Perjuangan Seorang Anak

Perjuangan Seorang Anak
Langkah Kaki


__ADS_3

Malam yang telah mengusik aku pun beranjak sambil melihat jam dinding yang tergantung tepat diatas ku. Aku pun berjalan menutup pintu dengan sedikit terbuka. Setelah itu aku berbalik dan meninggalkan pintu yang telah aku tutup sedikit.


Setengah langkah aku berjalan menuju kamarku. Tiba-tiba, aku mendengar suara kaki melangkah menuju rumah kami. Langkahku pun aku hentikan seketika, sambil memutar kepalaku kebelakang melihat pintu. Aku yang terperanjat melihat ujung jari mulai masuk menginjak pintu. Aku langsung mengurungkan langkahku untuk tidur.


Aku memaksa tubuhku yang lemah mendekati pintu yang kini terbuka . Secara perlahan aku menyelidik dengan pelan berdiri dibalik pintu yang sedikit terbuka. Melihat keluar dengan memajukan kepalaku sedikit. Untuk melihat siapa? Yang menyambangi rumah kami malam ini.


Kaki itu pun kini perlahan semakin terlihat dengan jelas dan masuk dengan damai melewati pintu. Sembari aku melihat dengan terperangah, karena melihat ibu sambung kami baru kembali. Dia begitu sumringah dengan wajah yang berseri.


Aku pun menarik tubuh mungilku yang lemah dari balik pintu menghampiri ibu sambung kami yang baru kembali.


Dia yang melihatku langsung menarik sedikit bibirnya tersenyum pada ku. Dia tidak begitu panik terlihat dari wajahnya, karena sudah pulang jam 22.00 WIB. Dia yang menutup pintu masih belum menggubris ku. Dia begitu cuek pada aku malam ini.


Aku yang tidak mengerti menatapnya dengan penuh tanda tanya. Sesekali, gurat wajah penasaran ku terlihat dengan begitu jelas.


Dalam diam aku masih melihat ibu sambung kami yang tiba-tiba tidak menyapaku kembali. Aku masih belum bisa menebaknya. Apakah? Dia masih marah kepadaku setelah keributan tadi. Mengingat adikku yang sudah membuat dia lelah.


Aku yang ingin menyapa nya terpaksa menutup mulutku dengan rapat. Aku hanya memperhatikan dia yang mengintip kamar ayahku dari luar dengan diam.


" Liyan, Ayahmu sudah tidur?" Tanya ibu sambung kami dengan masih tidak percaya.


" Ia, bu!" Jawabku dengan tegas.


Aku yang kedinginan masih berdiri diam melihatnya dengan tiba- tiba kesal. Wajah kesalnya pun seolah menampar udara dengan keras.


" Sudah lama Ayahmu tidur?" Tanya ibu sambungku ingin tahu.


Aku yang tidak mengetahui nya tersenyum kecil sebagai jawaban kalau aku tidak tahu. Aku hanya mengkerucutkan bibir kecilku yang pucat. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir kecilku.


Wajah bingungku kini bisa terbaca oleh ibu sambungku yang membuat dia akhirnya memutuskan untuk diam.

__ADS_1


Ibu sambungku pun perlahan memutarkan badannya masuk kamar. Aku yang telah melangkahkan kakiku. Tiba-tiba, terhenti dan menoleh kebelakang dengan tersentak. Aku melihat ibu sambungku berhenti ditengah pintu. Tak berapa lama! Setelah aku melihatnya berhenti, suara ayahku pun terdengar sedikit memenuhi ruangan.


" Dari mana saja kau?" Tanya ayahku dengan sedikit meninggi.


Ibu sambungku yang terlihat begitu gemetar menjawab dengan terbata. " Da-dari sana." Wajahnya pun terlihat dengan gusar saat ini.


" Dari sana, mana?" Tanya ayahku kembali dengan menyelidik.


Wajah ibu sambungku pun semakin panik dan mulutnya pun seakan terkunci dengan rapat. Aku melihat ibu sambungku sepertinya kehabisan kata-kata untuk menjawab semua pertanyaan ayahku. Dia semakin lama. Aku lihat semakin melangkah mundur kebelakang. Sepertinya, dia ingin menjauhkan dirinya untuk menghindari ayahku.


Aku pun melihatnya begitu panik. Aku ingin sekali berdiri diantara mereka menjadi penengah. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa karena kondisi tubuhku yang masih sakit dan aku pun masih terlalu kecil untuk ikut dalam hal yang seperti ini.


Adikku yang sudah tidur kini harus terbangun karena mendengar sedikit keributan.


" Sudah malam kau masih saja diluar sana berkeliaran!" Kata ayahku dengan sedikit meninggi.


Sementara, ibu sambungku terlihat diam. Sepertinya dia menyesali dan merasa bersalah akan apa yang telah dia lakukan malam ini.


Aku yang melihat ketegangan diantara mereka kini menelan ludah dengan kasar. Tubuhku yang lemah rasanya ingin ambruk kelantai. Bibir ku yang pucat pun kini bergetar melihat apa yang tidak aku inginkan.


" Kak, Ayah marah-marah ,ya?" Tanya adikku yang sudah berdiri di sampingku. Menatap ku dengan wajah setengah sadarnya. Sesekali adikku menguap dan menutup mulutnya dengan tangannya. " Ibu itu baru pulang ya,kak?" Tanya adikku ingin tahu.


Aku yang menetap mereka lekat. " Ia,dek. Ibu itu baru pulang." Jawabku dengan datar.


" Kenapa dia pulang kak?" Kata adikku dengan polosnya.


"sstt! Apa yang kau bilang." Kataku dengan pelan.


"Ia,kalau dia gak pulang kan! Engga ribut,kak." Kata adikku dengan menggerutu. " Jadi, bangun aku dari tidurku kak." Katanya dengan kesal.

__ADS_1


Adikku pun kini duduk di tepi tempat tidur. Wajah kesalnya pun semakin ketat terlihat.


"Makin hari kau semakin menjadi! Setiap hari keluar rumah." Ayahku terus bersuara.


" Mau ngapain lagi aku dirumah ini?!" Kata ibu sambung kami dengan keras.


Aku pun teronggok dilantai dengan lemas. Tubuhku yang lemah membuat ku diam seribu bahasa. Sementara, dari dalam kamar ayahku tidak lagi terdengar suaranya.


" Itu lah kau! Selalu kau ributkan kalau aku pergi keluar. Iri kau ku lihat!" Dengan amarah yang menggebu -gebu ibu sambung kami menghardik ayahku sepuasnya.


Ayahku yang tak melayani dia Kembali. Membuat dia begitu panas sehingga dia terus melakukan apa yang dia inginkan. Termasuk berkoar -koar dimalam yang larut.


" Kak, kenapa dia tidak diam-diam. Padahal aku besok mau sekolah." Kata adikku dengan frustasi.


Aku yang mendengar teriakan wanita itu dan rengekan adikku membuatku kini semakin depresi. Tidak ada yang membuat ku tenang malam ini.


Ayahku kini semakin tenang. Dia begitu rileks dengan kantuknya dan memejamkan kedua matanya. Ayahku begitu kuat menutup telinganya dengan rapat.


" Itu lah kau! Kalau aku bicara. Kau diam!" Kata ibu sambung kami terus semakin keras. Dia begitu antusias ingin mengajak ayahku adu mulut malam ini.


Napasku terasa sesak. Tubuhku kini tak bisa lagi untuk aku angkat. Lemah seketika, seperti aku yang berjalan di atas awang-awang.


Adikku yang kini mulai memejamkan matanya kembali mengajak ku untuk tidur bersamanya.


" Kak, ayo kita tidur! "Adikku turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri ku sambil


membantuku mengangkat tubuhku.


Aku pun terseok-seok menyeret kakiku dengan paksa. Adikku yang fisiknya jauh lebih kuat dari aku. Menopang ku kini sampai ditempat tidur. Aku yang melihat adikku. Dia begitu sayang padaku. Namun, karena sifatnya yang memang jutek dan egonya yang kuat membuat kebaikannya tidak begitu terlihat.

__ADS_1


Setiap orang menyebut adikku anak yang nakal. Tak terkecuali ibu sambung kami yang tidak pernah akur dengan adikku. Walaupun demikian,adikku tidak pernah membenci ibu sambung kami. Adikku tetap terlihat baik pada ibu sambung kami.


Bersambung....


__ADS_2