
Anak Bp yang telah aku gunting dengan rapi semuanya. Aku atur dan aku susun sesuai dengan keinginanku. Aku pun tersenyum manis melihat anak Bp yang cantik-cantik.
"Bajunya cantik -cantik semua," kata adikku pelan. Tiba-tiba berdiri di sampingku.
Deg!
Aku sontak terkejut dan memutar langsung kepala ke arah samping tepat di tempat adikku berdiri.
"Ana, kau belum tidur ?" tanyaku. Memutar sedikit lirikan meliriknya.
"Belum. Aku belum mengantuk," jawab adikku.
"Bukannya tadi kau bilang pada Ayah. Kau sudah mengantuk," kataku dengan pelan. Mengulangi yang diucapkan adikku tadi di luar.
Brak!
Adikku langsung naik dan duduk. "Itu tadi hanya pura-puraku, Kak," katanya langsung. Mendekatkan bibirnya di telingaku dan melihat aku yang asyik bermain.
"Kakak pikir kau memang mengantuk," ucapku . Melirik adikku.
"Kak, kenapa Kakak suka bermain ini?" tanya adikku ingin tahu. Menatapku dengan lekat.
Aku terdiam dan menghentikan tangan ini seketika. "Kakak hanya suka saja," jawabku pelan bercampur dengan sebuah rahasia.
"Suka saja. Suka kenapa?" tanya adikku kembali seolah dia bingung.
Aku tetap diam menatap anak Bp dengan nanar dan menajamkan pendengaran mendengar pertanyaan yang terus dilayangkan adikku terhadapku.
"Kak, biasanya orang itu kalau bermain. Pasti ada yang paling dia sukai. Makanya dia memainkan permainan itu?!" tutur adikku. Sok tahu.
"Iya," jawabku dengan acuh.
Namun, aku tetap diam dan terus menyimak yang diucapkan oleh adikku.
"Tapi Kakak hanya sekedar suka saja. Itu bukan jawaban, Kak," kata adikku. "Biar Kakak tau. Aku punya teman di kelas. Teman aku itu sering bermain layang-layang. Dia bilang, karena dulu Ayahnya suka main layang-layang dengannya sewaktu Ayahnya masih hidup. Makanya dia suka bermain layang-layang," katanya menceritakan masa lalu temannya.
Aku yang memegang anak Bpku. " Lantas, kau kenapa suka bermain boneka ?" tanyaku ingin tahu. Melirik adikku yang sok tahu.
"Mmm, aku cuma suka aja mendengar dia menangis," jawab adikku langsung.
"Hahaha ! Aku langsung tertawa lebar mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya begitu lucu. "Jadi, kau cuma pengen mendengar suara tangisannya?!" kataku bertanya. Melihat adikku.
__ADS_1
"Iya Kak," jawabnya spontan.
"Hahaha !" Aku terus tertawa memenuhi ruangan kamar kami. Di ikuti oleh kedua tanganku menggerakkan anak Bp sesuai keinginanku.
Adikku begitu mengerutkan keningnya melihatku. Aku tetap tertawa melihat wajah adikku yang berkerut itu di tengah cahaya lampu yang buram.
"Ana, berarti kita sama. Kakak bermain anak Bp karena suka. Sementara kau bermain boneka karena pengen mendengar suara tangisannya. Hahaha !" Tawaku kembali mengaum di langit -langit kamar kami.
"Ana, Liyan! Suara ketawa siapa itu?" tanya ayahku dari luar kamar.
Ups! Aku langsung diam menutup mulut dengan merapatkan kedua bibirku.
"Tidur lah Nak, apalagi! Ini sudah malam. Biar pun besok libur, tapi tidur tetap seperti biasa, cepat! teriak ayahku dari luar.
"Nanti kemalaman kau tidur Liyan, sakit lagi kau nanti!" tandas ibu sambungku dari luar menyambungnya.
Aku terus menutup mulut dan menahan tawa yang ingin keluar. Anak Bp yang menjadi mainan favoritku terus menerus aku lanjutkan meski aku sudah mengantuk.
"Kak, belum ngantuk?" tanya adikku dengan penasaran.
"Belum," jawabku. Menggeleng pelan dan melayangkan sorot mata menatap adikku dengan wajahku yang imut.
"Baiklah Kak. Aku mau bertanya lagi," kata adikku. Memutar duduknya dengan bagus. "Kak, Kakak gak sedih terus menerus di kurung di rumah ?" tanya adikku bak seorang reporter.
"Masa Kakak gak tau," keluh adikku sebal. "Kakak semua gak tau. Aku tanya bermain Anak Bp pun. Kakak gak tau," gerutunya mengeluh.
Aku seketika terenyuh setelah mendengar kekecewaan adikku yang belum mereda.
"Ana, kakak suka bermain anak Bp karena Kakak bisa mengatur hidupnya seperti yang Kakak inginkan," tandasku. Memecah kesunyian.
Adikku seolah terpelongo dan bengong setelah mendengarnya. "Mengatur seperti apa Kak?" tanyanya ingin tahu. "Aku gak mengerti," terangnya.
Aku langsung menarik napas dalam. "Kalau Kakak gak suka ia dimarahi. Kakak bisa membuatnya tidak di marahi juga. Kalau dia misalnya di kurung oleh ayahnya kakak bisa membuatnya supaya ayahnya jadi baik samanya," tandasku.
"Hahaha ! Kakak ada-ada saja," timpal adikku. "Jadi, Kakak mau menukar Ayah dengan Anak Bp," sambungnya sambil tertawa.
"Kalau bisa," sambutku dengan gamblang.
"Kalau Ayah tau. Kakak di marahi atau gak, ya?" tanya adikku kepada diriku. Berpikir.
Aku langsung pucat mendengarnya. "Ana, jangan bilang sama Ayah, ya," pintaku dengan lembut memohon kepada adikku.
__ADS_1
"Mmm, aku gak tau Kak. Kadang aku bisa keceplosan," balas adikku dengan acuh.
Aku langsung lemas mendengarnya. Tangan ini pun serasa tidak berdaya memegang anak Bp.
"Tapi, kau juga suka bermain boneka. Sudah bonekanya jelek tukang nangis pula lagi," ledekku. Melirik boneka yang terletak rapi di atas tempat tidur. Boneka itu di tidurkan oleh adikku layaknya, seperti anak bayi yang tidur.
Adikku diam dan berpikir. "Aku suka karena dia kasihan tidak punya Ibu," balas adikku dengan nada suara dan gurat wajah yang lirih.
Sontak tanganku yang memainkan boneka terhenti dan aku pun langsung memutar kepala perlahan melihat adikku yang duduk di sebelah tepat di sampingku.
"Makanya aku sayang samanya, Kak," ujar adikku.
Aku sangat bingung. Aku harus terawat atau bersedih setelah mendengar alasan adikku dan melihat boneka yang sedang tertidur dengan pulas. Tidak berapa lama aku kembali menjatuhkan pandangan melihat anak Bp yang terhenti setengah mengayun di udara.
Huaaaahh!
Adikku pun menguap dengan lebar. "Kak, aku ngantuk," ucap adikku. Menutup mulutnya.
"Tidurlah!" seruku. Menatap adikku yang sudah mulai meredup.
"Kak, aku tidur duluan, ya," katanya. Menyeret tubuhnya bergeser ke tempat tidurnya. "Selamat malam Kak!" Ucapnya. Memeluk boneka kesayangannya.
"Selamat malam, Dik," jawabku. Menatap lurus ke dinding kamar dengan pandangan kosong.
Malam sudah larut. Ayahku yang tadi menyuruhku lebih cepat tidur pun kini tidak terdengar lagi suaranya. Begitu juga dengan ibu sambung kami yang suaranya selalu terdengar di saat dia membuka matanya sampai menutup matanya.
Lain halnya dengan aku yang masih bermain anak Bp dengan senang dan seorang diri. Tangan mungil ini terus bergerak sesuai perintah dariku untuk memainkan anak Bp yang membuatku merasa tidak sendiri.
Rumah- rumahan yang tersusun dari buku-buku tulis dan kotak pensil itu pun terlihat mengisi setengah dari tempat tidur. Semua terlihat rapi dan cantik seperti sketsa rumah idaman.
Aku seketika tersimpul manis dan melupakan semua yang terjadi dalam satu hari ini yang menimpa.
Kha! Kha! Kha!
Suara dengkuran dari adikku yang sudah terlelap pun terdengar mengusik keheningan malam. Suara jam dinding terus berputar dengan cepat terdengar dengan jelas menembus tirai kamar kami dan masuk ke dalam lubang telinga.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...