
"Jadi, gara-gara itu kalian nunggu Ayah di sini," lanjut ayahku yang tidak menatap kami dengan curiga.
"Iya Ayah," jawabku langsung.
Kami berdua berdiri sambil melihat ke arah kami masing-masing. Ayah yang kembali membetuli tutup becaknya dengan tenang sekali.
"Nak, malam ini kalian makan apa ?" tanya ayahku, mengikat tenda becaknya.
"Ayah, kami mau jajan aja," pintaku memohon.
"Jajan?" tanya ayahku menghentikan ikatannya.
"Iya Ayah. Kami tadi gak jajan," kata adikku yang suka mengutarakan yang diinginkannya. "Ayah, kami pikir Ayah pulangnya malam," lanjutnya.
Segaris senyum tersimpul di wajah ayahku yang lelah. "Nak, kalau Ayah pulang malam 'kan, kalian di situ!" ucap ayahku dengan senang menunjuk rumah kerabatnya.
Muka aku dan adikku langsung berubah masam mendengarnya. Betapa ingin sekali aku mengatakan pada ayahku kalau kerabatnya itu tidaklah baik.
"Nak, itu Bibimu yang mengasih Ayah nitip becak di sini," ungkap ayahku merasa berhutang budi. "Jadi, dia itu tidak akan jahat. Apalagi Anaknya," lanjutnya penuh dengan pujian yang mematikan. "Tadi kalian bertemu dengan Anaknya 'kan?" kata ayahku, melayangkan pertanyaan yang berikutnya kepada kami.
Ingin sekali aku menyuruh ayahku untuk diam. Akan tetapi, semua itu terpaksa aku urungkan melihat dia yang sudah lelah dan terlalu berprasangka baik pada kerabatnya itu.
"Kalau Ayah pulangnya malam. Bibi kalian sudah bilang, kalau kalian di rumah saja dulu sampai Ayah pulang," cetus ayahku yang merasa dihargai oleh kerabatnya itu. "Anaknya juga bilang, kalau dia akan bermain nanti sama kalian," ucapnya yang semakin percaya dengan semua ucapan mereka.
Ayahku yang terus merapikan tutup becaknya setiap detik berkata mengenai kerabatnya yang tidak baik itu. "Makanya Ayah bawa kalian ke sini karena Anaknya mau bermain dengan kalian, katanya," ungkap ayahku yang tidak mengetahui sebenarnya.
Jenuh dan bosan itulah yang kamu rasakan ketika ayahku memuji mereka yang sangat baik itu. Sesekali aku menghela napas bosan mendengarnya. Sepertinya ayahku terlalu di budakkan oleh kata-kata manisnya yang bermuka dua itu.
"Kalau nanti ada makanannya pasti dibaginya dengan kalian," papar ayahku dengan gurat wajah senang dan bahagia akan ucapan kerabatnya yang tidak benar itu.
Kedua tungkai kaki yang lelah karena berdiri kuseret perlahan mendekati adikku yang sudah bosan mendengarnya.
"Ana, Ayah gak tau ya, 'kan?" tanyaku menganggap ayahku yang terlalu naif. Berdiri melihat adikku yang diam saja.
__ADS_1
"Aku gak tau Kak karena aku lapar," jawab adikku membuat darahku naik turun.
"Ana!" teriakku kesal berbisik di telinganya. Aku geram sekali mendengarnya. Refleks aku menyeret tungkai kaki ini dengan kencang menjauh dari adikku yang berdiri mematung.
"Liyan, ayo Nak! Kita pulang sekarang," ajak ayahku lemah lembut, melirik jendela rumah dan pintu rumah kerabatnya yang dia anggap baik itu.
"Iya, Ayah," sahutku, menyeret kaki dengan malas.
Rumah kerabat yang tertutup rapat itu terus ditatap ayahku sambil mengucapkan kata-kata pamit. Kaki pun sudah melangkah jauh dari becak yang terparkir.
"Ayah, kita pulang saja. Aku udah lapar," bujuk adikku. Berdiri menarik lengan ayahku sambil melihatnya yang lebih tinggi dari kami.
"Ayah, aku juga lapar. Dari tadi aku mau pulang ke rumah. Tapi kami takut gak bisa masuk," keluhku mengadu sambil memegang tangan ayahku yang sudah lelah.
Semilir angin terus berembus mengibas baju yang aku pakai. Berjalan menatap kaki yang melangkah, di ikuti oleh sebelah tangan kanan merapikan baju yang terbang terbawa angin.
"Ayah, kalau sampai rumah kita langsung makan, ya!" harap adikku memohon dengan gurat wajah lelah.
"Kami udah lama menunggu Ayah. Kami pikir Ayah gak pulang," kataku, melihat jemari ayah yang menggiringku.
"Hahaha!" Ayahku tertawa lucu mendengar keluh kesahku. "Nak, gak mungkin Ayah gak pulang. Ayah pasti pulang walaupun malam?!" balas ayahku menunduk melihatku.
"Karena Ayah lama kali," sambung adikku sebal. "Kami udah kelaparan, Ayah belum pulang," timpalnya sebal.
Separuh jalan telah kami lalui untuk sampai ke rumah. Awan yang mendung sangat menyerang kaki yang melangkah . Sesekali aku melihat ayahku melihat langit dan semakin menyeret kaki dengan kencang.
"Nak, 'kan, sudah Ayah bilang, kalau Ayah lama pulangnya malam kalian di situ saja dulu. Bibi kalian itu baik, Nak," tutur ayahku dengan santai.
Muka adikku langsung menunduk dan berubah masam perlahan. Jalan yang kami lalui ditatapnya sampai dia bosan dan menaikkan kembali pandangan.
Ayahku terus saja memuji kerabatnya yang tidak baik itu. "Kalau Ayah ke malaman pulang . Ayah sudah bilang, kalau kalian Ayah titip di situ dulu," sambung ayahku membuka mulutnya kembali mengatakan hal yang sama.
Telinga yang sepanjang jalan terlalu sering mendengarnya. "Ayah, itu jajan!" dalihku melupakan yang dikatakan oleh ayahku. "Ayah, kami beli jajan aja dulu. Dari tadi aku pengen jajan," rintihku, melihat warung yang masih terbuka.
__ADS_1
"Kakak betul, Yah. Beli jajan saja dulu. Kalau kami udah jajan. Kita gak usah makan lagi, Yah," saran adikku yang membuat ayahku tertawa geli mendengarnya.
"Nak, kau itu terlalu banyak tau," ucap ayahku menggeleng menatap warung yang terbuka. "Kalau mau jajan. Bilang saja, pasti Ayah belikan?! Gak usah pakai gak makan," ujar ayahku, membelok ke warung.
Hatiku sangat senang. Akhirnya, setelah sekian lama aku kepingin beli jajan tidak kusangka kesampaian juga. Teriakan bahagia keluar dari dalam diri adikku juga. Muka yang tadi cemberut kesal mendengar ocehan sang ayah mengenai kerabatnya yang baik kini ceria.
"Kak, aku beli yang itu!" teriak adikku dengan bahagianya.
"Kalau Kakak beli yang itu, Dik," sambutku, berjinjit mengambil jajan.
Sungguh senang dan bahagia ayahku ketika tanpa sengaja dia melihat aku yang mengambil jajan sendiri.
"Liyan, hati-hati ! Awas, jajannya jangan sampai jatuh," tegur ayahku yang mengambil uang dari dalam dompetnya.
Jajan yang sudah ada di tangan begitu menghibur hati yang tadi sedih akibat menahan lapar. Jajan kesukaanku pun kubuka segera tanpa menoleh ke arah adikku yang tidak bersuara.
"Bagaimana, Nak? Kalian sudah senangkan? Sekarang kalian sudah jajan," ucap ayahku dengan kedua mata berbinar. "Sekarang ayo! Kita jalan lagi!" ajak ayahku sambil menarik lenganku dan adikku.
"Ayah, tunggu sebentar!" pinta adikku, membuat jajan yang dari tadi belum terbuka.
"Ada apa, Nak? Kenapa berhenti ?" tanya ayahku yang tidak mengetahui kekacauan adikku.
"Ayah, jajannya payah dibuka,"rengek adikku, memberi jajan ke tangan ayahku.
Ayahku langsung tersentak dan aku yang sudah memakan jajan pun, ikut menertawai adikku yang tiba-tiba baik budi pekertinya.
"Susahnya kenapa, Nak?" tanya ayahku sambil membuka jajan.
"Jajannya gak mau terbuka, Yah," keluh adikku dengan wajah manjanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...