
"Taruh semua ini ke tempat yang kotor!" suruh ayahku memberi perintah.
Seluruh isi tas pun telah keluar. Semua telah terletak di atas meja. Sekarang tidak ada lagi yang tersisa.
Baju sekolah, sepatu dan tas pun berserta isinya terletak di atas meja. Baju yang basah pun segera aku bawa ke dapur dan menaruhnya di dalam tempat pakaian kotor.
"Liyan, taruh yang rapi!" perintah ibu sambungku dengan lantang.
Pluk!
Aku pun menjatuhkan baju ke dalam tempatnya.
"Liyan, seharusnya kau jangan pulang, kalau hujannya belum reda! Kau tau? Kalau kau sakit. Uang semua habis hanya untuk berobatmu! Tidak ada lagi untuk ku," cecar ibu sambungku menyindir. Menyapu dapur.
Aku hanya diam sambil meremas hati yang perih.
"Sudah berapa lama kau sakit. Kau tau tidak ?" cetusnya bertanya padaku.
Aku semakin diam menutup mulut mengambil minum bercampur takut.
"Selama kau sakit. Ayahmu selalu sibuk mencari uang hanya untuk berobatmu bukan untuk ku," cecarnya keterlaluan dengan penuh kebencian.
Glek! Glek! Glek!
Aku meneguk air minum sambil mendengarkan omelannya. Air minum yang kuminum terasa kasar ketika melewati tenggorokan. Cecaran dari ibu sambungku semakin garing terdengar.
"Ini malah kau pulang dengan basah. Kalau adikmu tidak memeriksanya, mungkin Ayahmu tidak akan tau," tandasnya menjelaskan. Dia terus melanjutkan sapuannya hingga selesai.
Minum yang kuteguk pun telah habis dan aku pun meletakan gelas di atas meja di dekat teko.
"Kalau adikmu tidak memberi tau Ayahmu. Mungkin kau akan sering bermain hujan," lanjut ibu sambungku semakin senang.
Aku masih diam dan tidak berkata sedikit pun. Gelas yang telah terletak pun aku tinggalkan segera. Aku berjalan melewati ibu sambungku yang sedang menyapu.
Puk!
Sapu pun terlempar dan hampir mau mengenaiku. Sapu yang tersungkur di lantai pun mengejutkan langkah dan berhenti.
"Kau mau kemana?" tanya ibu sambungku dengan nada suara yang tidak bersahabat.
"Mau belajar, Bu," jawabku pelan dengan bibir bergetir. Memutar badan perlahan tepat menghadap ke arah ibu sambungku yang melempar sapu.
"Cepat ambil itu!" katanya dengan nada suara kesal bercampur amarah menyuruhku. "Jangan belajar saja taumu!" katanya.
Aku pun mengangguk pelan, lalu mengayunkan kaki ini melangkah mengambil sapu. Refleks dengan perlahan aku menjatuhkan tubuh mungil mengambil sapu.
__ADS_1
"Jangan ada sedikit pun yang tinggal. Semua harus bersih dan kilat!" katanya dengan nada suara keras menyuruhku.
Sapu yang terletak di lantai pun, aku ambil sambil melihat lantai dan menajamkan pendengaranku mendengar langkahnya.
"Jangan melirikku! Kalau kau tidak mau di marahi!" katanya dari belakang mengingatkan.
Aku pun hanya mengangguk kembali menjawab peringatannya.
"Sapu itu sampai bersih!" perintahnya keras. "... begitu aku pulang, harus sudah siap," katanya menandaskan.
Dia pun melangkah keluar terdengar dari pendengaranku, sepertinya langkah itu keluar rumah. Aku pun yang ingin tahu bercampur penasaran lekas menoleh ke arah pintu.
Aku yang berdiri memegang sapu pun tercengang melihatnya berjalan melenggang keluar. Sapu yang telah dicampakan ke lantai dengan kasar. Aku ambil dan menyapu seluruh lantai rumah sampai bersih.
Hari ini aku menyapunya harus serius meski sedikit berat. Rumah yang tidak berapa kotor ini pun, setengah jalan telah bersih. Aku kemudian masuk ke dalam kamar ayahku menyapu lantainya untuk yang pertama kalinya.
Takut bercampur cemas, aku terus menyapu lantai mulai dari ujung sampai ke ujung. Pintu lemari yang sedikit terbuka pun membaut aku penasaran ingin tahu.
Sapu yang tadi kupegang kini kuletakan di dinding tepat bersebalahan dekat lemari. Perlahan aku membuka lemari dengan rasa penasaran yang penuh.
Kreeerk!
Lemari itu pun pelan-pelan terbuka. Setelah melihatnya. Aku langsung terkejut melihat lemari ayahku sedikit berantakan. Pakaian yang berserakan itu pun, aku rapikan sebagus mungkin.
Tiba-tiba aku menemukan lembaran sebuah foto yang tersimpan di dalam plastik. Plastik yang ingin aku ikat pun langsung aku tunda. Aku sangat penasaran bercampur tanda tanya yang besar ketika menemukan foto.
Perlahan aku memperhatikan foto itu dengan tajam. Foto yang sangat manis terlihat yaitu, foto sebuah keluarga kecil bersama dengan anak-anaknya.
Aku semakin antusias ingin mengetahui itu foto siapa. Foto yang berukuran sedang itu begitu manis sekali terlihat dengan seorang anak yang duduk bak seorang putri dengan topinya yang bundar sangat menyita perhatianku.
"Liyan!" Tiba-tiba aku terkejut bercampur khawatir setelah mendengar suara memanggil.
Foto yang kupegang pun bergegas aku simpan kembali dengan cepat aku lekas memasukannya ke dalam saku.
"Liyan !" Suara itu kembali berteriak memanggilku seakan terdengar, dia sangat cemas.
Aku spontan panik terkepung di kamar ayahku. Suara yang memanggil itu tidak lain adalah suara ayahku. Aku tidak menyangka kalau ayahku secepat ini pulang.
Tubuh mungilku semakin gemetar mengingat ayahku yang sangat benci kalau lemari pakaiannya di periksa.
Aku lekas keluar memegang sapu. Foto yang tadi telah aku sembunyikan di saku celana.
"Liyan!" Ayahku terperanjat ketika melihat aku keluar dari dalam kamarnya. Dia dengan bengong menatap dan penuh tanda tanya.
"Ngapain di sini, Nak?" tanya ayahku ingin tahu.
__ADS_1
"Menyapu, Yah," jawabku dengan nada suara getir bercampur gugup. Menunduk.
Ayahku seakan curiga. Dia diam dalam waktu yang lama memerhatikanku.
"Nyapu apa?" tanya ayahku seperti seorang detektif.
Aku semakin bingung untuk memberikan jawaban. Kepala tetap menunduk melihat lantai.
"Menyapu pasir, Yah," jawabku dengan polos, di ikuti oleh tanganku meremas tiang sapu dengan kuat.
"Menyapu pasir ?" tanya ayahku dengan penuh tanda tanya. "Itu apa?" tanya ayahku yang membuatku tersentak dan menaikan kepala.
Seolah aku panik dan khawatir setelah mendengar pertanyaannya.
"Tidak ada Ayah," jawabku dengan gugup bercampur resah.
"Benar tidak ada?" kata ayahku dengan penuh penekanan bertanya padaku.
Aku semakin gugup setelah mendengarnya. Bibirku pun sangat sulit untuk terbuka. Aku sangat risau memikirkan foto yang tersimpan di dalam sakuku.
"Liyan, benar tidak ada?" tanya ayahku semakin menatapku tajam.
Aku tiba-tiba teringat dengan karakter ayahku yang tegas dan tidak suka di bohongi. Aku semakin bimbang harus menjawab jujur atau tidak. Berkali-kali aku memutar bola mata melihat lantai dan melihat ujung kakinya.
Dengan berat hati aku lalu membuka bibir sekaligus menaikan kepala. "Melihat foto Ayah," jawabku jujur. Merogoh saku mengambil foto.
"Foto ?" tanya ayahku dengan nada suara keras yang terdengar seakan dia marah besar.
"Iya, Ayah," jawabku. Mengangguk dan menyerahkan foto.
"Jadi... ." Ayahku menghentikan ucapannya. Melihat foto yang dia ambil. Dia seakan terkejut besar setelah melihatnya. Seakan dia tidak percaya kalau aku telah menemukan foto lawas itu.
"Ini adalah foto Ibumu," kata ayahku dengan nada suara parau bercampur senang.
Sontak aku pun terkejut mendengarnya dan lekas menatap ayahku.
"Liyan, ini adalah gambar Ibumu. Ibu yang telah melahirkan kalian. Dan ini juga adalah kau. Yang duduk di kursi memakai topi bak seorang Putri raja," kata ayahku memberitahu dan menjelaskannya satu per satu yang ada di dalam foto.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1