Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Cerita hari ini


__ADS_3

"Widia, kau masih marah ya dengan ku," kataku. Aku pun menaikkan kepala sambil melihat Widia.


"Liyan, sebaiknya kau diam saja dulu. Jangan berisik! Aku lagi tidak mau bicara dengan mu," balas Widia padaku dengan tajam.


"I-iya." Aku langsung terkejut setelah mendengarnya dan diam membeku seperti es.


Aku salah besar karena telah mengajak Widia berbicara kepada aku. Aku pikir dia telah melupakan kejadian tadi dan meluluhkan hatinya untuk ku. Akan tetapi, aku salah. Apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Rencana yang telah aku bentuk dalam diam semua berbanding terbalik dan sia-sia.


"Anak-anak, ingat, ya! Jangan lupa besok kumpulkan yang Ibu suruh. Wajib kumpulkan semua. Khusus yang untuk biodata, kasih pada teman kalian, Rasyd," cetus bu Dona.


"Baik Bu," jawab kami serempak.


"Jadi, Bu yang sama Fikri itu untuk apa, Bu? Apa itu harus kami isi juga , Bu?" tanya temanku yang lain.


"Itu tidak harus. Siapa yang mau saja?!" kata Bu Dona melanjutkan pekerjaannya.


Suara berbisik dari seluruh siswa pun terdengar pelan berbicara mengisi kekosongan di sela -sela kegiatan kami yang telah hampir mau usai.


Aku yang masih menatap lirih dengan pandangan kosong kini memutar kepala melihat temanku yang menarik bibirnya dengan ceria.


Cerita hari ini tentang aku dan Widia begitu memperihatinkan ke depannya. Kami yang selama ini terlihat akur sekarang malah menjadi retak layaknya seorang musuh bebuyutan.


Teng! Teng! Teng! Bel bertanda pulang pun berbunyi.


"Teman-teman, itu suara bel pulang," teriak temanku dengan senang.


"Horeeee! Akhirnya kita pulang juga," kata yang lain.


"Iya, cepat susun bukumu, Liyan. Biar kau tidak terlambat pulang," kata Fikri dari belakang.


"Iya Liyan, nanti Ayahmu marah kalau kau terlambat pulang," kata Rasyd yang telah mengetahuinya.

__ADS_1


"Dia 'kan, Anak emas," sambung Widia dengan gurat wajah yang datar tanpa menolehku."Ayahnya selalu saja takut kalau dia itu hilang." Widia melanjutkan sambil memasukkan alat tulis lainnya ke dalam tas.


"Hahaha!" Fikri dan Rasyd tertawa kecil kudengar.


"Berarti, sulit kalau mau mengajak Liyan untuk bermain," celetuk Fikri.


"Haa! Mengajak dia bermain." Widia menatapku. "Aku tidak mau, kalau kau mau, kau saja yang bermain dengannya," tutur Widia menatapku dengan jijik.


"Widia, kenapa kau mengatakan seperti itu?" tanyaku.


"Emang kenapa?" balas Widia bertanya kembali padaku. Terserah aku lah. Aku mau bermain dengan siapa," Widia menatapku dengan kebencian.


"Sudah selesai?" tanya Bu Dona yang telah berdiri ingin pulang. "Fikri, Rasyd. Tolong simpan buku ini ke dalam lemari Ibu, ya! Bu Dona menunjuk buku dengan kedua matanya sambil melihat Fikri dan Rasyd.


"Iya Bu," jawab mereka berdua.


Aku pun telah bersiap-siap menyandang tas dan menghampiri Bu Dona bersalaman sebelum keluar pintu kelas. Aku berjalan tidak seperti biasanya yang selalu berdampingan dengan Widia. Hari ini aku hanya berjalan sendiri selangkah di depan sebelum Widia. Widia yang berjalan di belakangku begitu cuek dan tidak sepatah kata pun keluar untuk menegurku yang berjalan di depannya.


Aku dan dia masih saja membisu sedangkan Septiani yang melintas dariku sama sekali tidak mau menegur, bahkan melihat wajahku pun dia enggan. Dia begitu kesal karena perhatian Fikri yang terlalu over padaku.


Septiani sedikit cemburu dengan itu. Dia tidak bisa menerimanya. Dia begitu membenci semua tentang diriku hari ini.


Aku lagi-lagi hanya bisa menghela napas yang panjang untuk memperkuat kesabaranku karena aku yakin ini hanya ke salah pahaman.


Aku menaruh keyakinan yang kuat pada sahabatku ini kalau mereka hanya sementara bersikap dingin padaku. Aku yang selalu menanamkan pada diriku untuk berpikiran positif atas semua yang terjadi berjalan lurus melihat ke depan tanpa kebencian sedikit pun.


Kebencian bukanlah sikap yang senantiasa aku pupuk. Ayahku tidak pernah bosan menasihati agar aku menjadi anak yang berbudi luhur.


Aku tidak lagi merasakan sakitnya di cuekin oleh sahabatku sendiri karena panasnya lapangan yang terik yang sekarang aku lalui. Kepiluan yang semakin menyerang diri ini dengan terang-terangan, sejenak melupakan keluh kesahku tentang penyakit yang masih saja menemani setiap langkahku yang bisu.


Kesendirian kini menjadi temanku yang terindah semenjak perselisihan yang terjadi antara aku dan kedua temanku. Langkah gontai pun semakin kencang menemani perjalananku. Ruas jalan yang di penuhi dengan hiruk pikuk kendaraan yang melintas yang membisingkan setiap pelangkah yang melewati jalan.

__ADS_1


Suara yang berisik itu membuat aku menutup telinga. Badan jalan yang menyilaukan mata terasa menyengat hingga menusuk kulitku yang putih. Sepatu hitam yang setengah layak di pakai menutupi kaki ini dari teriknya matahari yang menembus kulit.


Teriakkan anak-anak dari seberang jalan yang pulang dengan temannya memalingkan wajah yang pucat ini untuk melihat ke arah mereka. Betapa senangnya jika, kita pulang sekolah bersama dengan teman yang senantiasa menyayangi kita. Pikirku pun terus saja mengingat masa -masa aku dulu bersama Widia.


Ketika pulang selalu bersama. Tapi sekarang malah sebaliknya. Kenangan hanya akan tetap menjadi kenangan yang apabila diingat akan membuat tawa dan sedih. Sekarang semaunya telah berubah karena kesalahanku yang bersikukuh untuk meminta maaf pada Septiani meskipun Widia tidak menyetujuinya.


Inilah awal mula keretakan persahabatan kami. Awal mula tidak saling mengenal satu sama lain lagi. Semua telah porak poranda. Persahabatan yang dulunya hanya bertengkar kecil dan tidak pernah ada niat sedikit pun ada terlintas untuk memperpanjang kini hanya menjadi kenangan dan mimpi.


Persahabatan yang selalu bisa menyikapi setiap masalah kini hanya menjadi angan semu yang singgah. Semua tiada lagi sekarang. Semua telah hangus terbakar oleh rasa iri hati.


Perhatian dari salah satu sahabat yang menurutku tidaklah begitu penting malah merusak segalanya. Ternyata aku baru sadar bahwa diriku tidak layak untuk mendapat perhatian dari siapapun karena dalam hal ini perhatian adalah musuh yang nyata bagiku.


Bukan dari sahabatku saja, bahkan dari adikku juga. Setiap kali ayahku memberikan perhatian denganku, adikku selalu bermuka ketus padaku.


Namun, adikku tidak pernah menjadikan itu bumerang dalam hubungan kami berdua sebagai kakak beradik. Tapi aku tetap mengetahui perubahan dari gurat wajah adikku yang mendadak diam.


Langkahku pun semakin kencang aku ayun agar aku segera sampai dan meninggalkan matahari yang terik.


"Kaaaak! Tungguuu!" teriak seorang wanita dari belakang memanggilku.


Di tengah terik matahari yang menyilaukan mata. Aku memutar kepala langsung kebelakang melihatnya. "Ana, Andrini," gumamku.


.


.


.


Bersambung...


__ADS_1


__ADS_2