
Seperti sebelumnya, obat yang terletak di atas meja telah menanti untuk di raih. Dengan kebisuannya ia melihatku dari kejauhan.
Bersama kesedihan aku menunduk melihat lantai. Tangis yang tadi menderaku bersama dentingan jam, menghilang sudah! Pergi meninggalkanku sendiri dengan harapan bahagia akan kembali menghampiri.
Kesedihan yang membelenggu dengan tajam menyayat hidup, memaksaku untuk tegar dan bertahan.
Tak ada yang bisa aku sampaikan saat ini kepada adikku! Hanya pandangan mata yang kosong dengan harapan yang dalam yang bisa aku berikan untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Kalau begitu, ayo kita ke depan! Duduk bersama Ayah." Ajak adikku lembut. Duduk sambil memutarkan jemari.
"Ia dek!" Sahutku datar. Berdiri menaruh piring yang kotor.
Bersandar dengan ajakan adikku. Kemudian aku memutar badan ke belakang berdiri diam melihat adikku berjalan, begitu besar rasa kasih sayang yang bersemayam dalam dirinya saat ini. Sehingga membuat aku kagum dan tertegun.
Rasa takut yang masih bersemayam menyelimuti tubuh kembali meremas jemari dengan kuat, memutar kedua bola mata melihat ayah dan ibu sambungku. Bibir kecil yang pucat menjadi teman sepiku saat ini.
Suara hentakan kaki adikku berjalan menyisakan jejak, harusku ikuti sekalipun aku dalam keadaan terbenam. Perlahan kaki lemah mengayun selangkah demi selangkah menghampiri ayahku. Bersama kedua bola mata yang sendu, aku melihat lekat ruangan yang ingin aku hampiri sambil mencengkram baju yang tergantung di tubuh lemah.
Lidah yang tidak dapat berucap, bersama dengan ku melewati tajamnya tatapan ibu sambungku yang terduduk berdekatan dengan adikku.
Wajah senja ayahku yang ketat semakin mencengkram jiwaku rasanya saat ini.
"Liyan, kau sudah makan?" Tanya ayahku. Duduk mengangkat kepala. Meneguk air.
"Sudah Ayah." Jawabku pelan. Menunduk sambil meremas kedua jemari dengan kuat.
"Ia Ayah, kakak sudah makan di dapur!" Sambung adikku. Duduk bersila. Melihat ayah dan aku.
Semakin aku menunduk, aku semakin takut melihat raut wajah ibu sambungku yang begitu tajam melihat seakan memberikan sebuah ancaman besar untukku. Seketika aku semakin panik dan gemetar. Wajah piasnya begitu menghantam.
"Liyan, kenapa makan di dapur?" Tanya ayahku ingin tahu. Mendesis.
"Ayah, Liyan kepingin makan di dapur." Jawabku . Menunduk dan melihat dengan gurat wajah seakan aku menyukainya.
"Lagian, engga apa-apa kan! Kalau Liyan makan di dapur." Sambut ibu sambungku. Melirikku dan menyeringai.
Apalagi yang akan terjadi dengan wajah pias ayahku ketika mendengar sambutan ibu sambungku. Semakin lama aku semakin gemetar melihat mereka.
"Liyan, cepat minum obatmu!" Perintah ayahku. Menunjuk obat dengan lirikannya yang tajam.
"Jangan tunggu lama-lama, nanti kau lupa!" Lanjut ayahku. Sambil menutup cangkir.
"Kalau kau lupa, nanti kau sakit lagi!" Sambung ibu sambungku dengan wajah datar. Melirikku dan mengikuti langkah.
Mau sampai kapan? Aku seperti ini, di marahi karena kesalahan kecil, apalagi kesalahan besar yang telah aku perbuat pasti akan lebih menyakitkan sama seperti yang terjadi tadi.
"Ia Ayah, Liyan akan meminum obat yang dari rumah sakit tadi." Jawabku. Berjalan mengambil obat yang terletak di atas meja.
Obat ini harus aku minum walaupun pahit rasanya karena pahit obat ini tidak akan berasa apapun dari pahitnya hidupku.
Gelas kosong yang terduduk di atas meja kuambil kemudian aku isi dengan air dan meminumnya bersama obat yang ada.
"Liyan, kalau kau sudah selesai minum obat, pergi tidur! Dan ingat, jangan coba melakukan kesalahan seperti tadi, besok!" Kata ayahku dengan tegas dengan menekankan. Menatapku dengan tajam. Menyusun piring dan gelas kotor.
"Dengar Liyan, ingat penyakitmu! Betapa susah kita untuk mencari jalan agar kau bisa sembuh! Ini malah kau pergi dengan temanmu yang tidak jelas itu!" Sindir ibu sambungku. Berdiri sambil mengambil piring dari meja ayahku dan membawa ke dapur.
Mendengar sindiran ibu sambungku rasanya, aku seperti berkubang dengan kesalahan.
"Ayo kita tidur kak!" Ajak adikku. Berdiri sambil melihat.
"Ayo! Ayah, Liyan pergi tidur dulu." Ucapku pelan. Meletakkan gelas.
"Ia! Jangan bertengkar kalian berdua di situ!" Tuntut ayahku. Melihat. "Dengar ya! Jangan ada yang berteriak apalagi menangis." Lanjut ayahku kembali. Memutar kepala melihat malam yang gelap.
"Ia Ayah, Ayah tenang saja!" Jawabku pelan seakan memberi keyakinan penuh. Memutar badan meninggalkan ayahku.
Aku pun berjalan menghampiri adikku yang menunggu di sudut pintu kamar.
"Kak cepat! Ana sudah ngantuk!" Seru adikku. Menguap dengan mengucek kedua mata.
Eem! Kataku sambil mengangguk kepala. Berjalan melihat lantai.
Tirai kamar yang tergerai pun terbuka dengan lebar mempersilahkan kami masuk dengan sapaan hangatnya.
Aku masuk bersama adikku mengikuti dari belakang, sebelumnya kesedihan begitu menimpaku dengan segenap ketulusannya, hingga membuat air mata berderai di tengah sakit yang menyelimuti.
Bersama langkah yang mengayun pelan, aku menaikan tubuh lemah ke atas tempat tidur yang menjadi penenang dan pelepas diriku dari gelisah batin yang menimpa.
__ADS_1
"Kak, ini selimut kakak!" Ucap adikku. Memberi kain kepadaku.
Adikku yang bersama dengan ku, begitu simpati melihatku sehingga ia begitu memperhatikan aku.
"Kakak di marahi Ayah terus satu hari ini!" Sindir adikku. Memberi bantal. "Kakak sih, pergi engga memberi tahu! Seharusnya kakak beri tahu padaku, biar Ayah tahu." Sambung adikku. Melihat selimutnya.
"Kakak bingung! Sebenarnya kakak sudah menolak ajakan mereka, tapi mereka tetap memaksa kakak." Ucapku dengan penyesalan penuh. Memasang wajah sendu.
"Emang teman yang mana, kak?" Tanya adikku dengan penasaran. Memutar badan ke arahku.
"Kakak punya teman baru. Dia baru pindah ke kelas kakak, sewaktu kakak engga masuk sekolah." Sambungku dengan lesu. Menarik selimut menutupi seluruh tubuh.
"Kan, kakak bisa bilang samaku, datangi ke kelasku!" Sambut adikku kembali. Bersandar di dinding.
"Tapi kakak takut, kalau Ayah tidak mengizinkan kakak untuk ikut." Kataku pelan. Mendekap selimut dengan kuat.
"Pastinya sih, ia! Ayah tidak akan mengizinkan kakak." Balas adikku. "Karena kakak anak kesayangan Ayah juga!" Lanjut adikku. Duduk.
"Selain Ibu baru kakak, Ayah juga sayang sama kakak." Ucap adikku kembali. Melihat ke depan dengan wajah di tekuk. "Setiap kali Ayah bilang, kalau dia takut kakak hilang. Hahaha!" Timpal adikku dengan tertawa geli sampai tubuh kecilnya berguncang.
"Apa?!" Sambutku dengan tersentak. Melihat adikku yang meledek dengan kesal. "Kau senagaja ya meledek!" Tandasku kesal. memukul adikku dengan bantal.
"Emang ia! Kakak tahu engga! Ayah sering bilang, 'Ana Ayah takut kalau kakakmu itu hilang, tolong kau jaga kakakmu di sekolah ! '
Lucu , kak! Hahaha!" Lanjut adikku dengan wajah mengejek sambil tertawa.
"Bohong! Mana mungkin Ayah bilang begitu." Sambungku dengan wajah tidak percaya. Memonyongkan bibir pucat. "Yang ada Ayah engga suka kakak punya teman." Timpalku dengan kesal. Menarik bantal kembali.
"Engga percaya! Besok kita tanyak sama Ayah, ya!" Lanjut adikku dengan tegas seakan ia melemparkan ancaman keras terhadapku. Mengayunkan telunjuknya ke udara.
"Ja-jangan, jangan, jangan sampai kau bilang sama Ayah dan jangan juga sampai Ayah tahu." Bisikku. Mendekatkan mulutku di telinga adikku.
"Aku engga janji! Kalau ayah tahu sendiri, bagaimana?" Lanjut adikku dengan melemparkan pertanyaan sebuah ancaman. "Kakak kan tahu! Ayah terkadang suka nguping di balik tirai." Lanjut adikku sedikit menekan suaranya. Mengarahkan kedua matanya melihat tirai.
wajah pucatku kembali lagi terlihat sendu. Tirai yang terpasang dengan tegak seharusnya menjadi penghalang dan pelindung, ini malah akan menjadi bumerang yang begitu di takuti.
"Sudah kak! Sekarang ayo kita tidur! Besok kita mau sekolah." Ucap adikku dengan menaikkan alisnya sebelah. Tersenyum semrik.
Kemudian aku pun menyeret tubuh mungil yang lemah berbaring dengan bantal yang terletak di bawah kepala, bersama selimut yang menutupi tubuh. Lalu aku memutar kepala melihat adikku yang sudah tertidur dengan pulas. Sepertinya baru tadi ia bicara kepadaku, pikirku! Melihat dengan tertegun.
Aku pun menarik napas dengan panjang dan menghembuskan dengan kasar. Tubuh lemah mungil yang sudah lama berpikir, mengingat lintasan peristiwa tadi siang yang aku jalani. Beranjak melepaskan dengan ikhlas dan menarik tubuh tidur dan melelapkan mata.
Temaram pagi pun mengusik tubuh mungil yang lemah. Udara dingin masuk menghampiri tubuh lemah yang menghadirkan kesadaranku hingga membuka kedua mataku dengan tersentak. Entah kenapa? Aku hari ini begitu malas untuk bangun, apalagi harus melihat temanku.
Adikku yang mengusik kesedihanku tadi malam . Terlihat masih tertidur dengan pulas sambil menarik selimutnya dengan mata yang masih terpejam.
"Ana, bangun! Sudah pagi! " Panggilku dengan sedikit berteriak. Menarik selimut adikku. "Ana sudah pagi! Ayo bangun, nanti kita terlambat sekolah." Sambungku kembali. Menarik hidung adikku.
"Aku masih ngantuk kak! Kita libur saja!" Timpal adikku. Menepis tangan.
"Nanti Ayah marah lagi samamu, kau engga ingat kemarahan Ayah yang lalu!" Ucapku dengan kesal. Memutar badan.
"Yang mana, kak?!" Tanya adikku dengan suara parau. Menutup mata dan memiringkan badan menghadap dinding.
"Yang kemaren, kau pernah libur diam-diam!" Sindirku dengan datar dan wajah sedikit mengejek.
"Ha! Seketika adikku terperanjat duduk dan langsung membuka kedua bola matanya dengan lebar. "Lalu kenapa kakak masih duduk di sini?" Tanya adikku dengan penuh tanda tanya. Bengong.
"Kakak menunggumu!" Sambutku dengan tegas. "Biar kita pergi sama ke kamar mandi." Lanjutku . Memelas.
"Kalau begitu, kita nanti bisa terlambat kak!" Tandas adikku. Melempar selimut dan beranjak dari tempat tidur. Bingung.
"Ayah masih marah!" Ucapku dengan lirih. Menunduk.
"Apa kakak masih di marahi oleh Ayah lagi?!" Tanya adikku ingin tahu. Berhenti dan melihatku tajam.
"Tadi malam!" Jawabku spontan. Mendelik.
Melihatku adikku langsung lemas dan terkulai. Ia begitu kecewa sambil menggaruk kepalanya dengan tangan.
"Ya, sudah kita mandi sekarang, yuk kak!" Ajak adikku dengan kedua bola matanya melihatku.
Kami berdua pun berjalan mengambil handuk dan sabun menuju kamar mandi.
Setelah kaki kami melangkah keluar, kami melihat ayah, baru naik dari kamar mandi ia terlihat, seperti yang telah selesai mandi.
"Kenapa cepat sekali bangunnya nak!?" Tanya ayahku dengan wajah heran. "Ini masih jam berapa!" Kata Ayahku menaruh timba yang berisi air di atas meja.
__ADS_1
"Kami tidak tahu Ayah!" Jawab kami dengan lugas. Melihat.
"Pergilah kalian mandi! Ayah sudah menimba air mandian kalian." Ucapan ayahku. Berjalan sambil memegang handuk.
Dengan begitu kami pun pergi menghilang meninggalkan ayah yang telah lebih dulu mandi.
Kami pergi dan mandi segera dengan menyiram tubuh dengan cepat, seperti orang yang sedang terburu-buru.
"Cepat kak!" Seru adikku berlari dan meninggalkan kamar mandi.
Aku pun bergegas dengan memegang sabun dan handuk. Walaupun kami sering bertengkar, tetapi kami masih bisa akur dan bercanda.
Bersama udara dingin dan air yang membasahi tubuh. Kami memacu langkah menjadi semakin kencang agar terhindar dari kemarahan ayahku yang bisa mencengkram seluruh isi ruangan.
" Kita sudah sampai dek! Letakan saja sabunnya di situ!" Ucapku. Mengayunkan tangan ke udara.
Sabun yang menemani kami mandi kini terletak rapi. Lalu kami melangkah masuk kerumah dan menghampiri kamar untuk memakai pakaian seragam.
Ayahku yang sibuk menyiapkan sarapan dan menyiapkan beberapa perlengkapan terlihat hilir mudik ke sana kemari. Selanjutnya aku juga tidak sengaja melihat ibu sambungku yang sibuk membersihkan rumah.
"Kau yakin ! Ayah tidak marah sama kakak lagi?!" Tanyaku melihat adikku. Berdiri di depan tirai kamar.
"Mungkin tidak kak, itu tadi kakak lihat! Ayah tidak berkata apapun, apalagi melihat kakak dengan waja sinis." Lanjut adikku kembali. Masuk kamar.
Melihat Ayah dan ibu sambungku yang sibuk dengan tugas mereka. Tiba-tiba langkahku terhenti dan memutar kepala mengarah ke sumber suara.
"Liyan, cepat kau bersiap! Sebentar lagi kalian masuk sekolah!" Perintah ibu sambungku. Berdiri memegang sapu. Mendelik.
"Ia Bu!" Jawabku datar. Berdiri di depan kamar dengan sendu.
Setelah itu, aku memutar kepala melihat ayahku di dapur yang bertemu pandang dengan ku. Wajah ketatnya masih sama terlihat membuat tubuh mungil lemah, kembali gemetar.
Hempasan dari wajah ayahku membuatku frustasi pagi ini. Ceria yang menyelimuti telah menepi menjauh.
Semua bisikan yang terdengar pagi ini membuat hati semakin perih. Pakaian sekolah yang berada di genggaman terdengar menyapa dengan lirih. Ia begitu terlihat murung seakan merasakan jeritanku kembali.
"Kak, pakai bajunya! Biar kita pergi bersama." Perintah adikku lembut. Menatapku. "Nanti Ayah marah, kalau kakak pergi sendiri akibat kejadian semalam." Ledek adikku dengan senyum tipis. Mengerjapkan kedua mata.
Sepertinya adikku benar! Ayahku pasti akan marah kalau melihatku pergi seorang diri, apalagi di tambah dengan kejadian pagi ini. Di mana ayahku menatapku dengan tajam ketika mendengar ucapan ibu sambungku.
Mulai hari ini, aku harus pandai mengatur segala tindak tandukku. Jangan sampai ayahku mengetahui hal-hal yang bisa membuat emosinya tersulut Kemabli.
Setidaknya aku bisa mengawasi diriku sendiri dari kesalahan lagi. Agar aku bisa bernapas dengan lega walau hanya beberapa saat.
Itulah yang aku harapkan demi mendamaikan jiwaku yang terkekang. Selain itu, aku juga harus bisa menjaga tubuh mungil yang lemah ini untuk tidak merasakan sakit.
Oleh karena itu aku harus bisa memberi keputusan untuk memilih antara teman dan orang tua.
.
.
.
Hai! Teman-teman terimakasih banyak telah mendukung ceritaku dan memberikan like, favorit dan komentarnya, semoga kita selalu di beri kesehatan. 🤗🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung....
Sambil menunggu Author update!
Yuk! Baca novel dari teman aku!
Author yang lain!
Pasti bacanya ngga nyesel! 🥰
Delon tidak menyangka di usianya yang ke 40 tahun dirinya menyandang status sebagai duda dan mempunyai dua anak kembar yang masing-masing berusia 20 tahun.
Hingga suatu ketika putra sulungnya yang bernama Edward meminta sekretaris pribadinya yang seumuran dengan Edward memintanya untuk merawat ayahnya yang bernama Delon yang sedang sakit.
Setiap hari bertemu hingga akhirnya mereka jatuh cinta dan ingin menikah. Bagaimana tanggapan ke dua anak kembarnya dan keluarga gadis tersebut? Apakah hubungan mereka berakhir bahagia atau kandas di tengah jalan mengingat perbedaan umur mereka yang terpaut 20 tahun.
Ikuti novelku yang ke 33
__ADS_1