
"Ia Bu," jawab kami serentak.
"Bu, kalau mereka lebih dulu menyerang. Apa kami tidak boleh membalasnya ?" sambung Septiani.
Mendengar Septiani Fikri dan aku memutar kepala menatapnya. Kami pun bertemu pandang. "Liyan, pertanyaan itu mengarah kepadaku," ucap Fikri pelan. Menyadari dengan sempurna.
"Dari mana kamu tahu?" tanyaku. Berdalih dengan menanyakan kembali pada Fikri.
"Ia, siapa lagi coba teman dia bertengkar, kalau bukan aku!" tandasnya.
"Siapa tahu dia punya teman baru?" sambung Widia. Merapatkan tubuhnya bersandar ke bangku. Menatap lurus ke depan.
"Punya teman baru? Punya teman baru, apa?" tanyaku penasaran. Menatap Widia serius. Mendekatkan sedikit wajahku tepat di dekatnya.
"Heh! Teman baru siapa?" tanya Fikri. "Apa dia punya teman baru untuk bertengkar lagi? Hahaha! Memalukan!" kesal Fikri dengan tawa mengejek.
"Heh! Kenapa kau yang kesal? Aneh!" sambung Widia.
Kedua telinga dan nertaku yang redup hanya diam. Sesekali aku memikirkan tentang perasangka Fikri terhadap Septiani, bahwa tanpa senagaja Septiani menyindirnya.
"Fikri! Itu 'kan lebih baik," ucapku.
"Lebih baik apa, Liyan?" tanya Fikri.
"Kau tidak akan bertengkar lagi dengannya karena dia sudah punya teman baru. Jadi, dia tidak perlu lagi bertengkar dengan mu! Dia pasti bertengkar dengan teman barunya." Cetusku.
"Kalau begitu, teman yang menemaniku untuk hukumanku, nanti berkurang, dong," balasnya.
"Apa?" Widia terperanjat. "Teman yang menemani hukumanmu, berkurang?" tanya Widia tersentak, menatap Fikri lekat, seakan kedua mata mereka saling berbicara. Jadi, selama ini kau hanya berteman dengan kami, supaya ada teman yang menemani hukumanmu?" lanjut Widia memberikan pekikan pelan pada Fikri, berharap Fikri bisa memberi penjelasan yang lebih detail.
"Eem!" Fikri berdehem dengan wajah nakal sambil tersenyum penuh canda.
"Fikri, kau tega sekali! Apa kau tidak kasihan dengan ku," ucapku mengharap belas kasihan.
"Liyan! Aku sebenarnya kasihan sama kalian! Tapi lebih kasihan lagi diriku. Berdiri seorang diri, di bawah tiang bendera yang panas," balasnya dengan wajah meminta belas kasih hani.
Kedua tangan yang lemah ingin sekali mencabik -cabik Fikri yang mengatakan seenakanya.
"Fikri! Kau itu ketua kelas yang jahat!" balasku dengan cemberut.
Fikri yang cool terlihat tenang menanggapi ucapanku barusan. Dia semudah itu berpaling dan berdalih melemparkan semuanya dengan tenang.
"Aku tidak tahu! Kalau aku jahat atau tidak, tapi 'kan kalian yang memilihku," balasnya dengan kebanggaan. Tersenyum menggoda sambil menaikan alis.
"Heh! Memang kami yang memilihmu, tapi kau jangan keterlaluan, Fikri!" cetus Widia dengan kesal. "Kau lebih kejam dari pada Ibu tiri," tandasnya.
Huh! Seketika aku memutar kepala menghadap papan tulis bersama bola mata yang redup menatap Bu Dona, yang lagi mendengarkan tampilan puisi, teman kami yang lain, tanpa menjawab pertanyaan Septiani.
"Widia, bagaimana ini?" tanyaku dengan lesu.
"Bagaimana apanya, Liyan?" tanya Widia dengan wajah bingung.
"Kalau Fikri terus menerus seperti, itu," cetusku .
"Kau tenang saja! Kalau kau sakit, mana mungkin ada guru yang berani menghukummu," ucap Widia.
"Iiih! Kau ini!" balasku dengan mencubit lengan Widia pelan. "Kau suka ya, aku sakit," celetukku. Mendengus kesal.
"Auw! Sakit Liyan!" teriak Widia pelan sambil mengelus lengannya. "Liyan, ternyata kau galak juga," ucapnya. Melemparkan pandangan menahan sakit.
"Hei! Jangan ribut!" seru Fikri dari belakang dengan berbisik. "Aku ini ketua kelas!" Ucapnya tegas.
Hm! Aku pun, mengeram panjang dengan cemberut kesal.
"Perhatikan ke depan!" perintah Fikri dengan galak.
"Ia Pak guru," ledek Widia dengan kesal.
Kami berdua pun dengan tidak sengaja mengikuti perintah Fikri. Melihat ke depan.
"Widia, pertanyaan Septiani tadi, sudah di jawab Bu Dona, belum?" tanyaku dengan penasaran.
"Aku tidak tahu Liyan! Tapi sepertinya belum," tukas Widia sedikit menyesal.
Refleks aku memonyongkan bibir mengikuti apa yang di katakan Widia.
Tampilan dari murid berikutnya pun sedang di nanti oleh Bu Dona, sambil menatap seluruh murid didiknya, yang terkadang menyenangkan dan terkadang mengesalkan, kalau sudah membuat masalah yang menggunung.
Kedua netra Bu Dona pun terhenti, ketika mengarah menatap Septiani, seakan Bu Dona mengingat pertanyaan Septiani yang belum dia jawab.
"Septiani, kamu sedang apa?" tanya Bu Dona dengan datar.
Tiba-tiba Septiani tersentak, mengangkat kepala sedikit tegak. "Sa-saya lagi..." Septiani seperti mencari sesuatu yang hilang menatap kembali meja dengan terbata dan berkubang terlalu lama.
"Bu! Mungkin dia ada pekerjaan baru," ucap Fikri dengan menyela pembicaraan. Tersenyum tipis.
"Fikri! Tolong diam di situ!" pekik Bu Dona dengan sedikit meninggi. Menatap Fikri dengan wajah serius.
Refleks Fikri pun menunduk dan diam. Menatapku dengan lirikannya.
"Fikri, sepertinya kau membeku hari ini, seperti es," ucap Widia. Memutar kepalanya sekilas melirik Fikri.
__ADS_1
"Es,es,es, es apa?" pekiknya dengan bisikan yang kesal.
Widia tersenyum kecil. "Es lilin!" cetusnya dengan wajah bahagia, kalau dia telah meledek Fikri.
"Hei, Sudah! Jangan ribut! Nanti ketahuan oleh Bu Dona," pintaku menegur mereka.
"Hm!" Fikri mengeram, seakan dia sudah bisa menebak, kalau aku takut, dia kena hukuman dan aku akan terkena dampaknya. Itulah yang tersirat dari wajahnya.
Sementara, Bu Dona yang duduk di kursi masih menunjukan ekspresi wajah yang sama, menunggu jawaban dari Septiani. "Septiani jawab! Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Bu Dona dengan penekanan tinggi.
Dengan tergagap Septiani pun menjawab. "Bermain dengan pensil, Bu," dengan pelan sedikit terbata sambil tersipu.
Bu Dona yang tidak tahu dengan sebenarnya hanya menganggukan kepala acuh dengan polosnya. "Jangan ribut!" tegurnya dengan larangan keras. Menganggap Septiani sedang baik-baik saja di mejanya.
"Baiklah, Anak-anak! Dengarkan teman kalian yang lain! Fokus ke depan! Jangan ada yang saya lihat menunduk," seru Bu Dona dengan memberi sebuah teguran.
"Ia Bu," jawab kami serentak.
"Seharusnya kita pulang saja," imbuh Widia dengan wajah tidak bersemangat.
Tubuhku yang lemah mengajakku diam sejenak, sambil mencerna apa yang di ucapkan oleh Widia. "Sepertinya, kamu benar Widia," ucapku dengan mengeluh. "Aku sudah malas," lanjutku.
Dengan jengah kami pun saling bertemu pandang sambil mengutarakan isi hati masing-masing. Menekuk wajah dengan kemalasan yang menggunung.
"Bosan rasanya terlalu lama mendengarkan puisi," bisik Widia dengan memelas. Meletakan wajah di atas meja dengan setumpuk ke jenuhan.
"Liyan, kau bosan, tidak?" tanya Widia ingin mengetahui isi hatiku.
"Emang kenapa?"tanyaku. Menghela napas. Menarik tubuh sedikit maju ke depan sampai rapat sedikit ke meja.
Widia hanya menatapku dengan pandangan kosong. Menekuk wajahnya di atas meja dengan tegak. Memutar kedua bola mata menatap papan tulis, di sertai lirikan ke arah Bu Dona.
Bangku yang bisu. Rasanya terlihat lelah menampung aku duduk. Seperti, ia berjalan ke sana kemari dengan zig zag.
Sehingga, membuat aku melupakan sejenak sakitku dan menatap ke depan serta ke belakang tepat ke arah Septiani duduk.
Septiani terlihat sedang asyik menunduk dan menatap meja dengan serius bersama alat tulis berserakan di atas meja. Lengkungan bibirku seketika tercipta menatap dia yang unik.
"Widia, Septiani ada-ada saja," ucapku dengan wajah sumringah. Menatap Septiani dengan tertegun.
"Emang kenapa, Liyan?" tanya Widia penasaran. Mengangkat kepala dengan refleks penuh tanda tanya.
"Aku rasa, dia sedang bermain," bisikku pelan sambil menatap Septiani.
Widia pun terperanjat. "Apa? Dia bermain," seakan dia tidak percaya. Secara bersamaan kami pun, melihat Widia.
"Ia Liyan! Dia sepertinya bermain. Bermain seperti biasanya, orang-orangan pensil," ucap Widia jengah.
"Fikri! Aku menamainya orang-orangan pensil, terserah kau! Kau mau menamainya apa?" sungut Widia dengan kesal.
"Baiklah! Jangan nangis. Nanti si Liyan marah! Aku takut kalau si Liyan marah," ucapnya dengan candaan garing menggoda.
"Terserahmu saja Fikri! Yang penting hatimu senang," balasku dengan acuh.
Bergulat dengan emosi bersama Fikri. Sejenak aku melupakan pertengkaran kecil kami. Menatap Bu Dona yang tiba-tiba, kedua netranya yang jernih menatap ke arah kami. "Habislah kita Widia," bisikku pelan. Memalingkan wajah, sedikit melirik Widia.
Widia hanya berdehem pelan membalas ke resahan yang aku utarakan. Sambil berpura- pura menulis dan dia pun menunduk menatap meja seketika.
"Sudah! Diam, Liyan! Jangan bicara lagi," ucap Septiani menggeleng kepala, memohon.
"Baiklah," jawabku. Menunduk sambil menatap pensil yang aku letakan di atas meja. Kedua netraku yang masih menunduk melirik Bu Dona, yang menatap kami dengan lekat. Terlihat dari gurat wajahnya seakan dia ingin bertanya kepada ku. Aku begitu tersipu dan tertunduk malu, seperti baru melakukan kesalahan besar yang memalukan.
Entah apa yang di pikirkan Bu Dona saat ini tentangku? Pertanyaan ini mengisi relung hatiku yang hampa. Seolah aku baru mendapat duka yang dalam.
Sejujurnya, aku ingin sekali Bu Dona menanyakan diriku, apakah aku masih sanggup atau tidak? Betapa besar khayalanku hari ini.
Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginan. Ketika, aku diam dan hanyut dalam suasana ke bisuan, tiba-tiba Bu Dona menyapaku. "Liyan, kau sedang apa menunduk?" tanyanya yang membuatku seketika terperanjat.
"Eem!" sambil berpikir panjang aku pun, "Saya lagi me..." menggerutu kesal di dalam hati berperang dengan pertanyaan batin. 'Jika aku berbohong, aku berdosa dan jika aku jujur, aku akan di hukum.'
Tatapan Bu Dona yang menghanyutkan terlihat menyerah seketika. "Liyan, lihat ke depan!" ucap Bu Dona dengan perintah yang tegas tanpa menghiraukan jawaban dariku. Menarik Pandangannya dan menatap kembali murid yang tampil.
Akan tetapi yang membuatku kesal, lagi-lagi Fikri belum bisa melepaskanku dengan mudah. Dia kembali berulah yang membuat suara parauku keluar.
"Liyan! Kau kena tegur Bu Dona, ya! Kasihan!" ejeknya dengan penuh kebahagiaan. "Anak teladan jangan bermain, dengarkan apa yang di sampaikan oleh Bu guru, jangan nakal, ingat! Hahaha!" ucapnya dengan tawa senang.
"Fikri sudah! Jangan terus mengganggu Liyan," ucap Widia mengingatkan Fikri.
"Hahahaha! Heh! Septiani, kalau Liyan di gannggu, dia pasti bersuara," bisik Fikri pelan dengan candaan garing.
"Terus kenapa?" tanya Widia ingin tahu. Menatap lurus ke depan sambil menyandarkan tubuhnya di bangku merapat ke meja Fikri.
"Kita pasti keluar dari sini," lanjutnya.
"Keluar? Keluar kemana?" tanya Widia dengan penasaran.
"Berdiri!" cetusnya dengan konyol.
"Apa?" seketika Widia terperanjat.
Hahahaha! Tawa Fikri yang renyah terdengar bahagia karena telah berhasil mengelabui Widia dengan ke jahilannya. Senyum sumringah pun terlihat gemilang, seakan ia baru memenangkan sebuah pertandingan.
__ADS_1
Widia pun refleks memutar badan ke belakang dengan dentingan suara bangku yang terdengar, sehingga membuat Bu Dona spontan memutar kedua bola mata menatap ke meja kami. "Widia! Apa yang kau lakukan di situ!" pekik Bu Dona dengan keras. "Jangan mentang kau sudah selesai! Kau ribut di situ, ya!" lanjut Bu Dona dengan kekesalan yang memuncak penuh penekanan.
Widia langsung membeku. "I-ia Bu," memutar badan dengan jawaban terbata.
Dengusan dan gelengan kepala dari Bu Dona pun terlihat dengan kesal sambil menatap murid yang tampil.
Aku yang menatapnya seketika ikut terdiam merasakan apa yang terjadi.
Tidak berapa lama pembacaan puisi pun segera berakhir. Bu Dona begitu antusias sekali, ingin menyelesaikan semuanya hari ini. "Untuk yang selanjutnya silahkan tampil ke depan!" seru Bu Dona.
Teng! Teng! Teng!
Dari luar kelas, suara bel pulang pun berbunyi dengan keras sehingga menembus gendang telinga dengan jelas.
"Anak- anak! Ada berapa orang lagi yang belum tampil?" tanya Bu Dona dengan penuh menyelidik.
Sontak seluruh murid menjawab dengan gelisah. "Dua orang lagi, Bu," jawab mereka resah.
"Liyan, itu bel pulang sudah berbunyi," ucap Widia pelan dengan gurat wajah yang menyimpan kesedihan.
"Anak-anak! Harap tenang semua, yang belum membaca tinggal dua orang lagi! Hari ini, kita selesaikan semua," tandas Bu Dona dengan penuh penekanan. Biarkan mereka pulang duluan!" sambil menunggu penampilan berikutnya.
Seketika kami pun lesu kembali, menatap teman sebangku masing-masing dengan kekecewaan yang mendalam dan mengatakan keluhan di hati dengan sorot mata yang dalam.
"Liyan, aku sudah lapar," ucap Widia.
"Widia, aku juga! Badanku lemas," ucapku. Menatap Widia dengan wajah lesu dan suara parau.
"Liyan, kau sakit, ya?" ucap Widia dengan gusar. Dia pun langsung mendekatiku yang duduk di sebelahnya. "Ia Liyan, kamu demam," menyentuh keningku.
"Siapa sakit?" tanya Fikri.
"Liyan! Fikri," jawab Widia dengan sendu.
"Apa? Liyan sakit," sambungnya dengan terperanjat.
"Widia, kau jangan panik! Aku tidak apa-apa,kok!" ucapku. Menyandarkan tubuh lemahku di bangku, sambil menatap Widia yang panik.
Sepertinya Widia kebingungan, dia menatap ke sana kemari memutar kedua bola mata menatap nanar, seakan dia mencari sesuatu.
"Liyan, kau masih sanggupkah?" tanyanya. "Sebentar lagi kita pulang, kok! Yang belum tampil tinggal satu orang lagi, Liyan," lanjutnya.
Hm! Aku hanya mengeram.
Tubuhku rasanya begitu lemah dan berat sekali untuk terlihat baik-baik saja. Penampilan temanku yang terakhir akan menjadi pembawa kebahagiaan untuk ku.
Penantian yang mengurung kami dengan keras akan segera tersingkir, keluhku sendiri.
"Widia, yang belum tampil tinggal satu orang lagi, 'kan?" ucapku dengan bertanya kembali.
"Ia, Liyan, kamu yang sabar, ya!" ucapnya memberi ketenangan.
Aku sedikit menarik bibir pucatku mendengarnya hingga melengkung dengan manis.
"Widia, kau sudah menyusun bukumu?" tanyaku.
"Sudah Liyan, semuanya sudah masuk ke dalam tasku dengan rapi," balasnya.
"Kau jangan sampai lupa, Widia! Kau itu selalu lupa," ucapku. Mantap Widia dengan nanar.
.
.
.
Teruntuk teman-teman terimakasih atas dukungannya yang telah memberi like, favorit dan komentarnya. 🤗🥰😂
❤️❤️❤️
Bersambung....
Sambil menunggu Author untuk Update !
Yuk! Baca novel dari teman aku Author yang lain !
Pasti engga nyesel deh, bacanya !
Blurb : Cinta Terlarang. Begitulah dia menyebut perasaannya ini.
Bercerita tentang seorang anak berusia 10 tahun yang mengalami nasib malang. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan maut. Namun, ada seseorang berhati malaikat yang mau mengadopsinya sebagai anak.
Waktu berlalu, hingga si anak ini beranjak dewasa. Reina, tumbuh menjadi gadis cantik dan manis. Banyak pria yang mengincarnya untuk menjadikannya pacar. Namun, perasaan cintanya telah terpaut pada satu orang. Reina mencintai ayah angkatnya sendiri. Namun, dia cukup pandai memendam perasaannya karena dia tahu jika perasaannya adalah cinta terlarang.
Namun sepertinya, Reina tidak bisa terus-menerus memendam perasaannya selama itu. Apalagi setelah sang Ayah telah mengenalkannya dengan calon istrinya yang di pilihkan oleh Neneknya, Ibu dari Ayah angkatnya.
Dia akan mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada sang Ayah angkat, meski dia tidak tahu bagaimana nanti respon Ayah angkatnya itu. Tidak peduli dengan apa jawabannya nanti.
Apa cinta Reina akan di terima?
__ADS_1