
"Solihin itu airnya dingin," Widia pun berteriak. Menepis wajahnya dari Solihin.
Solihin sangat senang dan tertawa karena telah menyiram wajah kami dengan percikan air hujan dan membuat kami marah. "Hahaha!" Dia semakin terbahak dengan menampakan gigi gerahamnya. "Baru airnya segitu..., sudah kedinginan," celetuknya. "...aku aja yang sering main hujan aja tidak kedinginan." Menatap kami datar.
"Iya, beda Solihin. Kau 'kan tidak pernah sakit," ucap Fikri mendekat. "...kalau Liyan 'kan, sudah pernah sakit," ungkapnya mengikuti kami yang mengayunkan kedua tangan merasakan hujan.
"Aku juga pernah sakit, kok," balas Solihin menjelaskan. Melirik Fikri.
Aku pun melihat Solihin, di ikuti oleh pandangan yang berputar kemudian melihat Widia. Widia yang berdiri menatap nanar diriku yang pernah mengalami sakit yang parah. Dia seakan merasakan apa yang kurasakan. Dia kembali menajamkan pandangannya melihat Solihin dan melihat hujan yang turun.
Kami yang terjebak dengan hujan. Semakin gusar bercampur gelisah. Tak jarang kami saling sahut-menyahut bertanya pada diri sendiri dan juga sesama kami, menatap hujan seakan menghitungnya.
"Aku jadi bingung," kata Rasyd menatap hujan yang terus turun.
Aku pun dan yang lain memutar kepala melihatnya yang bicara. " Bingung kenapa ?" tanyaku penasaran. Menggigil.
Rasyd tersentak melihat ke arahku. "Bingung, kapan hujannya akan reda," jawabnya membalas pertanyaanku.
Aku lalu menarik napas kasar bercampur dengan udara yang semakin dingin. Ayahku pasti akan menghawatirkan aku. Aku terus menatap hujan. Air hujan yang turun, ku ikuti dengan gerak kedua netra. Melihat hujan yang jatuh dari atas langit ke bumi dengan percikan mengenai kaki.
Sampai saat ini kami sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Solihin yang suka bermain hujan sesekali terlihat ingin berlari untuk mandi hujan. Namun, dia mengurungkannya karena mungkin, dia takut kalau dia sakit karena sebentar lagi akan ujian, pikirku terus melihatnya.
Air semakin menggenangi jalan hingga meluap hampir menembus teras yang setengah roboh ini. Panik bercampur khawatir aku berdo'a di dalam hati agar hujannya segera reda. Jika airnya semakin meluap, bisa-bisa kami semua akan basah dan tad yang teronggok di lantai pun akan basah semua.
"Oh-ho, airnya sedikit lagi masuk ke sini," kataku dengan panik bercampur kedinginan melangkah mundur.
Fikri, Widia dan yang lainnya pun ikut tampak panik juga lalu berjalan mundur ke belakang. "Liyan, makanya jangan berdiri di situ," kata Fikri melarangku.
"Iya Liyan," sahut Widia berjongkok menahan dingin.
"Widia, kau kedinginan, ya?" tanya Rasyd panik. Berdiri tepat di dekatku.
"I-iya," jawab Widia menggigil.
"Apa bajumu basah?" tanya Fikri cemas.
Widia hari ini sangat kedinginan, keadaannya hampir sama dengan ku. Namun, dia yang berjongkok di sudut tiang yang berjarak jauh di belakang kami berusaha menahannya dengan kuat. "Tidak," jawabnnya melihat hujan yang turun dengan pandangan kosong.
Aku, Fikri, Rasyd dan Solihin pun saling menatap satu sama lain dengan perasaan khawatir di dalam diri masing -masing. Aku yang sudah tidak sanggup tetap berusaha melawannya berdiri dengan tegak meski kedua kaki ini sudah pucat dan sangat dingin. Sepatu yang kulepas telah kutaruh di atas bangku-bangku kecil yang telah rusak.
Hari terus berjalan dan waktu pun terus berputar, hati yang tadi bahagia telah berubah menjadi gelisah. Jalan yang basah tertimpa hujan terlihat sepi, seperti tak berpenghuni. Udara semakin lama semakin dingin. Aku pun semakin melingkarkan kedua lengan di bahu untuk menahannya.
Suara kendaraan yang melintas pun terdengar sekilas bercampur hujan memecah kesunyian melihat ke arah kami. Biasanya anak-anak sangat suka bermain hujan. Ini malah sebaliknya yaitu, aku dan temanku yang lain. Aku bukannya tidak mau akan tetapi, aku takut karena ayahku terlalu ketat mengawasi sehingga aku sebisa mungkin menjaga diri ini.
Keheningan siang ini sangat mencekam rasanya, itu terbersit di pikiranku. Teras rumah yang sudah reyot dan kumuh ini sangat menakutkan sekali. Tatapan yang bercampur penasaran rasa ingin tahu pun kubuka selebar mungkin. Semakin lama aku semakin menajamkan penglihatan. Sepertinya ini sudah lama tidak di pakai, pikirku menajamkan bola mata dan pendengaran. Aku semakin memutar bola mata dan kepala melihat dengan penuh. Sedikit terjaga aku mencari, apakah ada suara-suara yang terdengar di tengah hujan yang deras ini?
Hahaha !
Dalam diam aku mendengar dan melihat Fikri serta teman yang lainnya tertawa . Mereka sangat bahagia tertawa seakan mereka melupakan kegelisahan akibat hujan turun yang menjebak. Aku pun langsung menarik senyum tipis dan melupakan semua keluh kesah yang menganak di lubuk hati melihat mereka yang senang hari ini.
__ADS_1
Bergegas aku menghampiri mereka di tengah angin yang berembus dingin. "Kalian senang sekali?" tanyaku di ikuti oleh Rasyd yang melihatnya.
"Liyan, kami lagi mengingat kejadian tadi," ucap Fikri sambil tertawa menjahili Solihin.
Aku yang melingkar lengan di bahu berpikir mengingatnya, di ikuti sorot mata yang melihat wajah mereka satu per satu. Meski aku telah sekian lama mengingatnya aku belum juga tahu. Aku sudah lupa kejadian yang telah terlewat yang di ucapkan oleh Fikri. "Kejadian apa?" tanyaku memutar memory. Menatap mereka.
Rasyd yang berdiri di dekatku. "Bermain lumpur," katanya langsung. Membantu membuka ingatan.
"Ooh, Iya, hehehe!" Aku langsung nyengir, mengangguk. "Jadi, kalian ingin bermain lagi?" tanyaku penasaran.
Mereka diam seakan memikirkannya. Di ikuti oleh Widia dan Solihin yang enggan ingin bermain hujan.
"Tapi, aku belum puas bermain hujan," ucap Rasyd berlari melihat hujan.
"Bukannya kau takut sakit?" tanyaku. Melihat Rasyd yang berdiri tanpa tas di pundaknya.
Aku sangat terheran melihat Rasyd hari ini. Entah kenapa dia begitu antusias ingin bermain hujan? Padahal tadi dia sudah bermain lumpur dengan ku. Aku yang berdiri di belakang menatap punggungnya sangat jengah setelah mendengar penuturannya.
"Ingin bermain hujan?" tanya Fikri menghampiri wakilnya itu. "Bukannya kau tadi sudah bermain hujan?" tanyanya berdiri menikmati hujan.
Aku semakin serius menyaksikan mereka dari belakang. Keseruan Widia bersama Solihin bermain hujan dengan sepotong kayu kecil yang terletak di atas teras pun semakin menggelitik hati. Aksi kejahilan mereka ini mengobati rasa gelisah kurasakan tadi. Sementara Fikri dan Rasyd masih terdengar serius membahas ingin bermain hujan.
"Tapi hujannya tidak ada," kata Rasyd.
"Tidak ada?" tanya Fikri terheran menganggap Rasyd berbohong. "... sedangkan baju kami aja basah," lanjutnya geram melihat Rasyd.
"Iya, tapi hujannya tidak sederas ini!" jawab Rasyd menyangkal yang di katakan Fikri. Memutar badannya dan meletakkan tas di tiang teras setelah itu dia pun berlari dengan kencang meninggalkan Fikri yang melambaikan tangan ingin menahannya.
Aku semakin pusing kepalang tujuh keliling melihat mereka berdua. Fikri yang tidak suka bermain hujan semakin sebal melihat Rasyd yang tidak mau mendengar. Dia seakan mengepal tangannya ketika aku melihat dia memalingkan wajahnya ke samping. Betapa masam mukanya karena melihat temannya yang menghalangi langkahnya ingin cepat pulang. Fikri semakin mendengus kesal melihatnya sehingga dia ogah untuk melihat Rasyd. Dia yang masih menatap tajam ke samping berbicara dengan ku. "Liyan, kakimu tidak dingin?" tanya Fikri. Menatapku. Aku yang menatapnya. "Dingin," jawabku melihatnya, di ikuti melihat Rasyd juga yang bermain hujan menarik lengan Fikri.
Baugh!
Fikri pun terseret seakan terhempas ke tanah. Dia yang tadi hanyut dalam pandangan kosongnya bertanya padaku dan bergulat dengan kekesalan yang mendalam karena melihat Rasyd yang keras kepala.
Refleks membuat dia semakin marah karena bajunya pasti kotor dan basah. Belum lagi sepatu yang masih dia kenakan telah basah kuyup terguyur hujan.
Hahaha!
Suara tawa pun terdengar mengaum di udara yang bercampur dengan hujan. Melihat Fikri yang terseret. "Hei, Fikri! Sejak kapan kau mau main hujan?" ledek Solihin menjerit bertanya padanya dengan wajah tawa bercampur heran.
Aku langsung terkejut memutar kepala mendengar jeritan yang terdengar mengaum di udara yang kosong. Aku melepas tas yang kusandang, di ikuti oleh mata yang masih terjaga melihat mereka. Tas aku letakkan di lantai yang kering dan melihat langit -langit teras. Aku takut kalau ada atap yang bolong pasti tasku akan basah, pikirku khawatir. Setelah tas terletak aku kembali melihat Fikri yang bermain hujan untuk pertama kalinya.
Tawa ceria pun ternyata terlihat darinya. Dia yang tadi kesal karena ulah Rasyd. Ini malah menikmati hujan yang turun dengan deras. Dia pun berlari mengambil ranting pohon dan menulis di atas tanah yang mengalir air hujan. Rasyd dan Fikri semakin senang. Rasyd yang bermain hujan tanpa apapun, kini mengambil ranting pohon juga, mengikuti Fikri hingga akhirnya, mereka berdua bermain pedang-pedangan.
Menirukan pertempuran seperti di film-film. Di mana seorang pangeran berperang melawan musuhnya menggunakan pedang. Aku sangat terperangah melihatnya. Hari ini adalah hari bahagia bagiku sehingga aku tidak ingin hari ini berlalu begitu saja.
Gelisah yang menyelubungi diri ini pun, seakan mendapatkan penawarnya. Khawatir yang tadi melilit seketika menghilang begitu saja berlari meninggalkan aku. Kecemasan tidak lagi menemani hanya tawa dan jeritan kebahagiaan yang terdengar. Masuk ke relung hati berjalan melewati pikiran.
Sumringah pun tergaris jelas di tengah hujan yang melihat mereka bermain bola kaki dengan batok kelapa yang terletak di halaman tepat di bawah pohon kelapa yang berdiri menutupi sedikit badan jalan. Rumah yang tidak berpenghuni menjadi saksi kebahagiaan kami hari ini. Menjadi kenangan yang akan menyisakan jejak terhadap kami, terkhusus diriku. Aku masih berdiri melihat mereka dengan serius, betapa terkejutnya aku melihat Fikri yang mendadak mau bermain hujan.
__ADS_1
"Halo...!" sapa Solihin berlari menembus hujan.
Di tengah permainan mereka yang asyik Solihin pun datang menyamperin mereka berdua yang bermain dengan seru di tengah hujan. Batok kelapa yang berlari ke sana kemari mereka kejar, seperti pemain sepakbola. Aku sekan tidak menyangka kalau Fikri bisa seperti ini. Hari ini rasanya aku seperti terlahir kembali.
"Liyan, mereka seperti tidak pernah bermain," kata Widia melihat hujan yang turun.
Aku langsung memutar kepala. "Hihihi, iya. Apalagi Fikri," ucapku geli.
"Fikri 'kan, Anak Mama," cetus Widia. "...dia itu tidak pernah di kasih bermain di luar rumah," lanjutnya.
"Kenapa?" tanyaku melihat Widia dan kemudian melihat Fikri.
"Dia 'kan, Anak satu-satunya," jawab Widia. Aku pun langsung melihat Widia seakan dia mengetahui banyak tentang Fikri.
Aku lalu menatap mereka bertiga kembali yang asyik bermain bola. "Kenapa kau tahu?" tanyaku. "Emang kau sudah pernah ke rumahnya, ya?" Aku melirik Widia yang melihat sepatunya.
Widia menaikan tatapannya. "Iya, kami kemaren ke rumahnya bermain," jawabnya.
Aku diam bertanya dengan heran. "Kapan ?" tanyaku menyelidiki. Melihat kedua kakiku yang semakin membeku.
Widia menatap hujan sambil memegang potongan kayu yang di pegangnya tadi. "Waktu kau sakit itu, Liyan," jawabnya langsung.
"Pasti kalian asyik bermain, ya 'kan?" kataku langsung membalas jawaban Widia kembali bertanya.
Widia seakan tidak tega mengatakannya karena dia melihat mimik mukaku yang berubah sedikit sendu. Ekspresinya pun kembali menundukan pandangannya seakan menelan penyesalan.
"Liyan...!" katanya dengan gurat wajah sendu. Diam menatap dengan sendu. "... kami tidak bermain, kok," terangnya menjelaskan.
"Lalu?" tanyaku. Melihat hujan yang sudah mau reda.
"Kami cuma menggambar saja," jawabnya.
Aku yang menoleh tiba-tiba terkejut Rasyd, Fikri dan Solihin telah beranjak. Mereka bertiga berjalan menuju ke arah kami. Widia dan aku menajamkan bola mata melihat mereka yang melenggang berjalan ke arah kami lalu membelok ke sebelah kanan mengambil tas yang terletak.
"Fikri bagaimana?" tanya Widia melihat ke bawah. Aku yang mendengarnya pun ikut mengikuti tatapan mata Widia. Aku lalu memutar bola mata melihat Fikri yang bertanya.
"Bagaimana apa?" tanya Fikri menyandang tas.
"Itu...!" Widia menunjuk ke arah bawah kembali.
"Itu apa?" tanya Fikri keheranan. Melihat ke bawah juga. Melihat kaki dan lantai dengan tajam.
"Kaos kakimu," jawab Widia dengan penuh penekanan. Mendelik.
Solihin, Rasyd, dan aku pun melihat ke arah kaki tersebut. Aku pun ikut lirih juga melihatnya. Perjalanan menuju rumah sangat lama sekali terasa hari ini. Hujan yang deras mengguyur jalan menuju rumah semakin mereda.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...