
"Kak, aku takut," kata adikku mengadu. "Kak, kenapa dia pulang lagi?" tanyanya penuh sesal.
"Ana, diamlah!" bujukku sambil melihat lipstik yang kupegang.
Saat ini di luar kamar suasana masih tenang. Ibu sambung yang tadi berteriak panik mencari barangnya hilang, sudah senyap.
"Ana, Kakak udah pernah bilang. Jangan pernah mengambil ini lagi!" sesalku, melihat lipstik yang terletak di atas tempat tidur.
"Kak, aku gak punya mainan. Bonekaku di tahan Ayah," katanya dengan lirih mengadu. "Habis! Aku bosan dengar Kakak. Dari tadi Kakak cuma nanya itu aja," paparnya.
Aku langsung mengerutkan kening. "Itu apa ?" tanyaku ingin tahu, mengilap air mata adikku.
"Ya, Ibu kesayangan Kakak itulah!" tandas adikku langsung, membantuku mengilap air matanya.
Aku diam merasa bersalah karena kejadian tadi. "Ana, kalau kau bosan. Tapi kenapa kau mengambil ini? Kan Ibu jadi marah," keluhku sebal.
"Aku lupa Kak, mengembalikannya," sesal adikku. "Kak," kata adikku.
"Iya," jawabku, melihat dia yang sudah reda.
"Kenapa Ibu kesayangan Kakak itu diam saja?" tanya adikku terheran.
"Kakak juga gak tau, Dik," jawabku datar. Bangun dan mengambil lipstik dari tempat tidur.
Perlahan aku mulai membuka tirai yang terpasang. Kutarik sedikit demi sedikit dengan diam-diam sambil memutar kedua bola mata berjaga melihat sekeliling.
"Ana, aman! Ibu gak ada," kataku pelan. Berdiri mengintip dari balik tirai.
"Kak, cepat taruh lipstiknya!" suruh adikku dari belakang.
"Iya, Dik. Kakak akan menaruhnya di kamar. Tapi, kau tadi dapat ini di mana?" tanyaku. Berdiri membelakangi adikku sambil menoleh ke kanan sedikit.
"Kak, di atas lemari ini!" kata adikku.
"Mm!" balasku langsung mendehem.
Bergegas aku langsung keluar dari dalam kamar dan menaruhkan lipstik itu di dalam laci lemari yang menjadi pembatas ruang tamu dan kamar.
Plak!
Lipstik pun aku taruh dengan pelan dan diam-diam sambil melirik ke sekeliling dan berjaga dari penglihatan ibu sambung yang mendadak melihat.
"Kak, udah?" tanya adikku dari belakang.
__ADS_1
"Udah," jawabku pelan sambil menatap nanar dan berjaga.
Secepat mungkin aku langsung memutar langkah meninggalkan lemari tersebut. "Ana, Kakak gemetar," kataku pelan pada adikku. Membuka tirai dan duduk.
"Kak, kalau nanti Ibu kesayangan Kakak tiba-tiba nanya, kayak mana ?" tanya adikku khawatir.
Aku bingung dan menatapnya nanar begitu saja. "Kakak gak tau," jawabku acuh. "Apa Kakak harus bilang, kalau kau yang ngambilnya ?" tanyaku.
Sontak adikku langsung merusak mainan anak Bp milikku. "Kak," kata adikku langsung menatapku dengan lembut dan penuh permohonan meminta perlindungan.
"Ana, tapi... ." Aku diam dan menatap adikku dengan sedikit penyesalan. "... kalau kita bohong lagi, hukuman Ayah apa lagi?" tanyaku semakin resah berpikir.
Adikku langsung dilema dan dia menatapku langsung dengan sedih bercampur sesal. "Aku takut bonekaku. Bakalan gak dikembalikan, Kak," rengeknya, menatapku dengan wajah sedih bercampur harap.
"Ana, semoga Ayah gak tau," harapku penuh penekanan.
"Siapa yang menaruhnya di situ?" tanya ibu sambung kami. Berdiri melihat dengan setengah kepala masuk ke dalam tirai yang terbuka.
Aku sontak terkejut dan memutar kedua bola mata melihatnya dengan gugup. Diam dan menutup mulut itulah yang masih bisa aku tunjukkan dihadapannya.
"Pasti Adikmu itu, 'kan? Yang mengambilnya untuk mencoret -coret mukanya!" tuduh ibu sambung kami.
Glek!
Aku semakin takut dan menelan ludah kasar. Mendengar ocehannya yang setiap hari memenuhi ruangan ini.
Aku diam menunduk di dalam dudukku. Melirik adikku yang memegang Baju anak Bp dengan sesal bercampur salah.
"Itu lagi. Mainanmu itu! Buat jorok aja!" lanjut ibu sambung kami. Berdiri sambil melihat ke arah mainan anak Bp milikku.
Kami berdua Kakak beradik hanya diam saja mendengarnya. Tidak satu pun, aku dan adikku berani untuk menjawabnya.
"Lantai itu udah semua penuh sama mainanmu. Mainan siapa itu?" tanya ibu sambung yang baru melihatnya.
Bibirku semakin berat untuk menjawab bercampur takut juga. Anak Bp yang bernama Lofya pun kulihat sambil menajamkan pendengaran mendengar omelan ibu sambung kami.
"Dari kapan kalian bermain itu?" tanya ibu sambung kami seolah seperti detektif.
Kedua mataku dan adikku pun bersitatap sambil menahan rasa takut di dalam diri masing-masing.
"Sudah lama, Bu," jawabku pelan bercampur takut.
"Apa ? Sudah lama?" tanya ibu sambung kami terkejut. "Jadi, selama ini, itu saja kerja kalian, iya?" tanyanya berteriak.
__ADS_1
Jemariku semakin dingin. Tubuh mungilku pun semakin lemas dan keringat dingin. Suara dan raut mukanya membuat bulu kudukku merinding.
"Kami main ini. Sewaktu kecil, Bu," jawabku tidak mengerti.
"Hah! Memang kalian berdua," sesal ibu sambung kami membuang muka langsung dari hadapan kami dan pergi.
Aku dan adikku masih ketakutan, diam bertemu tatap dengan muka pucat. "Kak, makanya, aku suka Ibu kesayangan Kakak itu gak usah pulang," ucap adikku pelan, menunduk pucat. "Dia tiap hari marah-marah. Aku jadi takut," ucapnya.
"Ana, tapi Ibu kan, dulunya gak kayak gini," kataku. Duduk disamping adikku dan meliriknya.
"Siapa bilang?" kata adikku bertanya.
Aku diam sejenak melihatnya yang lebih tahu. Duduk bersandar dengan kedua tangan melingkar di kedua lutut.
"Kakak ada-ada aja," celetuk adikku. "Kapan Ibu kesayangan Kakak gak marah-marah?" tanyanya ingin tahu, melayangkan sorot mata penuh kebencian.
"Dulu," jawabku singkat, menatap sorot mata adikku yang menakutkan.
"Dulu kapan?" tanya adikku sebal.
"Waktu Kakak sakit," jawabku polos.
"Ha? Ahahaha?" Tawa adikku pecah. "Kak, dari dulu waktu Kakak sakit, Ibu kesayangan Kakak itu udah gak suka sama Kakak," paparnya. "Buktinya, selama Kakak sakit. Ibu kesayangannya Kakak itu, sering bilang, kalau yang ngabisin uang Ayah itu Kakak!" tandas adikku mengungkap kembali.
Deg!
Aku semakin terhenyak mendengarnya. Spontan netra ini langsung menunduk malu. Kedua kaki yang kutekuk pun menjadi tempat bersandar tubuh mungil yang lemah.
"Tapi, Dik itu 'kan memang betul," balasku menunduk lesu. "Kalau Kakak yang ngabisin uang Ayah," sesalku.
"Makanya, Kakak gak usah sayang lagi samanya," ujar adikku dengan penuh kebencian.
"Liyan, Ana! Cepat susun mainan kalian itu!" seru ibu sambung kami tiba-tiba terdengar. "Jangan ada lagi yang Ibu lihat kalian berdua itu senang-senang di sini bermain, ya!" katanya. Membuka tirai kamar dengan kasar.
Glek !
Sontak aku terkejut dan pucat mendengar jeritan itu. Refleks aku menaikkan kepala melihatnya langsung yang memarahi kami dengan cara mendadak.
"Kalian tidak boleh lagi bersenang-senang bermain di dalam kamar ini! Semakin kalian dibiarkan bermain. Kalian semakin menjadi-jadi. Hari ini. Ini yang kalian ambil, besok entah apa lagi?!" pekik ibu sambung kami menunjukkan lipstik.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...