
Melihat ibu sambungku tidak memberikan reaksi atau pun respon. Ayahku beranjak pergi meninggalkannya.
Aneh,entah perempuan apalah ini yang ku nikahi,cih. Bisa-bisanya membuat malu kepada orang sekampung. Ialah aku saja kan yang dijebak! Kata Ayahku dalam hati.
Wajah Ayahku pun terlihat sedikit sedih mengingat kejadian masa lalu,"pernikahan".
Ya,pernikahan jebakan itu berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun. Kecurigaan tak satupun, di torehkan oleh mereka kepada ibu sambungku itu.
Disaat aku berdiri tepat diantara keramaian yang terjadi dikediaman ibu sambungku.Tidak sengaja aku mendengar pembicaraan mereka.Yaitu,ibu sambungku dengan seorang wanita yang tidak jauh usianya dari dia.
Dengan tawa gemuruh yang membahana di ruangan mereka. Tertawa gembira melihat jebakan yang di jalani Ayahku.
.
.
.
"Ia,bagus kak,rencana mu memang cantik. Bahkan, terbilang sempurna."Kata seorang keluarga dari ibu sambungku dengan senyum dan wajah yang berbinar.
"Ia dong,biar tahu dulu dia. Begitu, nanti aku sudah menikah akan aku bawa dia kerumahnya!" Dengan wajah sinis dan menarik sedikit bibirnya. Aku melihat seakan dia mengingat sesuatu yang tersimpan didalam benaknya.
"Maksudnya? Biar tahu dia, siapa? Dan mau dibawa kemana?"Tanya salah satu keluarga ibu sambungku.
Semakin hari aku semakin tidak mengerti. Kenapa dia berkata seperti itu? Apa sebenarnya yang dia inginkan? Kenapa aku tidak mengetahui apapun darinya? Walau pun sedikit,hiks.
Itulah yang dilakukan perempuan itu kepada Ayahku.
Ayahku pun menghela napas panjang dan kembali beranjak ke dapur untuk menyelesaikan tugasnya.
Sementara, aku yang berada diluar sedang sibuk mencari adikku yang bermain ntah, dimana?
Panas yang membakar seisi bumi termasuk tubuh mungilku pun mulai gerah ingin segera aku mencari tempat berlindung yang bisa menyelamatkan tubuh mungilku yang putih dari terik matahari yang membakar.
Adikku bermain dimana ya? Aku sudah mencarinya dari tadi tapi, tidak ketemu juga.Kemana lagi aku harus mencarinya?
Kataku dalam dalam hati dengan lirih dan wajah yang lelah. Ayahku tidak akan mengizinkanku pulang kalau aku belum menemukan adikku.
Tapi aku harus kemana lagi mencarinya? Aku sudah bingung tak satupun teman-temannya ku lihat disini.
Semakin, lama aku berjalan. Aku semakin menggerutu.
Ayahku dia tidak akan membuatku selamat hari ini kalau aku pulang dengan tangan kosong.Dia pasti akan marah besar pada ku karena aku tidak bisa menemukan adikku.
Nasibku yang begitu menyedihkan. Sesekali aku berteduh dibawah pohon atau bangunan yang terlindung dari sinar matahari.
Jangankan sama adikku. Sama aku juga ayahku pun begitu. Jika, Ayahku menyuruh adikku untuk mencari ku. Dia wajib harus, mendapatkan aku kalau tidak dia juga tidak boleh pulang. Itulah kenapa? Adikku tidak pernah mau mengasih aku bermain.Setiap kali aku bermain dia pasti akan melarang ku.
Kaki kecilku pun sudah letih. Tenggorokan ku sudah kering. Namun, aku harus tetap berjuang menemui adikku yang ntah, dimana rimbanya.
.
.
.
Sejenak aku termenung sambil mengingat sesuatu,aha! Aku sudah tahu, adikku pasti bermain dengan temannya si Rahmadani?
__ADS_1
Siapa lagi temannya kalau bukan itu.Gumamku di dalam hati.
Aku pun langsung bergegas kerumah temannya Rahmadani yang tidak jauh dari rumah kami.
Aku pun sudah tiba di depan rumahnya. Sebelum aku mengetuk pintu memanggil adikku. Hal yang paling pertama, aku lakukan adalah melihat sandal mereka satu persatu. Aku memperhatikannya dengan seksama. Apakah sandal adikku ada disini?
Haaa! Wajahku pun seketika segar. Mataku yang mengecil kini terbuka lebar,horee! Teriakku kegirangan sambil melompat-lompat. Akhirnya, sambil menatap pintu rumah Rahmadani.
Aku pun....
Tok tok tok!
"Ia,sebentar!" Terdengar suara sahutan dari dalam.
Dia pun membuka pintu dan melihatku dengan mengeluarkan sedikit kepalanya.
"Kakak!" Katanya berdiri di depan pintu menatapku.
Dia pun, kemudian membuka pintunya lebar.
"Ada ana ?"Tanya ku spontan padanya.
"Ada kak,sebentar ya, kak! Ayo kak masuk dulu!"
Dia pun langsung memanggil adikku.
Aku pun, membawa adik tercintaku pulang kerumah.
Di depan rumah aku melihat ibu sambungku yang masih berbaring. Aku pun, menatapnya dengan lirih kenapa ibu sambungku belum sadar-sadar juga ?
"Kak,kenapa Ibu itu?" Tanya adikku sambil menunjuk dengan mata dia.
"Pingsan."Jawabku lugas.
"Ha! Masa pingsan,bukan tidur kak?"
Aku menggelengkan kepalaku sebagai jawaban untuk dia.
"Kak aku takut la,aku engga berani kalau melihat orang pingsan."
"Kenapa?"
"Ia,seperti mayat kulihat,kak cepat bangunkan!"
Aku juga takut sih sebenarnya,tapi apa daya ku. Bagaimana caraku membangunkannya?Mengeram. Aku menatap wajahnya dengan lekat dan duduk di sampingnya. Menghembuskan napas kasar.
Dalam lamunanku yang duduk disamping dia. Sontak aku melihat jari tangannya bergerak-gerak. Ha! Aku mengucek mataku dengan kedua tanganku sebenarnya, ini sadar atau masih pingsan, ya? Tanda tanya penuh tersirat di wajah mungilku.
Sementara, adikku yang ketakutan dia telah beralih pandang kepada Ayahku.
"Bu,Ibu."Aku menggoyangkan tubuhnya agar dia bangun.
"Hmmm!" Dia mengeram sambil menggerakkan tangannya namun, tidak membuka kedua matanya.
"Bu,ayo bangun! Bu sudah siang,ayo kita makan!"
Tak ada jawaban maupun, reaksi. Tetap diam dalam baringannya.
__ADS_1
Melihat dia yang tak kunjung membuka matanya. Aku pun,beranjak pergi meninggalkan dia seorang diri.
"Ayah,kenapa Ibu itu tidak mau bangun?" Tanya ku kepada Ayahku yang lagi menyiapkan makanan siang untuk kami.
"Engga usah tanya tentang dia."Kata Ayahku dengan kesal.
"Kenapa Ayah? Kasihan Ayah dia kan belum makan."Kataku dengan lirih.
"Ia Ayah! Kasihan,betul kata kakak."Adikku yang berjalan mengikuti Ayahku bergerak.
"Ayah tahu nak! Tapi Ibu itu tidak pingsan.Dia itu lagi tidur."
"Masa sih Ayah,coba aku lihat!"
Aku pun, kembali lagi keruangan depan. Dimana tempat ibu sambungku yang lagi terbaring.
"Ha!"Aku melihat ada sesuatau yang aneh. Diakan tadi tidur disini kenapa bisa jadi pindah kesitu? Dan arah tidurnya juga sudah berbeda.
Aku yang melihat dia. Terus kulihat sambil mengingat kata-kata Ayahku tadi,"dia itu cuman pura-pura pingsan."
"Liyan! Apa yang kamu lakukan, nak?"Tanya Ayahku dari dapur.
"Tidak ada Ayah."Jawabku dari depan.
Puk!
Adikku menepuk bahuku dari belakang.
"Ha!"Terkejut aku langsung menghapus dadaku.
"Kak,aku lihat Ibu itu gerak-gerak! Tadikan tidurnya tidak disitu, tapi disini."
"Ia, ya." Menatap adikku.
"Sudah kak, kita tinggalkan saja Ibu itu.Dia itu berbohong. Sudah tua masa tukang bohong!"
"Hust!" Aku meletakkan tanganku ke mulut adikku. Agar dia diam!
"Ayo kita ke dapur makan!"Menarik lengan adikku.
Langkahku pun terhenti. Ini***? Melihat ujung kaki di dekat kakiku.Perlahan aku mengangkat kepalaku dengan gemetaran juga, ketakutan. Mataku yang tadi datar kini berputar-putar. Wajahku pun seketika, pucat jantungku kini terasa mau copot dari tubuhku.
"Ayah!"Gumamku dalam hati.
"Sedang apa kalian disini?!"Dengan suara yang sedikit meninggi.
"Maaf Ayah."Kataku dengan lirih.
"Ayah maafkan kami." Adikku memohon pada ayahku dengan wajah yang lirih sambil memegang tangan ayahku.
Ayahku pun, diam hanya melihat kami satu persatu. Di tatapnya wajahku,wajah adikku dan juga, ibu sambungku yang terbaring dengan nyaman,"tidurnya" maksudnya!
Ayahku menarik napas dan berjongkok menatap kami berdua. "Ayah sudah bilang,Ibu itu tidur bukan pingsan nak."Sambil mengelus kepala kami.
Mendengar ucapan Ayahku,dia mulai gerah.
Bersambung....
__ADS_1