
"Iya Ayah," sahut adikku spontan.
"Jadi, kalau begitu Ayah sudah bisa pergi," kata ayahku.
"Baiklah Ayah," kata adikku merelakan kepergian ayahku.
"Kalau Ayah pergi tolong jaga Kakak mu, dia itu belum sembuh," pinta ayahku dengan nada suara memohon.
"Baiklah. Ana akan berusaha sebisa mungkin Ayah," sahut adikku.
"Sebisa mungkin ?!" Ayahku tersentak mendengar adikku. "Kenapa kamu bilang seperti itu, Nak?" tanya ayahku dengan polos.
"Ayah soalnya 'kan, Ana tidak bisa menjaganya karena Ana 'kan masih kecil," tolak adikku dengan lembut.
"Ayah tidak suka mendengar alasan seperti itu," kata ayahku dengan tegas. "Ingat pesan Ayah," lanjut ayahku tanpa mendengar alasan apapun.
"Iya Ayah," balas adikku dengan singkat.
"Kalau begitu pergilah, panggil dulu Kakak mu ke sini! Ayah ingin melihatnya," seru Ayahku.
"Tunggu sebentar, ya Ayah." Adikku segera melangkah menghampiriku.
Mataku yang setengah terlelap tiba-tiba terperanjat mendengar langkah kaki adikku yang keras.
Aku pun membuka kedua mata perlahan lalu menatap adikku yang berdiri tepat di depanku. Adikku langsung menggelitiki kakiku yang letih.
"Kak, ayo bangun! Kakak di panggil Ayah." ajak adikku.
"Bilang saja pada Ayah, kalau Kakak lagi...". Aku terlihat kebingungan entah apa yang ingin aku sampaikan.
"Bilangan apa Kak?" tanya adikku semakin penasaran.
Aku kemudian menghela napas memikirkan yang ingin kusampaikan. Aku mengangkat tubuh lemahku bangun sambil menatap adikku dengan nanar sambil menggerakan bibirku yang pucat.
"Emang Ayah mau kemana?" tanyaku dengan pelan.
"Ayah mau pergi kerja, Kak," jawab adikku.
Aku langsung sedikit mengikuti perintah dari adikku, selimut yang menutupi tubuhku segera kusingkirkan dengan kasar.
"Apa Ayah ingin bertemu dengan Kakak?" tanyaku.
"Iya," jawab adikku.
"Kenapa hari ini Ayah tiba-tiba ingin bertemu dengan Kakak?" Mengagumkan kaki turun. "Tidak seperti biasanya," Segera aku mengucapkannya sambil memikirkannya.
"Entahlah Kak. Aku tidak tahu, tapi yang jelas Ayah ngotot ingin bertemu denganmu, Kak," lanjut adikku.
"Kakak takut kalau Ayah memarahi Kakak," Berdiri melangkah dengan takut.
"Bisa jadi, Kak," timpal adikku sedikit menakuti. "Karena tadi Ayah telah memarahiku juga. Mungkin saja! Ayah memarahi Kakak sama seperti diriku.Kakak 'kan tahu sendiri, Ayah itu bagaimana? Kalau sudah terganggu kesenangannya sedikit," bisik adikku dengan penuh penekanan sampai membuatku gemetar.
__ADS_1
"Tapi, Dek. Kakak 'kan lagi sakit. Masa iya, Ayah sekejam itu," Menatap nanar tirai yang menggantung.
Adikku seketika diam dan menaikan kedua bahunya sebagi isyarat memberikan jawaban tidak tahu menahu tentang itu.
Wajahku langsung bereaksi sedikit masam mendengar respon langsung dari adikku. Dia selalu suka bergurau tidak pernah memikirkan dan menempatkannya dalam keadaan yang tepat, bahkan dalam keadaan tersulit sekali pun dia masih saja melakukannya.
"Ana!" teriak ayahku memanggil kami dengan gelisah.
"Iya Ayah," jawabku langsung melangkah keluar menghampiri ayahku sambil menahan rasa takutku.
"Bagaimana keadaan mu, Nak? Apa masih sakit ?" tanya ayahku menyelidik.
"Sudah mendingan sedikit Ayah," jawabku sedikit gemetar.
"Apa tadi kau dan adikmu bermain?" tanya ayahku.
Aku langsung memutar kepala melirik adikku. Tubuh lemahku rasanya ingin terjerembab. Kami yang bertemu pandang dengan adikku berdiri dengan gugup, lemparan sorot mata yang penuh tanda tanya memberi ayahku jawaban kalau aku tadi bermain dengan adikku.
"Kalian kalau sudah berdua Ayah tanya, pasti menatap satu sama lain," sindir ayahku dengan lembut.
"Bu-bukan begitu Ayah. Kami 'kan bersaudara jadi, harus terlihat akur dan kompak," balasku.
"Termasuk kompak dalam bekerja sama menutupi kesalahan," sahut ayahku.
"Tidak Ayah," kataku dengan lirih. Berdiri menghadapi Ayahku.
"Ayah tahu kalian itu menyembunyikan sesuatu dari Ayah." Menatapku seakan ayahku tahu kalau yang aku katakan sedikit kebohongan.
Aku begitu cemas. "Ayah, kami cuman bermain dan Liyan tidak sengaja melempar bolanya." Aku langsung mengatakan yang sejujurnya untuk Ayahku.
"Ayah aku hanya tidak ingin kalau Kak Liyan, Ayah marahi. Kasihan, Yah, karena Kak Liyan 'kan lagi sakit." Adikku sengaja ingin melindungiku yang lemah.
"Kau memang adikku yang paling baik," bisikku di telinga adikku. "Kau tahu apa yang Kakak ingin 'kan." Aku segera tersenyum sumringah menatap adikku.
"Kan aku sudah bilang sama Kakak, sebisa mungkin aku akan membela Kakak," ujar adikku dengan senang.
Ayahku langsung melepaskan napas sesaknya melihat aku dan adikku selalu bermain kucing-kucingan dengannya.
"Ayah mungkin salah dulu dengan kalian," kata Ayahku tidak habis pikir. "Kalian terlalu pintar dari pada Ayah." Melihat ke atas seperti orang yang menyesali masa lalu.
Kami berdua bertemu tatap kembali dengan wajah penuh tanda tanya, saling melempar sorot mata yang merasa tahu maksud dari ucapan ayahku.
"Sekarang kau mau bilang apa, Dek," kataku pada adikku yang terlihat kalap.
"Kakak jangan terus mengintimidasi aku. Aku jadi bingung, entah harus ngomong apa pada Ayah." sela adikku dengan pelan. "Coba Kakak lihat Ayah! Dia tidak jadi, pergi 'kan," keluh adikku sedikit menyesal. "Kenapa Kakak tadi mengatakan yang sebenarnya?" Meratapi kejadian tadi.
Aku langsung menghela napas dengan lemas menatap adikku yang berdiri di sampingku. "Kakak tidak bisa bohong, Dek," bisikku sedikit menyesal.
"Kak, seharusnya sedikit saja pakai hati nurani Kakak. Kalau sudah begini, aku jadi bingung." sungut adikku.
Ayahku sekarang berdiri dan bersiap-siap untuk pergi. Dia berdiri di depan pintu setelah lama merenungi kami berdua yang telah membuatnya semakin kelabakan.
__ADS_1
"Ayah pergi dulu, ya. Hati-hati di rumah. Jangan membuat masalah. Setelah Ayah kembali, Ayah akan berdiskusi dengan kalian berdua." Menatap keluar dengan tajam.
"Iya Ayah. Tapi jangan marahi kami, ya." Adikku berjalan mendekati Ayahku dan mengulurkan tangannya sebagai isyarat bersalaman.
Ayahku seketika terperangah melihat lambaian tangan adikku yang mengayun setengah di udara.
"Kita lihat nanti saja," Ayahku langsung menyambut uluran tangan adikku. Adikku pun mencium punggung tangan ayahku sebagai isyarat untuk membuka perdamaian.
Adikku sedikit mengintipku sebagai isyarat untuk melakukan seperti yang dia lakukan. Dia seakan memberiku kesempatan agar aku memberanikan diri untuk menyalam ayahku.
Spontan aku langsung berjalan mendekati ayahku dan mencium punggung tangannya yang telah senja.
"Ayo Kak. Cepat cium jangan takut." pinta adikku menarik sedikit tubuh lemahku. "Biar Ayah memaafkan kita berdua." Adikku menekan lirikan mata menatapku yang masih bimbang.
Dengan perlahan aku berjalan. "Apa kau yakin," Aku melirik adikku dengan tajam.
Adikku menarik napas dengan wajah sedikit keraguan. "Sudahlah Kak, coba saja. Jangan banyak bicara," desak adikku.
Aku pun refleks mengayunkan tangan dengan setengah kesadaran. Aku kemudian mencium punggung tangan ayahku, tanpa aku sadari ayahku pun mengusap kepalaku tanpa aku sadari aku pun menungging 'kan senyum bahagia.
.
.
.
Terimakasih teman-teman telah memberi like, komentar dan favoritnya. 🥰🙏
❤️❤️❤️
Bersambung...
Masihku berdiri dalam penantian yang kau janjikan.
Mencoba tetap bertahan meski ku tahu, aku telah dilupakan.
Masihku ingat, waktu itu kau memintaku untuk melupakanmu.
Kau tahu, saat itu aku meringkuk, meringkih bagaikan janin, tersiksa menahan perih.
Masihkah tak puas kau hancurkanku?
Kau putar kata, seolah perih ini salahku.
Inginku teriak semua janji yang kau ingkari yang membuatku menanti dan kini tersakiti.
Agar kau tahu, seberapa lelah aku akan sikapmu yang tak berperi.
Dan bila nanti kau tak temui lagi, jangan kau cari, jangan kau sesali.
__ADS_1
Karena sesungguhnya saat itu aku benar-benar telah lelah menantimu. Akankah Angel, bertahan menjalani rumah tangganya bersama Veri? Lalu akankah Veri berubah atau pergi meninggalkan Angel, untuk hidup bersama tunangannya?
**Yuk kepoin cerita mereka, hanya ada disini ...