Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Ocehan ayahku


__ADS_3

"... kenapa Kakak bertanya seperti itu?" Adikku langsung bertanya.


"Kenapa kau heran Ana?" tanyaku dengan penuh tanda tanya. Melihat adikku yang berjalan dengan ku.


"Aku bingung, Kak," kata adikku dengan memelas. "...Ayah... kalau sudah marah pasti kita akan terdiam," lanjut adikku mengenang ayahku yang tidak bisa lagi melihat jalan dengan tegak lurus.


Apa yang dirasakan oleh adikku itu juga yang kurasakan. Sepanjang aku melewati lantai rumah dan menatap lurus aku selalu terbayang dengan wajah ayahku yang menari-nari di dalam ingatanku. Gurat wajah ayahku yang letih seketika terlintas dengan sendu. Suaranya yang melengking, apabila memarahi kami tidak bisa aku bayangkan.


"Ana, kau berdo'a pada Allah supaya Ayah tidak melihat kita seperti ini!" pintaku pada adikku yang masih beriringan dengan ku.


"Kakak, kenapa tidak Kakak saja yang berdo'a ?" Lirik adikku dengan penuh harapan dan melemparkan pertanyaan itu padaku. Menolak dengan halus.


Mendengar penuturan adikku sontak aku langsung menutup mata dan menunduk menahan malu karena ucapan adikku yang benar. "Kenapa tidak kita berdua saja? Supaya do'anya cepat terkabul," ajakku melirik adikku.


Sontak adikku langsung menyeringai seolah dia ogah untuk mengikuti ajakkanku. "Huh!" Membuang pandangannya langsung dengan kasar.


"Ayo cepat bersihkan diri kalian! Jangan ada lagi nampak Ibu, kalian yang kotor." Ibu sambungku berhenti tepat di depan pintu tengah dan berdiri memutar badan ke belakang melihat ke arah kami.


Aku dan adikku yang masih bergandengan tangan. Tetap berdiri mendengarkan ocehan ibu sambungku. Kami yang masih bergulung dengan rasa takut menatap satu sama lain.


"Ini masih Ibu kesayangan Kakak...," bisik adikku di telingaku dengan sindiran halus. Melihat ke lantai sambil bergumam kecil dengan gerakan bibirnya yang tiada henti.


Adikku memang sering kesal di buat oleh ibu sambungku. Aku yang menunduk dan mendengarkannya pun merasa tidak nyaman. "Ana!" panggilku menatap adikku dari ekor mataku yang menunduk.


Adikku langsung menoleh ke arah kanan melihatku. "Ayo kita lari dari sini!" bisikku dengan pelan melirik adikku.


"Kakaaak!" teriak adikku pelan di telingaku mendelik. "...jangan coba-coba melarikan diri!" larang adikku seakan mengekangku di sini.


Ibu sambungku yang menemani kami sampai ke depan pintu dapur. "Sekarang kalian bersih-bersih dan jangan lupa! Baju kalian yang ini di susun rapi ke tempat pakaian kotor !" usul ibu sambungku memutar badan berjalan meninggalkan kami. "... ingat jangan lama-lama!" lanjutnya sambil membelakangi kami. "...nanti kalau kalian lama. Kalian itu bisa sakit !" imbuhnya dengan penuh penegasan.


"Baik Bu! Kami akan membersihkan diri kami," jawabku dengan nada suara pelan sambil melihat ibu sambungku berjalan.

__ADS_1


"Kak, aku sudah lelah berdiri," rengek adikku mengusik lenganku.


Spontan aku langsung memutar sorot mata melihat wajah adikku yang mengatakan itu. Aku begitu sedih bercampur geli melihat dia yang menunjukkan ke sedihannya itu kepadaku.


"Hihihi !" Tawa geli pun menggelitik hatiku kini. Adik yang selama ini galak, kini tiba-tiba melemah hanya karena hujan yang sedikit reda membasahi hoodieku dan hoodienya.


Sekilas adikku ingin segera mengajak aku dengan cepat beranjak dari tempat kami yang saat ini kami injak berdiri. Sebening kristal mata adikku menatap dinding rumah kami yang bercelah dengan nanar.


Mata yang sebening kaca ini pun aku putar melihat sekeliling lantai untuk melihat jejak kaki ayah yang kami takuti. Lantai yang bisu itu pun seolah memberi tahuku kalau ayahku belum melangkah hingga sampai sekarang.


"Ayo lah, Dik! Kita pergi sekarang saja ke sumur untuk membersihkan ini." Aku berjalan menarik lengan adikku yang memegang hoodienya dengan cemas.


"Kita pergi sekarang, Kak?" Adikku menatapku dengan penuh tanda tanya. Bergegas dengan cepat mengambil handuk dan sabun.


Uhuk ! Uhuk! Uhuk!


Aku langsung terkejut dan menghentikan langkah melihat adikku. "Ayah," gumamku pelan. Menatap wajah adikku yang ikut panik.


Aku yang telah lama tidak bermain air langsung memelas melangkah dengan gontai dan gurat wajah yang di tekuk. "Ana, Ayah sudah bangun." Aku memutar kepala melihat adikku dengan penuh kecemasan.


"Lalu kenapa, Kak?" tanya adikku dengan tatapan yang sendu.


"Kalau sampai Ayah melihat. Kita tidak akan selamat," singgungku. Berdiri dengan gemetar memegang sabun dan handuk.


Setelah mendengarnya adikku langsung manyun tidak semangat. Aku dan adikku sudah mengetahui kalau ayahku tidak akan memaafkan kami. Jika sampai dia tahu kalau kami berdua bermain hujan. Aku yang seperti patung membeku menunduk melihat ke pakaian hoodie yang masih kupakai. "Dik, baju ini juga kotor," tuturku dengan nada suara yang lesu.


"Kakak, jangan mengingat itu lagi. Aku jadi, takut menghadapi Ayah," cetus adikku yang berjalan merangkulku. "... sekarang, ayo kita ke sumur, Kak!" Adikku menunduk dan melihat kaki kanannya yang melangkah.


Bayang-bayang wajah ayahku seakan menari-nari dengan sorot matanya yang tajam dengan segenap peluhku. Aku merintih di dalam hati agar kami berdua terbebas dari cengkraman ayahku nanti ketika dia bangun dari tidurnya.


Aku yang menatap jalan dengan ramah. Mengacungkan kaki untuk berjalan lurus menghampiri sumur yang telah tersedia air yang banyak untuk membersihkan tubuh kami.

__ADS_1


"Ayo cepat Ana!" Aku menarik lengan adikku segera beranjak.


"Iya, aku memakai sandalku dulu, Kak." Adikku melihat ke kakinya dan memakai sandal yang setengah ingin terlepas. "...Kak, Ayah pasti akan melihat kita." Adikku melirikku. "...Ayah itu matanya banyak, Kak. Selama ini Ayah selalu tahu kalau kita berbuat kesalahan."


"Iya, Kakak juga heran, Dik." Aku juga berpikir hal yang sama dengan adikku kalau selama ini ayahku selalu teliti dengan gerak gerik kami.


Ayahku tidak pernah meleset ketika dia menebak yang kami lakukan. Sorot matanya yang tajam seakan berkeliaran di setiap sudut ruang rumah ini, bahkan rasanya bayanganku adalah bayangan ayahku.


Hal inilah yang membuat aku gerah dan terikat ketika ingin melangkah. "...Ana, makanya, kita harus cepat supaya Ayah tidak melihat kita seperti ini," risau hatiku sambil melihat kakiku yang melangkah dengan sandal jepit kumis kucing.


"Kakaaak, jangan buat aku semakin gelisah," rintih adikku seakan depresi karena gertakan yang terdengar di telinganya.


"Liyaaan!" teriak ayahku memanggil namaku dengan keras mengaum di udara yang berkabut.


Kabut awan mendung yang menimpa bumi berputar seakan mengikuti dan meninggalkan kami. "Coba Kakak dengar... ." Adikku mengayunkan tangan sebagi isyarat memberitahukan kepadaku kalau ayahku telah berteriak. "...Ayah tidak pernah memberi kita kebebasan sedikiiiit saja, Kak," celetuk adikku dengan penuh penekanan.


"Kalau begitu cepat, Dik." Aku menarik lengan adikku dan berlari kencang hingga bumi pun menjerit karena kaki kami.


"Kaaaak! Tunggu aku." Adikku berteriak.


"...nanti kita terpeleset. Jalannya licin, Kak," tandas adikku berhenti sambil memakai sandalnya yang ingin terlepas.


"Makanya, sandalnya di pakai dengan bagus, Dik. Supaya tidak lepas," timpalku dengan kesal.


Aku yang berhenti sambil memegang sabun dan handuk mematung melihat adikku dengan kesal sendiri. "...kalau begini, Dik. Bisa-bisa Ayah datang kemari dan bertemu dengan kita," gerutuku dengan ketus memutar pandangan ke segala arah.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2