Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ayahku shock


__ADS_3

"Bukan kayak gitu, Dik," dalihku, memutar tubuh dan keluar.


Jeglek !


Pintu pun terbuka. Langkah kaki ini langsung terhenti. Mukaku langsung pucat melihat pintu tiba-tiba terang.


"Ayah," gumamku pelan, melihat ke pintu.


"Assalamualaikum. Anak Ayah lagi apa?" tanya ayahku sumringah.


"Wa'alaikumussalam Ayah. Kami lagi nunggu Ayah pulang," jawab adikku langsung berlari mengejar ayahku.


"Hahaha!" Tawa adikku pelan dan sangat senang menyambutnya. "Ayah, kami udah lama di rumah," kata adikku, memeluk ayahku.


" 'Kan Ayah sekarang udah pulang," balas ayahku. Berdiri menunduk melihat adikku.


"Tapi, Ayah lama kali," kata adikku, melihat ayahku yang lebih tinggi darinya.


"Nak, Ayah 'kan lagi cari uang. Untuk jajanmu," papar ayahku, memeluk adikku.


Kakiku langsung maju menghampiri ayahku. "Ayah, kami tadi takut di sini," ungkapku. Berdiri di belakang adikku.


Lalu ayahku menaikkan kepalanya melihatku. Diam dan menarik napas. "Nak, tapi pintu 'kan udah Ayah suruh dikunci," kata ayahku, melihat ke arahku yang berdiri di belakang adikku.


Mulutku langsung tertutup rapat. Tidak ada keberanian belum untuk memberitahu ayahku.


"Ayah, ini 'kan udah malam. Ayah hari ini pulangnya lama," sesal adikku dengan wajah cemberutnya.


Sambil terkejut, ayahku langsung memutar kepala sedikit mering melihat ke luar pintu. "Ayah, lihat di luar masih terang," balas ayahku.


"Tapi di dalam gak, Yah," sambungku, mengikuti ayahku melihat ke luar pintu.


Lekas tubuh ayahku langsung terjatuh berjongkok. "Nak, maaf 'kan Ayah, ya. Kalau Ayah pulangnya lama," sesal ayahku. Duduk melihat muka adikku yang mengadu sedih. "Tapi 'kan, sekarang Ayah udah pulang. Jadi, kalian berdua tidak perlu takut," kata ayahku, mengelus kepala adikku dan melambaikan tangan memanggilku mendekat.


"Ayah, 'kan aku takut kalau Ayah gak di rumah," jawab adikku merapat di pelukan ayahku sambil mengalihkan tangan ayahku.


Aku langsung terdiam bersandar di lemari pakaian. Mata yang bertemu tatap pun dengan adikku langsung terjatuh lesu bercampur sedih.


"Nak, Tapi 'kan ada Kakakmu," terang ayahku. Menatap adikku.


Adikku ingin sekali tertawa mendengarnya. "Yah, Kakak itu penakut. Mana mungkin Kakak Ayah suruh?!" lanjut adikku, bersandar dipelupukkan ayahku.


"Tapi 'kan kalau berdua gak seram," kata ayahku menggoda adikku yang cerewet. Bangun dan berjalan meninggalkan kami berdua. "Liyan, apa Ibumu udah pulang?" tanya ayahku mendadak berhenti dan memutar kepala ke belakang. Menatap dengan wajah resah.


Kami berdua pun bertemu tatap. Adikku begitu sangat tenang. Dia sama sekali tidak terlihat, seperti diriku yang cemas dan panik.

__ADS_1


"Liyan, apa Ibumu sudah pulang?" tanya ayahku mengulanginya kembali, memutar badan menatap lurus ke arah kami berdua dengan penuh tanda.


"Ayah, rumah sudah gelap," kata adikku memotong pembicaraan ayahku.


"Iya Nak, akan Ayah hidupkan," sambut ayahku berjalan mengambil lampu.


Lampu setrongking pun dipasang ayahku. "Hihihi, akhirnya terang, Kak," kata adikku mendekati ayahku sambil tertawa senang.


"Kalau Ayah gak pulang, mungkin kami gelap-gelapan, Yah," ucapku mengadu dengan gurat wajah sedih.


"Tapi Liyan, pertanyaan Ayah belum di jawab," kata ayahku mengulanginya kembali. Menatap dengan wajah penuh harap.


"Ayah, Ibu pergi," jawabku langsung menunduk bercampur rasa takut.


Deg!


Jantungku langsung lemas setelah mengatakannya pada ayahku. Seketika tatapan kedua mata menunduk penuh sesal.


"Pergi ke mana, Nak?" Tanya ayahku ingin tahu, melepaskan lampu dan memutar badan bercampur terkejut.


"Apa Ibumu bilang dia ingin pergi ke mana?" tanya ayahku.


Aku lalu menggeleng. "Engga Ayah," jawabku pelan dan menatap ayahku yang terkejut.


"Ayah 'kan masih punya kami," selah adikku langsung memotong pembicaraan ayahku.


"Iya, Ayah masih punya kalian," lanjut ayahku, memeluk kami berdua.


"Kami gak akan ninggalin Ayah," tuturku, melihat jemari ayahku yang memeluk dengan erat.


"Iya Ayah sampai kapan pun, Ayah akan jadi Ayah kami berdua," cetus adikku, melihat ayahku dengan iba.


"Terimakasih Nak!" ungkap ayahku langsung membalasnya.


Kami bertiga pun saling berpelukan. "Ayah, sekarang Ayah gak usah sedih," harapku memohon.


"Iya Nak! Ayah gak akan bisa ninggalin kalian berdua lagi lama-lama," terang ayahku sedih.


Sungguh senja ini membuat aku dan adikku ikut bersedih. "Ayah," panggil adikku dengan lembut, memutar wajah ayahku dari hadapanku dengan refleks. "Aku udah lapar," ucap adikku memohon harap.


Refleks pelukkan ayahku pun langsung lepas dan aku pun langsung menjauh bersandar di dinding lemari.


"Baiklah, Nak akan Ayah masakkan sekarang makanan kalian," ucap ayahku dengan senang.


"Mari Ayah kita masak!" ajak adikku. Berjalan ke belakang memegang tangan ayahku.

__ADS_1


Sungguh sedih sekali melihatnya. Adikku tidak suka kalau ayahku menyayangiku. Berdiri seorang diri inilah yang bisa aku lakukan.


"Liyan, sini sama Adikmu," kata ayahku, memanggil dengan tatapannya.


"Iya Kak, ayo sini!" panggil adikku melambaikan sebelah tangannya.


Kepala langsung aku naikkan melihat lurus ke depan ke arah ayah dan adikku. " Iya Ayah," jawabku. Berjalan ke dapur.


"Kak, duduk di sini!" seru adikku, meletakkan bangku kecil. "Aku mau lihat Ayah masak," lanjutnya berlari dengan suara manjanya yang gemas.


Bangku yang sudah terletak di sudut dinding pun terpaksa aku duduk termangu dan heran melihat adikku yang berlari mengambil bangku dari luar.


"Ayah, aku mau lihat Ayah," kata adikku memohon, meletakkan bangku dan berdiri.


"Ana, ini udah malam jadi, jangan ganggu Ayah. Biar kalian cepat makan," pinta ayahku mengiba.


"Engga apa-apa, Yah," jawab adikku langsung. Berdiri tepat di atas meja yang lebih tinggi darinya.


"Nak, duduklah di situ bersama Kakakmu!" seru ayahku, menunjuk ke arahku.


"Ayah, tapi aku mau melihat Ayah memasak," rengek adikku kembali memohon.


Refleks aku juga menyahutnya. " Kakak juga mau lihat Ayah masak," sambungku dari belakang.


"Engga! Kakak gak boleh. Kakak duduk aja di situ!" lanjut adikku tegas. Kakak 'kan sakit," ucapannya dengan gamblang, menutupi ruang yang kosong.


"Biar Kakak cepat sembuh," balasku enteng.


Kepala adikku refleks berputar melihatku. " Kak, biar aku aja. Kakak duduk aja di situ!" ucap adikku kembali, mendelik bercampur sebal.


"Kalian berdua, selalu bertengkar. Kalian itu 'kan sudah Ayah bilang berkali-kali jangan bertengkar!" tegur ayahku dengan tegas, meletakkan pisau seketika.


Tatapan kami langsung menunduk dan mengunci mulut dengan rapat. Duduk mematung. Adikku yang tadi berdiri kini menyeret bangku jauh dari ayahku.


Lain halnya dengan aku yang sedikit tertawa jahil melihat adikku yang mendadak diam. Hal ini semakin mengikuti langkah kakinya yang berjalan membawa bangku.


"Aku duduk di dekat Kakak aja, ya!" pamitnya meminta izin padaku.


Diriku semakin lucu melihatnya yang tiba-tiba lupa akan kemarahan ayahku. "Kak, Kakak gak mau lihat Ayah masak?" tanya adikku.


"Engga, nanti Ayah marah," bisikku di telinga adikku.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2