
Setelah kami menerima resep dari dokter itu. Aku dan ibu sambungku langsung keluar menghilang dari balik pintu ruangan dokter.
"Liyan, mudah-mudahan ini adalah perobatan kamu yang terakhir. Semoga kita tidak kemari lagi." Kata ibu sambungku. Berjalan.
"Ia Bu." Kataku dengan pelan.
"Rumah sakit ini begitu melelahkan. Tak ada tempat yang nyaman untuk ku menarik napas walaupun hanya sebentar." Kata ibu sambungku kembali, menatap ku.
Bibirnya terus bergumam menatap lurus, melihat orang-orang yang bersilewaran. Kakinya terus melangkah dengan memegang resep obat yang akan di tebus.
Aku yang berjalan di sampingnya melihat dan mendengar gumaman kecilnya meskipun, kurang jelas.
"Ibu,Liyan sudah lelah." Kataku dengan pelan.
"Lelah kau bilang! Kau pikir kau saja yang lelah. Makanya, kau itu jangan sakit terus." Bentak ibu sambungku dengan wajah yang kesal.
Spontan kedua netraku langsung menatap kebawah, butiran kristal pun jatuh. Bibir kecilku bergetar menahan isak tangis yang akan keluar.
Kakiku yang lemah rasanya ingin jatuh terhempas ke lantai. Refleks tangan mungilku gemetar memegang helaian baju yang aku pakai.
"Liyan,baru sepanjang ini perjalanan mu, kau sudah lelah. Bagaimana? Dengan ku yang berjalan dan mengurus mu ke sana kemari." Kata ibu sambungku sedikit meninggi.
Sorot matanya yang tajam tak pernah lekang dari memori ku. Setiap aku berada di sampingnya, sorot mata itu selalu menghantuiku.
"Ibu, Liyan minta maaf kalau sudah membuat kesalahan." Pintaku dengan lirih.
" Alah! Maaf, maaf itu saja yang bisa kau ucapkan. Aku mau bukan maaf mu! Aku mau kau jangan menyusahkan ku lagi." Pekik ibu sambungku dengan mendelik.
Aku yang menghentikan tubuh mungilku melangkah, terdiam dan menangis pelan. Lorong rumah sakit yang ramai menjadi tempat untuk mencurahkan isi hatiku yang terasa perih . Menatap dinding yang bisu dan membelakangi orang -orang yang berjalan.
Ibu sambungku sampai saat ini tak henti-henti menghardik ku dengan ucapannya yang kasar. Dia begitu puas melihatku yang lemah semakin terpuruk.
"Liyan!" Teriak ibu sambungku berjalan menghampiri ku. "Apalagi, kenapa? Kau malah berhenti di sini!" Menatap ku dengan wajah yang memerah.
"I-ia Ibu." Jawabku dengan terbata sambil menghapus air mataku.
"Ayo cepat! Nanti apoteknya tutup." Pekik ibu sambungku dengan penuh penekanan. "Kursi tunggunya sudah hampir mau penuh. Nanti kau mau duduk di mana?" Kata ibu sambungku dengan sedikit berteriak dan kesal.
Aku hanya menganggukkan kepalaku, berjalan mengikuti langkah kakinya yang kencang sambil meremas bajuku dengan jemari kecilku.
"Duduk di situ!" Perintah ibu sambungku dengan ketus.
"Ia Bu." Sahutku dengan pelan.
Kursi yang panjang terletak di depan apotek, aku duduki dengan menjatuhkan tubuh mungilku yang lemah dengan perlahan. Menatap orang-orang yang berada di sampingku sambil menetralkan wajah sedihku.
Begitu nikmat rasanya duduk dengan santai melepaskan lelahku sejenak. Menatap nanar ke sekeliling ku dengan menarik sedikit bibirku. Membuang semua ke sedihanku yang menganak di dalam hatiku.
"Adik! Kamu lagi apa? Di rumah sakit ini?" Tanya seorang pasien yang duduk di sampingku dengan ramah.
"Lagi berobat Bu." Jawabku dengan datar.
"Sama siapa?" Tanya pasien itu kembali ingin tahu dengan lembut.
"Bersama Ibuku." Jawabku sambil menatap ibu sambungku yang berdiri memberikan resep obat kepada petugas apotek.
Dia pun memalingkan wajahnya seketika sambil melemparkan senyum padaku.
" Liyan, sepertinya kita akan lama di sini menunggu obatmu." Kata ibu sambungku sambil mendengus kesal.
Melihat wajah dan mendengar dengusan nya wajah ceriaku seketika berubah pilu. Tatapan nanar seketika aku lemparkan dengan kosong.
"Ibu,maafkan Liyan." Kataku dengan lirih menunduk.
Ibu sambungku hanya bergeming melihatku yang tak berdaya. Dia tidak beranjak dari samping ku. Wajah kesalnya yang ketat terlihat tajam melirikku. Napasnya yang kasar seakan keluar mau menelanku.
Seketika tubuh mungilku gemetar, jemari kecilku semakin kuat meremas bajuku. Lidahku yang keluh terasa kaku.
"Ibu,kalau begitu sebaiknya kita pulang saja." Pintaku dengan hati-hati.
"Apa! Kau bilang pulang. Lalu, bagaimana? Dengan obatmu ini! Apa ? Ada nanti yang mau mengambilnya kemari lagi." Bisik ibu sambungku sedikit meninggi.
Suaranya yang penuh amarah membuatku seperti patung sehingga membuat tubuh mungilku semakin dingin dan ketakutan.
Bola mataku yang melihat kebawah perlahan aku angkat dan melihat apotek yang berdiri tegak di hadapanku. Hatiku terus merututi nasibku yang terlalu lama berada di rumah sakit.
Para perawat yang bertugas memberikan obat kini tak kunjung memanggil namaku. Sementara ibu sambung yang duduk di sampingku sudah terlihat gelisah dan menggerutu sepanjang di rumah sakit.
"Lama sekali mereka memanggil namamu. Aku ingin rasanya pergi dan meninggalkan rumah sakit ini. Begitu membosankan melihat semuanya belum lagi melihat dirimu yang seperti ini." Pekik ibu sambungku menatapku.
Aku pun memalingkan wajahku dari hadapannya. Membuang segala ketakutan yang menghantuiku.
"Liyan." Panggil seorang perawat yang berada di apotek. Melihat ke tempat kursi tunggu.
"Siapa?" Tanya ibu sambungku sontak terperanjat tiba-tiba mendengar namaku dipanggil.
Dia langsung beranjak menghampiri ruangan apotek. Berbicara serius dengan perawat yang bertugas memberi obat. Ibu sambungku seakan tidak bisa memalingkan wajahnya sedikitpun.
Dia terlihat begitu ketat menatap perawat itu. Sesekali ibu sambungku melihat beberapa obat yang telah ia genggam. Wajah seriusnya kembali menoleh perawat itu, melemparkan senyum dan berjalan meninggalkan perawat itu.
Tanpa aku sadari ternyata ibu sambungku telah berdiri di hadapan ku. Menyapaku dan melihat ku dengan tajam.
__ADS_1
"Liyan, ayo kita pulang!" Ajak ibu sambungku sambil memutarkan badannya.
"Ia,Bu." Kataku, turun dari kursi.
Kami pun berjalan keluar meninggalkan rumah sakit yang penat dan menakutkan.
"Coba lihat wajah Ayahmu itu!" Kata ibu sambungku menunjuk ke luar pagar rumah sakit. "Wajahnya begitu lelah sangat menyedihkan." Tandas ibu sambungku dengan datar.
Aku hanya diam melihat ayahku yang teronggok di becaknya. Berjalan dan melihatnya dengan lekat.
"Ini anakmu,kami sudah siap dengan rumah sakit ini!" Kata ibu sambungku sedikit kesal.
Ayahku sontak memutarkan kepalanya menoleh ke arah ku. Menatapku lekat bergeming dan tak bersuara sedikitpun.
Kakiku yang kini menaiki becaknya melangkah perlahan menyeret tubuh mungilku yang lemah untuk duduk.
"Kenapa kau bilang begitu?" Tanya ayahku dengan penasaran.
"Ialah anakmu ini selalu sakit." Pekik ibu sambungku melihat ku.
"Kalau kau tidak mau menemani anakku ke rumah sakit,tidak usah! Masih ada aku." Kata ayahku dengan tegas.
Mendengar perdebatan mereka akan diriku membuat ku semakin merasa bersalah. Sudah sewajarnya aku bangkit dari semua ini.
Melatih diriku yang lemah untuk semakin kuat.
"Mulai besok kalau kau tidak mau menemaninya, aku yang akan menemaninya." Kata ayahku dengan tandas.
Ayahku semakin kesal mendengar ucapan ibu sambungku. Dia pun terus mengayuh becak dayungnya dengan kencang.
.
.
.
Tidak berapa lama kami mengarungi perjalanan. Akhirnya,kami sampai di rumah.
"Turun Liyan! Kita sudah sampai." Pinta ayahku sambil melihat ku.
"Ia Ayah." Kataku dengan pelan.
Aku langsung bergegas melangkahkan kakiku menuju rumah.
"Liyan,di mana kunci rumah?" Tanya ibu sambungku menatapku. "Apa ada sama kamu?" Tanyanya kembali.Menacari di dompetnya.
"Tidak ada Bu. Liyan tidak tahu." Sahutku dengan pelan.
Tangannya pun terlihat merogoh dompetnya dengan membolak balik isi dompetnya.
"Cari apa?" Tanya ayahku ingin tahu.
"Cari kunci Ayah." Jawabku dengan pelan. Menatap ayahku.
"Sudah! Ini sudah ketemu kuncinya." Kata ibu sambungku dengan tegas.
"Assalamualaikum." Ayahku melangkahkan kakinya masuk.
"Akhirnya,kita sampai juga disini." Kata ibu sambungku pelan. Duduk meregangkan saraf-saraf nya di lantai.
Aku pun langsung menuju kamarku yang adem.
"Liyan! Teriak ayahku.
Aku yang melepaskan lelah dan sedihku sontak terkejut mendengar teriakan ayahku.
"Ia Ayah,ada apa?" Tanya ku dengan gusar.
"Ini siapa yang makan?" Tanya ayahku menatapku.
"Mana ada yang makan."Kata ibu sambungku spontan. "Siapa yang makan? Mana ada orang dirumah ini." Lanjutnya dengan penuh keyakinan.
Melihat keributan yang terjadi,aku langsung memutar otakku mengingat adikku. Seketika bola mataku berputar melihat sekeliling.
"Ia, mana ada yang tinggal di sini. Kita semua kan pergi." Kata ibu sambungku dengan datar sambil mengingat-ingat seakan dia ada melupakan sesuatu.
Melihat wajah ibu sambungku,aku langsung pergi ke kamar menghampiri tempat tidur. Kedua bola mataku berputar-putar melihat tempat tidur dari sudut ke sudut. Seketika bola mataku terhenti melihat kain yang aneh di sudut tempat tidur seperti, ada seseorang di dalam kain itu. Pikirku.
Spontan lenganku meraihnya dan menariknya dengan keras. Sontak aku terkejut,rasanya jantungku mau lepas melihat adikku teronggok menyembunyikan diri.
"Dek,kau engga sekolah?" Tanyaku dengan berbisik. Menghampiri adikku.
"Sst! Jangan keras-keras kak,nanti Ayah dengar." Kata adikku berbisik dengan pelan. Membuka kain penutup tubuhnya.
"Ayah sudah marah di dapur, tahu engga!" Bisik ku dengan pelan.
"Liyan,siapa temanmu bicara di dalam?" Tanya ayahku sedikit berteriak. Menyibak tirai kamarku dengan keras.
Melihat ayahku telah berdiri dengan wajah pias. Seketika aku menunduk dan diam. Wajah pias ayahku semakin terlihat begitu tajam menatap ku dan adikku.
"Ana kenapa kamu tidak sekolah?" Tanya ayahku dengan keras. Berdiri.
__ADS_1
"Ayah, Ana tadi kesiangan bangun." Jawab adikku dengan pelan. Menunduk.
"Kenapa kamu bisa kesiangan bangun?" Tanya ayahku dengan penasaran. Menatap tajam adikku.
Adikku terlihat begitu bingung,dia mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan ayahku yang terus mencercanya. Sesekali dia melemparkan pandangannya melihat ku. Aku melihat pandangannya yang mengharapkan bantuan dari ku.
"Ayah,Ana tadi tidak di bangunin." Tandas adikku menatap ku.
"Liyan!" Teriak ayahku menatap ku tajam.
Aku pun sontak gelapan mendengar ayahku berteriak kepada ku.
"Ayah, tadi dia sudah di bangun." Kataku dengan lirih.
"Kenapa? Kakak bilang sama Ayah kalau aku tadi,kakak bangunin." Bisik adikku sedikit kesal.
Adikku begitu terlihat meremas jemarinya dengan wajah gusarnya. Terduduk di sudut dengan kecemasan.
"Ayah." Kata adikku. "Ana kan pengen libur sekali saja, Ayah!" Menatap lurus ke depan dengan meneteskan air mata. "Tadi, kakak memang membangunkan Ana,tapi..." Menangis kembali.
Tatapan ku kini berpaling melihat adikku yang pandai berakting. Air matanya begitu banyak jatuh di pipinya yang polos.
Ayahku pun menghilang dari balik tirai kami karena melihat adikku menangis. Amarahnya kini dia bawa pergi bersama kekesalannya.
"Siapa yang kau marahi di dalam kamar itu?" Tanya ibu sambungku ingin tahu.
"Bukan urusanmu." Jawab ayahku dengan lugas.
"Itulah kau,pasti anak kesayangan mu itu,kan." Katanya dengan keras. "Kau kan selalu begitu,kalau masalah anakmu yang satu itu mana boleh ada ikut campur." Kata ibu sambungku semakin keras.
"Masalah anakku yang satu itu! Itu menjadi urusan ku,engga boleh ada yang ikut campur termasuk anakku sendiri si Liyan." Kata ayahku dengan penuh penekanan.
"Heh! Tertawa sinis. "Anakmu itu semuanya menyebalkan.Aku jadi,menyesal menikah samamu." Pekik ibu sambungku dengan meninggi.
" Apa kau bilang! Kau menyesal menikah sama ku.Engga salah! Bukan aku yang mau menikah sama mu,kau yang telah menipu ku. Tapi aku bisa menerima semuanya dan tidak mempermasalahkan itu karena aku sangat membutuhkan mu untuk merawat anak-anakku." Kata ayahku dengan penuh penekanan.
Mendengar pertengkaran hebat mereka dari balik dinding kamarku. Aku semakin ketakutan,diam dan tak bergerak sedikitpun.
Wajah was-was ku pun mulai menari-nari mengisi ruangan kamarku yang penat.
Adikku yang duduk disamping ku terdiam mendengar keributan diluar.
"Kak,ini semua gara-gara aku." Kata adikku menyesal.
"Lalu bagaimana?" Tanyaku. Menatap adikku yang terlihat bingung.
"Aku tidak tahu kak." Kata adikku.Menyerah.
"Jangan tidak tahu dek." Sungut ku pada adikku.
Pertengkaran mereka pun semakin terdengar memenuhi isi ruangan rumah kami. Sedikitpun tidak terdengar tanda-tanda akan mereka mengakhiri pertengkaran.
Spontan adikku beranjak menghampiri mereka. Melepas selimut yang menutupi tubuhnya tadi.
"Ayah sudah jangan ribut." Jerit adikku dengan langkah yang kencang.
"Ana!" Ayahku.
" Itu lihat anakmu itu! Bisa-bisanya dia tinggal di rumah ini sendiri menunggui rumah ini." Pekik ibu sambungku. "Berani kau menunggui rumah ini sendiri sementara engga ada orang di sini." Kata ibu sambungku kembali sedikit meninggi.
"Ayah, sudahlah! Maaf kan Ana." Pintaku dengan wajah memohon. Berdiri di dekat mereka.
Mereka pun diam melirikku sekilas dengan wajah sedikit malu. Ayahku yang tadi berdiri tegak kini pergi ke kamar. Sementara, ibu sambungku masih diam mematung menatap ku dengan kesal.
"Kak,takut!" Cetus adikku spontan. Menggenggam lenganku.
"Dek, kakak pun takut juga." Bisik ku dengan pelan. Menatap ibu sambungku sekilas.
"Makanya,kamu itu sekolah,kan Ayah semalam sudah bilang kalau kamu sekolah.Bukannya libur." Celetuk ku dengan sedikit kasar.
"Kakak,maaf kan aku." Kata adikku dengan lirih. Aku menyesal kak,tadi tidak mau bangun ketika kakak bangunin." Kata adikku melihat lantai.
Setelah semuanya terlihat tenang,aku dan adikku pun pergi dari hadapan ibu sambungku. Kami kembali masuk kamar untuk menenangkan diri kami masing-masing.
Sementara, ibu sambungku hanya menatap kami dengan wajah piasnya. Dia masih berkutat dengan emosi yang menganak di dalam jiwanya.
Dalam perjalanan kami menuju kamar,ayahku telah siap dengan tugas dapur yang setiap hari menantinya.
Sebelum kami melangkah masuk kamar. Ayahku memanggil adikku, dia mengatakan kalau adikku akan mendapat hukuman atas perbuatannya hari ini karena tidak sekolah.
Wajah adikku langsung berubah panik. Kerutan ketakutan kini menghantuinya.
.
.
.
Teman-teman terimakasih telah memberikan like, komentar, favorit dan juga votenya. Salam kenal dari aku...🤗🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung....