
"Liyan tidak lupa, Bu," jawabku. Melirik adikku yang spontan memutar kepala melihatku dan menghentikan sisirannya seketika.
Ibu sambungku kemudian tersenyum. "Istirahatlah! Nanti malam kalau kamu mengaji, tubuhmu sudah rileks."
"Baik ,Bu." Melirik adikku yang tersenyum dengan penuh keheranan.
Aku pun meninggalkan ibu sambungku yang lagi sibuk dengan tugas sore harinya . Aku berjalan menghampiri adikku yang masih berdiri di depan cermin merapikan rambut.
Rambutnya yang bermodel pixie-cute sekilas memang terlihat ringkas dan cenderung mengekspos wajahnya yang bulat. Meskipun begitu model rambut pendeknya ini sangat cocok untuknya kerena rambutnya sangat lurus dan adikku juga menambah sentuhan bagian poni agar tampilan pipinya terlihat agak tirus . Rambut adikku begitu indah terlihat berkat tangan dingin dari ayahku.
Ayahku adalah seorang ayah yang memiliki bakat sisi yang lain selain bekerja mencari nafkah dan menjadi guru di rumah untuk kami. Dia juga mahir dalam memotong rambut, terkhusus untuk rambut anak-anaknya. Dia tidak pernah memotong 'kan rambut kami pada yang lain.
Tubuhku yang lemah aku geser mendekati adikku untuk mengambil sisir dan berdiri menyisir rambutku juga yang sama seperti adikku, yaitu di pangkas oleh ayahku sendiri.
Rambut pendekku dengan model blunt bob terlihat lebih pantas di wajahku yang oval. Gaya rambut ini bisa di padukan dengan model poni tipis seperti see trough bangs .
Ayahku begitu pandai memotong rambutku dengan poni terlihat tipis. Aku begitu terlihat manis di depan cermin sambil menyisir rambut yang berantakan.
Rambut kami yang masing-masing terlihat berbeda dengan bentuk wajah kami masing-masing. Sisiran kami perlahan hampir telah selesai, sedikit kami tenggelam dalam lautan cermin yang dapat menampilkan wajah kami dengan anggun.
Sisir pun di letakan adikku tepat di depan cermin yang terdapat sedikit tempat untuk meletakan sisir. Dia lalu memutar badan ke belakang tepat menghadap ke arahku yang berdiri tadi di belakangnya yang masih menyisir rambut sampai rapi.
"Ibu tersayang Kakak. Kenapa tiba-tiba terlihat baik dan ramah, Kak?" tanya adikku dengan penuh tanda tanya yang sangat dalam.
Aku seketika memutar kepala melihat adikku yang berbicara. "Kakak juga tidak tahu menahu, Dek, ada apa?! Tapi kamu benar, Ibu dan Ayah terlihat aneh hari ini. Mereka berdua tidak seperti biasanya yang ketus dan suka memarahi Kakak dengan masalah yang jelas atau pun tidak." Menatap wajahku di cermin sambil menyisir rambut.
Adikku yang masih berdiri menemaniku sampai selesai terus mendengarkan aku bicara. "Sebenarnya hari ini, Kakak senang juga. Jarang-jarang 'kan mereka seperti ini." Menghentikan setengah sisiranku sambil menatap wajah senduku di dalam cermin. "Apalagi Ayah. Dia selalu menekankan peraturannya yang ketat di dalam rumah ini hingga Kakak sampai sekarang tidak begitu bebas keluar rumah, walaupun hanya sebentar."
"Tapi, Kak peraturan itu hanya untuk Kakak seorang, kalau aku sih tidak." Berdiri sambil menatapku yang terus menyisir rambut. Wajah adikku sedikit terlihat sedih menatapku yang berdiri.
Kedua bola mataku langsung kuangkat sedikit menatap wajah adikku dari dalam cermin.
"Kenapa dirimu yang bersedih? Yang di hukum 'kan Kakak bukan kamu. Kakak saja tidak pernah memikirkannya." Menatap sendu wajahku sendiri di dalam cermin.
__ADS_1
"Bagaimana aku tidak sedih, Kak? Kakak adalah saudaraku satu-satunya, kalau Kakak sedih, aku juga sedih, kalau Kakak di marahi Ayah aku juga ikut sedih sebenarnya. Makanya, setiap Ayah memarahi Kakak atau pun Ibu kesayangan Kakak itu memarahi Kakak. Kakak lihat 'kan, kalau aku membela Kakak." Berdiri seakan merasakan kesedihanku.
Sisir yang tadi aku pegang untuk menyisir rambut. Aku letakan di tempat yang semestinya lalu memutar badan ke belakang tepat di hadapan adikku yang masih berdiri sampai saat ini.
Wajahnya begitu lirih menatap diriku yang setengah belum bahagia. "Ayah kenapa terlalu ketat pada Kakak, ya?" tanya adikku dengan penasaran. "Padahal antara aku dan Kakak sangat jauh berbeda."
"Berbeda dari mananya, Dek?" tanyaku yang begitu heran mendengar pengungkapan dari adikku.
"Yang sering keluar rumah 'kan, aku Kak bukannya Kakak, tapi kenapa Ayah begitu besar larangannya pada Kakak? Dan menghalangi untuk keluar rumah."
"Mungkin Ayah masih trauma?!" Melihat adikku.
"Trauma kenapa Kak?" tanya adikku ingin tahu.
Kami berdua pun langsung berjalan meninggalkan cermin yang tadi kami gunakan untuk menyisir rambut.
"Kak! Kita duduk di bawah pohon itu, yuk," ajak adikku sambil mengayunkan kaki terus melangkah.
Aku pun mengayunkan kaki yang lemah mengikuti adikku duduk di bawah pohon.
"Kenapa Ayah trauma, Kak?" tanya adikku kembali mengulangi pertanyaannya.
Aku duduk sambil melihat adikku yang berbicara. "Karena dulu Kakak mau di culik."
"Jadi, gara-gara itu!" Adikku menjatuhkan tubuhnya duduk di sampingku.
"Mungkin," balasku dengan singkat.
"Kenapa Ayah sampai segitunya, padahal 'kan, itu sudah lama berlalu dan Kakak juga sekarang sudah besar."
"Itulah yang membuat Kakak sedikit kesal dan juga sedih, apalagi kalau sudah melihat kalian bermain dan mendengar tawaan kalian. Rasanya kakak bagaikan pungguk merindukan bulan."
"Ini tidak akan lama, Kak. Sebentar lagi pasti berlalu." Adikku menguatkan dan memberi diriku kepercayaan akan ayahku, kalau dia akan memberiku sedikit peluang untuk bermain layaknya, seperti anak yang lain.
__ADS_1
"Itu adalah harapan yang kelabu. Itu bisa terjadi bisa juga tidak karena kita tidak ada yang tahu, apa yang ada di dalam pikiran Ayah. Ayah bisa saja hari ini mengatakan Kakak boleh bermain, tapi itu pasti atau tidak, cuman Ayah yang tahu."
"Ayah memang suka berubah, Kak. Di tambah lagi, apa yang sudah di ucapkannya tidak boleh di tentang."
"Ayah 'kan kepala rumah tangga," tandasku mengatakan yang sebenarnya.
"Iya, aku tahu, Kak. Tapi apa tidak boleh seorang Anak meminta sedikit kebebasan?!" ucap adikku dengan kebimbangan.
Pohon besar yang menjadi pelepas curahan hati kami berdua sangat sopan, ia masih memberi kami izin untuk bersuara tanpa ada hembusan angin dingin yang berhembus yang akan membuat tubuh mungilku yang lemah ini semakin down.
Akan tetapi suara dari dalam rumah yang tadi kami tinggalkan malah membuat kami terperanjat dan memaksa kedua bola mata melihatnya.
"Liyan!" teriak ibu sambung kami memanggil dengan keras dengan nada suara yang panik.
Suaranya semakin lama, semakin mendekati pintu yang terbuka lebar dan langkah kaki yang kencang pun terdengar menghentak di lantai dengan keras. Suara paniknya kini seperti tidak biasanya. Dia terlihat seperti orang yang kalap, sesekali dia berteriak dari mulut jendela yang terbuka lebar.
Dia terus berjalan mencariku dan meninggalkan tugas dapurnya yang rutin di kerjakannya setiap hari.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰😊
❤️❤️❤️
Bersambung...
Alexander Yudista Miller. laki-laki yang menjabat sebagai CEO, calon pengurus perusahaan milik sang ayah. Alex terkenal dengan ketampanannya dan juga kekejamannya jika menghukum.
__ADS_1
di balik wajah tampan Alex, laki-laki itu memiliki rahasia yang besar. perjalanan cintanya tidak sebaik kehidupannya. ia terpikat dengan seorang wanita yang sebenarnya ia hanya menginginkan anak dari wanita itu.
bagaimana kisah mereka? apakah mereka akan saling jatuh hati atau sebaliknya?