ayahku sampai akhirnya berhasil. "Ayah,sekali ini saja.Nanti, kalau ayah mau pergi aku akan kembali.Lagi pula aku bermain tidak jauh-jauh ayah,cuman sekitaran rumah kita saja.Boleh ya, ayah! Wajah mungilnya pun terus merayu ayahku dengan guratan kesedihan.Aku yang gelisah mendengar perdebatan mereka tidak selesai berdiri di balik pintu tengah melihat mereka. Dengan menarik napas panjang dan menghembuskan dengan kasar. "Ya,sudah kamu Ayah izinkan bermain. Tapi, ingat jangan terlalu lama karena kasihan kakak kamu dirumah tidak ada temannya, mengerti! Dengan penuh penekanan ayahku membidik adikku yang keras kepala. "Ia Ayah!" Berlari keluar dengan senyum keberhasilan yang terlukis diwajahnya yang lelah merayu ayahku. Aku yang berdiri disudut pintu tengah.Melihat keceriaan dari wajahnya yang berlari sambil menatap lurus keluar.Sementara dia tidak melihat aku yang berdiri begitu terperangah melihat langkah kakinya yang begitu cepat.
__ADS_1
Seketika aku kembali melihat ayahku yang lagi berjibaku dengan masakannya, mengejar waktu sholat dan makan. "Aku harus cepat memasak,nanti putri kesayangan ku kelaparan dia kan lagi sakit." Seketika aku melihat ayahku dari sudut pintu tengah. Melepaskan pisau yang digenggamnya sehingga, terletak diatas meja.Menatap lirih dinding yang kosong sambil bergumam kecil.Meskipun aku mendengarnya tidak begitu jelas tapi, hati ku bisa menebak bahwa ayahku ingin sekali aku lekas sembuh.Dan dia berkeinginan untuk segera membawaku pergi berobat.
"Liyan, Ayah mau mengatakan kalau besok kita akan pergi berobat ya,nak!" Tidak berapa lama aku beranjak dari sudut pintu tengah.Ayahku menghampiriku dan duduk disamping kepalaku yang lagi berbaring. Dipinggiran tempat tidur sambil membelai kepalaku dengan lembut.Aku masih melihat wajah sedih nya yang berharap besar untuk kesembuhanku.Dengan wajah sendu! Aku pun menatap ayahku yang begitu lelah.
"Baik, Ayah!" Seketika aku duduk. "Tapi, Ayah bolehkah aku besok pergi sekolah? Aku bosan dirumah saja Ayah.Lagi pula aku kan sudah lama tidak masuk sekolah.Sambil duduk menatap ayahku yang berada di sampingku.
"Nak, bagaimana? Ayah akan mengatakannya kepada guru kamu! Dengan wajah penuh tanda tanya ayahku menatap ku yang lemah. "Mereka pasti belum bisa menerima kamu sekolah. Karena kondisi kamu yang seperti ini,nak!" Penuh dengan penegasan ayahku berkata dengan nada suara yang berat.
"Tapi Ayah! Aku kan tidak apa-apa,tidak ada yang sakit." Dengan penuh keyakinan aku merayu ayahku yang keras kepala dan teguh dalam pendiriannya. "Ayah belum bisa mengatakan apapun! Apakah? Kamu harus sekolah besok ataukah tidak?! Tapi, yang jelas besok kita akan pergi berobat biar kamu lekas sembuh seperti sediakala." Ayahku pun beranjak dari duduknya untuk melaksanakan ibadah sholat DZUHUR.Meninggalkan aku sendiri.Setelah mendengar kata-kata ayahku. Aku pun tidak bisa berbuat apapun.Ayahku dia begitu teguh dengan pendiriannya. Sementara, aku anaknya terlalu ambisius! Kalau bisa aku sakit sambil sekolah, aku sudah melakukannya. Tapi apalah dayaku semua diluar kendaliku.Seteguh apapun pendirian ku tidak akan bisa merubah semuanya.Demikianlah,
__ADS_1
yang terjadi pada aku saat ini.Sekuat apapun aku berusaha aku masih terhempas juga.
Bersambung....