
"Itu 'kan, si Liyan suka," sambung Widia sumringah. "Apa kubilang," lanjutnya dengan hati yang percaya diri.
Septiani tersimpul manis bercampur sedikit ragu menatapku dengan lekat dengan sorot mata yang tersimpan belum sepenuhnya percaya dengan yang diucapkan oleh Widia.
"Liyan, kami ke sini mau mengajakmu bermain. Septiani katanya, "udah lama gak bermain samamu, kayak dulu," kata Widia, menatapku dengan penuh harap agar aku mau menerima ajakkannya.
"Aku gak dikasih keluar," ucapku penuh sesal. Berdiri menatap mereka yang berdiri di luar.
"Iya Kak. Kami gak dikasih keluar sama Ayah kami," sambung adikku mengatakan hal yang sama tanpa sengaja dia menolongku tanpa kuminta.
"Emang Ayah kalian ke mana?" tanya Septiani penasaran. Berdiri dengan menyandang tas ransel mungil miliknya.
"Ayah kami lagi sholat jumat, Kak," jawab adikku yang yang suka bicara. Berdiri menemaniku di samping dengan wajah manjanya yang imut.
Namun, aku hanya diam saja melihat mereka yang saling melemparkan bahan pembicaraan satu sama lain. Melihat Septiani yang tiba-tiba hadir malah membuatku semakin dilema.
" 'Kan, keluarnya di sini saja," bujuk Widia ngotot, menatap kami dengan harapan yang besar.
Dia menatap Septiani yang diam saja yang sedang melihat bajunya yang cukup mahal itu. Aku pun, ikut mengikuti Widia yang melihat baju Septiani yang lumayan bagus.
"Liyan, Ayahmu lama pulangnya?" tanya Septiani yang tiba-tiba ringan mau membuka mulut.
Sontak aku gugup mendengarnya. "Aku gak tau. Tapi tadi, Ayahku berpesan pintu jangan dibuka," balasku pelan, menatap Septiani dengan keraguan.
"Emang mau ke mana, Kak?" tanya adikku yang selalu ingin tahu urusan orang lain.
"Mau bermain," jawab Widia dengan ramah.
Adikku langsung menunduk murung. Aku yang melihatnya sangat sedih karena dia tidak bisa lagi, seperti itu.
"Kami belum berani untuk keluar," kataku langsung menunduk melihat jerejak jendela yang kupegang.
"Padahal kami kemari mau ngajakmu bermain, Liyan," tutur Septiani yang membuatku kembali menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Di luar mereka berdua menggantungkan harapannya agar bisa bermain bersama. Akan tetapi, setelah berjumpa semuanya tidak sesuai dengan rencana yang telah diatur dari awal.
"Tapi 'kan kita mau menyampaikan sesuatu pada, Liyan," singgung Widia, melirik ke arah Septiani.
"Iya," jawab Septiani sedikit malu.
__ADS_1
"Menyampaikan apa?" tanyaku ingin tahu.
Kini mereka berdua kembali diam dan saling menatap satu sama lain. Aku yang antusias ingin tahu terus menatap mereka dengan tajam tanpa berkedip sekali pun.
"Liyan, Septiani datang ke sini mau minta maaf," kata Widia yang membuatku terkejut.
Aku seakan mendengar hal yang belum pernah kudengar. Membelalak sambil menganga, seperti orang bodoh, bengong menatap mereka berdua.
Adikku yang selalu ingin tahu. "Kak, 'kan belum hari raya," tegurnya dengan polos, masih berdiri menemaniku.
Mendengar adikku yang nyeleneh membuatku ingin tertawa. Masalah yang tadi kembali mengguncang diri kini hilang terlepas begitu saja.
"Iya, Liyan. Aku udah jahat samamu," ungkap Septiani menyesal, menunduk malu.
Belum lagi aku sepenuhnya percaya kalau Septiani yang meminta datang ke sini. Sekarang malah aku mendengar lagi yang membuat napas ini ingin berhenti.
"Liyan, bukan itu aja. Tania dan Ecy pun minta maaf padamu," lanjut Widia yang tambah mengagetkan aku. "Kata Tania, "dia mau pindah sekolah jauh," sambung Widia, menatap Septiani dengan sorot mata yang tersimpan kebenaran.
"Baguslah, Kak. Berarti gak ada lagi yang jahat di sekolahan kita," sela adikku memotong pembicaraan.
"Ana," tegurku pelan. "Diam jangan menyela, gak boleh," kataku menegur adikku keras.
Raut muka Septiani langsung berubah malu setelah dia melihat reaksi dari adikku. Aku yang sengaja menatap ke arahnya sangat malu dan merasa tidak enak hati karena ulah adikku.
Betapa malu sekali rasa Septiani karena adikku yang polos berbicara selantang itu di hadapan mereka.
"Iya, Liyan. Tania gak akan sekelas lagi dengan kita," lanjut Widia memberitahu kembali. "Karena itu Septiani menemuiku dan mengajakku ke rumahmu," terangnya menjelaskan.
Aku terus menyimak yang diucapkan oleh Widia. Menatap Widia dengan dalam dan sehingga mengingatkan aku kembali dengan sikap Widia yang dulu yang menolak keras agar aku tidak memaafkan Septiani.
"Iya, Liyan. Kalau Ecy dia jadi, ikutan minta maaf juga," sambung Septiani yang lebih tahu semuanya.
"Mungkin dia takut karena dia gak punya kawan lagi yang jahat," sambung adikku kembali memotongnya dengan enteng.
Lirikan mataku yang tajam kembali menyorot adikku yang polos dan membuang muka dariku.
Hari ini aku semakin menahan malu di muka kedua temanku karena ulah adikku yang selalu sok ingin tahu.
"Kami gak tau," jawab Septiani acuh. Berdiri melihat bajunya dan tali tas ransel yang disandangnya.
__ADS_1
Sementara Widia, dia begitu asyik melihat bunga yang berjejer rapi di bawah jendela kamar kami. "Liyan, jadi, kalian di rumah saja?" tanyanya kembali, menyentuh bunga warna putih yang mekar.
"Iya," jawabku singkat, melihat keluar jendela.
"Ibumu ke mana?" tanya Septiani memecah kebisuannya.
Glek!
Aku terkejut dan menunduk sedikit memutar pikiran untuk mencari jawaban yang harus kuberikan pada Septiani. Diam sambil terus berpikir aku teringat dan langsung menatap adikku yang kembali menunjukkan wajah tidak suka mendengarnya.
"Liyan, kenapa kau diam saja?" tanya Septiani kembali yang merasa penasaran sedikit.
"Mungkin Liyan gak tau Ibunya pergi ke mana," jawab Widia tanpa kusuruh, memutar badan dan beranjak dari jendela.
"Kenapa gak tau?" tanya Septiani yang kesal sendiri, memutar badan miring, di ikuti sebelah tangan kanannya memegang jerejak.
Mendengar pertanyaan Septiani. Widia berhenti langsung memegang potongan ranting dan seketika menoleh melihat Septiani. "Siapa tau Liyan dan Adiknya masih tidur," jawab Widia dengan entengnya. Tanpa sengaja dia telah menolongku.
Septiani tidak lagi mau berucap. Dia seolah kalah berdebat dengan Widia. Beranjak dari jendela meninggalkan kami begitu senang sekali bagi mereka. Bermain berdua dengan riang di bawah pohon jambu.
"Liyan, kami belajar menggambar, ya," kata mereka meminta izin mencoret tanah, seperti yang sering dilakukan adikku.
"Iya," jawabku tersenyum manis karena mereka berdua hari telah menghiburku sedikit.
"Widia, kau gak kena marahi?" tanya Septiani sambil menepis daun yang terbang menutupi tanah.
"Aku udah bilang mau ke rumah Liyan, ada tugas," jawab Widia gamblang.
Aku dan adikku terus menatap mereka berdua yang sedang bermain dengan riang. "Kak, kita kapan kayak gitu lagi?" tanya adikku sendu.
"Mungkin kalau kita udah besar," jawabku begitu saja, melihat mereka yang tiba-tiba datang.
"Bukannya kau bilang Ibumu selalu galak?" tanya Septiani lagi. "Liyan, kau lihatin kami di situ saja, ya!" suruh Septiani, mengayunkan potong ranting di udara.
"Iya," jawabku dengan sedikit keraguan yang masih terbersit di hati.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...