Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kembali ke rumah


__ADS_3

"Liyan, kalau kamu masih mau engga main lagi ke rumahku?!" Tanya Nisa. Menghampiri.


"Aku belum tahu Nisa. Aku harus minta izin dulu dari Ayahku." Kataku dengan datar. Mengambil tas.


Nisa terus berusaha merayu kami, agar kami mau kembali bermain ke rumahnya. Setiap aku ingin melangkah, ia pun menghentikan langkahku, begitu juga dengan Septiani. Nisa pun melakukan hal yang sama, seperti yang ia lakukan terhadapku.


"Septiani, kamu besok mau kan bermain ke rumahku kembali." Pinta Nisa. Memohon.


"Aku bukannya engga mau Nisa! Aku mau kok tapi, kalau Liyan dan Widia tidak ikut mana mungkin aku kemari." Balas Septiani. Melihat aku.


Mendengar balasan dari Septiani membuat raut wajah Nisa seketika berubah sedih. Ia pun memutarkan kepala dengan melemparkan pandangan. wajah yang tadi ceria kini muram terlihat bagaikan mendung yang tak di undang. Nisa begitu terpukul dan kecewa karena penolakan dari kami. Seketika ia pun diam seribu bahasa mematung.


"Nisa sebaiknya ajak teman yang lain saja." Saran aku. Melihat Nisa. "Kan teman kita yang lain masih banyak." Lanjut aku kembali. Melirik Nisa dengan wajah seakan merasa bersalah kemudian aku melemparkan pandangan ke arah Septiani.


Aku begitu menyesal karena telah membuat Nisa sedih, sampai ia tidak mau melihatku.


"Nisa, kami pulang sekarang, ya!" Bisik aku dengan nada suara berat. Berdiri dan melihat Nisa.


Seketika Nisa memutarkan kepala perlahan melihatku. "Liyan, aku cuman suka berteman sama kalian. Apalagi samamu!" Tutur Nisa dengan penuh penekanan. Berdiri.


Mendengar penuturan Nisa membuat hati polosku tergugah ikut merasakan kesedihan yang di rasakan olehnya. Akan tetapi aku tidak bisa meluluskan keinginannya.


Hidupku tidaklah semudah mereka, bisa pergi kemana saja dan kapan saja tanpa ada tekanan.


"Nisa mungkin lain kali, kita bisa bermain lagi, aku harus meminta izin dulu dari Ayahku." Balas aku dengan meyakinkan.


"Ia Nisa, lain kali saja!" Pinta Septiani. Melihatku


Aku dan Septiani hingga kini masih berdiri di hadapan Nisa. Kami berdua berusaha menenangkan Nisa dengan memberi keyakinan yang bisa diterima oleh akalnya, sampai ia mengerti dan mau menerima.


"Tapi benar kan Liyan. Kalian akan bermain ke rumahku lagi." Ucap Nisa. Melihat kami berdua.


"Ia kalau di kasih izin oleh Ayahku." Sambung aku. Melihat Nisa.


Seketika kami bertiga pun diam. Sementara aku dan Septiani saling bertemu pandang dengan gurat wajah yang penuh tanda tanya, kapan kita akan segera pulang? Tatapan yang memberikan isyarat begitu tajam.


"Tapi, bisa engga kalian menunggu sebentar!" Pinta Nisa. Memohon. "Ibuku mau kenal dengan kalian." Lanjut Nisa. Berjalan mundur kebelakang. "Tunggu sebentar, ya!" Sambung Nisa. Menghilang dari hadapan kami.


Tiba -tiba selangkah Nisa mengayunkan kaki masuk kembali ke dalam rumah, Widia memukul pundakku pelan.


Puk! Sontak aku terperanjat dan memutar kepala ke belakang.


"Widia." Cetusku dengan wajah terkejut. Berdiri.


"Kenapa kalian masih berdiri di sini?" Tanya Widia dengan kesal. Mendelik.


Mendengar kekesalan Widia, aku kemudian melemparkan pandangan ke udara kosong. Menatap nanar sambil meremas jemari lemah dengan keras.


"Liyan, kita harus pulang sekarang! Sebelum sore." Pekik Widia. Berdiri.


"Widia, Nisa menyuruh kami menunggu sebentar." Kata aku pelan. Melihat Widia. "Katanya, Ibunya mau kenalan sama kita." Lanjut aku.


Setelah Widia mendengar penyampaian dariku, ia pun memutarkan kepala melihat Septiani. Septiani yang tadi pemberani, saat ini ia menciut melihat sorot mata Widia. Septiani hanya melihat lurus ke bawah. Dari gurat wajah ia terlihat takut melihat Widia.


Kami bertiga diam dan melemparkan pandangan masing-masing. Widia dan Septiani terlihat berjalan mundur ke belakang. Widia terlihat berjalan menuju pagar dan menyandarkan tubuhnya, sementara Septiani terlihat berjalan menuju bunga yang terletak di sudut dinding.


Dan kemudian aku berjalan selangkah mundur menaiki teras dan menjatuhkan tubuh lemahku. Aku pun duduk bersama tas yang masih tergantung di pundak.


Keheningan pun hadir menemani kami. Tiba-tiba suara langkah kaki terdengar menghampiri diriku yang duduk bersandar tepat di penyangga teras. Suara itu semakin mendekat terdengar oleh telingaku.


Aku perlahan memutarkan kepala kebelakang, refleks aku bangun dan berdiri sambil memutar badan melihat Widia dan Septiani. Widia dan Septiani pun berjalan menghampiri Nisa dan Ibunya.


"Nisa." Gumamku kecil. Melihat Nisa dan Ibunya.


Nisa besama Ibunya telah sampai dan berdiri di hadapan kami.


"Ma, ini teman Nisa yang Nisa ceritakan sama mama kemaren." Ungkap Nisa. Melihat Ibunya.


"Liyan, ini Ibuku." Ucap Nisa. Menunjuk Ibunya sambil melihatku.


"Tante." Sapa aku dengan senyum. Menunduk.


"Dan yang ini ma, namanya Widia dan Septiani." Lanjut Nisa. Melihat Widia dan Septiani.

__ADS_1


"Tante." Sambut mereka dengan senyum. Malu.


"Jadi, mereka ini teman yang kamu ceritakan kemaren sama Ibu." Kata ibunya Nisa. Melihat kami dengan senyum. "Kenapa tidak di ajak masuk, nak?" Tanya ibunya Nisa. Melihat Nisa dan kami.


"Mereka mau pulang ma!" Ucap Nisa. Sedih. "Karena mereka takut nanti di marahi orang tua mereka." Tutur Nisa dengan lirih.


"Apa tadi datang kemari tidak minta izin, nak?!" Tanya ibunya Nisa kembali ingin tahu. Berdiri.


"Tidak, ma!" Potong Nisa dengan sedikit takut. Melihat kami.


"Ia Tante, orang tua kami tidak tahu kalau kami datang ke sini." Jawab aku dan Septiani. Sedikit gelisah.


"Dengar ya, nak! Sekali lagi jangan pernah pergi bermain tanpa sepengetahuan orang tua, ya!" Tukas ibunya Nisa. Melihat kami.


Aku, Widia dan Septiani pun langsung diam menunduk dan melemparkan pandangan, saling melihat ke bawah.


"Ma, ini sebenarnya Nisa yang mengajak mereka untuk bermain ke rumah." Ucap Nisa. Takut.


"Kami tahu tante, makanya ini kami mau pulang karena sudah hampir mau sore, kami takut kalau kelamaan." Sambung aku. Mengangkat sedikit kepala.


Ibunya Nisa pun mengangguk memberikan isyarat kalau ia mengizinkan kami pulang.


"Ya, sudah hati-hati di jalan, nak!" Kata ibunya Nisa. Melihat kami sambil tersenyum.


"Ia tante." Jawab kami bertiga bersamaan. Berdiri.


Kami bertiga pun memutarkan badan melangkah. "Kami pulang dulu ya Nisa, tante!" Ucap kami . Melihat Nisa dan ibunya. Berjalan.


Kami bertiga akhirnya pergi meninggalkan


rumah Nisa, berjalan dengan perlahan melintasi ruas jalan yang panjang. Panas yang menyengat masuk ke tubuh menambah aura kami semakin merekah, merah seperti api.


Aspal yang panas pun kami injak dengan tawa yang mengisi perjalanan. Bayangan diriku begitu terlihat menikmati panasnya badan jalan.


"Liyan, ini jam berapa, ya?" Tanya Widia. Berjalan.


"Aku engga tahu! Aku engga bawa jam." Jawab aku. Melihat Widia.


"Bukan begitu Septiani." Tampik Widia. Melihat Septiani. "Ibuku galak dan Ayah Liyan pun, galak juga. Kami takut, kalau kami nanti terlalu lama pulang, kami di marahi." Lanjut Widia dengan penuh penekanan. Berjalan melihat lurus ke depan.


"Ia! Widia benar." Sahut aku. Melihat Septiani.


"Apalagi aku masih sakit, kalau Ayahku pulang kerja, aku tidak ada di rumah, Aku akan di marahi." Lanjut aku. Melihat langkah kaki.


Septiani pun langsung memalingkan wajah dari ku, melihat kembali ke depan. Ia diam seakan memikirkan apa yang aku sampaikan. Sementara Widia, ia terlihat begitu gusar. Wajah polosnya seakan terlihat menyimpan beban masalah yang pelik.


"Widia, kamu kenapa?" Tanya aku dengan penasaran. Melihat Widia. "Kamu ada masalah! Atau kamu takut di marahi oleh Ibumu." Sambung aku. Melihat Widia dengan lekat.


"Ia Liyan, Ibuku sama seperti Ayahmu, galak! Kalau Ibuku pulang ke rumah sebelum aku pulang, pasti aku akan di marahi habis-habisan oleh Ibuku. Kau tahu kan, Liyan?!" Ucap Widia. "Ibuku itu siapa?" Lanjut Widia. Melihatku dengan lirih.


"Ia aku tahu, Ibumu siapa? Ibumu sama seperti Ibuku." Sambung Liyan. Melihat lurus ke depan dengan pandangan kosong. "Kita sama-sama punya Ibu tiri." Cetusku dengan pelan.


Septiani yang berjalan bersama kami memutarkan kepala melihat Widia dan aku dan memalingkan kembali melihat lurus ke depan terlihat dari ekor mataku.


"Kasihan sekali kalian. Untung saja aku masih punya Ibu kandung." Sindir Septiani. Melihat ke depan.


Mendengar sindiran Septiani Aku dan Widia pun saling bertemu pandang, melihat dengan kesedihan di dalam diri kami masing-masing. Seketika mulut kami terkunci rapat dan lidah pun rasanya begitu keluh.


Jalan yang kami lalui bersama membuat seakan memakan waktu yang lama.


"Liyan, kau sih enak, Ibu tirimu baik. Kalau aku...?" Tiba-tiba Widia menghentikan ucapannya. Diam dan sedih melihat dengan pandangan kosong. ".... sedikit galak!" Lanjut Widia. Menunduk.


Aku dan Septiani pun saling bertemu pandang sontak terdiam, melihat Widia kemudian kami langsung memutar kepala dengan segera.


Dalam perjalanan yang melelahkan, aku masih mengingat yang di sampaikan oleh Widia dan Septiani.


Ruas jalan yang panjang membuat kami bertiga mengeluh, lelah dan sesekali memasang gurat wajah yang masam.


Panas yang hampir mau redup memacu kami dengan kencang.


"Widia, kita masih lama lagi?!" Tanya aku. Melihat Widia. "Harinya seperti sudah sore?" Tanya aku. Melihat ke udara.


"Liyan, Sepertinya ini memang sudah sore." Sambung Septiani. Melihat.

__ADS_1


Mendengar pernyataan Septiani, sontak kedua bola matan Widia pun terbuka dengan lebar. "Apa?!" Terperanjat melihat Septiani dan aku. Seolah Widia tidak percaya dengan apa yang baru di sampaikan oleh Septiani.


Di tengah perjalanan, seketika tubuh mungilku yang lemah gemetar dan wajah pucat kini terlihat panik. Kedua bola mataku melebar seketika melihat udara dan dan awan.


Diriku yang tenang kini bergegas dengan sekencang mungkin, menyeret kaki yang lemah. Tas yang aku sandang yang sedikit berat, sebisa mungkin aku menyeimbanginya agar aku bisa mengayun kaki dengan kencang.


Kami yang berjalan telah jauh dari rumah Nisa, semakin khawatir karena jalan yang kami lalui begitu banyak kendaraan yang lalu lalang sehingga menghambat langkah kami. Pinggir jalan yang suram yang di bawanya ada beberapa beram terlihat membuat jantung kami semakin deg-degan dan takut.


Sesekali kami melihat ke bawah untuk mengantisipasi langkah agar berhati-hati.


Begitu banyak hambatan yang kami alami di dalam perjalanan. Pohan yang besar pun semakin menambah ke khawatiran kami akan orang jahat.


"Liyan, kamu hati-hati!" Seru Widia. Berjalan. "Ternyata seram juga, ada beram dan juga pohon besar!" Lanjut Widia. Melihat ke bawah badan jalan dan pohon.


"Apalagi kalau sudah malam, pasti seram." Sambutku. Melihat pohon dan ke bawah badan jalan. "Makanya, kendaraan yang lewat tidak terlalu banyak kalau malam." Lanjut aku.


Septiani dan Widia pun mengangguk melihatku.


Tidak terasa perjalanan kami bertiga akan segera berakhir, persimpangan memasuki rumah kami pun telah terlihat. Senyum sumringah spontan terlihat di wajah pucatku. Ingatan yang tadi kacau di kepala kini terasa memudar.


"Sebentar lagi kita akan sampai." Ucapku. Melihat persimpangan. "Aku akan segera istirahat." Sambungku. Tersenyum.


"Yang benar Liyan!" Sambut Septiani. Berjalan di sampingku. "Kalau kita sudah sampai di situ, berarti lelah kita terbayar." Lanjut Septiani. Melemparkan senyum.


"Widia, kita sebentar lagi sampai." Cetusku kembali. Melihat Widia. "Semoga saja Ayahku belum kembali ke rumah." Ucap aku. Dengan wajah pilu.


Widia pun menegakkan kepala seketika melihat ke depan. "Liyan, itu masih jauh!" Tandas Widia. Lesu. "Kita masih lama lagi !" Keluh Widia. Dengan tatapan nanar ke depan.


"Yang penting kan, Widia kita sudah melihat Persimpangan, kamu jangan mengeluh! Lagian kan yang memaksa bermain ke rumah Nisa kan, kamu!" Sindir Septiani. Kesal.


Aku dan Septiani terlihat kembali lesu. Sementara Widia begitu tersinggung dengan sindiran Septiani yang menancap tajam menghantam hatinya.


"Sudah! Kalian jangan bertengkar, nanti kita di lihatin orang yang melintas di sini!" Bisik aku. Melihat Septiani.


"Tapi Liyan, Widia itu selalu mengeluh, padahal kan dia yang mengajak kita." Gerutu Septiani. Mendengus.


"Ia tapi, kamu tadi yang membuat lama di rumah Nisa." Sungut Widia. Melemparkan pandangan.


"Aku?" Tanya Septiani dengan tidak percaya.


"Ia kamu!" Pekik Widia dengan sedikit meninggi. "Ngapain kamu tadi bermain bunga di sana?!" Celetuk Widia dengan geram. Mendelik.


"Widia, Septiani sudah jangan bertengkar, di lihatin orang, tau!" Tegur aku. Berjalan. "Kita anak kecil, masa kita bertengkar di tengah jalan." Sindir aku. Melihat mereka berdua. "Aku juga takut sebenarnya kalau Ayahku sudah pulang ke rumah, aku pasti di marahi." Sambungku dengan penuh penekanan. Menunduk melihat kaki melangkah.


Angin sore yang berhembus menyibak rambutku, membuat penglihatan tertutup dan berantakan terasa begitu dingin. Tubuh mungilku yang lemah pun menyambut hembusan angin dengan ramah. Selangkah mengayunkan kaki membuat aku teringat adikku. Ingatanku langsung mencari celah untuk memberi alasan kepada ayahku, kenapa aku lama sampai ke rumah?


Tubuh lemah yang gemetar yang di balut oleh kecemasan semakin membuatku down. Sehingga aku tidak bisa berpikir dengan jernih. masalah-masalah kini hadir menghampiri dengan menaungi perjalanan.


Ruas jalan yang di lalui begitu panjang memakan waktu yang lama membuat kami ingin segera beralih.


Aku segera mengencangkan langkah, mengejar agar lebih dahulu tiba sampai rumah sebelum ayahku.


"Liyan, kau kenapa cepat sekali jalannya?" Tanya Septiani sedikit berteriak. Berjalan dengan kencang.


"Aku takut, Ayahku nanti lebih dulu sampai, dari pada aku." Sahut aku dengan sedikit berteriak. Berjalan.


"Liyan, tunggu aku!" Seru Widia dengan berteriak. Berjalan.


"Septiani kalau kamu lama pulang kamu di marahi tidak oleh Ibumu?" Tanya Widia. Dengan senyum meminta maaf.


Aku yang mengayunkan kaki mendengar perbincangan mereka berdua dari belakangku.


.


.


.


Teruntuk teman-teman terima kasih atas like, komentar dan favoritnya.🤗🙏


❤️❤️❤️


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2