
Mendengar ucapan ayahku tubuhku langsung gemetar.
"Dek,Ayah pasti marah besar pada mu." Kataku dengan datar. Menatap adikku lekat.
"Aku engga tahu kak, biasanya Ayah engga pernah marah,tapi ini aku kurang tahu kak." Kata adikku dengan lirih menatapku.
Adikku pun merebahkan badannya melihat sudut dinding sambil bergumam kecil. Menatapku sesekali dengan penuh kecemasan. Mulutnya yang terkunci membuat aku sedikit kasihan.
Ayahku kalau sudah marah takkan ada yang bisa untuk meredakannya,selain air mata adikku. Akan tetapi kali ini aku tidak tahu, apakah itu akan terjadi? Tanda tanya besar kini bersemayam di hatiku. Berkerumun di dalam diriku yang polos.
Wajah adikku yang sering berbinar kini redup bagaikan disambar petir.
"Kak,kalau Ayah marah padaku hari ini,hatiku sedih kali kak." Kata adikku menatap dirinya. Duduk dan menunduk.
"Kakak juga kurang tahu dek,apakah Ayah marah padamu?" Lanjut ku dengan khawatir.
"Pasti senang nanti hatinya kalau aku dimarahi Ayah." Ujar adikku kembali,melihat ku.
"Hati siapa?" Tanya ku ingin tahu.
Adikku melihat ku sambil memainkan selimutnya. Gurat wajahnya yang panik terus menatap dinding kamar yang bisu.
"Kak,ayo kita bermain!" Ajak adikku sambil mengarahkan kedua matanya melihat sebuah kotak kecil yang bening.
"Main apa? Tanyaku menatap adikku penuh tanda tanya.
"Main ini." Jawab adikku. Berjalan.
"Dek,mana mungkin kita main itu." Tolak ku dengan kasar.
"Kenapa kak?" Tanya adikku dengan sedih. Melepaskan genggamannya dari kotak bening.
"Itukan kelereng." Kataku spontan.
Seketika wajahnya berubah memelas. Dia duduk kembali di pinggir tempat tidur dengan wajah yang ditekuk. Pandangan nya yang kosong dia lemparkan ke bawah melihat lantai.
Duduk diam seperti patung seakan meratapi dirinya yang terkena sial hari ini.
Aku hanya diam melihat adikku yang kacau akan nasibnya hari ini. Wajah kasihan ku menatap kebisuannya. Jemari lemahku ingin sekali menyapa adikku yang terpukul hari ini karena ulahnya sendiri.
Ingin sekali aku meringankan bebannya dan mengeluarkan semua masalah dirinya agar dia bisa tersenyum dengan lepas seperti biasa.
"Kak,tolong bilang sama Ayah!" Pinta adikku dengan lembut. "Agar Ayah tidak marah padaku." Menatap ke lantai dengan cemas.
Mendengar permintaan adikku membuat ku semakin bingung. Aku tidak tahu harus berbuat apa untuk membantu adikku dan meredakan amarah Ayahku.
"Dek,apa yang harus kakak bilang pada Ayah." Kataku dengan pelan dan terbata. Menatap adikku yang masih ambigu terhadap masalahnya.
"Bilang aja kak sama Ayah,jangan marah-marah lagi,begitu kak." Balas adikku dengan wajah memohon.
Melihat adikku yang begitu besar menaruh harapan kepada diriku membuat aku semakin frustasi. Apa? Yang akan aku katakan pada Ayahku untuk menolong adikku. Kata-kata itu terus saja menghantuiku dan membuat pertanyaan yang begitu menyiksaku.
Sepertinya aku akan depresi sepanjang hari menghadapi adikku yang kembali berulah menyengsarakan ku. Gerutuan kecil terus hadir di dalam hatiku.
Wajah asli adikku terlihat depresi membayangkan amarah ayahku yang akan menyerangnya saat ini juga.
Diriku pun terus saja berkutat dengan masalah yang tiada henti. Jerit hati kecilku semakin terdengar keras.
" Dek,kakak tidak berani meminta pada Ayah, apa yang kau inginkan?" Tolak ku dengan lembut. Meremas jemari kecilku dengan wajah nyengir.
Mendengar penolakan ku adikku spontan memalingkan wajahnya melihat ku.Kedua matanya kini memerah dan mendelik dengan wajah yang ketat. Sorot matanya yang tajam menatapku tanpa berkedip. Wajah adikku terlihat menyimpan kekesalan yang dalam untuk diriku dengan mengepal tangannya dengan kuat.
"Kakak engga mau bantu aku kali ini." Tuntut adikku dengan penuh penekanan.
"Bukan kakak engga mau dek,tapi kau tahu sendiri kan,Ayah seperti apa?!" Lanjut ku dengan gugup. Melihat adikku yang menatap ku tajam.
"Kak,sekali ini saja bantu aku." Pinta adikku dengan wajah memohon.
Mendengar permintaan adikku dengan wajah memohon nya,membuat diriku menggenggam sebuah tuntutan yang mengikat ku dengan kuat.
Aku yang lemah terpaksa harus memutar otakku berpikir untuk menyelamatkan adikku. Wajah ku kini terlihat begitu mencari-cari jalan keluar untuk adikku. Melihat sekeliling dengan kedua bola mataku sambil meremas jemari kecilku.
Terlalu lama aku diam dalam kesunyian melihat keadaan semuanya. Lama ku tunggu duduk dan terdiam mengingat jawaban apa yang akan aku berikan untuk adikku,semakin menguras emosi jiwaku.
"Dek gunakan saja air matamu untuk menyelamatkan darimu dari amukan Ayah nanti." Kataku dengan lugas. Menggeser tubuhku yang lelah.
"Apa?!" Sontak adikku terkejut. "Itu tidak mungkin kak." Sahut adikku dengan mengayunkan tangannya ke udara dengan sedikit kesal.
"Lalu apa dek yang harus kakak lakukan untuk menolong mu." Tanya ku pada adikku dengan menahan emosiku.
"Apa yang kakak tahu saja." Balas adikku dengan wajah yang tenang.
Semakin lama aku berdebat sama adikku semakin membuatku kesal. Rasanya tak akan ada penyelesaian akhir dari pertengkaran kecil kami. Semakin lama aku semakin tertekan diantara mereka.
Aku yang berjuang keras dengan sakitku sekarang harus di hadapkan dengan masalah yang ambigu.
__ADS_1
Sesekali aku menatap lurus kedepan dengan gurat wajah yang dipenuhi dengan segala pikiran yang memenuhi kepala kecilku.
Adikku yang keras terus saja memberikan ku sebuah ultimatum yang seakan tidak bisa untuk aku langgar apalagi harus keluar.
Seakan semua ini tidak adil bagiku. Dia yang berbuat,ayahku yang marah,malah aku yang ditindas.
Adikku yang duduk tepat dihadapan ku.Dia terus menunggu jawaban dariku untuk menyelamatkan nya.
"Nanti bantu aku ya kak." Pinta adikku kembali. Melihat ku dengan wajah pilu.
"Nanti dek kak....." Spontan aku menghentikan perkataan ku. Berlari keluar menemui ayahku.
"Liyan!" Teriak ayahku.
"Ia, Ayah." Jawabku menghampiri ayahku. Berdiri di samping ayahku.
"Mana adikmu? Ana." Tanya ayahku. Memasak.
"Di kamar Ayah." Jawabku dengan pelan.
"Ngapain kalian di kamar?!" Tanya ibu sambungku ingin tahu. Mendelik.
Tatapan nya yang menyeramkan membuat ku diam dan mematung. Bibir kecilku kini terkunci dengan rapat,aku pun diam seribu bahasa.
Ibu sambungku yang berdiri di depan ku membuatku seperti terbelenggu.
"Liyan,panggil adikmu, cepat!" Pinta ayahku dengan pelan. Menyusun makanan di piring.
"Baik Ayah." Sahutku. Berjalan.
"Dek." Panggilku. "Di suruh Ayah keluar." Seru ku dengan pelan sambil menyibak tirai kamar.
Spontan adikku memalingkan wajahnya melihatku dengan cemas. Dia pun menyeret kakinya dengan perlahan dan melihat ke bawah.
Terlihat begitu berat adikku menghampiri ayahku. Dari wajahnya seakan dia tidak ingin menemui ayahku.
Aku yang berjalan mengikuti langkahnya dari belakang dengan tubuh lemahku,melihatnya begitu malas.
"Kak, mau ngapain Ayah memanggilku?!" Tanya adikku dengan penasaran. Berhenti dan melihatku.
" Kakak kurang tahu dek." Jawabku dengan pelan. Berdiri dan melihat adikku.
"Kakak semua tidak tahu. Huh!" Bisik adikku pelan dengan kesal. Berjalan.
"Liyan!" Panggil Ayahku.
"Duduk disitu dan makan!" Perintah ayahku. Memberikan piring ke tanganku.
"Ana masalah mu belum selesai, makan dulu,duduk di situ!" Perintah ayahku dengan sorot mata yang tajam.
"Baik Ayah." Sambung adikku dengan pelan dan menunduk. Mengambil piring dan duduk bersebelahan dengan ku.
Wajah ku dan wajah adikku terlihat begitu ketat karena ketakutan belum lagi wajah ayahku yang begitu ketat dengan amarah yang mengisi jiwanya sehingga membuat aku dan adikku gemetar dan diam seribu bahasa.
Ibu sambungku yang duduk di tengah-tengah kami dengan piringnya yang terisi penuh menatap kami dengan tajam.
Mulutnya yang terus mengunyah makanan dengan perlahan duduk bersila dan diam juga.
Aku dan adikku sesekali berbisik akan diri kami sendiri.
"Kak,apa yang akan terjadi selanjutnya?!" Tanya adikku berbisik di telinga sambil menelan makanannya.
Spontan aku terperanjat kecil menahan makananku di tengah tenggorokan mendengar bisikan adikku yang mendarat di telingaku.
Seketika aku memutar kepalaku melihat adikku dengan wajah seakan membenarkan yang di ucapakan oleh adikku.
"Apa yang akan terjadi?!" Tanyaku kembali berbisik pelan di telinga adikku ingin tahu.
"Mana aku tahu! Aku cuman nanya sama kakak." Celetuk adikku yang berkutat dengan makanan di hadapan nya.
Huh!
Seketika aku memalingkan wajah pucatku dari adikku yang mencoba menggoda ku dengan perkataan nya yang ambigu.
"Coba lihat ibu tersayang mu itu kak,dia begitu serius menghadapi makanannya." Canda adikku melihatku.
Mendengar ocehan adikku yang terus menghantui telingaku membuatku menggeser sedikit duduk ku darinya.
"Sudah makan saja makanan mu, habiskan!" Desak ku pada adikku. Menatapnya dengan datar.
Adikku pun seketika diam menatap ku dari kejauhan sambil memonyongkan bibirnya ke depan. Sorot matanya yang tajam menatap ku dengan wajah yang kesal.
"Liyan,sudah selesai makan mu?!" Tanya ayahku. Menatap ku dan menatap adikku.
"Belum Ayah." Jawabku pelan sambil menggelengkan kepalaku.
__ADS_1
"Kenapa belum?" Tanya ayahku kemabli dengan sorot mata yang tajam. Menatap ku dan adikku kembali.
Aku yang merasa heran dengan ayahku mencoba meliriknya dari ekor mataku melihat ayahku yang menatap ku dan adikku dengan keadaan kami yang bertengkar kecil.
"Ana,apa yang kau lakukan?!" Tampik ibu sambungku menatap adikku tajam.
Adikku sontak terkejut dan memutarkan kepalanya spontan.
"Jangan bicara seperti itu pada anakku,aku tidak suka!" Potong ayahku dengan sorot mata tajam. Duduk di kursi. " Kalau kau tidak suka melihat anakku sampaikan saja padaku,biar aku yang akan memarahi anakku." Sergah ayahku menatap ibu sambungku.
"Sudah ku duga,kau pasti akan membela anak mu yang satu ini." Sindir ibu sambungku dengan kesal.
"Apa masalah bagimu kalau aku membela anakku atau pun tidak. Kurasa itu tidak begitu penting buat mu." Tampik ayahku kembali melemparkan pandangannya dari ibu sambungku.
"Oh! Tidak begitu penting, jadi kau anggap apa aku disini." Sungut ibu sambungku. Berdiri.
"Kau tidak perlu di anggap apa-apa,cukup diam dan ikuti perintah ku." Kata ayahku dengan keras.
"Oh,tidak perlu di anggap apa-apa,heh!" Tertawa sinis. "Pantesan saja kau tidak pernah melihat ku." Rintih ibu sambungku dengan kesal.
"Lihat kau bilang! Apa yang mau dilihat." Pekik ayahku dengan sedikit meninggi. Berdiri. "Bukankah kau pergi keluar dan pulang ke rumah ini sesuka hatimu." Sindir ayahku menatap ibu sambungku tajam.
"Heh! Itu saja kau permasalahkan." Kata ibu sambungku menyeringai. "Apa engga ada lagi permasalahan yang lain?!" Sesal ibu sambungku. Memalingkan wajahnya dari ayahku.
"Kau ini selalu memancing keributan di muka anakku!" Bisik ayahku dengan penuh penekanan. Pergi menghilang dari hadapan wanita itu dan kami.
"Setiap saat selalu anakmu dan anakmu,cih!" Gumamnya dengan kesal.Menatap aku dan adikku.
Tubuh lemahku kembali terhenyak mendengar nya. Tangan kecilku yang lemah spontan melepaskan piring yang ku genggam. Gelas yang terduduk di sampingku begitu gemetar ketika ku sentuh.
Suara lirih adikku terdengar gemetar ketika dia bergumam sendiri ketakutan. Wajah polosnya kini di basahi oleh keringat kecemasan. Jemari nya yang memegang sendok kini terlepas seketika membanting piring.
"Kak,aku takut kalau Ayah sama wanita itu terus bertengkar." Kata adikku dengan lirih. Mendekatiku.
"Jangan takut dek,tenang saja." Usul ku pada adikku.Mengelus pundaknya.
Wajah ibu sambungku begitu tajam menatapku seakan dia ingin menelan kami dan melemparkan kami keluar.
"Ini semua gara-gara kalian berdua." Bentak ibu sambung kami,menatapku tajam. "Terutama kau!" Hardik ibu sambung kami penuh penekanan. Menunjuk adikku.
"Kenapa kau tidak di kasih saja sama keluarga mu yang lain biar engga ada duri di rumah ini." Cecar wanita itu kepada adikku. "Kau juga! Menatap ku dengan bengis.
Mataku begitu ketakutan menatapnya kini menunduk melihat kakiku yang terlipat dan diam seribu bahasa sambil memeluk adikku yang panik.
Hembusan napasnya yang kasar menatapku membawa wanita itu pergi menghilang seketika.
"Liyan,mana adikmu?!" Panggil ayahku dengan sedikit berteriak. Melangkah.
Aku pun seketika terperanjat menatap adikku yang memasang wajah gusarnya dan berpaling melihat ujung lantai dengan hentakan kaki ayahku yang kuat.
"Kak." Memelukku erat. "Aku takut ayah akan memarahiku kembali." Dengan suara lirihnya.
"Tenang dek." Memeluk adikku.
"Liyan, kenapa kalian Ketakutan?" Tanya ayahku menatap kami.
Melihat ayahku berdiri kokoh di hadapan ku. Aku memutar kedua bola mataku dengan melemparkan pandangan ke ujung kaki ayahku.
Mulut kecilku yang lemah pun terpaksa aku buka menjawab pertanyaan ayahku dengan gugup, "E-engga ayah." Jawabku dengan kebohongan.
"Ana ngapain kau?!" Tegur ayahku. Berdiri.
"Ti-tidak Ayah." Sambut adikku dengan terbata. Menunduk menatap ke lantai.
"Ayah mau memberimu mu peringatan keras." Kata ayahku dengan suara sedikit meninggi. "Mulai besok dan kedepannya tidak ada alasan apa pun untuk tidak sekolah untuk mu." Dengan penuh penekanan. Apa pun alasannya kau harus sekolah." Menatap adikku tajam.
Tubuh adikku begitu gemetar mendengar yang di katakan oleh ayahku. Dia diam sambil meremas bajunya. Bibirnya yang getir mencoba memaksa untuk bersuara.
"A-Ayah." Terbata dengan pelan. "Kalau Ana sakit bagaimana Ayah?" Tanya adikku ingin tahu. Duduk melihat lantai.
"Lihat-lihat sakit mu. " Tandas ayahku. Berjalan.
Bibir adikku seketika bergetar mendengar semuanya. Air matanya menetes tak terbendung. Wajah polosku pun seketika pilu melihat adikku yang begitu miris. Tubuh mungilku yang lemah kini semakin membuat ku tak berdaya. Tungkai kakiku pun terasa mau lepas menopang semua beban yang ku hadapi.
Peluh kesah ku tak terbayarkan mengingat semua keributan yang tidak berakhir sampai detik ini.
.
.
.
Terimakasih buat yang sudah memberi favorit,vote, like dan komentar nya. 🤗🙏
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung.....