Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Adikku Menghilang


__ADS_3

Setiba kami sampai dirumah. Ibu sambungku pun, bergegas untuk turun terlebih dahulu. Dan setelah itu diikuti olehku. Ayahku berjalan dengan cepat dan terburu-buru.Aku melihat dia begitu panik memikirkan adikku yang belum terlihat hingga saat ini. Dengan tubuhnya yang sudah mulai meringkik dia memaksa kakinya untuk melangkah. Mencari adikku yang manja.


Lelah masih terlihat diwajahnya. Kedua matanya menunjukkan kalau ayahku ingin rehat sejenak. Tangannya begitu gemetar terlihat olehku dengan menggenggam belanjaan yang dibawanya. Napasnya yang kini terengah-engah menjadi saksi bagiku akan kelelahannya.


Aku yang masih berdiri diantara dapur dan ruang tengah. Melihatnya yang begitu mengkhawatirkan adikku. Terlihat jelas dari wajah lelahnya.


Aku melihat sesekali kearah jam dinding yang tak jauh tergantung didekat jendela tepat didepan ku. Ibu sambungku pun langsung berjalan ke dapur menghampiri ayahku. Mengulurkan bantuannya untuk ayahku. Diam- diam dia membersihkan semua bahan belanjaan yang dibawa oleh ayahku tadi. Ayahku yang pergi menghilang mencari adikku. Sampai saat ini aku belum melihatnya kembali.


Adikku yang sampai saat ini belum terlihat. Membuat aku juga terpaksa ikut andil dalam mencarinya. Sakitku yang kini mendera tubuh mungilku tidak lagi aku hiraukan. Suhu tubuhku yang panas, semakin terasa lebih meningkat. Membuatku untuk melupakannya sejenak. Aku langsung pergi keluar mencari adikku.


Dengan langkah yang terkulai aku menyeret kakiku. Setelah aku menukar pakaianku. Aku berjalan dari pinggiran jalan yang teduh. Menyisir setiap pinggiran rumah hanya untuk melihat adikku. Jalan demi jalan aku lalui. Dengan melekatkan pandanganku ke segala sisi jalan dan rumah yang aku lihat.


Disepanjang jalan aku melihat banyak anak-anak yang berkerumun dengan mainannya masing-masing. Seketika aku mengayunkan langkahku ketempat itu.


Aku menghampiri dan memperhatikan anak -anak itu yang lagi asyik bermain. Aku menarik napas dengan panjang. Raut wajahku pun seketika berubah kecewa yang begitu dalam. Bahwa, aku belum juga menemukan adikku. Dengan tubuh yang masih lemah. Aku kembali berjalan sebisa mungkin untuk menemukan adikku.


Aku pun kembali mengatur langkahku sambil menghela napas. Pikiranku pun kembali aku satukan dan melupakan rasa sakit yang aku alami. Angin siang yang berhembus begitu terasa dingin menusuk kedalam sendiku. Membuat tubuhku rasanya menggigil. Kekhawatiran ku pun mulai memuncak. Raut wajahku pun mulai terlihat kusut. Sesekali, amarahku tersulut didalam hatiku mengingat kembali kelelahan yang dirasakan ayahku yang telah dia lewati sepanjang hari ini.


Aku kembali lagi memutar jalan menuju rumah teman adikku yang aku ketahui. Dengan hati yang bercampur dengan api didalamnya aku menghampiri rumah salah seorang teman adikku yang aku lihat.


Seketika aku menghentikan langkahku dan menghampirinya.


" Dek, apa kalian melihat adik kakak?" Tanyaku dengan penuh menyelidik dan wajah yang lesu.


"Adik kakak." Mereka pun mencoba mengingat -ngingat.


" Ia, apa kalian melihatnya." Kataku kembali menegaskan.


"Kak, kalau hari ini aku belum melihatnya." Katanya pergi meninggalkanku.


Dengan wajah yang kecewa aku kembali memutar langkahku menuju rumah teman adikku yang lain.


Ditengah jalan aku melihat teman adikku yang begitu dekat dengan adikku yang tidak lain adalah Rahmadani.


" Kak." Rahmadani.

__ADS_1


Aku pun menolehkan pandanagaku ke arah sumber suara yang menghentikan langkahku.


" Ia, dek." Kataku dengan wajah yang sedikit ditekuk.


"Kakak lagi apa?" Tanyanya dengan begitu menyelidik.


"Kakak lagi mencari adik kakak. Apa kamu melihatnya?" Tanyaku dengan penuh menyelidik.


"Tidak kak! Sejak kapan Ana menghilang kak?" Tanyanya kembali dengan penuh penasaran.


"Dari waktu pulang sekolah tadi, dek!" Kataku dengan datar.


Rahmadani pun begitu sedih melihat ku yang lagi dalam kondisi sakit. Dia pun tanpa sungkan mengulurkan bantuannya untuk menolongku mencari adikku.


"Kak,kalau begitu, ayo kita cari adik kakak bersama!" Dia pun melangkah kan kakinya dan melepaskan kayu kecil yang di genggamnya tadi. Yang aku lihat tadi, dia gunakan untuk mengukir diatas tanah.


"Ia, dek!" Kami pun berjalan mencari adikku mengitari ruasnya jalan yang ada didekat rumah kami.


Waktu pun semakin lama semakin menunjukkan harinya. Matahari siang yang panas membuat bibir mungilku kering.


Sejenak, aku melupakan sakitku dan melihat anak-anak yang aku lihat.


Kami pun berhenti kembali di area anak - anak yang berkumpul diteras rumah seseorang. Aku melihat ada anak yang bermain dengan kemiripan adikku.


Aku melihatnya dengan begitu lekat. Menatapnya tanpa bergeming. Seketika, aku spontan beranjak menghampiri anak yang aku lihat.


"Kak, kenapa berhenti?" Tanya Rahmadani dengan penasaran.


" Ia,dek! Itu kakak lihat ada anak yang mirip seperti adik kakak." Kataku sambil berjalan menghampiri.


"Kak,coba aku lihat yang mana anaknya!" Rahmadani berjalan lebih dulu maju.


"Kak,itu bukan Ana, kak! Itu anak baru yang baru beberapa hari pindah ke kampung kita ini, kak. Dia baru beberapa hari sekolah disini. Satu sekolahan sama kita. Dan memang dari belakang dia sedikit terlihat mirip seperti Ana. Tapi itu bukan Ana kak."


"Kenapa? Kakak tidak tahu dek."

__ADS_1


"Kakak, kan engga pernah keluar rumah kak."


"Ia dek, apalagi selama ini kan, kakak sakit!"


"Emang kakak sakit apa kak?"


"Demam dek."


"Demam kak, kenapa lama sekali kakak sembuhnya?"


"Ia dek, kakak kurang tahu."


"Kak, ayo sekarang kita cari Ana! Sebentar lagi hujan akan turun kak. Aku takut nanti ayah kakak marah besar sama kakak."


Mendengar perkataan Rahmadani yang begitu perduli tentang kesehatanku. Membuatku begitu senang dan melupakan sedikit gejolak yang ada didalam hatiku. Selama kami berjalan aku menatapnya lirih dari belakang. Dia begitu berusaha untuk membantuku dan mengingatkan ku akan ayahku.


Seketika aku pun mengingat wajah ayahku kalau dia lagi marah.Menakutkan!


" Ia,dek kakak tahu!" Berjalan sambil menyusuri kembali jalan setiap rumah orang -orang yang kami kenal.


"Ada apa Rahmadani?" Tanya seorang anak yang berdiri didepan pintu.


"Mencari Ana, apa kau melihatnya?" Tanya Rahmadani yang berdiri di sampingku.


" Tidak! Kami tadi pulang sekolah tidak jalan bareng." Katanya dengan penuh penegasan.


" Lalu dia pergi kemana,ya!" Rahmadani.


Didalam perjalanan kami kembali mencari adikku yang masih mengenakan pakaian sekolah. Aku pun berusaha memutarkan kedua bola mataku melihat setiap lorong rumah dan jalan. Lagi-lagi aku belum melihatnya. Ntah,dimana dia saat ini.Gerutuku didalam hati.


Dengan langkah yang masih terseok-seok aku berusaha sambil mengingat kembali apa yang belum aku ketahui. Sesekali aku mengajak Rahmadani yang masih tetap di sampingku berbicara mengenai teman adikku yang lain.


"Rahmadani, apa kau masih mengetahui teman adik kakak yang lain?"


"Hmm! Ia,kak kemungkinan Ana ada disitu kak. Ayo kak kita kesana!"

__ADS_1


Rahmadani refleks menarik tanganku dengan kencang sehingga membuat kaki kecilku yang terkulai harus menyeret dengan terseok-seok. Sehingga kami terlihat berjalan seperti orang yang sedang dikejar oleh sesuatau yang membuat napas ku kini terengah.


Bersambung....


__ADS_2