Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Sendal jepit adikku dan sepatuku


__ADS_3

"Iya, Ayah," jawabku. Berjalan mengikuti ayahku dari belakang, di ikuti oleh tangan sebelah kananku membawa sendal.


Ayahku yang lebih dulu berjalan dari kami terlihat menyinggahi adikku yang berdiri tanpa sendal di kakinya sebelah kiri.


Aku yang membawa sendal adikku sedikit mengatur langkah ini pelan sambil menahan rasa sakit yang masih bersarang di lutut.


"Liyan, cepat! Jangan lagi lama kali jalanmu. Nanti keburu malam," teriak ayahku. Menyeret kakinya dengan kencang.


"Iya Ayah," teriakku menjawabnya. Menahan tungkai kaki yang sakit.


"Ana, ini sendalmu," kataku. Menaruh sendalnya tepat di sebelah kaki kiri adikku.


"Sendalnya putus," rintihnya dengan mengiba.


Aku yang ingin menyeret kakiku seketika berhenti dan memutar badan ke belakang melihat adikku. "Kenapa bisa putus?" tanyaku terheran. Menjatuhkan tubuh mungil ini membungkuk melihat sendal jepit hello kitty adikku.


"Iya," kataku dengan benar. Mengambil sendal dan mengayunnya di udara. Mendekatkannya ke arah kedua bola mata. "Ayah pasti marah," kataku pelan bercampur kerisauan di hati setelah wajah ibu sambung kami menari -nari di hadapanku.


"Aku gak mau jalan gak pakai sendal," rengek adikku. Menangis melihat sendalnya dan kaki kirinya yang tanpa alas.


"Ayah dan Ibu nanti marah," kataku. "Ana kalau tidak kau pakai saja sepatu Kakak," bujukku dengan lembut agar dia dengan senang hati mau mengikuti saranku.


"Tidak! Sepatu Kakak jelek. Bau lagi," teriaknya menolak.


"Nanti Ayah marah," ucapku. Menatap adikku dengan lembut.


Huhuhuhu!


Adikku pun menangis dengan nada suara yang keras meski bercampur kebisingan. Akan tetapi, tangisannya itu masih terdengar ke telinga para pengunjung, terkhusus untuk mereka yang melewati jalan yang tempat aku dan adikku berdiri.


"Aku tidak mau jalan," rengek adikku dengan jelas.


Aku sangat cemas dan panik. Berkali-kali aku melemparkan sorot mata resah ini melihat ke arah ayah dan ibu sambungku.


Lambaian tangan dari ibu sambungku pun terlihat melayang tepat ke arahku sebagai isyarat memberitahu kalau dia memanggil kami.


"Ana, pakai dulu sepatu Kakak ini!" pintaku dengan lembut. Melepas sepatu dan meletakkannya tepat di hadapan kedu kaki adikku.


Sepatu warna hitam yang sepadan dengan gabungan dari warna pakaian yang aku pakai kini terlihat teronggok di hadapan adikku.


"Gak! Aku gak mau," tolak adikku dengan keras.


"Ana pakai saja. Jangan menangis," usulku menenangkan hati adikku yang shock. Melihat sendal jepit kesayangan putus.


"Engga. Aku gak mau. Itu bau," ucapnya seakan menghina sepatuku.

__ADS_1


"Tapi Ayah sudah menunggu kita. Ibu juga sudah dari tadi memanggil kita," kataku dengan nada suara cemas.


Suara tangis adikku semakin pelan sedikit demi sedikit. Dia diam melihat sepatu yang terletak di atas tanah dengan lirih.


"Pakai ini?!" kata adikku pelan. Meliriknya dengan lekat seakan dia mempertimbangkan saran yang aku berikan.


Aku semakin panik dan mengambil sendal jepitnya yang putus.


"Liyaaan!" teriak ibu sambung kami dengan keras dari jauh.


"Iya Bu," jawabku dengan keras. "Ana pakailah! Jangan nakal. Nanti kita berdua kena marah," ungkapku memberi tahu bercampur gelisah.


Adikku pun dengan berat hati melepaskan sebelah sendal jepitnya. Lalu dia memakai sepatu yang kusodorkan di hadapannya.


"Tapi, aku tidak suka pakai sepatu... ," rintih adikku. "...panas," lanjutnya. Memasukkan kedua telapak kakinya.


Aku langsung mendongak terkejut sambil terheran mendengar alasan adikku yang keluar dari dalam mulutnya. Tanpa sengaja aku juga mendengarnya.


"Tapi tadi kau bilang bau, Dik?" tanyaku.


Seketika dia diam dan melihat sepatu telah terpasang rapi di kedua kakinya.


"Aku gak ada bilang, kok," jawabnya menolak lupa.


"Tadi 'kan ada kau bilang. Kalau sepatu itu bau," balasku terus menerus hingga membuat adikku menjauh dariku.


"Ana, tungguuuu!" teriakku mengejar adikku yang berlari meninggalkan aku.


Setelah adikku pergi meninggalkan aku sendiri. Aku lalu memakai sendal jepitnya yang putus sebelah dan bagus sebelah.


Sekencang mungkin aku menyeret kaki ini mengejar adikku yang sudah menghampiri ayahku.


"Liyan, jangan lari-lari !" teriak ayahku dari jauh.


Aku pun berlari dengan hati-hati untuk menjaga lututku yang sakit agar tidak semakin saki lagi. Dan agar aku juga supaya tidak terjatuh.


"Hei, hati-hati!" teriak pengunjung menegurku.


"Liyan, kau ini. Apa tidak bisa berjalan pelan-pelan?!" ucap ayahku dengan kesal bertanya padaku.


"Ini malam. Di sini gelap. Bisa kau berlari sekencang itu, seperti orang yang ketakutan," kata ibu sambungku dengan penuh penekanan di telingaku.


"Jalannya tidak gelap, Yah. Lampunya ada, kok," kataku dengan nada suara pelan mengiba.


"Iya, iya, iya. Ayah tau kok," kata ayahku. Memutar badan mengeluarkan becak yang terparkir.

__ADS_1


"Loh, Liyan kemana sepatumu?" tanya ibu sambungku refleks langsung melihat ke arah kedua kaki adikku.


"Itu, dipakai Ana," jawabku pelan bercampur cemas.


"Sendalmu di mana Ana?" tanya ayahku. Spontan juga melirik ke bawah tepat ke arah kedua kakiku.


"Ayah sendalku putus. Tadi 'kan sudah aku bilang sama Ayah," jawab adikku mengiba.


"Kenapa bisa putus? Kau 'kan selalu kayak gitu tidak bisa menjaga barangmu!" pekik ibu sambungku di tengah-tengah kerumunan para pengunjung.


Pasar malam yang masih dipadati pengunjung semakin lama semakin banyak. Orang-orang terus saja berdatangan. Baling-baling dan kuda-kudaan yang tadi kami naiki sampai sekarang belum juga berhenti.


Sementara suara ibu sambungku yang terus menggema di udara terkadang membuat beberapa pengunjung menoleh ke arah kami. Seakan dia mendengar keributan dari kami berempat.


"Sudah. Jangan dilanjutkan," kata ayahku melarang dengan keras. Seakan ayahku tahu kalau orang -orang yang lewat menoleh ke arah kami. "Ini sudah malam. Sangking asyik bertengkar, nanti kita lupa pulang," sindir ayahku dengan lembut pada ibu sambungku.


Sontak ibu sambungku pun terdiam. Dengan ketat dia mengerutkan keningnya mendengar larangan ayahku yang tiba-tiba mendarat di hatinya.


"Liyan, jangan berdiri saja disitu. Kau mau pulang atau tidak?" tanya ibu sambungku dengan ketus.


Aku refleks menaikkan kedua kaki ke atas becak dan menjatuhkan tubuh mungil ini di atas pangkuan ibu sambung kami.


"Kalau kau tidak mau pulang. Bilang saja," kata ayahku. "Biar kalian bermain lagi. 'Kan masih banyak lagi permainan yang belum kalian naiki," ujar ayahku dengan nada suara tenang.


"Boleh Ayah," sambut adikku.


"Tidak!" balas ibu sambungku langsung. Membuat aku sedikit shock dan menganga.


Sementara ayah dan adikku seperti orang yang terlempar batu, diam dan tidak berkutik sedikit pun.


"Liyan, apa kau mau turun lagi?" tanya ibu sambung yang memangkuku.


"Tidak Bu," jawabku .


"Siapa yang mau bermain lagi. Pergilah sana turun dan tidak usah pulang-pulang lagi!" tandasnya.


Aku semakin menutup mulut ini dengan rapat. Sementara ayahku terus mengayuh becaknya dengan kencang. Lain halnya dengan adikku yang sama sekali tidak pernah mau mengambil pusing apa yang di katakan oleh ibu sambung kami.


Dia tetap tenang dan nyaman dengan bonekanya. Aku sedikit kagum melihatnya.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2