Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Kantin dan Nasi goreng


__ADS_3

"Iya, kau benar Liyan. Dia duduk di situ beramai-ramai," kata Widia. Kami berdua pun berjalan masuk ke dalam kantin mendekati Fikri.


"Fikri, ini." Widia menyerahkan kotak nasi.


Kedua bola mata Fikri berputar melihat aku dan Widia. "Aku sudah kenyang," ucap Fikri sambil mengambil kotak nasi dari tangan Widia.


"Kau sudah kenyang? Kenapa cepat sekali?" tanya Widia, sedikit merasa bersalah.


"Iya," jawab Fikri melihat kotak nasi yang diambilnya tadi. Lalu, kemudian dia membukanya sambil mencium aromanya. "Hhmm!" Fikri terlihat memamerkan makanannya pada yang lain. "Ini adalah nasi goreng telur kesukaanku."


"Kau beli, ya?" tanya Anak yang duduk di sebelahnya.


"Mana mau aku membeli nasi goreng. Enakan nasi goreng buatan Ibuku." Fikri mengambil sendok.


Seketika aku terhenyak ketika mendengar ungkapan yang keluar dari mulut Fikri seakan dia menyindir keadaanku karena tidak mempunyai seorang ibu. Seperti, itulah rasaku saat ini, akan tetapi aku tidak mengetahui, apakah Fikri dengan sengaja mengatakan hal itu ataukah tidak? Entahlah, tapi yang jelas kata-kata itu secara langsung menusuk hatiku.


Aku menatap ke belakang memutar kepala sambil berjalan melihat Fikri bersama emosional kesedihan yang mendalam. Butiran kristal utuh pun jatuh bergelimang di atas pipiku tanpa kusadari. Wajah sendu mewarnai perjalanan yang ingin menikmati duduk di kantin bersama temanku.


Kantin yang terlihat begitu terasa sesak membuat napasku ingin terhenti. Namun, tawa riuh candaan yang terlempar dari masing-masing teman terdengar memenuhi ruangan mengembalikan senyumanku kembali.


Sementara, Fikri yang masih bercanda mengenai nasi goreng belum juga selesai terdengar. Suara kerasnya yang dibarengi dengan tawa semakin menemani duduknya yang asyik.


"Aku setiap pagi kalau bangun tidur harus makan nasi goreng," ujar Fikri yang terdengar seperti mengunyah nasi.


"Sama dong sepertiku," timpal Solihin. Sok dewasa dengan gayanya yang terlihat seperti, Abang- abang.


Kedua telingaku yang mendengar sontak membawa bola mataku untuk melihat ke arah mereka. Tatapan yang lekat semakin menekan pandanganku melihat mereka yang sedang tertawa terbahak.


Hahaha ! Ketawa mereka begitu serempak terdengar mengalun di udara bebas.


"Gayamu sok seperti, Anak dewasa, cih," sungut Fikri mengerjitkan matanya.


"Tidak masalah Fikri asalkan jangan terlihat seperti, Anak alay. Hahaha!" Solihin menaikkan alisnya seakan menantang Fikri.


"Huh!" Fikri memutar badan. "Disini kau pintar ngomong. Begitu di hadapan Pak Duan dan Bu Dona kau menciut. Langsunglah gaya pendiammu terlihat. Yang tidak pernah diam, tiba-tiba diam tidak berani bersuara," ledek Fikri menyindir Solihin.


"Itu 'kan tempatnya berbeda," sela Solihin tidak mau kalah.


"Berbeda apanya ?" tanya Rasyd menimpali. Rasyd pun duduk di samping Fikri.


"Kau datang kemari tiba -tiba bersuara. Aku pikir entah siapa ?" Solihin mengikuti gerakan Rasyd dengan kedua bola matanya.


Sambil memasukkan makanan ke dalam mulutku. Kedua bola mataku masih saja tertuju pada mereka yang menganggap tidak ada beban pelajaran yang menanti. Kebisuan Widia membuat suasana hatiku yang kehilangan semakin pilu.

__ADS_1


"Widia, Fikri dan Solihin tertawa puas di sana," cetus Septiani yang berdiri tiba -tiba seperti, patung.


"Kami di sini dari tadi mendengar mereka tertawa sampai telinga kami mau pecah," celetuk Widia. "Sampai si Liyan tidak menghabiskan makanannya, coba lihat!" Widia melirikku dan jajan yang masih terbungkus rapi di tanganku.


"Si Liyan dari dulu mana pernah membeli jajan. Jajan aja dia tidak suka, apalagi memakan makanan yang kau kasih," sambung Septiani dengan memelas.


"Aku mau kok," balasku dengan polos. "Aku masih kenyang makanya, belum aku makan," lanjutku dengan malu-malu.


"Liyan benar," ucap Widia.


"Makanya, ini belum kumakan. Aku tadi melihat Fikri dan Solihin tertawa," sambungku.


"Ngapain kau melihat mereka. Engga ada gunanya," cetus Septiani dengan acuh.


"Itu bagimu. Bagi kami tidak! Karena setiap yang mengenai Fikri kami harus memperhatikannya dan melihatnya. Apakah dia membuat masalah atau tidak?" Widia mengatakan dengan jelas.


"Buat masalah, apa?" tanya Septiani duduk di dekat kami. "Hmm!" Sambil menaikkan alisnya.


"Itulah kami tidak tahu. Makanya, kami terus melihatnya," jawabku tanpa basa basi.


"Mmm! Jadi, begitu." Septiani memutar kepala sedikit melihat Fikri dan yang lain. "Kalau sampai dia buat masalah dan kita berdiri. Lihat aja Liyan. Aku akan meninjunya sampai pesek hidungnya. Mmm!" Septiani mengepal tangannya dengan kuat.


"Apa kau semarah itu dengan Fikri?" tanyaku meninggalkan kebisuan. "Dia itu ketua kelas. Nanti kau dimarahi, bagaimana?" tanyaku yang tidak menginginkan pertengkaran di antara persahabatan kami.


"Hahaha! Aku mengerti maksudmu," ucapku sambil tertawa. "Berarti selama ini kau takut dengan Fikri, 'kan?!" tanyaku menggoda Septiani. "Ayo ngaku," desakku dengan manis.


"Apaan sih, Liyan. Siapa yang takut, coba?" tanya Septiani merasa tidak nyaman.


"Kok, siapa? Ya, kamu lah," jawabku.


Septiani terdiam sebab dia tahu, kalau aku mengetahui apa yang ada di dalam benaknya. Aku pun lalu menunduk sambil membuka jajanan keripik pisang yang tergenggam manis di tanganku.


Sreek!


"Kalian mau tidak?!" tanyaku sambil mengayunkan ke udara. Tatapanku yang lekat melihat mereka satu per satu.


"Nanti samamu kurang," ledek Septiani bercanda sambil mengambil jajananku yang lain yang terletak tepat dengan dia.


"Aku cukup kok segini," kataku mengambil dari dalam bungkusan. "Yang lainnya buat kalian saja."


Aku menyerahkan jajananku kepada mereka. Setelah itu aku memasukkan keripik pisang satu per satu untuk aku kunyah. Perlahan kedua gigi gerahamku mengunyahnya dengan halus. Tanpa sepatah kata gerahamku terus saja menikmati keripik yang aku kunyah.


Tawa Fikri dan Solihin di tambah lagi dengan Rasyd terdengar sampai ke bangku yang kami duduki.

__ADS_1


"Mereka bertiga senang sekali, ya," kataku.


"Iya," sambut Widia.


"Kalau mereka bertiga sudah olahraga pasti seperti itu, senang sekali," lanjut Septiani.


"Iya, apalagi Fikri. Kalau sudah katanya keluar pasti cepat kakinya melangkah," sambungku dengan suara parau.


"Tahulah dia. Dia suka di luar. Kalau bisa, Fikri itu belajar aja di luar," ujar Septiani.


Angin yang berhembus di siang hari yang panas menemani kami berbicara. Hembusan angin entah kenapa? Tiba -tiba membuat tubuhku rasanya melemah dan kedinginan. Bibirku seketika pucat. Mataku rasanya ingin tertutup rapat dan tubuh mungilku segera mengajakku untuk masuk ke dalam kelas.


"Liyan, kau mau kemana?" tanya Widia ketika melihatku bangun dari duduk.


"Iya Liyan, kau mau kemana?" sambung Septiani bertanya seperti yang di lakukan Widia.


Kakiku yang lemah telah berdiri menopang tubuh mungilku ingin segera beranjak. "Aku ingin masuk," jawabku mengayunkan selangkah kaki.


"Di kelas tidak ada orang. Kau tidak takut?" Ucap Septiani bertanya padaku.


"Benar Liyan, di dalam gelap. Anak-anak yang lain juga di luar semua," lanjut Widia melarang dengan lembut.


"Kalian kenapa?" tanya Fikri. Sok mendengar.


"Iya, kalian ribut sekali di situ," timpal Solihin menyambung pertanyaan Fikri.


"Kasih tahu kami, apa yang kalian bicarakan sampai Liyan berdiri?" Rasyd melihat ke arah kami.


"Aku mau duduk kok." Aku kembali menjatuhkan tubuhku yang telah lemah di atas bangku.


Dari bangku aku melihat Fikri masih menatap kami bertiga terkhusus aku. Dia begitu lekat menatapku seakan dia mencari tahu tentangku hari ini. Aku pun menatapnya dan kotak nasi goreng yang tadi ada di hadapannya kini telah tertutup dengan rapi. Gerakan mulutnya yang tadi mengunyah kini tidak lagi terlihat.


.


.


.


Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 😊🥰🙏


❤️❤️❤️


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2