
"Jangan sampai kau sakit Liyan. Karena kelelahan," ucap ibu sambungku.
"Kalau sakit nanti gak akan di bawa Ayah lagi jalan-jalan, ya 'kan, Yah?" kata adikku bertanya. Melihat ayahku. Berjalan dengan melenggang.
Aku hanya diam berjalan mendengar perbincangan ayah dan adikku.
"Kalau kata Ayah, gak jalan-jalan lagi. Ya gak jalan-jalan lagi," ucap adikku sedikit lantang. Melirikku yang sedang mengalami luka di lutut.
"Tapi 'kan kalau sakit aku gak rewel, gak suka nangis," timpalku membela diriku sendiri. Melihat adikku yang berjalan bergandengan tangan dengan ayahku. Di ikuti oleh tangan sebelah kirinya memegang boneka.
"Walaupun gak nangis, tapi 'kan buat Ayah kehabisan uang," lanjut adikku menolak ucapanku yang terdengar olehnya.
"Kalian jangan bertengkar," kata ayahku melarang. "Nanti di lihatin orang. Di pikir mereka nanti di sini entah siapa yang berkelahi. Engga malu kalian?" tanya ayahku dengan tegas. Berhenti dan mengambil uang membeli tiket.
"Berapa?" tanya ayahku. Melihat penjual tiket dari pembatas kaca yang memisahkan kedua wajah mereka.
" 30 ribu rupiah, Pak," jawabnya dari dalam.
Ayahku pun langsung mengambil uang di dalam dompetnya. "Ini," kata ayahku menyerahkan uang.
"Terimakasih Pak," ucap penjual dari dalam. Menyerahkan tiket yang telah di beli.
"Sama-sama," jawab ayahku. Menerima tiket.
Ayahku pun langsung memutar badannya menarik lenganku dengan lembut. "Liyan, kalau nanti naik jangan kasak-kusuk," katanya. Berjalan lurus melewati jalan setapak yang di lalui orang -orang untuk menaiki permainan kuda yang aku inginkan.
"Ingat Liyan, Pegangan yang kuat. Nanti kau jatuh dan luka lagi," saran ibu sambungku. Mengejarku dengan jalan yang kencang. "Kalau kau jatuh . Kau tidak akan bisa lagi ikut jalan-jalan," katanya menjelaskan.
"Iya Bu," jawabku. "Ayah, apa kuda-kudaan itu kencang? Sama kayak yang tadi?" tanyaku. Mengingat kembali baling-baling. Memutar kepala melihat ayahku yang lebih tinggi dariku.
"Iya," jawab ayahku. "Tapi kalau semua Anak-anak yang naik masih kecil. Mereka sanggup memutarnya dengan kencang, Yah?" tanyaku yang menyimpan tanda tanya yang besar di dalam hati. Melirik ayahku yang lebih tinggi dariku berjalan sambil memegang tangannya.
"Makanya, kau nanti pegangan yang kuat," tandas ayahku dengan tegas. Melihat kuda yang berputar.
"Tapi, Yah. Kalau kencang? Kenapa Anak-anak kecil yang naik semua?" sambung adikku dengan segudang pertanyaan yang tersimpan di dalam benaknya.
"Itu bisa kencang dan bisa juga tidak!" cetus ibu sambung kami yang berjalan bersama mengikuti kami dari belakang.
Aku pun sangat senang karena akhirnya, aku telah sampai ke tempat yang aku inginkan dari tadi.
__ADS_1
"Liyan, hati-hati!" kata ayahku berbisik pelan di telinga. "Pegangan ya Nak!" katanya menaikkan aku ke atas kuda.
"Ayah, mau la," pinta adikku menaikkan kedua tangan dengan tinggi ke udara, di ikuti tangan sebelah kanannya yang memegang boneka, sebagai isyarat kalau dia mau minta di naikkan juga ke atas kuda.
"Sebentar ya Nak. Kakakmu dulu," kata ayahku menyusun dudukku dengan rapi. Setelah aku selesai ayahku kemudian menaikkan adikku juga. "Nah, duduk yang bagus ya, Nak. Jangan lasak!" katanya memberi peringatan.
"Jangan lihat ke sana kemari!" timpal ibu sambung kami langsung memotong pembicaraan ayahku. "Hati- hati! Kalian berdua itu terlalu lasak," tandasnya.
"Ayah daaaahhhh," teriakku dengan senang melambaikan tangan sebagai isyarat mendada ayahku yang berdiri melihat kami bermain kuda-kudaan.
"Ayaaah!" teriak adikku juga dengan senang ketika putarannya tepat mengarahkan wajahnya yang bertemu pandang dengan wajah ayahku.
Ayahku begitu terlihat senang malam ini karena dia telah lega melihat kami bermain dengan puas.
Sementara ibu sambung yang berdiri dengan ayahku. Dia terlihat sama sekali tidak menikmati kebahagiaan kami. Dia seakan tidak suka melihat kami malam ini di bawa jalan-jalan oleh ayahku.
"Ayaaah!" panggilku berteriak dengan senang ketika aku melihat ayahku yang tersenyum bahagia melihat keceriaan kami di atas kuda yang berputar, seperti jarum jam.
"Nak, dengar ya! Jangan lasak!" teriak ayahku sedikit keras menegur kami yang sudah mulai tidak tenang. "Kalau mau turun. Nanti tunggu Ayah," ucap ayahku. Melambaikan tangan memberi isyarat agar kami turun menunggunya.
Setelah lama kami berputar menaiki kuda ini. Akhirnya, selesai sudah. Aku dan adikku serta anak-anak yang lain pun ikut turun juga.
Kuda yang kami naiki pun berhenti. Ayahku dengan segera menghampiri kami dan menurunkan aku dan adikku secara bergantian.
"Sekarang kita pulang! Sudah jam berapa ini? Kalian kalau sudah bermain tidak tau pulang," kata ibu sambung kami dengan nada suara tidak senang. Berjalan lebih dulu sambil memegang tas shoppingnya.
"Ayah, tapi aku masih ingin bermain," ucapku dengan pelan. Melihat ayahku yang lebih tinggi.
"Ayah kita pulangnya besok saja," pinta adikku dengan polosnya.
"Besok Nak?" tanya ayahku dengan nada suara bercampur tawa.
"Mau tidur di mana kau malam ini?" tanya ibu sambung kami dengan nada suara kasar. Berjalan semakin kencang.
Sontak aku yang mendengarnya pun langsung diam menutup mulut. Sementara adikku dengan wajah sendunya melirik ayahku.
Ayahku langsung menenangkannya. "Nak, besok kalau ada waktu, kita bermain lagi," katanya.
"Besok, Yah," balas adikku dengan senang kembali.
__ADS_1
"Asyik dong, Yah. Kalau besok kita bermain lagi," kataku dengan bahagia. "Ayah tapi itu apa?" tanyaku. Menatap lekat kertas yang tergantung.
"Ada -ada saja yang ingin kau beli Liyan," ucap ibu sambungku menyahut dari depan.
"Itu Anak Bp ayah," sambung adikku.
"Ayah, aku mau beli itu," kataku dengan lembut.
"Itu untuk apa, Nak? Itu cuma kertas. Tidak kenyang kalau di beli," sambut ayahku dengan keras melarang aku dan adikku agar kami tidak usah membeli itu.
"Ayah tapi aku pingin ke sana," harapku dengan gurat wajah memohon. "Tidak lama Ayah," rengekku meminta dengan lembut agar ayahku berkenan membawa kami ke tempat yang aku tunjuk.
"Kau memang keras kepala Liyan. Ayah sudah bilang. Jangan membeli itu. Itu tidak kenyang. Mending kita beli martabak," usul ayahku dengan cepat. Melirik aku dan gerobak martabak yang teronggok di sebelah jalan kami.
"Tidak Ayah. Aku mau ke sana," rengekku bersikeras ingin ke tempat yang menjual kertas yang tergantung.
"Minta yang gak bisa di makan, untuk apa Liyan?" tanya ibu sambungku dengan nada suara kesal.
"Ayah, aku juga ingin membeli itu juga," sambung adikku dengan wajah penuh memohon belas kasihan agar ayahku mau mengikuti kemauannya.
"Itulah salahnya kalau kalian berdua sudah keluar. Setiap yang kalian lihat. Pasti harus di beli," pekik ibu sambung kami dengan kesal mendengarnya. "Ada-ada saja permintaan kalian. Yang inilah, yang itulah. Tak pernah siap-siap dari dulu," cecarnya semakin sebal.
"Ayah, kita ke sana, ya!" pintaku memohon dengan lirih. Menatap ayahku.
Huh!
Dengan berat hati ayahku pun mengabulkan permintaan kami berdua. "Liyan, kau memang tidak bisa di larang. Kalau sudah mau mu pasti harus di penuhi," keluh ayahku.
"Ayah pasti Anak Bpnya cantik," ucapku dengan senang.
.
.
.
Bersambung...
Yuk! Teman -teman mampir ke novel teman aku ya 🙏🥰
__ADS_1