Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Mencuci Muka Kembali


__ADS_3

"Jangan sering -sering juga, Dek." Menunggu adikku yang belum juga selesai mandi.


"Siapa tahu Ayah mendengar jeritan hati Kakak?" kata adikku dengan begitu serius.


Aku semakin bimbang tidak tahu harus berbuat apa dan mendengarkan siapa. Semakin dilema rasanya diri ini.


Hai! Sapa adikku dari belakang mengagetkanku yang sendiri dalam lamunan yang bisu.


"Jangan melamun, Kak! Nanti Kakak ke sambet lo. Meletakan sabun yang di bawanya di bawah sambil mengilap rambutnya dengan handuk.


"Sudah selesai mandinya?" tanyaku berpura-pura tidak mengetahuinya.


"Emang Kakak mau ngapain?" tanya adikku.


"Mau mencuci muka dan mengilap badan dengan handuk basah." Meninggalkan adikku yang masih mengilap rambut dan masuk ke kamar mandi.


"Jangan lama-lama, ya Kak!" teriak adikku memburuku.


"Iya," sahutku sedikit keras sambil mencuci muka dan membasahi handuk.


"Nanti Ayah pulang kerja tidak melihat wajah Kakak. Dia akan marah kembali." teriak adikku.


"Iya, Kakak juga tahu." Menjawab teriakan adikku.


"Baguslah kalau Kakak tahu."


"Iya, berarti kau tidak perlu lagi nanti mencari alasan di depan Ayah untuk membela Kakak."


"Seharusnya sih, seperti itu! Tapi terkadang semuanya tidak seperti yang kupikirkan, Kak."


"Mengapa?" tanyaku keluar dari kamar mandi membawa handuk kecil yang tadi kubawa lalu berjalan mendekati adikku yang telah lama menunggu.


"Karena kejadiannya secara mendadak dan tiba-tiba," ujar adikku. Memutar badan ke arahku.


"Apa masalahnya?" Aku semakin tidak mengerti melihat adikku, sepertinya dia sedang berliku-liku, membawa pikiranku terus berputar.


"Aku belum menyiapkan alasan yang tepat, Kak." Menatapku mengadukan kesedihannya hingga menusuk ke hati.


"Ptff! Jadi, itu masalahnya." Menghela napas sambil mengambil sabun yang terletak di tanah.


"Apa Kakak tidak memakai sabun tadi mencuci muka?" Menatap wajahku yang menunduk, sedikit mengintip.


"Tidak," jawabku dengan jujur.


"Kenapa tidak, Kak. 'Kan percuma kita sudah kemari capek-capek membawa sabun malah Kakak tidak memakainya," sesal adikku melihatku yang tidak memakai sabun.


"Tadi kelupaan membawa sabunnya masuk ke dalam." Berdiri sambil melihat sabun yang di pegang oleh adikku.


"Seharusnya Kakak bilang, kalau Kakak lupa dengan ini," kata adikku menunjuk sabun yang diayunkanya ke udara dengan penuh penekanan.


"Itu 'kan, tidak jadi masalah. Mau pakai sabun atau tidak," balasku dengan acuh.

__ADS_1


"Tapi 'kan, lucu sih, Kak," kata adikku memberikan penegasan. Adikku menyerahkan sabun ke tanganku dengan memaksa agar aku langsung mengambilnya.


"Berarti harus...". Memutar kepala melihat pintu kamar mandi lalu melihat adikku kembali.


"Iya, aku akan menunggu Kakak di sini!" Mendorong tubuhku yang lemah dengan desakan yang tidak boleh aku bantah.


Terpaksa aku melangkahkan tungkai kakiku yang lemah kembali masuk ke kamar mandi.


Aku kembali mengulangi mencuci mukaku dengan sabun.


Siraman air yang dingin membasahi kembali wajah pucatku yang pilu. Sabun yang tadi di berikan oleh adikku. Aku buka dan kukeluarkan dari tempatnya lalu kubasahi dengan air sedikit dan kuusap ke tangan dengan lembut sampai berbusa.


Busa yang tadi banyak di tanganku. Aku usapkan ke wajah pucatku dengan lembut dan perlahan. Rasanya, begitu segar ketika wajahku di basahi oleh sabun dan air yang menyentuh kulit.


"Kak sudah!" teriak adikku dari luar yang sudah lelah menunggu.


"Iya, ini sudah selesai," jeritku dari dalam dengan keras.


Tanganku langsung bergegas menaruh sabun ke tempatnya. Mengambil handuk yang tadi kubawa untuk mengilap wajah sampai kering dan wajahku kini terasa lebih segar.


Kreeek!


"Kakak terlalu lama, ya?" Membuka pintu dan melangkah keluar sambil memegang sabun dan handuk di kedua tanganku.


Sendal jepit yang kupakai kini telah menyentuh tanah membawa kakiku yang lemah berjalan sedikit sempoyongan.


"Kakak kenapa?" tanya adikku dengan wajah khawatir. Berlari mendekatiku yang ingin terjatuh. "Hati-hati, Kak!" pinta adikku membantu menuntunku.


"Liyan! Kenapa lama sekali kalian di sana?" teriak ibu sambung kami dengan keras merasa khawatir.


"Semoga saja Ibu kesayangan Kakak tidak memarahi kita." Membantuku untuk berjalan.


"Wajahmu begitu pucat, hahaha!" ledekku pada adikku yang berjalan bersamaku sambil memegang sabun dan handuk.


"Masa sih, Kak," balas adikku tidak percaya.


"Wajahmu pucat sekali, seperti orang yang sakit." Tawa ledekan begitu puas aku keluarkan.


"Kakak jangan sembarangan, ya. Aku mana pernah sakit. Aku adalah Anak yang kuat. Kalau aku sakit, lalu siapa yang membantu Kakak?" Menatapku tersenyum.


"Oh, ya! Kamu enak sekali, kalau tidak pernah sakit." Mencubit kedua pipi adikku yang jutek dengan manja seraya tersenyum dengan imut. "Semoga saja kamu tidak pernah sakit."


"Kakak jangan cubit pipiku sakit tahu." Menepis kedua tanganku dengan pelan. "Nanti pipiku merah, seperti di cium oleh nyamuk." Mengelus kedua pipinya yang memerah sedikit.


"Mana mungkin sakit, 'kan cubitannya pelan," tandasku. Berjalan kembali pulang ke rumah bersama adikku yang manja.


"Sedikit sakit Kak. Apa Kakak mau, kalau Ayah bertanya dan melihat pipi Anak kesayangannya merah, seperti cabai." Berjalan sedikit di belakangku mengawasi agar aku tidak terjatuh.


"Kalau kau sudah membawa Ayah. Kakak menyerah saja, itu lebih baik untuk keamanan." Berjalan menghampiri pintu dapur kami yang terbuka lebar.


"Oh,ya! Kenapa Kakakku begitu manis sekali?" ledek adikku dengan bercanda menyunggingkan senyum seakan membuatku tertunduk malu untuk menatap jalan.

__ADS_1


"Jangan terus membuat Kakak tersipu dan merasa, seperti orang aneh, ya."


"Siapa yang membuat Kakak seperti orang aneh?" celetuk adikku.


"Itu yang tadi!" Tunjukku seakan menantang.


"Kakak 'kan, emang manis." goda adikku. Sok imut.


"Manisan mana, Kakak atau gula?!" Menaikan alis memberi pertanyaan untuk menggoda adikku.


"Ya Kakak lah, masa gula. Kalau manis gula bisa habis Kak."


"Habis?" Aku penasaran. "Kenapa bisa habis?" tanyaku ingin memperjelas ungkapan adikku yang membuat pusing.


"Ya, kalau gulanya di taruh ke dalam air, lalu airnya di minum 'kan habis." Seketika tersenyum.


"Habis kemana?" tanyaku dengan kepintaran yang tidak sampai.


"Habis diminum, hahaha!" Tawa kocaknya begitu lepas menertawaiku yang berkubang dalam kebingungan.


Terlihatnya adikku begitu bahagia seolah dia mendapatkan mainan baru yang lucu. Wajahnya seketika sumringah bagaikan orang yang tidak ada beban sama sekali.


Tungkai kaki yang lemah telah mendekati pintu dapur kami. Aku dan adikku langsung masuk dan meletakan sabun yang kami bawa lalu menggantung handuk.


Pakaian kotor yang tadi kami pakai kini kami letakan di tempatnya. Baju yang tadi kami bawa telah kami pakai dengan rapi tadi setelah habis mandi.


"Kenapa kalian lama sekali baru selesai mandi?" tanya ibu sambung kami. Langsung bergegas menghampiri kami begitu dia mendengar langkah kaki yang masuk.


"Kami tadi mengganti pakaian, Bu." jawabku. Memutar kedua bola mata melirik adikku yang terlebih dahulu berjalan menghampiri cermin.


Sorot mata ibu sambungku terus menatapku dengan lekat. "Liyan! Apa kau mandi juga?" tanya ibu sambungku menyelidik.


"Tidak, Bu," jawabku spontan.


"Baguslah! Ternyata kau tidak mandi. Ibu sudah takut kalau sampai kau lupa dan mandi mungkin sakitmu semakin parah lagi."


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...



Alexander Yudista Miller. laki-laki yang menjabat sebagai CEO, calon pengurus perusahaan milik sang ayah. Alex terkenal dengan ketampanannya dan juga kekejamannya jika menghukum.

__ADS_1


di balik wajah tampan Alex, laki-laki itu memiliki rahasia yang besar. perjalanan cintanya tidak sebaik kehidupannya. ia terpikat dengan seorang wanita yang sebenarnya ia hanya menginginkan anak dari wanita itu.


bagaimana kisah mereka? apakah mereka akan saling jatuh hati atau sebaliknya?


__ADS_2