
Ayahku yang ingin melaksanakan sholat. Berjalan terus menuju tempat aku berdiri. Aku begitu semakin panik. Napasku semakin tidak beraturan. Jantungku pun rasanya mau copot tapi aku harus tetap membuat wajahku serileks mungkin agar ayahku tidak menemukan jawaban dari pertanyaan yang ada didalam benaknya.
" Liyan!" Panggil ayahku menatapku dengan penuh curiga.
"Ia, Ayah." Kataku dengan menyimpulkan sedikit senyum tipis pada ayahku.
"Dimana adikmu? Kenapa tidak ada suaranya?" Tanya ayahku mengalihkan pembicaraan. Ayahku yang masih berdiri menatap wajahku dengan penuh curiga. Masih melihatku dengan tajam dan kedua matanya pun memperhatikan gerak gerik ku.
Mendengar pertanyaan ayahku akan adikku. Aku langsung diam dengan wajah yang penuh tanda tanya. Pikiranku pun mulai mengingat adikku yang terasa aneh bagiku. Sepanjang aku berdebat dengan ibu sambungku, kenapa adikku tidak keluar dari kamar?
"Ayah, tadi di bilang adik dia mau kekamar." Kataku pada ayahku dengan wajah dan pikiran yang khawatir. " Sebentar ayah! Aku coba.." Aku terhenti, seketika memutar badanku. Mendengarkan apa yang akan disampaikan ayahku selanjutnya.
" Carilah! Cari adikmu sampai ketemu." Ayahku masuk kedalam kamarnya untuk melaksanakan ibadah sholat Maghrib.
Aku diam melihat ayahku yang sudah menghilang dari hadapanku. Aku kemudian berjalan menuju kamar untuk mencari adikku yang dia katakan tadi, dia mau masuk kamar.
Di depan pintu kamar kami yang tertutup hanya dengan tirai. Aku mencoba mendekatkan telingaku sebelah kanan ke tirai yang terbentang. Tidak sedikitpun aku mendengar suara apapun dari dalam kamar. Aku begitu penasaran dan langsung membuka tirai yang ada di hadapanku. Seketika, kedua bola mataku mendelik dan sontak terkejut. Aku yang tadi sehabis di hardik oleh ibu sambungku begitu kesal dan panik melihat adikku tidak ada di kamar. Aku begitu cemas melihat jam dinding yang berputar. Angka yang ada di dalam jam dinding begitu sesuai dengan ruang hampa yang kosong di luar rumah, yang menunjukkan senja semakin gelap.
Aku pun melangkah mundur kebelakang dengan rasa kecewa yang amat dalam melihat adikku kembali berulah. Ayahku yang berada didalam kamar sambil menunggu waktu sholat Maghrib, dengan begitu tenang melantunkan ayat-ayat suci yang terucap dari bibirnya yang sudah terlihat menua.
Tubuhku yang mungil dan gemetar berjalan mengitari sekeliling rumah dengan kedua bola mataku berputar melihat adikku. Napasku yang terasa sesak. Aku paksa untuk menghirup udara segar di seputaran rumah kami.
" Assalamualaikum."
Dari belakangku. Aku mendengar suara salam dari depan pintu. Aku sontak memutarkan badanku mengarah ke suara salam yang aku dengar. Sejenak aku terhenyak melihat adikku dengan begitu rileks masuk.
" Kak, kenapa kakak tidak menjawab salam ku?" Tanya adikku dengan wajah yang tidak merasa bersalah. Dia begitu menarik sedikit bibir kecilnya berjalan sambil melihatku. " Kak,Ayah dimana?" Adikku sambil berjalan mengambil tas sekolahnya yang teronggok disudut dinding
kamar ayahku.
" Dikamar." Dengan tegas aku menjawab pertanyaan adikku yang membuatku cemberut.
__ADS_1
" Dari mana kamu?" Tanya ku dengan begitu kesal.
" Kak, aku dari luar. Ayah selalu ribut dengan dia." Kata adikku dengan suara sedikit meninggi .
Aku yang berdiri melihat adikku hanya diam sambil memasang wajah masam. Aku sudah mengetahui siapa? Yang dimaksud oleh adikku dengan sebutan "dia" itu tidak lain adalah ibu pengganti kami.
" Kak, kenapa kakak tidak menjawab salam ku tadi! Kalau sempat Ayah tahu pasti kakak akan dimarahi." Kata adikku yang berjalan di sampingku dengan melirikku.
Aku yang polos dan selalu ketakutan menjawab salam adikku dengan berat dan pelan. "Wa'alaikumussalam."
" Oh,ia kak,dimana ibu kesayangan kakak itu? Kenapa dia tidak ada? Apa sudah pergi?" Tanya adikku sambil memeriksa tas sekolahnya.
" Ia." Kataku dengan tegas.
"Ha! Pergi kemana kak?" Sejenak dia berhenti.
"Terus Ayah tahu, kak?" Tanya dengan
Aku yang polos hanya menganggukkan kepalaku sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Masa kakak engga tahu! Dia kan ibu kesayangan kakak." Dengan ketus adikku sambil melihat ku sekilas.
Adikku yang tadi terlihat cuek. Kini dia memalingkan wajahnya kembali ke arahku.
" Kak! Kakak habis nangis, ya?" Tanya adikku yang menatapku dengan lekat.
Aku yang terkejut diam. Seketika, aku memutarkan bola mataku sambil menetralkan semuanya. Adikku yang berdiri membelakangi ku tepat di meja makan ayahku yang kecil.
"Ia,kan,kak! Kakak nangis, kan? Tanya adikku kembali. Semakin menyelidik.
" Engga." Aku yang berdiri sesekali membuang pandangan ku ke segala arah.
__ADS_1
"Tapi, kok! Kenapa mata kakak sembab?" Tanya adikku kembali berjalan melihatku dengan lekat.
" Engga,ah! Kakak cuman ngantuk dan kepingin tidur." Kataku dengan tandas.
" Eh! Kakak mau tidur? " Tanya adikku spontan. "Jangan kak! Nanti ayah marah." Menatapku dengan menyatukan alisnya.
Aku pun mengurungkan niatku dengan lemas. Aku menghempaskan tubuhku kelantai. Mataku yang sudah berat begitu menyiksaku hari ini. Rasa kantuk yang begitu berat menderaku harus aku tahan mengingat adikku yang akan mengadukan aku pada ayahku.
"Dek,sebentar saja! Jangan bilang pada ayah,ya!" Kataku dengan suara yang memohon pada adikku.
"Ntah la,lihat saja nanti." Adikku berkata dengan begitu ketus. Seakan memberiku sebuah ancaman yang bisa menindasku.
Aku pun tidak bisa berbuat apa-apa. Adikku tidak bisa aku lawan Karena ayahku selalu ada disampingnya setiap saat. Ayahku selalu mendengar kan apa yang disampaikan oleh adikku kepadanya tentang diriku. Baik itu dikala aku sehat maupun sakit.
Teruntuk ayahku sendiri dia paling tidak menyukai anak yang sakit dengan tiduran sepanjang hari. Itulah senjata adikku untuk ku agar aku tidak tidur di sembarangan waktu.
Ayahku selalu berpesan pada adikku. Kerap kali itu yang aku dengar saat aku berada di dalam rumah. Makanya, kalau adikku melihatku mengantuk dia pasti mengeluarkan ancamannya untuk diriku.
" Kak, kakak tidak mengaji?" Tanya adikku yang menggantungkan tasnya.
" Kakak engga tahu dek." Kataku sambil melihat adikku yang menggantungkan tasnya.
Aku dan adikku yang lagi asyik berbicara dengan tawa lucu sehabis kami bertengkar tadi. Tiba-tiba, ada sura kaki melangkah dengan cepat. Aku dan adikku yang berada ditempat sontak terdiam dan saling ketemu pandang. Wajahku seketika berubah panik. Aku pun terdiam seribu bahasa mendengar langkah kaki menuju pintu rumah kami.
Adikku yang berdiri didepan tas yang dia gantungkan menatap sinis. Seakan adikku mengetahui langkah kaki yang menuju rumah kami.
Adikku pun mengerjapkan kedua matanya. Memalingkan wajahnya dan memutar badannya.
" Kak, itu pasti wanita itu! Kata adikku dengan ketus menatapku." Ibu kesayangan mu!" Kata adikku dengan pelan.
Aku diam. Menatap adikku sambil mengingat kejadian tadi. Bagaimana dia menghardik ku dengan sepuasnya. Kedua netra ku menatap kosong ke depan. Tubuhku yang gemetar kini terasa dingin. Aku pun, mengatupkan kedua bibirku dengan rapat sambil menggenggam jemariku meremasnya dengan pelan.
__ADS_1
Bersambung.....